LOGIN"Sumpah ya, Sen. Aku pikir Dokter Aldian udah cerita gimana kondisi di RS ke kamu," Mery terus mengungkapkan rasa penyesalannya lantaran sudah keceplosan pada Sena. Wajah wanita itu tampak begitu tegang, sementara ketiga temannya hanya menatap ke arah istri Aldi tersebut dengan raut wajah cemas dan bersalah. Namun, Sena sendiri hanya menggeleng sembari tersenyum kecut, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka."Gara-gara mulut lemas kamu tuh, Mer," tuding Riri kembali menyalahkan Mery sambil mendengus pelan."Udah, udah. Lagian bagus dong kalau aku tahu keadaan sebenarnya," kata Sena menenangkan dengan nada lembut. "Makasih ya udah mau jengukin aku. Tadinya aku pikir enggak ada yang peduli sama aku semenjak pindah dari sana.""Mana mungkin!" sergah Intan cepat. "Begitu tahu kamu udah pulang dari RS, kami langsung rencana mau jengukin. Cuma ya karena si Riri malah izinnya ke Dokter Ald
"Mama udah janji mau jengukin teman di RS. Kamu gak pa-pa sendiri?" tanya Sofia menatap lembut ke arah sang menantu, memastikan keadaan Sena baik-baik saja sebelum ia melangkah pergi.Sena menggeleng sambil tersenyum menenangkan. "Gak pa-pa, Ma. Mama pergi aja. Anak-anak juga sebentar lagi pulang dari sekolah. Chika juga lagi mandi deh kayaknya sama Mbak Ami di atas. Bik Nah sama Bik Mirna juga bentar lagi balik dari kampung. Rumah bakalan rame lagi kok, jadi Mama enggak usah khawatir.""Ya udah, Sayang. Mama pergi ya," pamit sang mertua dengan senyuman hangat. Belum sempat Sofia menghilang di balik pintu utama, suara deru dua motor sudah menyambangi area pekarangan rumah megah itu. Empat orang berpenampilan rapi yang tak asing lagi bagi Sena tampak turun dari kendaraan, lalu melambai ramah ke arah teras tempatnya berada."Camilan sama minumnya sudah Mama siapin di ruang tengah. Mama beran
Sesuai dengan rencena sebelumnya. Keluarga Aldi sepakat menghabiskan waktu ke sebuah mal mewah pada Sabtu sore itu. Aldi berhasil membujuk Sena untuk menggunakan kursi roda demi kenyamanan dan keamanan istrinya yang baru saja belajar berjalan tanpa kruk itu. Ia dengan telaten mendorong kursi roda Sena, sementara anak-anak berjalan di sekitar mereka dengan penuh antusias. Di sebuah butik pakaian remaja ternama, Freya tersenyum puas usai memamerkan outfit gaun pastel elegan yang dipilihkan khusus oleh Sena. Tanpa canggung, gadis remaja itu melangkah mendekat dan mencium pipi kiri Sena."Aku suka semuanya. Sepatunya juga lucu. Makasih ya, Mama Sena," ucap Freya tulus. Uc
Mata Sena mengerjap kaget mendapati sosok Freya berdiri di balik pintu. Gadis remaja yang baru genap usia lima belas tahun itu berdiri canggung lalu memindai koridor yang sepi dengan raut ragu."Freya?" sapa Sena lembut, segera menggeser pintu lebih lebar. "Ada apa, Sayang? Belum tidur?"Freya lantas tersenyum lalu berkata, "Tante... belum tidur ‘kan? Aku... ini, mau ngasih ini sebenarnya," ucapnya dengan nada ragu, menyodorkan sebuah kartu undangan bewarna pastel.Sena menerimanya dengan senyum hangat. "Enggak kok, belum. Ayo masuk dulu." Freya melangkah masuk ragu-ragu, lalu merebahkan diri di atas sofa beludru di sudut kamar. Sena menyusul duduk di sampingnya, membuka kartu undangan perpisahan sekolah tingkat akhir SMP milik Freya yang dijadwalkan minggu depan."Wah, acara prom sekolah kamu minggu d
“Sena, kamu…” “Aku sayang sama Mama,” ucap Sena lagi. Sofia perlahan memutar tubuhnya, melepaskan pelukan dari arah belakang dan kini balik merengkuh tubuh menantunya dengan erat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga di sudut mata wanita paruh baya itu. Tangannya yang hangat mengusap punggung Sena penuh kelembutan, menyalurkan rasa cinta dan penerimaan yang selama ini mungkin tak pernah terucap secara gamblang. "Aku tahu kenapa Mama dulu sempat nolak aku," lanjut Sena dengan mata berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata Sofia. "Maaf karena aku..." "Ssst," potong Sofia cepat, jari telunjuknya terulur menyentuh bibir Sena dengan lembut. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, senyum tipis terbit di wajahnya yang masih basah oleh air mata. "Justru Mama yang harusnya minta maaf, Sayang. Mama sempat benci sama kamu karena mikirnya kamu bakalan ngancurin kebahagiaan Aldi dan keluarga ini. Tapi... ternyata malah sebaliknya. Wanita yang dulu setengah mati Mama bela
Sena mengerjap perlahan saat merasakan usapan lembut di pipinya. Begitu matanya terbuka penuh, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah wajah tampan Aldi yang berada begitu dekat. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menopang kepala dengan satu tangan sembari menatap istrinya dengan sorot mata sarat akan kejujuran dan rasa cinta yang mendalam."Pagi, Sayang..." bisik Aldi dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Sena, berlanjut ke kedua kelopak matanya, hingga akhirnya berhenti di bibir Sena dalam lumatan halus yang memabukkan.Sena terkekeh pelan di sela ciuman mereka, tangannya yang hangat terulur melingkari leher sang suami. "Mas... nanti ketahuan anak-anak kalau keluar kamarnya kesiangan," gumam Sena malu-malu, meski jemarinya malah makin erat meremas rambut belakang Aldi."Biarkan saja. Saya masih mau manja-manjaan sama istri







