MasukKalut membaca artikel itu, Jennara tak sadar Snack kentangnya sudah tumpah berserakan ke ranjang. Fokusnya berpusat total pada sisipan video dan foto yang ada di artikel.
Jennara memutar sisipan Video. Itu adalah rekaman dirinya yang memasuki kamar 111. Juga saat setelah dia keluar dari sana. Bahkan, ada zoom untuk melihat lebih detail penampilannya. Jelas sekali, bagian bahu putih dan sepotong tali bra miliknya terpampang dari video itu. Jennara menggigit bibirnya. Keluar dari video itu, berlanjut melihat beberapa foto. Dari saat dirinya berada di meja resepsionis. Hingga sampai memasuki kamar. Semuanya ada! "Penguntit dari mana yang kurang kerjaan ngerekam aku cuman buat berita bohong kayak gini, sih?!" monolog Jennara sangat marah. Otak kepala Jennara mulai semakin panas. Mencoba mengklik tautan artikel itu berkali-kali. Berharap bisa terhapus dari layar laptopnya. Tapi, nihil. Yang ada, malah laporan statistik baca artikel tersebut sudah 99.877 kali dibaca. Tentu saja langsung sebanyak itu. Media Website Sky Star termasuk cukup populer diikuti oleh 5 juta penggemar. Tangan Jennara terus gemetar hebat. Kolom komentar sudah ratusan. Padahal, artikel itu baru diunggah sekitar 18 menit lalu. Bodohnya, Jennara malah penasaran dan membuka kolom tersebut. ^ Lah, Jennara yang begitu masuk Sky Star udah langsung jadi asisten Bu Laura itu? ^ Waduh!!! Pernah naksir dia tapi kok... nakal????? ^ Nggak nyangka sama Jennara! ^ Saya kira orang baik-baik loh... "So stupid! Kalian semua bodoh udah percaya sama berita ngawur! Padahal itu semua bohong!" cerca Jennara, langsung menutup laptopnya. Gadis itu merosot dari ranjangnya. Duduk lemas di sana seraya memijat pelipisnya. Merasakan perasaan bergetar yang tidak berhenti. Ponselnya turut mengganggu. Saat banyak notifikasi berisik, memaksa Jennara meraihnya. Puluhan pesan sudah masuk dari Laura. Pesan terakhir membuat Jennara merasa nyawanya sudah lepas. Kepala Laura : Jennara, ditunggu ya, di ruang saya. "Pesan keramat kenapa harus muncul juga sih, astaga..." Suara Jennara serak. Dia mengacak-acak rambutnya jadi tak karuan. Membanting ponselnya. Seisi apartemen pun mendadak terasa menyesakkan. Jennara menghela napas berat. Tersesat dengan kejadian luar biasa tak terduga ini, bagaikan dihantam ribuan duri. Jennara tak mau berlama-lama di apartemen. Dia ingin udara segar. Gadis itu berdiri. Membuka lemari. Meraih Hoodie abu-abu miliknya. Langsung mengarungi tubuhnya dengan Hoodie itu. Tak lupa, mengenakan masker di wajahnya. Kacamata hitam sebagai kompensasi terakhir agar tak ada yang mengenalinya saat di jalan. Karena, Jennara yakin. Dia sudah pasti akan menjadi incaran wartawan dari para peliput berita Sky Star. Gadis itu mengambil tas hitam kecil. Yang biasa dia gunakan untuk keperluan jalan-jalan. Hanya ada kartu kredit dan dompet berisi beberapa lembar uang ratusan ribu, sisa hang out waktu bulan lalu. Jennara membungkuk untuk memungut ponsel, menekan aplikasi ojek. Lalu bergegas keluar dari kamar. "Itu dia! Orangnya." Tubuh Jennara yang baru saja keluar dari pintu, langsung mematung. Matanya menyipit menahan gugup. Kedua tangannya pun mengepal. Terpaku saat melihat keberadaan tetangga kamar apartemennya, sedang menatap dirinya sambil tersenyum mencurigakan. "Aduh... Jennara. Apartemen ini kan sebelahan sama wartawan ribet itu!" lirihnya, merasa menyesal keluar dari apartemen. Tapi, masuk lagi pun tak ada gunanya. "Jennara! Ayo kita-" "Nggak!" tolak Jennara mentah-mentah. "Jauh-jauh dari saya...." Jennara langsung lari secepat kuda. "Woy! Jennara! Jangan pelit-pelit informasi dong!" Tapi orang itu tidak diam saja. Dia tersenyum licik. "Ngajakin kejar-kejaran?! Ya ayo, Jennara!" Jennara menoleh ke belakang di tengah larinya. Napasnya cukup terengah-engah. Matanya kontan melotot. Mendapati tetangga apartemennya itu mengejar dia. Jennara langsung fokus ke depan. Menambah kecepatan larinya. "Sialan banget sih ... " rutuk Jennara. Matanya melirik kanan-kiri sambil terus berlari. Lorong apartemen ini cukup sepi dan dingin. Hanya gema suara dari sepatunya dan juga sepatu milik tetangganya itu. Ada satu lorong yang berbelok. Jennara hapal, di sana ada dua sekat ruangan pembersih. Sangat bagus jika dipakai mengecoh. Langsung saja, Jennara mengikuti arah belokannya. Tetangga wartawan di belakang sedikit berjarak. Seharusnya, dia tidak tahu kini Jennara sedang sembunyi di ruangan sebelah kiri, usai berbelok. Derap suara sepatu terdengar. Hentaknya masih kencang. Jennara yakin, orang itu langsung lari mengikuti arah lorong. Dan tidak mengecek sisi-sisi ruangan yang dipakai dirinya bersembunyi kala ini. Jennara mengindip. Keluar dari ruang pembersih itu, mengintip dari balik ambang pintu. Dia menurunkan kacamatanya sedikit. Lalu menoleh kanan kiri. "Fyuh..." hembusnya legah. Tak ada tanda-tanda kehidupan, selain dari OB yang sedang mengepel. Jennara langsung bergerak pelan keluar dari sisi ruang itu. Melirik ponselnya. Taksi online sudah standby di titik jemput. Jennara mengebut langkah lagi. Melewati basement, dan menuju halte seperti biasa. Sudah ada taksi dengan mobil berwarna hitam legam. Jennara masuk tanpa berbasa-basi lagi. "Pak, muter-muter dulu aja. Nanti saya tips lima ratus ribu." Sopir taksi itu mengiyakan. Karena sudah diiming-imingi tips besar. Melajukan mobilnya. Sesuai dengan permintaan Jennara, berputar-putar saja di jalan raya Aneka. Pikiran Jennara terkelu. Saat gadis itu telah nyaman merebahkan diri di hamparan jok mobil. Memandang dari jendela kaca, pada jalanan yang cukup padat. Melamun, merasakan hidupnya seperti roller coaster hanya dalam waktu satu hari. Jennara jenuh. Ketika mobil taksi itu sudah berputar-putar selama satu jam. Dia melirik sopir, "ke hotel terdekat, Pak, sekarang." "Siap, Mbak!" Jennara melanjutkan lamunannya. Menikmati rasa galau dan juga rasa tak percaya akan segala hal yang sudah terjadi. Semua terasa begitu mendadak dan begitu dramatis. Sampai-sampai... Jennara tak sadar, taksi itu berhenti di hotel yang sama. Di tempat dirinya sudah masuk laman berita. Hotel in Netherlands lagi. "Makasih, Pak." Jennara sudah menyerahkan ongkos serta membayar tipsnya. Melangkah dari parkiran, menuju gedung hotel yang tak terlalu dia perhatikan itu. "Itu Jennara!" "Pas banget!" "Guys... standby kamera kalian!" Seketika itu juga. Napas Jennara tersendat. Wajahnya pucat pasi. Lirikan matanya menyerong ke kiri. Sudah ada banyak wartawan berlari ke arahnya. Seperti lalat yang mengejar ikan teri. "Aaaa!" Jennara berteriak, langsung lari masuk ke hotel. Kericuhan terjadi sampai satpam dan juga petugas hotel susah membentengi langkah Jennara. Termasuk para wartawan konyol yang mengejarnya. Jennara berhenti mengatur napasnya. Sambil melihat ke belakang. Para satpam sedang menahan wartawan-wartawan gila itu. "Apes banget sih Jennara ini ..." keluh Jennara, membungkuk menopang tubuhnya di lutut. Tapi sejenak saja, matanya langsung nyaris keluar saat salah satu wartawan berhasil menerobos masuk. "Sialan!" rutuk Jennara, dia langsung lari lagi. Terbirit-birit seperti ayam dikejar kucing. Melewati berbagai lorong, menyenggol banyak orang-orang, sampai masker penutup wajahnya bahkan terlepas. "Hati-hati dong, Mbak. Jalanan umum ini." Tapi Jennara tidak menggubris omelan mereka. Yang terpenting, jangan sampai tubuh kecilnya ini tertangkap oleh mereka semua. "JANGAN LARI JENNARA!" "Shit!" Jennara melirik sekilas, pada wartawan-wartawan itu yang tak kunjung menyerah. Mau tak mau dia lagi-lagi menapaki lorong baru. Naik tangga kecil. Sampai di bilik lorong hotel yang cukup hening. Derap kakinya bertambah cepat, saat mendengar langkah kaki ramai di belakang. Orang-orang itu masih mengejar. Membuat Jennara kelabakan. Sudah tak ada lagi tangga ataupun lift. Ruangan ini seperti lorong yang sudah buntu. Hanya ada tiga pintu kamar. Yang salah satu pintu kamarnya, sedikit menganga... Saat langkah suara kaki ramai itu semakin dekat. Jennara tak lagi berpikir panjang. Dia memasuki kamar itu. KLEP! Langsung menutup pintunya rapat. Tubuhnya melemas seketika. Menghembuskan napas sebanyak mungkin. Jennara terduduk lemas menghadap pintu kamar itu, dengan tangannya yang masih tersangkut di handle. Tetapi setelahnya ... Suara bariton tegas, dan datar, kontan mengudara. Menyeruak di telinga Jennara tanpa interupsi. "Masuk kamar saya tanpa izin?"Suasana di restoran hotel itu menjadi naik. Tidak sekedar panas yang tak teredam oleh udara dingin buatan mesin AC. Tetapi, akibat lirikan lari orang-orang juga menjadi faktor utama. Jennara diam seperti patung. Tetap berusaha tak ikut campur meskipun tangan nya masih digenggam erat oleh Chakra. "Ada apa, Chakra? Kenapa sewot?" sahut seorang Pria. Suaranya tegas, nyaris mirip seperti suara Chakra. Tapi, wajah tampan mereka berbeda karakter. Gadis cantik yang menjadi sebab Chakra menghampiri mereka pun berdiri. Mencuat di tengah-tengah, "hey, kalian berdua kenapa?" kata Pamela, mencoba untuk tetap tenang. Tapi, peraga gadis itu lebih condong untuk Sadewa. Pamela mendekati Sadewa dan menjulurkan tangannya. "Ayo, Sadewa. Ini, lagi ada pasangan yang lagi naik daun, kita nggak boleh naik pamor juga," ujarnya sambil terkekeh. Tapi, ketegangan dari Chakra dan Sadewa tidak serta merta langsung mereda. Malah, ada tatapan bagaikan perang petir dari keduanya. Padahal, biasanya mereka ber
*** "Cuman demi makan siang, Pak. Ngapain kita harus reservasi hotel segala?" celoteh Jennara. Gadis itu selesai memasang seatbealtnya. Dengan wajah yang cukup menekuk dibandingkan biasanya. Chakra melirik kepada Jennara. Wanita itu memang sudah duduk sempurna di kursi sebelah kiri. Tetapi, wajahnya tampak cukup murung. "Ya biar nggak ada tekanan dari orang-orang kantor. Bukannya tadi kata kamu nggak nyaman." "Ya tapi kan nggak harus reservasi hotel, Bapak Chakra. Kan kita bisa delivery order terus makan di ruangan, Bapak," terang Jennara, merasa sangat sayang dengan tindakan boros dari Chakra. "Oh, kamu terlalu nyaman ya di ruangan saya?" Pertanyaan itu menusuk relung hati Jennara. Apa yang salah dari kalimatnya sampai bisa-bisanya Chakra berbicara begitu? Mana mungkin dia terlalu nyaman? Ah! "Bapak udah deh. Bisa dicancel nggak itu makan di hotelnya? Lagipula, kita bakal balik lagi ke perusahaan jadi ngapain makan jauh-jauh." "Kok jadi kamu yang ngatur, Jennara?" Ter
Selang sekitar tiga jam Jennara tiduran di sofa ruangan CEO milik Chakra. Jennara diam, sambil menerima pesan dari Laura. Atasannya di Tim Akuntansi Keuangan itu, mendadak menjadi baik semenjak Chakra mengatakan sesuatu yang tidak dipahami oleh Jennara. Bahkan, Laura tak marah saat kini Jennara tidak hadir di rapat internal Tim Akuntansi. Padahal, biasanya telat satu menit saja langsung kena amukan!Ini bisa dibilang berkah orang dalam atau bukan, tetapi, Jennara cukup menikmatinya. Memang, dia masih butuh refreshing setelah semua yang terjadi. Dibiarkan diam dan tidak melakukan apapun di ruangan Chakra adalah benefit yang cukup bagus. Setidaknya, Jennara bisa mengistirahatkan otaknya sejenak.Sampai kini, langkahnya telah berganti tepat. Chakra membawa Jennara untuk break jam makan siang. Ke sisi tangga bawah. Grand Floor, yang biasanya berdampingan dengan Foodcourt.Lalu, penampakan lampu serba hijau yang terpampang di etalase kaca pameran, menyambut datangnya Chakra dan Jennara.Ke
Pintu telah tertutup rapat. Jennara memasuki ruangan yang terasa sangat dingin. Melirik pada monitor digital mesin AC yang suhunya memang dibuat untuk dingin. Sampai gadis itu merapatkan blazernya untuk menyamarkan rasa dingin di tubuhnya. "Laura ya Leader, kamu?" ujar Chakra, yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya. Laki-laki itu langsung bergerak runut membuka map-map, kertas-kertas dan laptopnya. "Iya, Pak..." kata Jennara, langkahnya mendekat, karena dia memang masih berada di depan ambang pintu yang sudah tertutup. Jennara, berhenti di depan meja Chakra. Berdiri sangat formal. Menanti apa yang mungkin akan diperintahkan lagi oleh Chakra. Sampai satu lirikan dari Chakra, diperoleh Jennara. Membuat gadis itu siap sedia seakan mengerti bahwa dirinya akan diberi tugas. Tapi, mendadak. Chakra berdiri dari kursinya. Tampak memutar melangkah pelan. Tiba-tiba... dia mendekati Jennara. Merengkuh tubuh Jennara, ke dalam dekapannya. Tentu saja, Jennara takut setengah mati
Jantung Jennara mencelos. Rasanya seperti jatuh ke perut. Tubuhnya melemas seketika, nyaris limbung, jika Chakra tak sigap menopang bahunya."Kenapa kamu?" tanya Chakra, suaranya sedikit berubah nada.Jennara akhirnya sadar, bahwa tubuhnya sedang dipapah oleh Chakra. Gadis itu buru-buru untuk menegakkan tubuhnya sendiri. "M-Maaf, Pak. Kaget," kata Jennara, sembari merapikan pakaiannya, sebagai pengalihan untuk rasa malu yang menderanya."Bentar," kata Chakra. Langkahnya maju, mendekati panel tombol lift.Jari laki-laki tersebut baru sama menekan tombol lift berkali-kali. Sebagai sinyal darurat bahwa transportasi gedung ini sedang bermasalah. Wajahnya masih tenang. Meskipun, ada sedikit cemas.Bagaimanapun, Chakra tidak sendiri di sini.Dia bersama dengan seorang gadis."Pak, nggak bisa ya?" ujar Jennara, setelah cukup lelah melihat Chakra menekan berulang tombol lift tapi tidak ada reaksi apa-apa.Chakra menghentikan aksinya, memundurkan langkah. Untuk bersejajar dengan Jennara. Lalu,
Penampilan Jennara sudah siap. Setelah menuruti kata-kata Chakra untuk naik ke lantai 3. Mengambil satu stel baju, yang kini terlihat cocok di tubuhnya saat Jennara sedang mengaca. Itu sebuah celana formal berwarna coklat gelap, kemeja putih dan blazer coklat sedikit bermotif pita di kerahnya. Tidak tahu baju ini ditujukan untuk siapa. Tapi, yang jelas, setelannya bagus. Jennara juga sudah berdandan cantik. Dia menatap kaca seolah sedang menghimpun kekuatan di sana. Menggenggam rapat-rapat kedua tangannya. Dia akan segera bekerja lagi. Dengan gosip yang beredar, dengan status palsu yang cukup fantastis. Bahkan, Jennara akan berangkat bersama dengan Chakra. Sudah dapat dibayangkan olehnya, akan seperti apa pemandangan yang terjadi. Semua orang pasti kepo, semua orang pasti bergunjing! Tetapi, Jennara harus berdiri tegak! "Fighting! Jennara! Kamu pasti bisa! Let's go! Everything will be ok!" tandas Jennara mantap, memberikan semangat penuh untuk dirinya sendiri. Untuk saat ini







