FAZER LOGIN🤩🤩 gaaass El
Ivy kembali merasa sedikit gembira, saat merasakan tangan Matteo yang ada dalam genggamannya, sedikit lemas. Tidak lagi kaku mencengkeram. Tanda jika dia sudah sedikit lebih rileks."Apa kau tahu kenapa kau melupakan kejadian itu sampai hari ini?" tanya Ivy.Matteo menggeleng. Kali kedua merespon kata-kata Ivy."Karena ketakutan itu. Kau tidak mampu mencerna ingatan itu, karena terlalu mengerikan. Karena itu tubuh dan otakmu dengan sengaja membuatmu lupa. Kau bahkan terlalu ketakutan untuk mengingatnya. Kau tidak mungkin mampu menolongnya."Ivy meluruskan kaki Matteo yang masih menekuk itu. Memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.Matteo seolah sudah kehilangan keinginan untuk melawan, dia menurut, bahkan kembali berbaring, saat Ivy hanya mendorongnya sedikit.Berbaring adalah posisi paling rileks, dan saat ini, Matteo membutuhkan bantuan sekecil apapun untuk bisa merasa rileks.Ivy mengembalikan mereka pada posisi awal, setelah dia ikut berbaring dan memeluk Matteo. Posisi itu, bisa
Ruangan itu terasa sangat sunyi, begitu Ivy menyelesaikan omelan panjang itu.Matteo kini menutup wajahnya kembali dengan kedua tangan. Dia tahu jika semua kata-kata Ivy bisa dikatakan sangat benar.Namun ingatan yang kembali itu melemparnya jauh ke dalam lubang yang selama ini seolah menganga di depannya, hanya biasanya dia tidak pernah menyadari. Lubang itu kini seolah menelan, mengurungnya dalam gelap penuh rasa sesal.Ivy meremas tangan Matteo. "Apa yang terjadi pada Fiore, kau tidak mungkin bersalah. Ayahmu yang melakukannya, bukan kau. Ingat ini!"Ivy ingin Matteo berhenti menyalahkan dirinya."Tapi itu memang salahku!" rintih Matteo."Bagaimana mungkin itu salahmu?" Ivy tidak paham.Matteo beringsut perlahan, lalu duduk menekuk lutut. Dia melipat lengan di atas lutut, kemudian menyembunyikan wajahnya di sana.Tubuhnya berayun perlahan ke depan dan ke belakang, sikap yang biasa diambil jika seseorang terlalu gelisah."Matteo, kau tidak mungkin bersalah..." ulang Ivy."Aku yang m
"Oh My God..."Ivy terus memeluk, sambil meremas kaus yang dipakai Matteo, tanpa berani memandang wajahnya. Dia tahu luka seperti apa yang akan tercetak di wajah tampan itu.Jika melihatnya, tekat Ivy untuk menjadi kuat akan kembali runtuh. Dia akan kembali menangis. Ivy sekuat tenaga menahan air mata. Dalam pelukannya, Ivy bisa mendengar jantung Matteo berdegup kencang, dan nafasnya terpatah-patah.Tidak diragukan lagi, ingatan itu adalah apa yang dicari Ivy. Ingatan itu bahkan lebih mengerikan dari apa yang dibayangkan Ivy. Ingatan itu 'pantas' menjadi penyebab segala kekacauan Matteo.Tidak ada lagi yang diucapkan Matteo setelah itu. Ivy hanya bisa mendengar dengus nafas berat, mencoba mengangkat beban ingatan menakutkan itu."Lepaskan aku..." Ivy sedikit terkejut mendengar ujaran Matteo yang tiba-tiba itu, dan langsung melepas pelukan. Dia lalu duduk mengamati Matteo.Matteo memandang ke atas, tidak memandang Ivy sedikitpun. "Pergi....""Apa? Siapa?" Ivy tak mengerti apa atau siap
Matteo kmenunduk, dengan kedua tangan menumpu di tanah, dan terengah. Setelah memuntahkan seluruh isi perutnya, gemetar dan keringat dingin menyerang sekujur tubuhnya.Kilasan adegan yang tiba-tiba muncul di dalam ingatannya, saat melihat rumah Fiore, membuatnya mual luar biasa. Jika masih ada benda yang tersisa di dasar perutnya, Matteo pasti juga akan memuntahkannya tanpa sisa.Kepala Matteo kini mulai ikut berdenyut hebat. Kesakitan yang tadi dirasakannya saat melihat mansion Ranallo, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan saat ini. Denyutan itu, membuat Matteo merasa seakan ada yang menghujamkan sebatang besi pada pelipisnya."Matteo?"Ivy yang masih tidak tahu apa yang terjadi, semakin panik, saat melihat Matteo hanya mendengus dan merintih, sambil menekan kedua sisi kepalanya.Dia tidak siap menghadapi perubahan kontras yang begitu cepat itu. Baru beberapa detik berlalu, semenjak Matteo bercerita riang soal Dolce."Aku ingat...," desis Matteo. "Aku ingat...""MATTEO!"Setelah men
Halaman samping mansion Ranallo, hampir mirip hutan mini. Pohon berjajar rapat, dan lumayan lebat. Tanah kosong seluas beberapa ratus meter persegi itu, sebagian besar ditumbuhi pohon pinus dan cemara.Saat kecil, Matteo bisa dikatakan jarang berada di situ, karena hutan tentu menyeramkan bagi anak kecil. Kini, mata hijau Matteo menatap jajaran pohon itu tak berkedip."Aku ingat," katanya. Hipnosis Ivy sekali lagi bekerja dengan sangat baik. Ingatan buruk Matteo tentang tempat ini, langsung mengalir keluar."Ingatan apa?" tanya Ivy dengan jantung Ivy berdebar.Berharap cemas ini adalah ingatan yang dicarinya. Dengan begitu mereka bisa mengakhiri tur sakit hati yang mengerikan ini, sudah dia cukup melihat Matteo tersiksa. Tour sakit hati ini, tidak terlalu mengerikan saat mereka menyusuri tempat di luar mansion Ranallo.Notte bahkan tidak berefek pada Matteo sedikitpun. Seperti halnya sekolah. Lalu jalanan kota Neive yang juga sempat disebut oleh Matteo sebagai daerah yang tidak disukai
Matteo berdiri diam menatap setiap penjuru ruangan itu dengan tangan terkepal erat.Sementara Ivy berdiri di sebelahnya, dengan tubuh gemetar. Jika boleh, Ivy tidak ingin mendengar lanjutan kisah yang pasti menyedihkan ini, tetapi dia harus mendengarnya sampai tuntas."Ayahku memakai cambuk sebagai bentuk hukuman, agar aku jera. Tidak ada hitungan yang pasti maupun pedoman kesalahan apa yang membuatku patut mendapat hukuman cambuk. Kadang dia hanya mencambuk dua sampai tiga kali, kadang sampai tangannya merasa lelah."Ivy ingin bertanya kenapa. Dia ingin tahu apa yang membuat Matteo pantas menerima perlakuan ini."Dia terus melakukannya sampai ketika aku berumur lima belas. Tepat setelah aku menusuk leher Dante dengan pensil. Setelah itu dia berhenti mencambukku. Menurut ayah, didikannya telah berhasil. Aku telah tumbuh menjadi kejam."Kali ini Ivy sampai harus menutup mulut. Selain untuk mencegah isakan yang mengiringi air mata, Ivy baru kali ini mendengar soal insiden Dante.Setelah







