FAZER LOGIN🙂🙂 lega dikit
Jossie diantar oleh Luigi ke ruangan baca, menjauhi bencana yang sebentar lagi datang. Meninggalkan Matteo dan Ivy yang kini berdiri dengan sedikit tegang.Seperti Ivy, Matteo juga berpendapat Amadea tidak akan datang dalam damai. Jantung Ivy berdetak kencang, saat bel pintu depan berbunyi. Mauro yang berlari membukanya.Dan masuklah sosok Amadea masih persis seperti apa yang ada dalam ingatan Matteo. Berselimut mantel hitam, wanita itu menatap tajam pada Ivy, dan berkerut tak suka melihat Matteo."Aku mengira kau sudah lebih waras, saat memutuskan untuk kembali ke New York. Tapi ternyata kau masih membawanya.."Yang Amadea maksud tentu saja Matteo. Karena sudah tidak berada di Neive, sepertinya Amadea merasa lebih berani menghadapi Matteo. Jika dulu dia masih segan karena Matteo adalah Ranallo, rasa segan itu sudah jauh berkurang sekarang, saat mereka berada di luar Neive."Aku tidak mungkin akan kembali jika Matteo tidak ada disini!" balas Ivy."Kau memang sudah gila!" bentak Amadea.
Jossie terus terisak memeluk tubuh Ivy, sampai dia terpaksa menepuk punggung Jossie untuk membuatnya tenang. Ivy memandang Matteo, tidak berkata apapun, tapi kurang lebih artinya adalah 'apa yang kau lakukan padanya?'"Aku tidak melakukan apapun." Matteo mengelak.Alis Ivy bergerak ke atas, tanda tidak percaya."Aku hanya menyuruhnya pergi, karena tidak seharusnya dia bicara padamu lagi!" tukas Matteo.Perbuatan yang jelas tidak bisa dikategorikan sebagai tidak melakukan apa-apa. Ivy menggeleng, lalu meminta tisu pada Mauro. Dia menyerahkannya pada ada Jossie, sambil melepas pelukan itu bajunya sudah basah oleh air mata."Kau tidak boleh menangis jika ingin berbicara padaku," kata Ivy. "Aku tidak akan mengerti apa yang kau katakan, apa yang kau maksud," bujuk Ivy.Ivy mengulang apa yang dilakukan Mauro tadi, sedikit memaksa Jossie untuk duduk di sofa. Dia juga meraih gelas yang tadi diambil Mauor, menyuruh Jossie untuk minum, agar lebih tenang.Sedu sedan itu masih berlangsung, walau J
"Ini masih pagi," kata Matteo, sambil mengaitkan tangan pada perut Ivy yang mencoba turun dari ranjang. Kepala Matteo masih berat, karena berpikir sampai sesaat sebelum matahari terbit. Persoalan Ellie membuatnya gelisah."Hari ini kita harus menonton TV bukan? katamu masih ada tiga orang yang akan memberi pernyataan.""Tidak pagi ini!" Matteo berhasil menarik Ivy kembali ke ranjang, dan mengubur tubuh Ivy dalam perlukan hangat."Aku mengatur agar mereka memberi pernyataan pada jam yang berbeda dari Claris. Akan terasa aneh jika semua orang yang memberi pernyataan tentangmu pada pagi hari. Memberi kesan pola teratur yang direncanakan, bukan spontan. Aku sudah menyuruh Luigi untuk mengaturnya, jadi aku tidak tahu kapan persisnya mereka akan memberi pernyataan, dan aku tidak peduli.""Kau terlihat tidak bersemangat." Ivy melihat perbedaan mencolok dari saat mereka menunggu berita Greenwood.""Aku bukannya tidak bersemangat, tapi saat ini aku memikirkan hal lain.""Aku tebak kau memikirka
Macy menyambut mereka berdua kembali dengan senyum lebar. Dia tidak terpengaruh dengan sedikit friksi yang terjadi antara Ivy dan Matteo tadi. Dia sudah terbiasa melihat perdebatan yang terjadi sesaat sebelum pernikahan, dan lega karena perdebatan mereka singkat, lalu bisa diselesaikan dengan pelukan.Macy sudah takut akan berubah buruk seperti pengalamannya yang telah lalu. Ada pasangan yang berakhir dengan pembatalan pesta, karena masalah sepele. Perdebatan Ivy dan Matteo masuk dalam kategori sangat ringan, jika dibandingkan dengan segala perdebatan yang pernah ditemuinya."Selamat datang kembali!" sapa Macy, saat Matteo dan Ivy tiba kembali di depannya."Aku boleh bersikap santai, dengan memanggilmu Ivy saja bukan?" Macy meminta sopan."Tentu saja boleh." Ivy mengangguk. Mereka akan sering bertemu setelah hari ini, aneh jika dia terus memanggilnya Adams."Lalu... Maaf, tapi aku belum mengenal Anda," katanya, kepada Matteo. Bukan Matteo yang menemuinya untuk membuat janji perencanaan
Matteo bersandar di tembok, lalu mengulurkan tangan memainkan rambut ikal Ivy yang masih menatapnya tajam. Dia mengambil nafas panjang, pertanda menyerah pada tuntutan Ivy."Alasan pertama, karena aku sadar jika kau sangat fatal," kata Matteo, memulai penjelasan."Fatal?" Ivy bingung memaknai pilihan kata yang dipakai Matteo. Dia tidak merasa menjadi berbahaya."Saat berada di Neive, aku tidak menyadarinya, karena sejak awal tidak ada pria yang berani mendekatimu karena aku, dan kau jarang menampakan diri di hadapan umum. Keberadaan kita di New York membuatku tahu, kau adalah wanita berbahaya. Kau wanita berbahaya yang sanggup menarik perhatian banyak pria."Matteo menyadari ini, setelah bertemu dengan pria yang menjadi masa lalu Ivy, dan mengamati bagaimana sikap pria saat ada di sekeliling Ivy. Matteo menyimpulkan jika Ivy adalah magnet bagi pria. Hanya sifat Ivy yang berselera tinggi, membuat banyak pria mundur secara otomatis."Aku tidak mengatakan ini dengan cemburu atau apa, tapi
"Akan kemana kita sebenarnya?"Tentu Ivy tidak sabar seperti sebelumnya. Pertanyaan menggantung soal tujuan mereka yang berikutnya, terus dia utarakan dari waktu ke waktu.Saat ini jam menunjuk pukul sepuluh malam lewat. Tidak banyak tempat yang bisa mereka kunjungi selain club malam. Namun rasanya mustahil jika Matteo akan mengajaknya berkunjung ke club malam."Sshh.." Matteo menyuruhnya diam dengan desisan."Bisa aku meminjam dasi milikmu?" tanya Matteo, pada Luigi."Tentu, Mr. Ranallo." Luigi melepas dasi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap berada di kemudi. Mobil mereka meluncur di jalanan New York yang masih saja padat, tanpa peduli malam."Kemari." Matteo menarik Ivy, bergeser lebih dekat ke arahnya, begitu dasi Luigi sudah berpindah ke tangannya."Untuk apa aku memakai dasi?" Ivy semakin tak mengerti."Agar kau tidak mengintip.""What?!"Matteo ternyata tidak memakaikan dasi itu di leher Ivy, karena memang tidak ada gunanya. Dia memakainya sebagai penutup mata, a
Matteo membuka mata, dan kembali mendapati Ivy sudah terbangun, tapi diam, hanya menatapnya. Sudah beberapa kali dia menemukan ini. Kebiasaan unik yang sekarang disadari Matteo sebagai pelengkap hari.Tidak ada lagi rasa malas yang menggayuti hatinya. Mata abu-abu yang kini membuka lebar memandangny
Mulai merasakan firasat buruk, Ivy ingin bangkit dan mengusir Hanz. Tapi dengan gerakan yang sangat cepat, Hanz mencengkeram kedua bahu Ivy. Menahan agar dia tetap duduk."Apa ini?!" Ivy berseru, memandang wajah Hanz yang menunduk di atasnya."Aku tidak menyangka kau gadis seperti itu. Kau memang ra
Ivy mengarahkan kamera ponsel dengan sedikit malas, mengambil gambar Monumen Potsdamer Platz, yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri.Monumen itu cepat berlalu, karena kapal yang ditumpanginya terus berjalan menyusuri Spree River, yang membelah kota Berlin. Paket wisata dengan kapal menyusuri su
[Vy. Aku mohon kembali. Aku tidak berbohong saat mengatakan kau dalam bahaya. Aku juga merindukan...]Matteo menghapus pesan itu sekali lagi. Dia sudah berusaha menuliskan pesan sejak sepuluh menit lalu, tapi terus merevisi isinya. Kata rindu sepertinya berlebihan.Walau tentu saja Matteo memang ing







