LOGIN🥺🥺 nggak apa, udah dua anak cukup
Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke ged
Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia
Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak pern
Rasa gelisah dan mual yang dialami Matteo saat menghubungi ibunya kemarin, tidak apa-apa ada apa-apanya, bila dibanding dengan saat ini. Perutnya yang telah terisi oleh sedikit latte yang dibawakan oleh pelayan cafe, memberontak liar.Cairan itu seakan ingin kembali menuju mulutnya melawan gravitasi. Dia sekarang merasa jika ide Dante untuk mencari ibunya, adalah buruk.Namun apa yang bisa dilakukannya? Mereka sudah memiliki janji untuk bertemu dan itu adalah hari ini. Matteo sendiri tidak menyangka ibunya akan setuju dengan cepat, saat mereka berbicara untuk pertama kalinya. Dia menangis tentu saja, saat sadar jika pria yang berbicara padanya adalah Matteo. Tapi setelah tenang, dia segera setuju untuk bertemu.Matteo tidak terlalu ingat bagaimana suara ibunya, suara yang menyahut dari ujung telepon kemarin itu, terdengar serak. Suara khas dari seorang yang telah lanjut usia.Saat mendengar suara itu, Matteo dengan heran merasa lega. Dia tidak berharap akan merasakan apapun. Kelegaan
Matteo mengusap dadanya sekali lagi. Kali ini tidak berhubungan dengan rasa sakit dari peluru. Sesuatu seakan meremas jantungnya, saat ingatan Ivy yang menangis kembali berkelebat di benaknya. Dia tidak menginginkan ini."Karena ini aku tidak mengungkap rencana ini padamu sebelumnya," gumam Dante."Hm?""Aku tahu kau tak akan setuju. Kau tidak akan mau menyakiti Ivy. Dan rencana ini menyakitinya."Matteo memejamkan mata, karena tak tahu apakah harus mengumpat atau berterima kasih pada Dante. "Di mana aku sekarang?" Matteo akhirnya membelokkan pembahasan, tak tahan dengan bayangan Ivy yang menderita."Aku dengar kau ada di Swiss. Mungkin.""Mungkin?""Aku hanya mengusulkan negara itu pada Raven. Mungkin dia menyetujuinya. Tapi kau tahu sendiri bagaimana dia sangat sulit menyetujui pendapat orang."Matteo hanya mengangguk, meski Dante tak bisa melihatnya. Dan sejujurnya Matteo tak lagi peduli dengan keberadaannya. Tidak penting dirinya berada di mana, karena Ivy tak ada di sini."Aku ak
Kenyataan memang kadang tidak seindah rencana, meski sudah menunggu ternyata Matteo justru jatuh tertidur saat Dante menghubunginya,Saat mencoba menghubungi balik nomor yang menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif. Dengan terpaksa Matteo menunggu lagi. Namun untung saja, kantuknya sudah berkurang, karena tubuhnya semakin kuat. Ponsel itu akhiri bergetar, setelah Matteo menghabiskan sarapan lembek yang terasa hambar."Aku sudah mulai takut kau tidak akan bangun lagi."Suara Dante terdengar emosional, sampai membuat Matteo terharu. Maklum saja, sapaan terakhir yang dia dengar dari ponsel itu, membuatnya kesal dalam taraf yang tidak wajar."Untuk apa ini semua?" tanya Matteo, langsung."Aku mengabulkan keinginanmu." jawab Dante."Apa aku pernah mengatakan ingin ditembak oleh Dom, dan juga olehmu? Seingatku tidak." Matteo mendengus."Bukan bagian itu. Kau pernah mengatakan padaku ingin keluar dari Notte. Itu yang sedang aku berikan.""Kau membuat kematian palsu untukku?" Matteo tentu
Perjalanan mereka berakhir di pinggiran kota Neive, di kompleks rumah di atas bukit. Tempat yang eksklusif, karena tidak melihat tetangga yang lain.Hampir mirip dengan tempat persembunyian yang selalu dipilih oleh Raven.Dalam sekali pandang terlihat jika rumah yang bertengger di atas bukit itu, di
Ellie menurunkan tangan ke samping tubuhnya perlahan, lalu menekuk kedua kakinya yang terbuka, dan perlahan merendahkan tubuh. Mengikuti instruksi, kedua tangan Ellie menahan perut, mencegah beban terkumpul di sana."Bernafas.. Tarik.. Tahan sebentar. Satu...dua...lepaskan."Instruktur yoga yang ad
"And look at that..." Raven mendesah gembira, saat Eli berjalan keluar dari kamar mandi.Lingerie itu memang cocok untuknya. Siapapun yang memilih, Raven ingin memberinya upah tambahan."Vero berpesan agar kau berhati-hati," kata Ellie, cepat - cepat. Dia melihat bagaimana mata Raven rakus melahap t
Sebersit ingatan gila hinggap di kepala Ellie dan dia tertawa tergelak. Dia sampai harus menutup mulut, dan memegangi perutnya yang tiba-tiba kaku."Kau cemburu karena pesan itu? Pesan di ponsel Jasper?" Ellie menegaskan karena sulit percaya."Hanya dia yang kau sebut tampan. Kau tidak pernah menyeb







