MasukGenggaman erat Aldi perlahan melonggar seiring dengan melemahnya isakan Sena. Dosis obat penenang yang dimasukkan tim medis ke dalam cairan infus mulai bekerja, menyerap sisa-sisa kesadaran gadis yang tengah hancur itu.
Sebelum kelopak mata Sena sepenuhnya terpejam, Aldi mengusap lembut puncak kepalanya.
"Istirahat, Senara..." bisik Aldi sangat pelan di dekat telinganya
“Bukan gitu, Mas,” sela Sena cepat, manik matanya menatap ragu ke arah sang suami. Jemarinya saling meremas satu sama lain di atas paha. “Saya cuma... mikir kondisi fisik saya. Kaki ini baru dua bulan belajar jalan lagi, belum pulih total, Mas. Kalau nanti saya hamil, saya takut malah bakal jadi beban. Repot buat kamu, repot juga buat Mama sama anak-anak.” Keraguan yang tersirat di mata istrinya itu ditangkap telak oleh Aldi. Dokter muda tersebut menghentikan gerakannya sesaat. Pria itu menggeleng pelan, melempar senyuman menenangkan yang selalu berhasil meredakan badai di kepala Sena."Enggak sekarang, Sayang. Saya mau kamu dalam keadaan yang benar-benar prima. Program kita baru akan jalan kalau kamu sudah benar-benar kuat," jelas Aldi lembut, menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya. "Sekarang saya mau cek keadaan uterus kamu di dalam sana saja. Biar saya tahu dasar kesehatan
"Kamu ada janji sama pasien mana, Mas? Ini kan weekend. Biasa juga kalau ada kasus gawat darurat ‘kan periksanya di RS. Kita ngapain ya ke sini? Mana pasien kamu?" Sena menatap Aldi dengan penuh penasaran. Wanita itu sampai tak menyadari saat sang suami tersebut malah meletakkannya di atas brankar pemeriksaan. Ya. Sekarang pasangan suami istri itu sedang bertandang di klinik praktik Aldi. Suasana mendadak terasa begitu privat. Dua bulan terakhir memang telah membawa banyak perubahan besar dalam pemulihan fisik dan mental Sena, tetapi agenda pemeriksaan mendadak di hari libur ini benar-benar di luar dugaannya.“Mas, siapa sih pasiennya sampai kamu bela-belain ke sini? Terus, kenapa saya malah diajak ke sini. Pasiennya parah?” tanya Sena bertubi-tubi. Namun, pria tampan itu m
Dua bulan berlalu membawa banyak perubahan di balik dinding rumah besar keluarga Aldi. Di atas matras khusus dan dengan bantuan parallel bar, Sena berdiri dengan kedua kakinya. Dahinya tampak basah oleh butiran keringat. Otot-otot kakinya yang sempat kaku dan lama tidak aktif kini berangsur-angsur pulih, meski rasa nyeri yang menusuk sesekali masih merayap naik setiap kali ia memaksakan diri menumpu berat badan."Tarik napas perlahan, lalu hembuskan. Jangan dipaksa kalau sudah terlalu sakit," instruksi Aldi dengan suara tenang. Ia berlutut di hadapan istrinya, kedua tangannya siap siaga berjaga di bawah lutut Sena untuk mengantisipasi jika wanita itu kehilangan keseimbangan. Sena menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Langkah pertamanya meleset, membuat tubuhnya hampi
Meja makan mendadak hening. Chika yang merasa menjadi pusat perhatian orang dewasa mulai ketakutan. Bibir mungilnya bergetar dan matanya berkaca-kaca, mengira ia telah berbuat kesalahan besar karena salah bicara. Melihat cucu bungsunya nyaris menangis, Sofia langsung bergerak. Wanita paruh baya itu meletakkan sendoknya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus rambut Chika dengan lembut."Oma gak marah, Chika," ucap Sofia dengan suara yang dilembutkan, berusaha menepis ketakutan di wajah cucunya.Sena yang duduk di sebelah Aldi turut tersenyum menenangkan. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya dan menatap Chika penuh kasih. "Kadang ada persoalan orang dewasa yang tidak bisa dipahami anak-anak, Chika Sayang."Chika mengerjap polos, lalu memajukan bibirnya dan memberengutkan wajah mungilnya. "Kalau gitu Chika gak mau dewasa ah."
Suara deru mesin mobil yang memasuki area halaman rumah memecah keheningan sore di lantai bawah. Tak lama kemudian suara-suara akrab yang langsung memenuhi koridor kamar utama."Tante Sena!" Pintu kamar terbuka lebar. Freya melangkah masuk dengan ransel tersampir di satu bahu, memimpin rombongan kecil di belakangnya dengan pembawaannya yang tenang dan terkontrol. Zio berlari kecil sambil menyeret tas sekolahnya, sementara si bungsu Chika berlari tertatih-tatih mengejar abangnya sambil memeluk boneka kesayangannya erat-erat."Tante Sena!" panggil Chika dengan suara cempreng, langsung merengek manja begitu sampai di sisi ranjang. Sena yang tadinya bersandar lemah seketi
Pertanyaan itu mengambang di udara, membuat suasana kamar utama mendadak kaku. Aldi terdiam di tempatnya. Ia tahu betul bahwa memperpanjang perdebatan di hadapan Sena hanya akan memicu stres dan memperburuk kondisi fisik istrinya. Alhasil Aldi mengurungkan niatnya untuk membalas. Ia memilih langkah yang lebih aman. Dengan tenang, Aldi menatap ibunya sekilas sebelum beralih menangkup wajah Sena, lalu mendaratkan ciuman singkat di kening istrinya."Saya pergi sebentar ya," pamit Aldi lembut, mengabaikan ketegangan yang masih tersisa. Tanpa menoleh lagi ke arah ibunya, pria itu langsung melesat pergi. Begitu pintu tertutup rapat dan suara mobil Aldi berlalu meninggalkan halaman, suasana di dalam kama







