MasukPagi itu terasa tenang.Anisa duduk di tepi tempat tidur, kakinya sudah menyentuh lantai. Tidak lama—hanya beberapa detik—tapi cukup untuk membuat dadanya hangat oleh rasa syukur.Melihat kedua kaki yang sangat sempurna ini, membuat air matanya menetes dengan sendirinya. Sepasang kaki ini akan selalu membuat ia teringat Yulia. Leo berdiri tak jauh darinya, waspada, namun tidak lagi terlalu tegang. Mereka sama-sama belajar menikmati proses.“Pelan-pelan,” kata Leo lembut.Anisa tersenyum. “Aku tahu.”Ia menapakkan kakinya lagi, dibantu alat bantu jalan. Ada rasa ngilu, ada gemetar, tapi juga ada kebanggaan kecil yang tak bisa disembunyikan dari matanya. Untuk pertama kalinya, ia tidak membenci tubuhnya sendiri.Ponselnya tiba-tiba bergetar.Anisa menoleh, awalnya tak terlalu peduli. Namun ketika melihat nama yang muncul di layar, senyumnya langsung memudar.Oma Wati.Nama itu seperti duri yang tiba-tiba menekan luka lama.Leo melihat perubahan di wajah Anisa. “Siapa?”Anisa menelan lu
Samuel tidak langsung menjawab.Ia mengangkat tangan Violet, menggenggamnya dengan kedua tangannya sendiri—hangat, pasti.“Karena Lauren membuat orang melihat ke arah yang salah,” katanya pelan.“Nama itu membuat mereka membayangkan sosok yang berbeda. Bukan aku.”Violet mengernyit ringan. “Dan kamu membiarkannya?”“Aku memilihnya,” Samuel membenarkan.Ia tersenyum tipis, lalu menatap Violet lebih dalam. “Di dunia yang terlalu suka menilai dari luar, kadang cara paling aman adalah tidak terlihat seperti diri sendiri.”Violet terdiam. “Kedengarannya… sepi.”Samuel menggeleng perlahan.“Tidak lagi.”Ia meremas tangan Violet lembut. “Sejak aku punya kamu, nama itu cuma tinggal nama. Topeng yang kupakai di luar.”Nada suaranya menghangat. “Tapi di hadapanmu, aku selalu Samuel. Sepenuhnya.”Jantung Violet berdegup pelan. “Jadi… Lauren bukan bagian darimu?”“Lauren adalah caraku bersembunyi,” jawab Samuel jujur.Samuel pernah mengalami hampir kehilangan nyawanya karena menjadi sasaran mafia
Paris pagi itu cerah.Langit biru bersih, angin musim semi menyapa lembut, dan kampus tempat Violet belajar terlihat lebih hidup dari biasanya. Namun ada satu hal yang terasa… janggal.Tidak ada Samuel versi “misterius”.Tidak ada topi yang ditarik rendah.Tidak ada masker.Tidak ada kacamata hitam yang menutupi wajah tampannya.Dan yang paling mengejutkan—tidak ada jarak.Samuel berdiri di samping Violet dengan setelan rapi, kemeja mahal yang pas di tubuhnya, rambut tersisir rapi, dan ekspresi tenang seperti dosen pada umumnya. Tangannya menggenggam tangan Violet dengan santai, seolah itu hal paling normal di dunia.Violet menoleh berkali-kali, memastikan apa yang dilihatnya nyata.“Mas…” panggilnya pelan.Samuel menoleh. “Ada apa sayang?”“Kamu… nggak lupa sesuatu?”Samuel berhenti melangkah. “Apa?”“Masker. Topi. Kacamata,” jawab Violet sambil menunjuk wajah suaminya.Samuel tersenyum kecil. Senyum yang jarang, tapi selalu membuat Violet melemah.“Tidak perlu. Hari ini adalah hari
Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela kamar rawat Anisa. Udara terasa berbeda—lebih ringan, lebih lapang. Tidak lagi berbau obat-obatan yang menempel di hidung, tidak lagi dipenuhi bunyi mesin yang setia menemani malam-malam panjangnya.Hari ini… ia pulang.Anisa duduk di tepi ranjang, mengenakan pakaian sederhana berwarna pastel. Kakinya—yang selama ini menjadi pusat kecemasan—terbalut rapi, terlihat jauh lebih baik. Tidak sempurna, belum sepenuhnya kuat, tapi hidup. Benar-benar hidup.Leo berdiri tak jauh darinya, memeriksa kembali berkas-berkas. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kelegaan.“Semua sudah siap,” katanya akhirnya. “Obat, jadwal kontrol, dan apa saja yang di larang, masih ingat?” Leo benar-benar bersikap professional layaknya dokter, bukan kekasih Anisa.Anisa mengangguk cepat. “Aku hafal, Dokter Leo. Jangan anggap aku pasien bandel.”Leo meliriknya. “Kamu itu pasien paling keras kepala yang pernah aku tangani.”“Tapi
Tiga bulan.Bagi sebagian orang, tiga bulan mungkin terasa singkat. Tapi bagi Noah, tiga bulan itu seperti puasa panjang yang menguji iman, kesabaran, dan… kewarasan seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Apalagi staminanya yang sedang kiat-kiatnya dan nafsu yang sedang tinggi.Ia patuh. Sangat patuh.Tidak menyentuh. Tidak menggoda. Tidak melanggar batas yang Aishwa tetapkan dengan wajah serius dan nada dokter yang tidak bisa dibantah.“Masih Rawan, mas. Tolong jangan sekarang.” Dan Noah mengangguk. Selalu mengangguk.Malam itu, suasana kamar terasa berbeda.Lampu temaram, udara hangat, dan Aishwa yang tampak lebih rileks dari biasanya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit lembap, mengenakan piyama longgar yang—entah kenapa—di mata Noah terlihat jauh lebih berbahaya daripada gaun mana pun.Noah menelan ludah.Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tangannya di atas paha. Posisi orang baik-baik yang sedang berusaha keras tetap baik-baik saja.Ais
Anisa menatap langit-langit kamar rumah sakit untuk kesekian kalinya hari itu. Warna putih yang sama, lampu yang sama, bau antiseptik yang sama. Rasanya seperti waktu berhenti di tempat yang itu-itu saja.“Leo…” panggilnya pelan, suaranya mengandung rengekan yang sudah tak ia sembunyikan lagi.Pria itu sedang duduk di kursi samping tempat tidur, fokus meneliti grafik medis di tablet. Namun begitu mendengar namanya dipanggil dengan nada seperti itu, Leo langsung menoleh. Tatapannya otomatis melunak.“Iya, sayang?” jawabnya tenang.“Aku bosan,” kata Anisa jujur. Bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca. “Aku sudah merasa jauh lebih baik. Kakiku juga nggak sakit seperti dulu. Kita pulang, ya?”Leo meletakkan tabletnya perlahan. Ia berdiri, lalu mendekat ke sisi tempat tidur. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut Anisa, gerakan yang selalu berhasil membuat wanita itu sedikit tenang.“Belum bisa,” jawab Leo lembut, tapi tegas.Wajah Anisa langsung berubah. “Lagi?” Nada suaranya naik s







