Compartir

111. RUMAH CAHAYA ELIZA

Autor: Purple Rain
last update Última actualización: 2025-11-08 20:53:19

Beberapa jam setelah perahu mereka merapat di pulau kecil itu, Marissa dan Deniz duduk di bawah naungan pohon kelapa yang melengkung indah ke arah laut. Pulau itu nyaris sepi—hanya suara ombak dan gemerisik daun yang menari dihembus angin.

Di depan mereka, laut biru membentang luas. Marissa melepas topi jeraminya, membiarkan rambutnya terurai bebas. Di wajahnya tak ada lagi bayang kehilangan yang dulu begitu dalam—yang tersisa hanyalah kedamaian yang pelan-pelan tumbuh.

“Tempat ini… kayak dunia lain,” katanya lirih. “Tenang banget, kayak semua suara di kepala aku akhirnya berhenti dan hilang dengan sendirinya.”

Deniz menatapnya dari samping, senyum kecil muncul di bibirnya. “Mungkin karena kamu udah berhenti berlari dari apa yang membuatmu merasa bersalah.”

Marissa menoleh, menatap mata suaminya yang jernih. “Kamu tahu… dulu aku pikir satu-satunya cara buat melanjutkan hidup adalah melupakan. Tapi ternyata, nggak semudah itu. Aku perlu memaafkan diriku sendiri… cukup lama dan menguras
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   119. CAHAYA BARU

    Kantor, Pukul 11:30 Pagi ​Ruang rapat direksi terasa seperti arena gladiator modern. Lampu kristal di langit-langit memantul pada permukaan meja mahoni yang mengkilap, menciptakan siluet tajam bagi 12 pasang mata yang menatap Deniz. Mereka adalah para veteran bisnis, pemegang saham yang kuat, dan juga para opportunist yang sigap dan tanggap jika terjadi bahaya sekecil apa pun. ​Kevin tidak hadir, tetapi kehadirannya terasa melalui ketegangan yang menggantung. “Dasar pecundang,” gumam Deniz. ​Deniz berdiri di ujung meja, menyandarkan tangan di permukaan meja. Tidak ada proyektor, tidak ada PowerPoint. Hanya dia, dan ketenangannya. Jas biru mudanya terlihat mencolok di antara setelan abu-abu tua dan hitam. Ia membiarkan keheningan itu berlarut selama beberapa detik, membiarkan detak jam dinding seolah menjadi hitungan mundur. ​“Selamat siang. Saya tahu mengapa kita semua ada di sini,” Deniz memulai, suaranya pelan tapi menusuk, “Kecemasan. Sebuah emosi yang disebarkan dengan sangat

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   118. AROMA MINT JAHE

    Kantor, Pukul 11:00 Pagi​Deniz memasuki markas besarnya, lantai eksekutif yang biasanya tenang kini terasa berdenyut tegang. Aroma kopi premium di pantry tidak bisa menutupi bau kecemasan yang samar. Mark, orang kepercayaan Deniz, sudah menunggu di ambang pintu, wajahnya kaku seperti patung marmer.​“Bos, direksi sudah berkumpul. Mereka menuntut penjelasan yang sangat spesifik,” kata Mark tanpa basa-basi.​Deniz hanya mengangguk. Ia melepas mantelnya dan memberikannya kepada asistennya, gerakannya lambat dan penuh perhitungan. Jas biru muda yang dipilih Marissa membuatnya tampak tenang di tengah pusaran kegaduhan.​“Bagus. Biarkan mereka menunggu sebentar lagi,” jawab Deniz, nadanya datar. “Apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi serangan Kevin?”​Mark menyerahkan sebuah tablet. “Dokumen rahasia klien. Kevin membocorkan info tentang proyek akuisisi di Timur Tengah yang tertunda. Mereka memutarbalikkan fakta, mengatakan ini adalah tanda kegagalan finansial besar. Tentu saja, itu

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   117. SANG PEWARIS

    ​Pintu kamar tertutup. Keheningan apartemen yang mewah itu seketika dipenuhi suara desahan tertahan, derit kepala tempat tidur yang berirama pelan, dan bisikan-bisikan gairah yang hanya dimengerti oleh dua jiwa yang saling merindukan. Aroma teh jahe, tembakau, dan single-origin coffee yang melekat pada Deniz bercampur dengan parfum lavender samar di kulit Marissa, menciptakan campuran yang memabukkan—perpaduan antara dunia pebisnis yang dingin dan dunia seni yang hangat.​Bagi Deniz, momen ini bukan sekadar pelampiasan lelah; ini adalah validasi. Di kantor, ia adalah seorang pemimpin yang harus bersikap tanpa cela. Di sini, di dalam pelukan Marissa, ia adalah manusia yang rentan, yang kerinduannya ingin diakui dan dipenuhi. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dalam, adalah pengakuan bahwa ia punya alasan untuk mnjadi pemenang di luar sana. Bukan hanya untuk aset dan kekayaan, tapi untuk kembali ke tempat ini, ke pelukan yang nyata, beraroma cat dan tawa.​Marissa merespons intensitas

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   116. MERINDUKANMU SETIAP WAKTU

    Keesokan paginya, Deniz tiba di kantor tepat pukul delapan. Udara di lantai eksekutif terasa tipis dan berenergi. Mark sudah menunggu di luar ruangannya, memegang dua cangkir kopi single-origin yang mahal."Rapat darurat, Bos. Tim Legal baru saja mengirim notifikasi gugatan dari 'Pihak Lama'—mereka mencoba memblokir aset operasional kita, mengklaim bahwa restrukturisasi ini melanggar perjanjian penangguhan utang lama," jelas Mark, nada suaranya sedikit tegang.Deniz menerima kopi itu, menyesapnya perlahan. Ia tidak menunjukkan reaksi terkejut sama sekali, seolah sudah mengantisipasi langkah ini. Kevin dan Joanna tidak akan membiarkannya bergerak tanpa perlawanan."Sajikan kopi ini untuk Tim Legal. Minta mereka siapkan berkas. Aku tidak butuh drama, Mark. Aku butuh solusi. Biarkan mereka bermain kotor, kita bermain lebih cerdas," kata Deniz, sorot matanya tajam. "Aku sudah memprediksi ini. Angka kerugian kita sudah kita hitung, dan itu sebanding dengan kemenangan yang akan kita dapatka

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   115. SEBUAH JANJI

    Deniz tidak membuang waktu. Kota menyambutnya dengan desakan yang familiar: kemacetan, rapat mendadak, dan aroma kopi mahal. Ruangan pertemuan di gedung pencakar langit yang dulu ia hindari kini ia masuki kembali, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai penakluk. “Pagi Bos,” sapa Mark dan Sam hampir bersamaan. “Siap kembali ke dunia bisnis?” lanjut Mark. “Silahkan masuk, Tuan.” Sam membuka pintu ruangan. Terlihat begitu tenang, dengan aroma lavender saat ia memasukinya. ​Rapat pertama berjalan tegang. Deniz meletakkan komitmennya di atas meja, bukan sebagai permintaan, tetapi sebagai dekrit. ​"Aku akan kembali memimpin. Tapi syaratnya mutlak," ucap Deniz, suaranya tenang, namun memiliki resonansi karang yang tak tergoyahkan. "Perusahaan ini, mulai hari ini, akan kembali beroperasi. Kita mulai dari nol, dan membuktikan bahwa Deniz Ansel Ghazy tidak akan menyerah hanya karena sandungan kecil.” ​Ronan Blaire, yang dikenal pragmatis, mencoba menyela. "Kita bisa buat kembali strukt

  • Menjadi Istri Jaminan Tuan Miliarder   114. MERCUSUAR

    Pagi itu, Pulau Seuni menyambut dengan kehangatan yang lembut. Angin timur yang dingin dari dua minggu lalu telah digantikan oleh semilir udara laut yang bersahabat, seolah alam pun merestui keputusan mereka. Tentu saja, keputusan itu tidak diumumkan dengan mudah.​Ketika mentari mulai meninggi dan keluarga Karim bersiap untuk menyeberang, suasana di beranda Rumah Cahaya Eliza terasa campur aduk. Karim, dengan senyum khasnya yang tenang, sudah menebak ada yang berbeda.​"Deniz," katanya sambil menepuk bahu pria yang telah menjadi sahabatnya. "Kamu sudah berhasil melewati kerasnya hidup ini. Kau tidak lagi menatap pulau ini seperti orang yang lari, tapi seperti pelaut yang menemukan kembali kompasnya."​Deniz tertawa, sedikit canggung namun tulus. "Kau benar. Kami memutuskan untuk kembali. Kembali ke kota."​Sania, istri Karim yang sedang memeluk Marissa sontak terkejut. "Kembali? Tapi... bukankah kalian sudah menemukan kedamaian di sini? Bagaimana dengan Rumah Cahaya ini?"​Marissa me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status