LOGINGimana David ya 🫣🫣 Anaknya dibuat menangis. Habislah Galaxy kalau ketemu David 🫣
Bab 606 Ekstra Part Beberapa bulan setelah pernikahan megah itu. Kesibukan di rumah sakit tempat Willona bekerja tidak pernah surut. Willona baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhirnya. “Dokter Lona, Anda makin pucat.” Ya, karena sebenarnya sudah tadi sudah beberapa kali mereka bilang kalau wajah Willona pucat. “Aku tidak apa-apa.” Saat Willona beranjak. Dunia seolah berputar-putar. “Akhh!” Pandangannya mengabur. Belum dia sempat meraih tepian meja, tubuhnya limbung dan jatuh pingsan di ruang praktiknya. “Dokter!” – Di belahan kota yang lain, Galaxy sedang memimpin rapat. Ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Galaxy biasanya tidak pernah mengangkat telepon saat rapat, tapi melihat nama rumah sakit muncul di layar, perasaannya mendadak tidak enak. “Ya?” Mendengar laporan dari seberang sana, wajah Galaxy yang tadinya kaku mendadak pucat pasi. Dia langsung berdiri, sambil membanting dokumen. “Rapat selesai!” teriak Galaxy tanpa peduli pada tatapan
Detik berikutnya, sebuah lampu sorot tunggal menyala di tengah panggung, memperlihatkan sosok Reyvan yang berdiri tegak dengan mikrofon di tangan. Dia menarik napas panjang dan mulai bicara dengan suara baritonnya. “Saat sedang berburu di tengah hutan belantara, aku bertemu dengan harimau terkuat dan gagah berani. Harimau yang tak takut dengan kobaran api. Yang ada dalam benaknya saat itu adalah, melindungi kawanannya, menjaga kehormatan dan harga diri, dan melawan musuh kejam.” Betrand mengedip-ngedipkan matanya, dia paham calon mertuanya itu sedang bicara apa. Reyvan membuang napas sesal. “Tapi saat itu, kondisinya sangat mengenaskan. Dia terluka parah, kehilangan arah, dan seolah-olah sedang menunggu ajalnya tiba.” Suasana ballroom menjadi sangat haru. “Aku tidak membiarkannya mati. Menyuruh seseorang untuk merawat dan melatihnya kembali hingga dia menjadi kuat seperti sedia kala. Namun, ternyata harimau itu masih menjadi incaran para pemburu ganas yang ingin menghancurkannya
“Aluna, kamu tahu kenapa aku membangun bengkel ini di samping rumah kita?” tanya Betrand pelan. “Karena aku tak bisa jauh-jauh darimu. Saat ini hanya kamu yang menjadi alasanku untuk bermimpi soal masa depan, bermimpi soal kebahagiaan. Hanya kamu yang tersisa saat ini dalam hidupku. Dan cuma kamu tujuan hidupku.”Aluna berkaca-kaca. Tak bisa berkata-kata lagi.Betrand menatap dalam ke mata Aluna. “Terima kasih sudah mencintai pria rusak yang dulu hampir menyerah. Kamu tidak hanya menyembuhkan hatiku, tapi memberiku alasan untuk menjadi laki-laki yang lebih baik. Aku mencintaimu, Aluna. Sangat mencintaimu.”Aluna tersenyum, air matanya menetes pelan. Dia berdiri dan langsung memeluk erat pinggang Betrand, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. “Aku juga mencintaimu. Aku tidak hanya butuh pahlawan super, aku juga butuh kamu yang selalu ada buat menyuapin kalau aku manja. Jangan pernah pergi dari sisiku.”Betrand mendekap Aluna semakin erat, mencium puncak kepalanya dengan tulus.
Malam hari.“Hah! Om Bet!” Mata Aluna terbuka dan sontak melotot melihat sekitarnya. Dia merasa aneh karena dia berada dalam bengkel. Aneh. Dahinya berkerut saat mengedarkan pandangan dan merasa tempat itu tak asing baginya. Tapi karena kewarasannya belum terkumpul sepenuhnya, masih belum sadar di mana saat ini dia berada.“Astaga!” Lalu dia cepat-cepat berdiri dan memeriksa dirinya kalau-kalau saja sudah berkurang secuil atau …. sudah kehilangan sesuatu. Huffff …. Dia merasa aman karena kehormatannya sepertinya masih utuh, tapi … merasa aneh saat melihat penampilannya. Aluna saat ini memakai tahun berwarna putih elegan dengan rambut Curly. Dia juga memakai heels mewah elegan. Lalu, dia memegang pipi, kelopak mata dan lainnya. Rasanya sedikit berat dan dia paham kalau wajahnya sudah di make up. “Jangan-jangan!” Adegan film action saat penculikan seorang mafia itu langsung melintas dalam benaknya. Matanya melotot tegang, bulu-bulu harusnya langsung tegak. “Jangan-jangan. Jangan-jan
Betrand duduk di depan cermin. Jantungnya berdegup kencang saat dokter perlahan melepas lilitan perban terakhir yang menutupi separuh wajahnya.Aluna berdiri tepat di belakangnya sambil meremas tangannya sendiri dengan napas tertahan. Jantungnya juga berdetak tak karuan menunggu hasilnya.“Sayang ….” Nggak jadi berkata. Malah makin gugupKain putih itu terlepas sepenuhnya.Ruangan mendadak sunyi.Aluna menutup mulut dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca menatap pantulan wajah itu di cermin. “Oh tidak ….”Sedang Betrand tertegun. Gemetar dia menyentuh kulit pipinya yang kini halus, tanpa ada lagi bekas luka bakar yang dulu menghancurkan rasa percaya dirinya. Wajahnya kembali tegas dengan rahang yang kokoh, bahkan terlihat jauh lebih muda dan segar.“Ini ... aku?” bisik Betrand sambil menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri berkali-kali.Aluna melangkah maju, tangannya gemetar saat menyentuh rahang Betrand. “Kamu benar-benar keterlaluan.”Betrand menoleh menatap mata berkac
Hera menyenggol lengan Zayn keras, memberi kode agar laki-laki itu mulai bicara. “Ayo, Zayn, bicara. Jangan diam saja kayak patung begitu di depan Papaku,” bisiknya.Zayn berdehem pelan, mencoba mencari suara yang mendadak hilang di tenggorokannya. “Eh ... itu ... Om. Nama saya Zayn. Saya ... pacarnya Hera.”David langsung melangkah maju dengan wajah yang tidak bisa dideskripsikan antara malu dan ingin tertawa. “Dia anak saya, Prof.”Suasana yang tadinya tegang seketika pecah. Papa Hera, seorang profesor terkemuka yang merupakan teman lama David itu langsung terbelalak. Dia menatap David dan Zayn bergantian dengan raut tidak percaya.Hera juga melebarkan matanya tak percaya. Niatnya cuma cari cowok buat jadi pacar pura-pura tapi kok malah jadi ribet. Papanya kenal sama Papanya Zayn.“Ternyata Zayn ini anak Anda, Dokter David?” tanya sang Profesor sambil tertawa renyah, melepaskan aura intimidasi yang sempat terpancar tadi.David mengusap tengkuknya, melirik Zayn yang tampaknya ingin me
Aluna menelan ludahnya. Om kapten-nya itu malah bercerita horor, bukan romantis.Lagi. Si kapten merancang cerita asal. "Aku juga pernah membiarkan wanita gila yang tidak jelas terlempar di kandang buaya karena dia terlalu banyak drama."Aluna merinding. Bulu kuduknya berdiri mendengar suara barito
Ken maju dengan wajah geram. "Oh, Livia? Dia lumayan lama bekerja di bawahku. Tidak ada hal mencurigakan saat dia bekerja, tapi sayang sekali tiba-tiba mendapat kabar kalau dia mati di apartemen." "Dan pemicu kematiannya adalah ...." Betrand menunjuk wajah Galaxy. Hening seketika.Lalu, keheninga
"Kamu tahu kenapa muka kak Laxy pada bonyok?" Aluna menatap arah luar balkon kolam renang.Zayn menggeleng. "Sebenarnya tadi pengen tanya, tapi aku lagi mode nggak mau perhatian. Aku ini satu-satunya anak laki-laki di keluarga Danendra, jadi kakakmu itu nggak bakalan aku kasih kendor. Bodo amat sam
"Aku tidak butuh validasi siapa pun soal sakitnya hati melihat air mata Willona. Dan nggak peduli Om mau marah seperti apa padaku. Aku membuatnya menangis, aku juga yang harus membuatnya tertawa." Galaxy membuang napasnya berat. Wajahnya memang sendu dan campuran kecewa pada dirinya sendiri. Apa re







