MasukMalam semakin larut.Jam di dinding bahkan sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.Dan akhirnya— setelah perjuangan panjang mengejar anak-anaknya, menggendong bayi, membuat susu, sampai membujuk anak-anak tidur—ruang keluarga mansion Hermawan berubah sunyi.Sangat sunyi.Deon tertidur tengkurap di dada Noah. Mulut kecilnya sedikit terbuka. Tangannya masih menggenggam kaus ayahnya erat-erat.Sedangkan Noah— tertidur dalam posisi setengah duduk dengan kepala miring ke sofa. Wajahnya benar-benar tampak lelah.Di sisi lain, Samuel tertidur sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa.Eve tidur pulas di pelukannya. Tubuh kecil itu meringkuk nyaman di dada ayahnya sambil sesekali mengisap jarinya sendiri.Sementara Michael—pria itu bahkan tertidur sambil duduk di karpet.Punggungnya bersandar di sofa. Kepalanya sedikit menunduk. Sedangkan putra kecilnya tidur anteng di pelukan hangatnya.Botol susu bahkan masih ada di dekat tangannya.Pemandangan itu— terlihat kacau.Namun anehnya… hangat
Michael berjalan pelan menyusuri lorong mansion sambil menggendong putra kecilnya yang mulai setengah mengantuk.Lampu malam menyala redup. Suasana rumah begitu tenang.Atau setidaknya— begitu yang Michael pikirkan.Karena beberapa detik kemudian—“HAHAHAHA!”Suara tawa anak kecil menggema dari arah ruang keluarga.Disusul suara langkah kaki mungil yang berlari cepat.Michael langsung berhenti berjalan.Keningnya berkerut.“Jam segini?”Belum sempat ia melangkah lagi—“DEON! Jangan naik situ!”Suara Noah terdengar hampir putus asa.Lalu—“Eve, sini sayang… jangan lari…”Suara Samuel terdengar jauh lebih sabar. Terlalu sabar malah.Michael langsung menghela napas panjang.“Ya ampun…”Ia akhirnya melangkah menuju ruang keluarga. Michael ingin memastikan, apakah bukan hanya dirinya yang tidak tidur malam ini?Dan begitu sampai—Michael langsung terpaku.Ruang keluarga yang biasanya rapi kini berubah seperti arena bermain mini.Mainan berserakan. Bantal sofa jatuh di mana-mana. Mobil-mobi
Tengah malam telah lewat cukup jauh.Mansion Hermawan terasa sangat sunyi. Lampu-lampu besar dimatikan satu per satu. Lorong panjang rumah itu kini hanya diterangi cahaya lampu berwarna hangat.Semua orang kelelahan setelah acara resepsi.Termasuk Michael.Pria itu bahkan baru saja benar-benar memejamkan mata beberapa jam lalu setelah membantu membereskan banyak hal.Namun—“Eeeh… ah… eh…”Suara kecil itu terdengar pelan dari baby box di samping ranjang.Michael membuka mata perlahan.Gelap.Sunyi.Lalu suara kecil itu terdengar lagi.“Oek… eh…”Michael menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar.“Kenapa kamu nggak ikut capek kayak orang lain sih…”Ia menoleh ke samping.Yura masih tertidur pulas. Sangat pulas.Wajah istrinya bahkan masih menempel di bantal sambil memeluk guling .Michael menatapnya beberapa detik.Lalu menghela napas pelan.“Nggak tega bangunin…”Akhirnya pria itu bangkit perlahan dari ranjang.Dan benar saja—Putra kecil mereka sudah membuka mata bula
Alicia berjalan pelan menyusuri taman belakang hotel. Gaun pastel yang dikenakannya bergerak lembut tertiup angin malam.Lampu-lampu taman menyala hangat. Membuat suasana terasa tenang. Berbeda jauh dari riuhnya pesta di dalam.Langkah gadis itu akhirnya berhenti di dekat kolam kecil.Dan di sana— Arbi sudah menunggu.Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Tatapannya langsung berubah lembut begitu melihat Alicia datang.Sedangkan Alicia— langsung tersenyum kecil.Namun senyum itu terasa berbeda malam ini.Ada bahagia. Tapi juga ada sedih yang tidak bisa disembunyikan.“Kamu sudah datang?” gumam Arbi pelan.Alicia berjalan mendekat. Lalu berdiri tepat di depannya.“Iya, maaf kalau kamu menunggu lama. Aku harus kabur pelan-pelan,” jawabnya pelan. “Kalau nggak nanti dicurigain.”Arbi tersenyum tipis.Namun beberapa detik kemudian— senyum itu perlahan memudar.Karena tiba-tiba ia sadar.Ini mungkin menjadi malam terakhir mereka seperti ini.Besok pagi Alicia akan
Uap hangat memenuhi kamar mandi hotel yang luas dan sunyi itu. Jasmine duduk di tepian bathtub sambil memeluk handuk kecil di dada. Pipinya masih merah muda sejak tadi. Entah karena udara hangat… atau karena pria yang berada di depannya.Atar berdiri tak jauh darinya, melipat lengan kemeja tidur yang baru saja ia kenakan kembali. Rambutnya masih sedikit basah. Beberapa tetes air jatuh perlahan dari ujung helainya menuju leher jenjang pria itu.“Mas… aku bisa sendiri…” gumam Jasmine lirih.Atar mengangkat wajah. Tatapannya lembut sekali.“Nggak percaya.”“Aku serius…”“Aku juga serius.”Nada suaranya ringan. Namun ada ketulusan yang membuat Jasmine tidak mampu membantah lebih jauh.Pria itu mengambil shower, mengatur suhu air dengan hati-hati, lalu mengarahkan aliran hangat itu perlahan ke kaki istrinya.Air mengalir lembut. Menghapus rasa pegal yang sejak tadi mengganggu.Namun justru perhatian kecil itu yang membuat dadanya semakin tidak tenang.Karena yang sedang merawatnya adalah
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut dari balik tirai kamar hotel. Keemasan. Hangat. Menyapu sudut ruangan dengan ketenangan yang nyaris terasa seperti mimpi.Dan pagi itu— untuk pertama kalinya dalam hidupnya— Jasmine terbangun sebagai seorang istri.Perlahan, bulu matanya bergerak. Matanya terbuka pelan, masih dipenuhi sisa kantuk dan kehangatan malam yang belum sepenuhnya pergi.Beberapa detik ia hanya diam. Menatap langit-langit kamar. Mencoba menyadari bahwa semua ini nyata.Kemudian— kenangan semalam datang begitu saja.Pelukan hangat. Bisikan lembut. Degup jantung yang saling bertabrakan dalam sunyi.Dan seketika, wajah Jasmine memanas.“Ya ampun, bagaimana aku lihat dia nanti…” gumamnya lirih sambil buru-buru menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.Namun detik berikutnya— ia sadar ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya.Jasmine menoleh perlahan.Atar sudah bangun.Pria itu duduk santai bersandar di kepala ranjang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, mem
Anisa terdiam cukup lama setelah Leo selesai membantunya minum. Matanya menatap langit-langit kamar rawat, lalu perlahan beralih ke wajah pria yang duduk setia di sisinya.“Leo…” suaranya lirih, nyaris ragu.“Iya?” Leo langsung menoleh.“Pendonorku…” Anisa menelan ludah. “Dia… siapa?” sudah sangat
“Sejak kapan?” tanyanya singkat, nada profesionalnya otomatis muncul.“belum lama,” jawab Anisa. “Tapi nyerinya kuat.”selama ini ia hanya tidak memberi tahu Leo, karena takut pria itu cemas. namun kali ini rasa sakit menjalar hingga sampai panggul dan ujung jari.Leo tidak langsung menyentuh kaki
Samuel berdiri kaku di depan pintu kamar, ragu untuk melangkah masuk. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Sudah beberapa hari ini ia belajar satu hal penting: jangan terlalu percaya diri, karena muntah Violet bisa datang kapan saja—tanpa aba-aba, tanpa belas kasihan.Namun pagi ini berbeda
Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela kamar rawat Anisa. Udara terasa berbeda—lebih ringan, lebih lapang. Tidak lagi berbau obat-obatan yang menempel di hidung, tidak lagi dipenuhi bunyi mesin yang setia menemani malam-malam panjangnya.Hari ini… ia pulang.Anisa duduk di tepi ranj







