Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #315 Saudara Tapi Tidak Diharap

Share

#315 Saudara Tapi Tidak Diharap

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-02-27 07:26:19
"Mette? Di sini kau rupanya." Quuen Silvia menghampiri Mette, lalu menoleh kepada Ellie.

"Kau menemani assistenmu bekerja? Ini manis sekali. Kalian pasti sangat akrab."

Mette hanya bisa mengangguk. Dia tadi sudah berhati-hati saat menyelinap ke bagian belakang ini. Tapi Silvia terlalu cepat menyadari kepergiannya.

"Kau bukan Natalie. Siapa namamu?" tanya Silvia.

"Ellie." Mulut Ellie terlalu panik dan berkata jujur. Dia tidak menyangka Queen Silvia akan mengenal Natalie.

Tapi bukan tidak mungkin.
aisakurachan

🤩🤩🤩 yeaaa mulaii

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #498 Ingatan dan Keindahan

    Matteo bersandar di tembok, lalu mengulurkan tangan memainkan rambut ikal Ivy yang masih menatapnya tajam. Dia mengambil nafas panjang, pertanda menyerah pada tuntutan Ivy."Alasan pertama, karena aku sadar jika kau sangat fatal," kata Matteo, memulai penjelasan."Fatal?" Ivy bingung memaknai pilihan kata yang dipakai Matteo. Dia tidak merasa menjadi berbahaya."Saat berada di Neive, aku tidak menyadarinya, karena sejak awal tidak ada pria yang berani mendekatimu karena aku, dan kau jarang menampakan diri di hadapan umum. Keberadaan kita di New York membuatku tahu, kau adalah wanita berbahaya. Kau wanita berbahaya yang sanggup menarik perhatian banyak pria."Matteo menyadari ini, setelah bertemu dengan pria yang menjadi masa lalu Ivy, dan mengamati bagaimana sikap pria saat ada di sekeliling Ivy. Matteo menyimpulkan jika Ivy adalah magnet bagi pria. Hanya sifat Ivy yang berselera tinggi, membuat banyak pria mundur secara otomatis."Aku tidak mengatakan ini dengan cemburu atau apa, tap

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #497 Cepat dan Kilat

    "Akan kemana kita sebenarnya?"Tentu Ivy tidak sabar seperti sebelumnya. Pertanyaan menggantung soal tujuan mereka yang berikutnya, terus dia utarakan dari waktu ke waktu.Saat ini jam menunjuk pukul sepuluh malam lewat. Tidak banyak tempat yang bisa mereka kunjungi selain club malam. Namun rasanya mustahil jika Matteo akan mengajaknya berkunjung ke club malam."Sshh.." Matteo menyuruhnya diam dengan desisan."Bisa aku meminjam dasi milikmu?" tanya Matteo, pada Luigi."Tentu, Mr. Ranallo." Luigi melepas dasi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap berada di kemudi. Mobil mereka meluncur di jalanan New York yang masih saja padat, tanpa peduli malam."Kemari." Matteo menarik Ivy, bergeser lebih dekat ke arahnya, begitu dasi Luigi sudah berpindah ke tangannya."Untuk apa aku memakai dasi?" Ivy semakin tak mengerti."Agar kau tidak mengintip.""What?!"Matteo ternyata tidak memakaikan dasi itu di leher Ivy, karena memang tidak ada gunanya. Dia memakainya sebagai penutup mata,

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #496 Tepat Dan Benar

    "Aku paling benci jika ada orang yang mengasosiasikan wajahku, dengan cita-cita memiliki suami kaya raya, yang nantinya akan membiayai hidupku. Dan sayangnya, aku mendengar tudingan semacam itu hampir sepanjang masa mudaku, sampai sekarang," papar Ivy."Siapa yang berani mencelamu seperti itu?" Matteo dengan cepat panas. Otaknya dengan cepat ingin menginisiasi pembalasan dendam yang lain."Tenang, kau jangan cepat marah, seperti itu." Ivy menepuk punggung tangan Matteo."Tidak menghina secara terang-terangan. Lebih sering bergunjing di belakang punggung, atau menyebut sambil lalu. Seakan wajar, jika dengan wajah cantik ini, aku mencari hidup mudah dengan menikahi pria kaya. Ini adalah pikiran mainstream dari sebagian besar orang."Ivy mendesah kesal, bukan hanya karena anggapan orang soal dirinya, tapi juga karena penjelasan ini, membuatnya teringat akan Joel. Pria kurang ajar, yang telah menghamili wanita lain saat masih bersamanya itu. Pria yang meninggalkannya sesaat sebelum skanda

  • Menipu Sang CEO Buta   #495 S2 - Hadiah dan Hadiah

    "Kita bisa menikmati pemandangan sambil menghabiskan wine yang kita pesan tadi," usul Ivy."Usul bagus." Matteo menjawab datar. Sementara mereka berjalan melintasi restoran yang kosong itu.Teras berada di sisi seberang meja mereka. Teras itu menghadap ke kota, dan seratus persen berdiri di atas air sungai hitam. Di teras itu mereka bisa melihat langsung gedung bergemerlap lampu. Pemandangan yang kemarin dilihat Metteo dari atas, kini ada di depan mata."Kenapa gelap?"Ivy menyipitkan mata, mencoba menembus keremangan teras itu.Suasana gelap memang membuat pemandangan menjadi lebih jelas dan indah, tapi ini sedikit keterlaluan. Ivy bahkan tidak bisa melihat kemana kakinya akan melangkah."Mungkin mereka lupa menyalakan lampu." Matteo menjentikkan tangan pada Luigi, dan Luigi meneruskan isyarat kepada pelayan yang telah bersiap di depan saklar."Oh God!" Ivy berseru tercengang, saat melihat lautan bunga terhampar menutupi lantai.Teras itu biasanya hanya berisi lampu gantung di tepi,

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #494 Sepi dan Sendiri

    "Apa restorannya tutup?" tanya Ivy bingung."Apa restoran itu tutup, Lu?" Matteo mengulang pertanyaan pada Luigi yang tersenyum."Tidak, Mr. Ranallo. Saya sudah memesan tempat, dan mereka buka malam ini," jawabnya."Lalu kemana semua orang?" Ivy bergegas membuka pintu dan turun dari mobil.Dia tidak percaya melihat pelataran parkir River Cafe selengang itu. Ivy beberapa kali berkunjung ke restoran ini, dan tidak pernah menemukan satu ruang kosong untuk mobilnya dengan mudah. Terlalu penuh.Ivy kembali menatap restoran yang bangunannya terbuat dari kayu itu. Nama River Cafe tertulis pada bagian atas gerbang restoran yang berwarna putih. Masih sesuai dengan ingatannya. Tidak ada yang berubah.Restoran itu juga seindah biasanya. Untaian lampu redup berwarna kuning, menggantung dari tepi atap, dan pagar. Sementara air yang ada di bawahnya, membiaskan cahaya itu menjadi kedipan menambah syahdu suasana.Keunggulan River Cafe memang terletak pada tempatnya berada, karena menyuguhkan pemandan

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #493 Kejutan dan Persiapan

    Luigi menepikan mobil, di depan asrama universitas tempat Sean tinggal."Terima kasih sekali lagi, Sean," kata Ivy, yang telah mengikuti Sean turun, dan mengantarnya sampai ke gerbang asrama."Sama-sama. Tidak perlu menyebutnya berulang kali," sergah Sean. Malu karena Ivy berkali-kali mengucap terima kasih.Matteo mendengus tak suka mendengar percakapan hangat itu. Tentu saja Matteo ikut turun. Tidak mungkin dia mengizinkan mereka berdua saja.Matteo tidak tahu persis, tapi dia merasa jika Sean memiliki niat lain kepada Ivy. Jarak sembilan tahun sepertinya tidak memberatkan Sean. Terutama karena wajah Ivy yang baby face, membuatnya terlihat seperti anak kuliah sebayanya."Berlatih dan belajar! Aku tahu kau akan menjadi orang yang hebat di masa depan." Ivy meninggalkan pesan, sambil menepuk lengan atas Sean. Tapi baru saja Ivy akan berbalik, terdengar pertanyaan dari Sean."Kau benar akan pergi dari New York?" Dia rupanya menyimpulkan isi wawancara terakhirnya dengan Cody tadi."Benar.

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #465

    "Jangan meneriakkan namaku sembarangan!" Ivy menarik tangan Sean, menyuruhnya duduk kembali, tapi tubuh tegap itu tidak bergerak, karena lemahnya tenaga Ivy.Teriakan Sean membuat beberapa kepala menoleh. Ivy bergegas memakai kacamata dan juga topinya lagi, sebelum ada salah satu dari mereka mengena

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #464 Tegang dan Keberanian

    BRUAKK!Ivy melonjak dari tempat duduk, saat suara benturan keras terdengar dari lapangan. Meski hanya latihan, suara benturan antara pemain yang terjadi di lapangan bawah sana, sudah cukup untuk membuat efek kejut.Para pemain yang football itu, menubrukkan tubuh dengan keras, diiringi dengan teria

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #463 Sasaran dan Rencana

    Matteo membuka mata, dan memandang Ivy yang telah tertidur pulas. Nafasnya teratur, dan matanya terpejam erat. Tidak terlihat sedang bermimpi sesuatu yang aneh.Berarti aman bagi Matteo untuk meninggalkannya.Jika hobi Ivy adalah memandangi Matteo saat pagi, maka Matteo mempunyai kebiasaan memeriksa

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #463 Niat dan Lurus

    Matteo menatap punggung Ivy yang sedang memasak, sambil menyesap kopinya perlahan. Sesekali dia melirik ke luar jendela kaca besar di sampingnya. Pemandangan diluar menyajikan udara musim gugur yang bersih, dengan langit biru cerah.Ivy membuka celah jendela di dekat dapur, agar ada angin segar yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status