LOGINAldi menerobos kerumunan warga dengan napas memburu. Manik matanya membelalak saat mendapati Sena sudah tergeletak pingsan di atas jalanan, hanya berjarak beberapa langkah dari area kecelakaan mengerikan itu.
"Senara!"
Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya, Aldi berlutut di atas aspal yang panas. Tangan kokohnya bergerak cepat
Sena mengerjap perlahan saat merasakan usapan lembut di pipinya. Begitu matanya terbuka penuh, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah wajah tampan Aldi yang berada begitu dekat. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menopang kepala dengan satu tangan sembari menatap istrinya dengan sorot mata sarat akan kejujuran dan rasa cinta yang mendalam."Pagi, Sayang..." bisik Aldi dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Sena, berlanjut ke kedua kelopak matanya, hingga akhirnya berhenti di bibir Sena dalam lumatan halus yang memabukkan.Sena terkekeh pelan di sela ciuman mereka, tangannya yang hangat terulur melingkari leher sang suami. "Mas... nanti ketahuan anak-anak kalau keluar kamarnya kesiangan," gumam Sena malu-malu, meski jemarinya malah makin erat meremas rambut belakang Aldi."Biarkan saja. Saya masih mau manja-manjaan sama istri
Alih-alih langsung melarang atau memicu ketegangan di depan seluruh anggota keluarga, Sena justru menatap suaminya sejenak lalu mengangguk pelan. Wanita itu bergeser menghadap Aldi, meminta persetujuan lewat tatapan matanya yang teduh."Enggak apa-apa, 'kan?" tanya Sena lembut.Aldi terdiam sejenak, rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya menghela napas panjang dan membalasnya dengan sebuah gumaman pasrah. "Baiklah. Tapi saya harus tetap di dekat kamu." Tanpa membantah, akhirnya ketiga orang itu berjalan meninggalkan ruang makan menuju taman belakang rumah. Udara malam yang sejuk menyambut kulit, membawa aroma wangi bunga melati yang meruap dari sudut halaman. Aldi memilih duduk di atas bangku kayu gazebo, mengawasi gerak-gerik keduanya dengan tatapan taj
Diamnya Sena membuat Aldi memelankan laju kendaraannya. Saat lampu merah menyala, barulah dia bertanya, "Dari siapa?"Sena yang sedari tadi sibuk bertukar pesan mendongak sambil tersenyum canggung. "Kak Bian, Mas. Dia...""Mau apa lagi dia?" potong Aldi dengan suara yang sarat akan kecemburuan.Sena berdecak pelan. "Kak Bian udah di rumah sama Bunda Hana," ucap Sena pada akhirnya."Kenapa kamu tidak bilang? Keasyikan balas chat dari dia ya?" serang Aldi yang tak bisa menahan rasa cemburunya lagi, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ritme cepat.Sena menganga tanpa suara. Wanita itu berkedip pelan lalu tersenyum selembut mungkin. "Saya baru aja mau ngomong, tapi kamu udah nanya duluan." Alhasil sepanjang perjalanan sisa menuju rumah, Aldi cemberut terus dengan bibir terkunci rapat. Begitu mereka tiba di pekarangan rumah, wajah teduh Hana dan Chika langsung menya
“Bukan gitu, Mas,” sela Sena cepat, manik matanya menatap ragu ke arah sang suami. Jemarinya saling meremas satu sama lain di atas paha. “Saya cuma... mikir kondisi fisik saya. Kaki ini baru dua bulan belajar jalan lagi, belum pulih total, Mas. Kalau nanti saya hamil, saya takut malah bakal jadi beban. Repot buat kamu, repot juga buat Mama sama anak-anak.” Keraguan yang tersirat di mata istrinya itu ditangkap telak oleh Aldi. Dokter muda tersebut menghentikan gerakannya sesaat. Pria itu menggeleng pelan, melempar senyuman menenangkan yang selalu berhasil meredakan badai di kepala Sena."Enggak sekarang, Sayang. Saya mau kamu dalam keadaan yang benar-benar prima. Program kita baru akan jalan kalau kamu sudah benar-benar kuat," jelas Aldi lembut, menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya. "Sekarang saya mau cek keadaan uterus kamu di dalam sana saja. Biar saya tahu dasar kesehatan
"Kamu ada janji sama pasien mana, Mas? Ini kan weekend. Biasa juga kalau ada kasus gawat darurat ‘kan periksanya di RS. Kita ngapain ya ke sini? Mana pasien kamu?" Sena menatap Aldi dengan penuh penasaran. Wanita itu sampai tak menyadari saat sang suami tersebut malah meletakkannya di atas brankar pemeriksaan. Ya. Sekarang pasangan suami istri itu sedang bertandang di klinik praktik Aldi. Suasana mendadak terasa begitu privat. Dua bulan terakhir memang telah membawa banyak perubahan besar dalam pemulihan fisik dan mental Sena, tetapi agenda pemeriksaan mendadak di hari libur ini benar-benar di luar dugaannya.“Mas, siapa sih pasiennya sampai kamu bela-belain ke sini? Terus, kenapa saya malah diajak ke sini. Pasiennya parah?” tanya Sena bertubi-tubi. Namun, pria tampan itu m
Dua bulan berlalu membawa banyak perubahan di balik dinding rumah besar keluarga Aldi. Di atas matras khusus dan dengan bantuan parallel bar, Sena berdiri dengan kedua kakinya. Dahinya tampak basah oleh butiran keringat. Otot-otot kakinya yang sempat kaku dan lama tidak aktif kini berangsur-angsur pulih, meski rasa nyeri yang menusuk sesekali masih merayap naik setiap kali ia memaksakan diri menumpu berat badan."Tarik napas perlahan, lalu hembuskan. Jangan dipaksa kalau sudah terlalu sakit," instruksi Aldi dengan suara tenang. Ia berlutut di hadapan istrinya, kedua tangannya siap siaga berjaga di bawah lutut Sena untuk mengantisipasi jika wanita itu kehilangan keseimbangan. Sena menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Langkah pertamanya meleset, membuat tubuhnya hampi







