Share

3. Tidak diduga.

Penulis: Aksarajjawi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 12:18:31

Sayangnya, Michael langsung keluar dari toilet lagi. Membuat tangan Jennara yang nyaris memegang ponsel urung secepat kilat.

Hampir saja napasnya hilang.

Takut jikalau laki-laki itu memergokinya.

Tapi... sepertinya ekspresi Michael biasa saja.

Lantas, gadis itu tersenyum manis pada Michael yang sudah berjalan ke arahnya lagi.

“Nggak ada baby… harus beli sendiri. Nggak papa, aku terima kamu apa adanya kok.” Michael langsung mengungkung Jennara begitu saja.

Tidak memberikan kesempatan sedetik pun pada Jennara untuk menghindar. Laki-laki itu kini membungkuk, mulai melepas blazer hitam Jennara dan melemparnya asal.

Menyisakan kemeja putih milik Jennara, lalu juga membukanya pelan-pelan sambil tak berhenti memandang Jennara penuh dengan nafsu.

Jennara panas dingin, tetapi dia menahan tubuhnya tetap diam. Setiap sentuhan Michael membuat kulitnya merinding, itu bukan karena nikmat, tapi karena rasa jijik yang ingin meledak.

Dia menunggu celah.

Begitu tengkuk Michael turun, Jennara langsung mengaitnya paksa, membuat kepala laki-laki itu terbenam di bahunya.

Kesempatan itu muncul.

Dengan gerakan secepat kilat, Jennara menyeret ponsel Michael dari nakas.

Syukurlah, tidak ada sandi keamanan saat Jennara membuka sistem ponsel itu. Fitur ponsel di hp Michael langsung tergerak cepat, akibat jari jemari Jennara begitu lihai menekan tombol tombol sentuh di sana. Tangannya sendiri memang sudah amat terbiasa mengetik di keyboard komputer maupun ponsel, sehingga kecepatan jarinya sudah tidak bisa diragukan lagi.

Jennara berhasil membuka lima aplikasi keuangan dengan mudah. Semua itu tertaut dengan akun keuangan milik Jennara.

Tetapi, gerakan Jennara tertahan. Kepala Michael bergerak mendongak...

napasnya berat. Degup jantungnya bertambah.

Buru-buru Jennara menyelipkan ponsel itu. Lalu membalas gerakan Michael sejenak agar laki-laki itu tetap berada dalam posisi itu.

Berhasil. Napasnya terhembus sedikit agak legah.

Dengan gerakan yang amat pelan, Jennara mulai fokus ke ponsel Michael lagi.

“Tidak mungkin ku-ubah satu per satu pengaturan aplikasinya. Buaya darat ini bisa cepat sadar kalau aku terlalu lama!” lirih Jennara dari dalam hatinya.

Sebagai orang yang bekerja di perusahaan bidang teknologi, tentu saja Jennara tahu bahwa ada langkah cepat agar semua program aplikasi keuangan itu tak bisa diakses lagi oleh Michael.

Dia menekan tombol power ponsel itu, hingga muncul tiga panel.

Matikan Daya.

Mulai Ulang.

Kembali ke Setelan Pabrik.

Jennara menekan panel ketiga.

“Syukurlah, tidak ada sinkronisasi akun lagi. Michael selain gagal bangun usaha, juga bodoh soal teknologi. Entah apa yang dulu kusuka dari dia,” cibir Jennara dari dalam hati.

Lalu tersenyum puas, saat ponsel Michael benar-benar mulai kembali ke Setelan Pabrik.

Sudah dipastikan, ponsel Michael akan kembali ke masa pertama ponsel itu diaktifkan. Dan segala data pasti sudah terhapus tuntas tanpa sisa.

Kedua tangan Jennara angsung bergerak mendorong Michael yang sudah semakin turun ke bagian bawah lehernya.

PLAK!

“What the fuck, Jennara?!” tajam Michael langsung sambil memegangi pipinya yang panas akibat tertampar Jennara.

Jennara memberikan senyum sinisnya untuk Michael, “jangan mimpi bisa sentuh aku!”

Jennara langsung berdiri dari kursi. Menyambar blazernya sendiri dan segera keluar dari kamar hotel itu. Meninggalkan Michael yang sudah uring-uringan sendiri di kamar hotelnya.

Jennara bahkan tak sempat merapikan kemejanya yang sedikit mengekspos kulit bahu dan sedikit tali bra putihnya begitu keluar dari pintu.

Dia buru-buru bergegas lari, agar Michael tak dapat menangkapnya sama sekali.

Jennara tak tahu.

Sejak dia tiba di hotel, seseorang telah rutin mengikuti dan menangkap jejak setiap langkah tubuhnya. Mengarahkan kamera, dan merekam serta memotretnya tanpa celah satupun.

***

Usai merapikan penampilannya di toilet hotel, Jennara berkaca. Memastikan kalau dirinya sudah rapi kembali. Tak ada sisa-sisa jejak sentuhan dari Michael.

Jennara melangkah keluar dari toilet. Langsung menuju parkiran. Dan sudah melihat taksi online pesanannya. Jennara menumpangi taksi itu.

Kisaran waktu dua puluh menit, cukup lama karena macet. Jennara akhirnya sampai di apartemen lagi. Karena dia sudah izin juga ke Laura untuk cuti, jadi tak mungkin dia kembali ke kantor.

Jujur saja, hati galau Jennara masih ada. Apalagi, dia baru saja menantang bencana datang ke kamar hotel Michael sendirian saja. Membuat jantungnya saat ini butuh relaksasi lebih. Gadis itu memutuskan untuk memanfaatkan waktu cutinya. Bersantai sambil menenangkan diri.

Setelah berhasil masuk ke kamar apartemen, Jennara meletakkan tas putihnya ke meja rias. Blazer juga dia tanggalkan ke sofa. Sepatu hak tinggi di kakinya pun dia lepas. Sisa kemeja putih dan celana hitamnya.

Jennara langsung duduk santai di atas ranjang. Meraih dan membuka laptop dari laci. Mengaktifkannya, sampai laptop itu terkoneksi.

Jennara bangkit sebentar, mengambil Snack kentang dari kulkas. Lalu kembali duduk di ranjang. Melanjutkan kegiatan menonton layar laptop.

Jarinya menggulir santai pada tetikus. Untuk melihat postingan berita-berita terbaru di halaman populer Website milik Media Sky Star Technology, radar berita di perusahaan tempatnya bekerja.

Ada sebuah berita menarik perhatiannya.

“Taglinenya panjang amat,” lirih Jennara. Lantas mengklik halaman berita itu.

[ Putra Mahkota Pemilik Sky Star Technology, Pemegang Saham Tertinggi, Chakra Ragantara muncul ke permukaan, menjadi salah satu CEO termuda yang berhasil melambungkan prestasi hingga tingkat mancanegara melalui peluncuran produk sistem Artificial Intelegensi terbarunya. ]

Setelah artikelnya terbuka lebar. Jennara melihat dengan jelas, wajah dari pemilik nama Chakra Ragantara tersebut. Lantas melanjutkan untuk membaca seluruh isi artikelnya.

Ada keterangan khusus, bahwa laki-laki itu selama ini hanya bersembunyi di balik para karyawan perusahaan. Untuk mengetes kualitas kerja karyawan di dalam perusahaan.

Jennara jadi ingat.

Sebuah kejadian. Itu baru pagi hari tadi.

“Oh … yang di lift tadi! Astaga … anak Pak Bos! CEO pula! Jennara … bisa-bisanya kamu nggak say hello ke dia,” lolos Jennara jujur dari hati, sedikit terkejut dengan fakta berita itu.

Jennara dengan semangat membaca berita itu sampai akhir. Tak ada satupun kalimat yang membuat citra pria bernama Chakra Ragantara itu buruk. Semua tertulis dengan amat detail dan rapih.

Hanya segudang prestasi yang disebut. Jennara sendiri jadi takjub. Tak menyangka, bahwa ada orang seperti Chakra di negara ini.

Jennara yakin, isi berita artikel itu tidak ada yang dibuat-buat. Karena selama dua tahun bekerja di Sky Star Technology, Jennara selalu melihat kualitas berita yang mereka luncurkan. Berita mereka selalu fakta dan real time. Walaupun kadang, juga ada berita yang sedikit sensasional terkait para pekerja karyawan.

Seperti kemarin, saat berita tentang salah satu karyawan viral. Tertangkap basah sedang malam mingguan di rumah satpam. Baik karyawan dan juga satpam di berita itu, mengakuinya tanpa membantah.

Maka Jennara yang benar-benar mempercayai berita di laman tersebut.

Merasa… sedikit kagum dengan isi berita putra mahkota itu.

“Ganteng… kaya … berprestasi pula. Beruntung banget nanti yang jadi istrinya,” celetuk Jennara polos.

Hingga Jennara pun keluar dari artikel itu. Sekedar menggulir-gulir lagi untuk mencari-cari berita lain. Banyak sekali tesis-tesis muncul di timeline. Jennara sangat suka membaca berita di laman Sky Star.

Sampai tak sadar sudah memakan waktu satu jam. Hanya untuk menggulir isi berita saja. Jennara tetap asyik. Seolah tak bisa lagi diganggu.

Jarinya terus menggulir tetikus. Hingga sebuah tulisan sensasional muncul. Jennara membeku.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Artikel itu mengaitkan namanya.

Matanya menajam. Sebuah judul besar dari laman tautan berwarna biru itu menusuk relung hatinya. Begitu kentara jelas, membuat dada Jennara sesak. Napasnya mulai panas. Tangannya gemetar seraya menekan panel berita itu.

[ HOT NEWS! STAFF ASISTEN AKUNTANSI, ALINKA JENNARA, TERTANGKAP BASAH SEDANG CHECK IN KE HOTEL IN NETHERLANDS, SEPERTINYA GAIRAH SUDAH TAK TERTAHANKAN! ]

“Siapa yang upload berita ini?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   24. Sebenarnya, hubungan apa?

    Suasana di restoran hotel itu menjadi naik. Tidak sekedar panas yang tak teredam oleh udara dingin buatan mesin AC. Tetapi, akibat lirikan lari orang-orang juga menjadi faktor utama. Jennara diam seperti patung. Tetap berusaha tak ikut campur meskipun tangan nya masih digenggam erat oleh Chakra. "Ada apa, Chakra? Kenapa sewot?" sahut seorang Pria. Suaranya tegas, nyaris mirip seperti suara Chakra. Tapi, wajah tampan mereka berbeda karakter. Gadis cantik yang menjadi sebab Chakra menghampiri mereka pun berdiri. Mencuat di tengah-tengah, "hey, kalian berdua kenapa?" kata Pamela, mencoba untuk tetap tenang. Tapi, peraga gadis itu lebih condong untuk Sadewa. Pamela mendekati Sadewa dan menjulurkan tangannya. "Ayo, Sadewa. Ini, lagi ada pasangan yang lagi naik daun, kita nggak boleh naik pamor juga," ujarnya sambil terkekeh. Tapi, ketegangan dari Chakra dan Sadewa tidak serta merta langsung mereda. Malah, ada tatapan bagaikan perang petir dari keduanya. Padahal, biasanya mereka ber

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   23. Lagi lagi heboh!

    *** "Cuman demi makan siang, Pak. Ngapain kita harus reservasi hotel segala?" celoteh Jennara. Gadis itu selesai memasang seatbealtnya. Dengan wajah yang cukup menekuk dibandingkan biasanya. Chakra melirik kepada Jennara. Wanita itu memang sudah duduk sempurna di kursi sebelah kiri. Tetapi, wajahnya tampak cukup murung. "Ya biar nggak ada tekanan dari orang-orang kantor. Bukannya tadi kata kamu nggak nyaman." "Ya tapi kan nggak harus reservasi hotel, Bapak Chakra. Kan kita bisa delivery order terus makan di ruangan, Bapak," terang Jennara, merasa sangat sayang dengan tindakan boros dari Chakra. "Oh, kamu terlalu nyaman ya di ruangan saya?" Pertanyaan itu menusuk relung hati Jennara. Apa yang salah dari kalimatnya sampai bisa-bisanya Chakra berbicara begitu? Mana mungkin dia terlalu nyaman? Ah! "Bapak udah deh. Bisa dicancel nggak itu makan di hotelnya? Lagipula, kita bakal balik lagi ke perusahaan jadi ngapain makan jauh-jauh." "Kok jadi kamu yang ngatur, Jennara?" Ter

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   22. Pembelaan pertama di Depan Umum

    Selang sekitar tiga jam Jennara tiduran di sofa ruangan CEO milik Chakra. Jennara diam, sambil menerima pesan dari Laura. Atasannya di Tim Akuntansi Keuangan itu, mendadak menjadi baik semenjak Chakra mengatakan sesuatu yang tidak dipahami oleh Jennara. Bahkan, Laura tak marah saat kini Jennara tidak hadir di rapat internal Tim Akuntansi. Padahal, biasanya telat satu menit saja langsung kena amukan!Ini bisa dibilang berkah orang dalam atau bukan, tetapi, Jennara cukup menikmatinya. Memang, dia masih butuh refreshing setelah semua yang terjadi. Dibiarkan diam dan tidak melakukan apapun di ruangan Chakra adalah benefit yang cukup bagus. Setidaknya, Jennara bisa mengistirahatkan otaknya sejenak.Sampai kini, langkahnya telah berganti tepat. Chakra membawa Jennara untuk break jam makan siang. Ke sisi tangga bawah. Grand Floor, yang biasanya berdampingan dengan Foodcourt.Lalu, penampakan lampu serba hijau yang terpampang di etalase kaca pameran, menyambut datangnya Chakra dan Jennara.Ke

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   21. Di Ruangan Chakra [ 🔥 ]

    Pintu telah tertutup rapat. Jennara memasuki ruangan yang terasa sangat dingin. Melirik pada monitor digital mesin AC yang suhunya memang dibuat untuk dingin. Sampai gadis itu merapatkan blazernya untuk menyamarkan rasa dingin di tubuhnya. "Laura ya Leader, kamu?" ujar Chakra, yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya. Laki-laki itu langsung bergerak runut membuka map-map, kertas-kertas dan laptopnya. "Iya, Pak..." kata Jennara, langkahnya mendekat, karena dia memang masih berada di depan ambang pintu yang sudah tertutup. Jennara, berhenti di depan meja Chakra. Berdiri sangat formal. Menanti apa yang mungkin akan diperintahkan lagi oleh Chakra. Sampai satu lirikan dari Chakra, diperoleh Jennara. Membuat gadis itu siap sedia seakan mengerti bahwa dirinya akan diberi tugas. Tapi, mendadak. Chakra berdiri dari kursinya. Tampak memutar melangkah pelan. Tiba-tiba... dia mendekati Jennara. Merengkuh tubuh Jennara, ke dalam dekapannya. Tentu saja, Jennara takut setengah mati

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   20. Dejavu

    Jantung Jennara mencelos. Rasanya seperti jatuh ke perut. Tubuhnya melemas seketika, nyaris limbung, jika Chakra tak sigap menopang bahunya."Kenapa kamu?" tanya Chakra, suaranya sedikit berubah nada.Jennara akhirnya sadar, bahwa tubuhnya sedang dipapah oleh Chakra. Gadis itu buru-buru untuk menegakkan tubuhnya sendiri. "M-Maaf, Pak. Kaget," kata Jennara, sembari merapikan pakaiannya, sebagai pengalihan untuk rasa malu yang menderanya."Bentar," kata Chakra. Langkahnya maju, mendekati panel tombol lift.Jari laki-laki tersebut baru sama menekan tombol lift berkali-kali. Sebagai sinyal darurat bahwa transportasi gedung ini sedang bermasalah. Wajahnya masih tenang. Meskipun, ada sedikit cemas.Bagaimanapun, Chakra tidak sendiri di sini.Dia bersama dengan seorang gadis."Pak, nggak bisa ya?" ujar Jennara, setelah cukup lelah melihat Chakra menekan berulang tombol lift tapi tidak ada reaksi apa-apa.Chakra menghentikan aksinya, memundurkan langkah. Untuk bersejajar dengan Jennara. Lalu,

  • Menjadi Belahan Jiwa CEO   19. Day 1 Masuk Kerja dengan Status Fenomenal

    Penampilan Jennara sudah siap. Setelah menuruti kata-kata Chakra untuk naik ke lantai 3. Mengambil satu stel baju, yang kini terlihat cocok di tubuhnya saat Jennara sedang mengaca. Itu sebuah celana formal berwarna coklat gelap, kemeja putih dan blazer coklat sedikit bermotif pita di kerahnya. Tidak tahu baju ini ditujukan untuk siapa. Tapi, yang jelas, setelannya bagus. Jennara juga sudah berdandan cantik. Dia menatap kaca seolah sedang menghimpun kekuatan di sana. Menggenggam rapat-rapat kedua tangannya. Dia akan segera bekerja lagi. Dengan gosip yang beredar, dengan status palsu yang cukup fantastis. Bahkan, Jennara akan berangkat bersama dengan Chakra. Sudah dapat dibayangkan olehnya, akan seperti apa pemandangan yang terjadi. Semua orang pasti kepo, semua orang pasti bergunjing! Tetapi, Jennara harus berdiri tegak! "Fighting! Jennara! Kamu pasti bisa! Let's go! Everything will be ok!" tandas Jennara mantap, memberikan semangat penuh untuk dirinya sendiri. Untuk saat ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status