Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / S2 #413 Percaya dan Yakin

Share

S2 #413 Percaya dan Yakin

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-04-16 07:06:43
Ivy lega, saat ia berhasil menyusup masuk ke dalam lift, sepersekian detik sebelum pintu itu menutup rapat.

"Matteo..." Ivy mencoba membuka pembicaraan, tapi Matteo menggeleng.

"Tapi aku..."

Matteo mengangkat tangannya. "Cukup, Vy. Aku sedang tidak ingin mendengar apapun saat ini. Kalaupun kau ingin menjelaskan atau apa, nanti saja," ujar Matteo. Suaranya sudah berubah nyaris hanya berupa geraman rendah.

Matteo tahu apa batasan amarahnya. Jika saat ini Ivy membahas soal apa yang dia dengar tadi,
aisakurachan

😍😍 love Abang Matt

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #426 Penantian dan Keberhasilan

    Masih ada tersisa dua potong pakaian pada tubuh Ivy, dan jantungnya kini kembali berdegup khawatir. Ingat bagaimana Matteo pernah berhenti saat mereka sampai pada taraf ini. Tapi kekhawatiran Ivy tak diperlukan.Mata hijau yang dipujanya itu, tidak terlihat takut, hanya nafsu yang ada di sana. Nafsu murni yang mendorong tangan Matteo merengkuh tubuh Ivy."Dan aku mengira kau tak bisa lebih indah lagi...." desis Matteo. Tangan Matteo menyerang punggung Ivy, melepaskan pengait, ingin memandang dua benda yang tadi dipujanya, secara langsung. Matteo merintih, mereka seperti apa yang Matteo inginkan. Ranum, indah dan mengundang.Dengan dorongan hasrat, Matteo tak ragu memenuhi undangan itu. Tangannya menyentuh kulit pucat itu dengan lembut, dan dia tersenyum, saat Ivy bereaksi seperti yang dia inginkan.Bagian gelap pada puncaknya, mengeras sempurna, kembali mengundang Matteo untuk menyentuh lebih berani."Yes!" Dan Ivy menjerit, saat Matteo memutuskan untuk mengabulkan undangan itu.Sentu

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #425 Ingatan dan Bahagia

    Ivy tidak terlalu cepat mengerti, apa yang dimaksud oleh Matteo. Dia mengangkat tubuh, dengan perlahan dan mengernyit. Saat akhirnya Ivy melihat ke mana arah Matteo menatap, barulah dia sadar.Dadanya memang terlihat lebih menggiurkan saat dilihat dalam posisi seperti itu. Jika dilihat dari depan, saat dirinya berdiri normal, sebagian besar dadanya, akan tertutup oleh ornamen warna emas gaunnya itu. Tapi saat menunduk, maupun saat Matteo melihatnya dari atas, ornamen itu tidak berguna lagi. Benda menggiurkan itu terlihat dengan mudah.Matteo mengalihkan pandangan, tapi Ivy tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia berjalan mendekat."Apa yang kau inginkan?" tanya Ivy, meraih pipi Matteo, menarik wajah Matteo agar kembali menatapnya."You. Kau tahu itu..""Maka sentuh aku..." Ivy berjinjit, dan berbisik di telinga Matteo. Meniupkan nafas hangat menggelitik leher dan telinga Matteo."Tapi...""Sshh..." Ivy mendesis menyuruh Matteo diam, lalu menghirup aroma leher Matteo dengan suara tar

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #424 Tujuan dan Keadaan

    Semangat dan niat Ivy untuk membuka mata selama perjalanan, tidak sejalan dengan tenaga tubuh yang tersisa. Memang tubuhnya sudah sangat lelah. Semangat semu hasil pompaan rasa gembira, hanya mampu bertahan sekadarnya saja. Baru satu jam perjalanan, Ivy telah tertidur pulas.Sangat pulas, sampai dia tidak tahu ketika Matteo menutup tubuhnya dengan selimut. Matteo tersenyum melihat Ivy bergumam dalam tidurnya. Dia lalu berbaring di sebelahnya, dan menatap wajah Ivy, sampai matanya juga terasa berat.***Matteo terbangun saat pesawat mendarat, namun Ivy tidak. Matteo sangat bisa mengerti. Seluruh persiapan pengantin wanita, jauh lebih rumit daripada pria. Matteo tahu Ivy hampir dua hari tidak memejamkan mata.Matteo tentu harus tetap membangunkannya, karena saat pesawat mendarat mereka harus memakai sabuk pengaman.Ivy terlihat masih mengantuk meski terbangun. Dia hanya mengikuti arahan Matteo untuk duduk, dan kepalanya kembali terkulai, saat Matteo memasang sabuk pengaman.Dan keadaann

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #423 Tebakan dan Salah

    "Kita akan kemana?" Ivy mengulang pertanyaan, dan masih sama, Matteo tidak mau memberi jawaban dengan pasti."Ke bandara.""Aku bisa melihat kalau kita ke bandara!"Ivy menunjukkan keluar jendela mobil, yang memperlihatkan tulisan bandara John F. Kennedy, New York. Mereka sudah memasuki area bandara sejak tadi. Jawaban Matteo tidak salah, hanya saja bukan itu jawaban yang diinginkan Ivy."Kita akan kemana?" Ivy bertanya lagi."Kau akan tahu jawabannya nanti. Tinggal menunggu.""Bukan itu maksudku! Kita sudah melewati area drop in penumpang."Pertanyaan Ivy yang terakhir, adalah keheranan karena mereka tidak berhenti, justru terus berjalan ke sisi bandara yang belum pernah di jelajahi Ivy."Apa kau menduga aku akan membawamu pergi dengan penerbangan komersil dengan memakai baju ini?" Matteo mengangkat bagian luar rok Ivy."Kau akan menjadi tontonan yang sangat menarik." Matteo menahan senyum. "Kau cantik memakainya, sangat malah. Dan aku yakin semua akan berpendapat sama. Tapi kau tak

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #422 Rahasia dan Berangkat

    Kembali pernyataan Matteo mengundang tanya. Kepingan hitam itu bisa berarti sangat banyak. Namun, tidak ada yang menyela maupun bertanya lebih lanjut, karena tidak mungkin merusak suasana haru itu.Ivy berusaha keras berhenti menangis, namun gagal. Pipinya semakin basah sekarang. Padahal sulit sekali menghapus air mata, tanpa membuat riasan wajahnya kacau."Karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Ivy, karena telah menerima aku apa adanya yang seperti ini."Matteo mengangkat gelasnya, dan semua yang lain mengikutinya meminum sedikit isi gelas. Tepuk tangan sopan, mengiringinya duduk kembali.Sekarang Matteo bisa melihat, jika bukan hanya Ivy yang banjir air mata beberapa tamu wanita terlihat berhari-hati mengusap wajah, terutama Ellie. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Ivy, sampai Al sedikit rewel karena melihat ibunya menangis.Bahkan Macy yang berdiri mengawasi jalannya acara, tampak emosional menghapus pipinya dengan tisu."Kau pandai bicara! Seharusnya kau bicara l

  • Menipu Sang CEO Buta   #421 Haru dan Biru

    Raven benar-benar berubah menjadi baik saat bersama Ellie. Bukan hanya itu bukti yang mencengangkan Ivy. Dia juga melihat bagaimana Raven bisa terlihat lembut saat bermain bersama anaknya.Ivy sampai mencubit dirinya sendiri, saat melihat Raven menggendong Freya kemarin."Kau memandang apa?" Matteo rupanya merasakan perhatian lebih Ivy kepada Raven."Aku sedang memandang pria yang jatuh cinta. Dia benar-benar memuja Ellie."Matteo melirik Raven sekilas. "Apa aku juga terlihat seperti itu saat bersamamu?""Mungkin. Aku tidak tahu persis. Aku selalu melihatmu seperti ini." Ivy mengurai genggaman Matteo, untuk menunjuk dadanya."Kau pria yang lembut, yang selalu berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan akal sehat, di antara lautan derita dan lumpur yang membuat kehidupanmu menjadi hitam. Aku selalu melihatmu sebagai pria yang hebat. Pria hebat yang kini menjadi suamiku." Ivy tersenyum, lalu memeluk Matteo erat."Kau membuatku malu," kata Matteo. Sedikit tersipu mendengar itu."Kenapa

  • Menipu Sang CEO Buta   #175 Sambutan Tapi Pedas

    "Mengejutkan, tapi ingatan itu kuat." Ellie mengangguk."Matteo adalah satu-satunya orang di rumah Ranallo yang tidak mengernyit setiap kali melihatku. Dia tidak pernah berkata kasar atau menghina, tapi mungkin karena sifatnya memang pendiam.""Senang mendengarnya!" Raven menyindir, karena yakin Mat

  • Menipu Sang CEO Buta   #174 Tewas Tapi Untuk Apa?

    "Ada apa?" Wajah Raven mengerut penuh amarah, begitu telinganya mendengar kabar dari Jasper."Bagaimana bisa?!"Jasper menjawab pertanyaan itu dengan tidak memuaskan, karena kerutan dahi Raven tidak berkurang."Tapi untuk apa mereka melakukannya sekarang? Mereka sejak awal sudah mengaku!"Dan lagi,

  • Menipu Sang CEO Buta   #173 Lapar Tapi Bukan Makanan

    Aroma makanan membuat mata Ellie terbuka lebar. Steak! Hidungnya saat ini sedang mengendus aroma steak lezat.Ellie membuka selimut, lalu menutupnya lagi. Baru sadar jika dia tidak berbaju. Ellie melihat sekeliling, melihat almari yang menempel di dinding.Dalam balutan selimut, Ellie berdiri mengha

  • Menipu Sang CEO Buta   #172 Berani Tapi Diinginkan

    Raven menyusul Ellie berdiri di depan perapian. Ellie tadi sedang memeriksa perapian elektrik yang modern itu.Ellie kini berdiri mematung, menanti apa yang diinginkan Raven."Aku merindukanmu...." Tanpa basa-basi, Raven menarik lepas tali mantel Ellie, membuka dan melemparnya begitu saja ke lantai.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status