LOGIN"Aku juga tidak," balas Laurent tegas, nada suaranya cukup membuat udara di sekitar ruangan seolah terhenti. Tatapannya kini berubah—lebih dalam, dan lebih dingin. “Rozana tidak bisa keluar dari sana.”Bella menatapnya tajam. “Kenapa?”Laurent tidak langsung menjawab. Dia justru mengikis jaraknya pada Bella, meneliti setiap lekuk wajahnya, seakan inti percakapan ini bukanlah hal yang mendesak.Baru ketika jarak mereka nyaris habis, pria tertampang bule itu berhenti. Aroma napas mint-nya menerpa lembut ke permukaan kulit Bella di saat dia berkata pelan, “Karena dia solusi giok sepuluh kita.”Ruangan kamar tua itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dan sempit.Bella mengepalkan tangannya. “Dia bukan benda,” desisnya penuh kontrol.Laurent hanya menatapnya tanpa emosi. “Dalam permainan ini, semua orang adalah alat," ucapnya, memperkuat fakta sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.Bella membuka mulut, masih ingin membantah. Namun, Laurent lebih dulu melanjutkan ucapan.“Dan kamu tahu itu sej
Sebuah jejak lama yang selama ini terkubur diam-diam mulai kembali terbuka. Seseorang sedang menunggu momen yang tepat untuk bergerak.Dalam sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi di balik lapisan beton tebal, cahaya layar monitor memantul redup di dinding baja. Ruangan itu luas, dingin, dan hampir tanpa suara selain dengungan mesin server yang bekerja tanpa henti.Seorang pria berdiri di depan meja kontrol. Wajahnya hanya terlihat setengah dalam pantulan cahaya biru dari layar. Di tangannya, sebuah ponsel menyala menampilkan satu pesan yang sudah terbaca sejak kemarin, namun tidak dibalas—Mr. G.Pesan itu berasal dari; Shindy[Kotak Andromeda asli ada di tangan mereka.]Mr. G kembali membaca pesan tersebut tanpa perubahan ekspresi di wajahnya. Hingga detik berikut, sudut bibirnya bergerak tipis—menyadari rencana berjalan tepat sesuai targetnya.“Jadi akhirnya mereka mengerti,” gumamnya pelan.Jarinya bergerak di layar ponsel, seolah hendak membalas pesan tersebut. Namun kemudian,
Gig mengangkat alis sedikit, seolah tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan Renard.“Ah,” gumamnya ringan. “Tuan Renard juga tertarik dengan jalur tua ini?”Renard tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya tetap tertuju pada pria tua tersebut. “Aku melihatmu dari kantor,” katanya pelan. “Dan aku tahu kau tidak pernah berjalan tanpa tujuan.”Gig tersenyum tipis. Tongkat kayunya kembali mengetuk tanah sekali. “Tujuan?” ulangnya ringan. “Bukankah setiap orang yang datang ke Rossellie selalu punya tujuan?”Renard melangkah mendekat sedikit. “Tidak semua orang memancing orang lain masuk ke hutan untuk itu.”Ucapan tersebut membuat Arkana sedikit menoleh ke arah Renard. Gig terkekeh pelan, seolah menikmati percakapan tersebut.“Memancing?” katanya. “Kau terlalu berprasangka.”Namun, tatapannya beralih pada Arkana.“Lagipula,” lanjutnya tenang, “dia datang ke jalur ini karena keinginannya sendiri.”Arkana tidak menjawab. Matanya kembali melirik batu datar di dekat akar pohon. Ukiran sam
Udara di lereng Rossellie terasa lebih dingin ketika Arkana meninggalkan kantor cabang.Kabut yang sebelumnya menutupi hutan kini mulai menipis, memperlihatkan jalur tanah sempit yang membelah pepohonan rimbun. Dari kejauhan, suara angin gunung menggesek dedaunan kering.Arkana berhenti sejenak di tepi jalan utama, menatap jalur yang tadi mereka lihat dari jendela kantor.Jalur itu tampak seperti goresan tipis di antara hutan—tidak cukup jelas untuk disebut jalan, tetapi juga terlalu rapi untuk sekadar bekas jejak hewan liar.Dia mulai berjalan menuruni lereng. Tanah di jalur itu padat, tidak seperti tanah hutan biasa yang lembek dan dipenuhi akar liar. Di beberapa tempat, batu kecil tersusun rapi—seolah pernah ditata seseorang bertahun-tahun lalu.Arkana menyipitkan mata. Jalur itu tampak tua.Mungkin sudah ada sejak masa ibunya masih hidup di Rossellie.Beberapa meter di depannya, Arkana berhenti.Ada bekas tusukan kecil di tanah—berulang dalam jarak yang hampir sama.Dia berjongkok
Langkah Gig menghilang di ujung koridor. Pintu ruangan itu kembali tertutup perlahan. Suasana sunyi untuk beberapa detik.Renard kembali ke kursinya sambil meraih cangkir kopi yang hampir kosong. Tawa kecil menghiasai wajahnya, sebab masih memikirkan percakapan yang baru saja lewat.“Orang tua itu selalu punya cara aneh mengakhiri percakapan,” gumamnya santai. “Datang tiba-tiba, bercerita panjang, lalu pergi meninggalkan teka-teki.”Namun, Arkana tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja dilewati Gig. Kalimat terakhir pria itu masih terngiang di kepalanya. 'Beberapa jalan terbaik di tempat ini justru tidak pernah digambar d peta.'Arkana meraih cangkir di meja, lalu bangkit dari duduknya, dan perlahan berjalan mendekati jendela besar. Kabut di lereng Rossellie mulai menipis, memperlihatkan garis samar beberapa jalur yang membelah hutan. Bayangan wajah mendiang sang ibu berkelebat begitu saja di benaknya.“Renard," panggil Arkana.Nada suaranya datar, tetap
Dari jendela besar kantor cabang, perbukitan hijau tampak seperti bayangan samar di balik lapisan putih tipis yang bergerak perlahan mengikuti angin gunung. Kabut itu menelan sebagian jalur tanah yang membelah lereng—jalur lama yang jarang dilalui kendaraan sejak jalan utama dibangun beberapa tahun lalu.Kedatangan Arkana ke tempat ini hanya untuk mengingatkan Renard agar mengenali batasannya sebagai adik ipar bagi kanaya. Namun, kehadiran pria paruh baya bernama Gig membuatnya sedikit tertarik untuk bertahan lebih lama di sana. Sepertinya, Arkana memang harus berbaur dengan beberapa tetua asli pegunungan Rossellie agar bisa membaca peluang untuk melindungi satu-satunya warisan peninggalan sang ibu—yang selama ini menjadi incaran banyak pihak.Aroma kopi mulai memenuhi ruangan saat seorang pelayan datang ke ruangan membawa tiga cangkir kopi hitam, meletakkannya di meja tamu."Ayo, silakan dinikmati kopinya." Suara Renard mempelawa."Wah, ini baru namanya pemicu semangat," ujar Paman
Masih terdengar suara kesal Bella memanggil Arkana dengan lantang. "Sayang! Aku tidak rela, kau sampai meninggalkanku hanya untuk membela pembantu sialan itu!" Perkataan itu memberikan pukulan keras pada Kanaya. Gadis itu tersenyum miris. Namun, memilih terus berjalan dan melupakan semua norma. Pe
"Takdir macam apa ini?" Air mata Kanaya yang belum sempat mengering, kini kembali menetes menyusuri lekuk wajah cantiknya. Bibirnya terkatup rapat lantaran merasa kehabisan kata-kata. Seluruh syaraf di tubuh serasa membeku ketika mendengar Nyonya Emily kembali bersuara."Aku sengaja membiarkan cucuku
Setelah itu, Arkana melepas kasar leher Kanaya dan segera berlalu menyusul para asisten yang membopong sang ayah ke rumah sakit. Masih terdengar suara beratnya berkata lantang "Tunggu sampai aku pulang!" Sementara Kanaya nampaknya masih susah payah mengatur napas sambil meraba leher yang sakit akiba
"Hentikan omong kosongmu. Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Kau masih sama seperti dulu … Ratu Kanaya Rozana yang belum menikah."Mata Kanaya terbelalak dan merasa benar-benar diperdaya."T-tapi, Arkana. I-ini —" Ucapannya tercekat di tenggorokan.Bukannya Kanaya tidak peka, melainkan hanya b







