LOGIN"Operasi otak? Amnesia? Tidak ... Edwin harus bangun! Dia harus bangun untuk membalaskan dendamku!" Marta meracau, kini sambil memeluk lututnya, bergoyang maju-mundur di lantai."Kalian semua bersekongkol menjauhkanku dari anakku! Henry, kamu pria iblis! Kamu membiarkan anakmu hancur hanya untuk membela anak sialan itu!"Pengacara Henry menatap muak, lalu merapikan jasnya. "Teriakan Anda tidak akan mengubah diagnosis dokter, Nyonya. Dan juga tidak akan mengubah keputusan cerai ini.""PERGI! KELUAR KALIAN!" teriak Marta sambil melemparkan pecahan tablet ke arah mereka. "Aku tidak butuh kalian! Aku akan keluar dari sini dan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!""Penyobekan kertas gugatan cerai tadi tidak akan mengubah apa pun, sidang tetap berjalan. Dan mengenai klausa gono-gini, Tuan Henry sudah berpesan dengan sangat tegas. Anda akan keluar dari rumah Danendra dalam keadaan yang sama persis seperti saat Anda datang pertama kali."Mata Marta melotot, raungannya terhenti seket
"Nyonya Marta, harap jangan gaduh. Ada yang ingin bertemu dan menyelesaikan urusan Anda," ucap polisi itu.Marta seketika terdiam. Amarahnya yang meluap-luap berubah menjadi senyuman lebar yang terlihat mengerikan di wajahnya yang berantakan. Dia tertawa kecil sambil merapikan rambutnya yang semrawut dengan jari-jarinya yang gemetar."Aku tahu ... aku tahu kalian akan datang," bisik Marta dengan suara serak. Matanya binar seperti orang frustasi yang baru saja melihat cahaya di ujung terowongan.Lalu, Marta mendekat ke arah meja sambil menatap tangan kanan Henry dan pengacara itu. "Pasti suamiku yang menyuruh kalian, kan? Dia pasti sudah membereskan semuanya. Katakan padaku, kapan aku bisa keluar? Sekarang? Apa mobil jemputanku sudah ada di depan?"Dia tidak menyadari kalau tatapan kedua pria di depannya sangat dingin dan datar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan kebebasan yang dia bayangkan.Tangan kanan Henry dan pengacara itu duduk tegak dengan wajah datar, me
BRAKKK! Marta menggebrak meja dengan mata nyalang dan deru napas berat.Mereka ada di ruang pertemuan khususLalu, Marta berdiri dengan mata melotot yang hampir keluar, menatap asistennya seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup."APA KATAMU?! ULANGI SEKALI LAGI!" teriak Marta.Asisten itu menelan ludahnya kasar dan mengendurkan dasinya dengan wajah menahan jengkel."Ke mana perginya bocah itu?! Aku sudah mengeluarkan ratusan juta untuk menyewa preman-preman itu, dan kamu bilang dia hilang begitu saja?!" bentak Marta sambil menunjuk wajah asisten itu.Asisten Marta yang duduk di depannya masih sedikit menunduk, tapi jemarinya mengepal kuat di atas pangkuan. Di dalam dadanya, lahar kemarahan sudah mencapai tenggorokan. Dia sudah muak menjadi pelampiasan setiap kali rencana wanita gila ini berantakan."Jawab, Bodoh! Kenapa kamu diam seperti patung?!" Marta kembali membentak.Asisten itu menarik napas berat dan mulai membuka mulutnya, tapi--"Kamu ini benar-benar tidak becus! Memilih
"Dia akan datang sendiri, Reyvan. Sabarlah sedikit," jawab Henry tenang sembari mengangkat tangan, memberi isyarat agar anak buahnya tetap di tempat dan tidak ikut campur. Melihat wajah Henry yang begitu datar seolah tidak merasa bersalah, pertahanan Reyvan runtuh. Dia maju, mencengkeram kerah kemeja Henry kuat hingga pria tua itu sedikit terjingkat. "Aku tidak peduli kamu ayahnya David! Kalau sampai Galaxy lecet seujung kuku saja, aku akan menghancurkanmu berkeping-keping! Di mana Galaxy?!" David yang berdiri di samping mereka, menatap nyalang ayahnya sendiri. "Aku tidak akan memberikan toleransi sedikit pun kali ini, Pa. Lepaskan dia! Anak itu tidak bersalah." Henry hanya diam. Matanya yang mulai meredup menatap David dengan tatapan yang sangat dalam. Seolah ada ribuan kata yang ingin dia ucapkan, tapi tertelan lagi. Dada Reyvan kembang kempis naik turun dengan napas menderu. Lalu, satu kepalan tangannya siap melayang. "Sepertinya, kamu tidak bisa diajak bicara pakai lisan!" p
David menarik napas. "Berhenti mengoceh, Rey! Kamu pikir aku senang dengan situasi ini? Aku juga muak! Jadi jangan terus-terusan menyalahkanku seolah aku yang merancang penculikan ini!""Tentu saja aku menyalahkanmu! Itu Papamu! Itu masalahmu! Aku ini temanmu, bukan bahan tumbal!" Reyvan semakin meradang."Hish! Bisakah bicara yang benar? Kalau aku mau nyari tumbal, bukan Galaxy, tapi kamu! Kamu biang Demit, cocok buat tumbal!" ketus David.Reyvan menarik napas dalam, mencoba meredam detak jantungnya yang tidak beraturan. "Dengar, setelah ini selesai, kamu harus segera menghamili Irish. Aku tidak mau tahu. Buat anak secepatnya, lahirkan satu kecebong atau apa pun itu! Biar kalau nanti ada aksi penculikan gila seperti ini lagi, anakmu yang dibawa, bukan anakku!"Rahang David mengeras, dia menggeram rendah sambil menatap lurus ke depan. "Diam kamu, Rey! Mulutmu itu benar-benar minta dijahit!""Bagaimana aku bisa diam, Hah?! Galaxy itu hartaku yang paling berharga, paling langka, dan han
"Pa! Om .... Kalian mendengarku?"Dua pria tampan saling tatap dengan mata lebar tegang. Jantung mereka berdetak sangat keras. Berbagai macam spekulasi muncul dalam pikiran. Sedang Prama dan Boy diam bergerak, melacak keberadaan Galaxy dari panggilan itu.Ponsel yang hampir dilempar kini ditatap tajam-tajam, sambil menajamkan pendengarannya. "Laxy?""Bocah demit?"Hanya bahasa bibir antara Reyvan dan David. Mereka masih waspada. Meski khawatir, tapi tetap curiga."Papa? Om David? Ini Galaxy ...."Tak menyangka suara Galaxy akan muncul dari ponsel Papanya David. Dan malah terasa aneh.Tunggu! Ini zaman segala bisa dimanipulasi, termasuk suara. Dan benar-benar harus waspada.Reyvan dan David masih saling tatap dengan tatapan penuh arti. Ponsel itu kini didekatkan antara David dan Reyvan."Jangan bercanda lagi, Pa. Aku sedang sibuk dan tidak bisa meladeni leluconmu itu," ucap David sambil melirik Reyvan. Dia sedang mencari tahu situasinya. Tak ada suara Henry. Napasnya pun tak terde







