Share

Bab 4 - Menjadi Pengasuh

Penulis: Pena Ilusi
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-10 16:12:42

"Cepat keluar!" Arkana kembali mendesak, ketika Kanaya hanya bergeming.

Diam-diam, Kanaya tengah berpikir.  Jika menolak ikut dengan Arkana, maka dia harus rela beradaptasi dengan kutukan berikutnya di Pegunungan Rosellie menyeramkan ini.

Apa itu tidak lebih membahayakan dirinya? Dia Juga tidak mengenal siapa-siapa di sini, bukan?

"B-baiklah, aku ikut denganmu."

Kanaya sangat membenci Arkana. Dia juga sangat takut melakukan perjalanan berdua dengan pria yang pernah menyakiti perasaannya apalagi sampai mengambil waktu di malam hari.

Namun, dia tidak punya alasan untuk menolak. Sebab, selain desa ini begitu asing, identitas dirinya pun raib entah ke mana.

"Dan jika kau sampai membunuhku di tengah perjalanan, maka nanti rohku pun tidak akan tinggal diam!" ujar Kanaya pasrah dan dibalas oleh Arkana dengan tatapan tidak terbaca.

Mengingat kemungkinan besar ada resiko lain yang bakal terjadi jika sampai dia tidak sengaja melanggar pantangan berikutnya, membuat bulu kuduk pemilik tubuh ideal itu seketika meremang.

"Baiklah. Untuk sementara aku menurut, tetapi tidak untuk nanti," batin Kanaya lagi seraya mengedikan bahu.

Tentunya dia tidak habis pikir, entah bagaimana tempat ini bisa menyeret dirinya dan Arkana dalam hubungan pernikahan yang tidak pernah dia bayangkan. Sangat tidak masuk akal, bukan?

"Setelah berhasil keluar dari sini, aku harus segera pergi dan melupakan semua tentang kota Bougenville." Semangatnya kini mulai berapi-api dan tentunya dalam perencanaan yang matang.

"Kalau begitu, jangan pernah berulah," tekan Arkana dengan tatapan dingin.

Tidak ada perbincangan apa pun selama perjalanan yang memakan waktu cukup lama, kecuali jeda sejenak di terminal kota persinggahan sambil mengisi bahan bakar kendaraan.

Mereka harus mengambil waktu untuk makan malam di restoran dekat terminal.

Kanaya tidak berselera makan dan lebih memilih pergi ke toilet. Akan tetapi, pergerakannya dicegat oleh Arkana. "Kau tidak boleh pergi kemana-mana tanpa seizinku."

"Memangnya siapa yang bisa melarang seseorang pergi ke toilet?" sambar Naya cepat.

Kanaya menggeliat kesal. Mau tak mau Arkana membiarkannya pergi.

Setelah dari sana, dia sengaja mengambil waktu untuk mencari ketenangan di sekitar taman terminal demi menghirup udara malam.

Tiba-tiba Arkana sudah berdiri di depannya.

"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari area restoran?" sembur Arkana dengan raut wajah frustrasi.

Kanaya tersentak dan dengan cepat membalas perkataan Arkana.

"Memangnya kau siapa sampai aku harus meminta izin dulu padamu kalau mau keluar?"

Baru beberapa jam bersama Arkana, hidupnya sudah sangat tertekan. Dia merasa pergerakannya seperti sedang dikontrol oleh lelaki itu.

"Tolong diluruskan kesalahpahaman ini. Aku bukan keluargamu, bukan adikmu juga bukan ist—"

Ucapan Kanaya tertahan saat dia menyadari sesuatu seiring suara Arkana menggelegar penuh penekanan.

"Jangan lupa kita suami istri."

Kanaya terdiam, perlahan kakinya mengekori langkah Arkana dari belakang. Lelaki itu terlihat sangat marah dan kembali berkomentar pedas.

"Kau tidak boleh berkeliaran semaumu, sebab ini masih wilayah pegunungan Rosellie. Jika kau ceroboh lagi, maka bersiaplah untuk menerima karma baru, Naya," cecar Arkana tegas sambil membuka pintu masuk restoran dengan kasar.

"Tapi kau juga tidak boleh seenaknya mengaturku, Arkana. Setelah keluar dari pegunungan terkutuk ini, aku akan segera pergi dari hadapanmu," balas Kanaya cepat dengan penekanan yang tak kalah tegas seiring langkah gesitnya menyejajarkan diri dengan Arkana.

"Terserah kau saja. Kau sungguh membuatku sakit kepala," sanggah Arkana sambil berjalan lebih cepat lagi menuju meja kasir dan memesan makanan.

Langkah Kanaya mendadak tertahan. Tertegun memandang punggung Arkana yang menjauh. Sejenak, dia mengedikan bahu. Lalu mulai bergerak memilih tempat duduk di salah satu sudut ruangan. Saat pesanan datang, mereka menikmati santapan dalam diam. Dan ketika usai menikmati makan malam, Arkana baru kembali membuka dialog.

"Dengar, Naya. Setelah dari sini, kita akan segera bertemu dengan istriku. Kau tidak boleh macam-macam selama berinteraksi dengannya."

Arkana mengingatkan, sementara Naya merasa ruang geraknya seolah dibatasi dan dia sangat membenci itu.

"Memangnya kenapa? Apa kau takut ketahuan?" tanya Naya dengan nada menyindir.

"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin ada kekacauan dalam rumah tanggaku," balas Arkana datar.

Pernyataan itu membuat Kanaya merasa Arkana tidak lebih dari seorang lelaki egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Gadis itu seketika melepas tawa getir.

"Kurasa akan lebih baik jika dia sampai mengetahui semua kebusukanmu, biar kau tidak macam-macam lagi dengan wanita lain di luar sini," tegas Naya sedikit memancing, membuat Arkana langsung naik berang.

"Kurang ajar!"

Tak pelak tangan Arkana reflek hendak melayangkan tamparan keras pada wajah Kanaya.

Akan tetapi, gerakan tangannya tertahan di udara saat melihat Kanaya justru dengan berani memasang wajahnya. “Tampar aku! Aku tidak takut!”

"Jaga sikapmu, Naya!"

Arkana menggeram kesal sambil menarik kembali tangannya. Namun, Kanaya terlanjur marah dan tidak takut pada ancaman.

"Sekali buruk, akan selamanya buruk, Arkana!"

Gadis itu muak dengan sikap Arkana yang baru bertemu saja sudah mencipta kesan buruk. Entah apa jadinya jika mereka sampai tinggal satu bumbung selamanya. Bulu kuduk Kanaya sampai bergidik ngeri melihat seringai jahat Arkana.

"Baik, kalau begitu. Bersiaplah untuk menerima perlakuan buruk dariku setiap saat."

Kanaya melongo mendengar ucapan Arkana. Otaknya gerilya, ada kemungkinan Arkana bakal menyeretnya masuk di kehidupan istri pertamanya. Gadis itu mulai susah payah menelan ludah.

"Kau tidak berniat membawaku tinggal di rumahmu, kan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 71 - Konsultan Hukum, Bani dan Fera

    Pagi itu Kanaya kembali bergulat dengan keraguannya sendiri—tetap tinggal atau kembali ke Bougenville. Kebimbangan itu terlalu jelas terlihat hingga Bani dan Fera akhirnya mengajaknya berembuk. Tak lama, mereka sudah berada di studio kecil milik Fera.Kanaya melangkah masuk dengan masih memakai jas hitam berkelas yang tergantung di bahunya—jas milik Arkana yang sempat tertinggal di badannya saat terjadi debat panjang di kafe sudut kota. Jas yang kebesaran itu sengaja dia lepas untuk disampirkan ke sandaran kursi. Bersamaan dengan gerakan itu, sebuah kertas mencuat dari saku jas tersebut. Kanaya melirik singkat, lalu meraih cepat benda tersebut, tetapi belum menelitinya lebih jauh.Lampu gantung temaram menyinari meja panjang yang berfungsi sebagai papan analisis. Laptop terbuka, beberapa lembar kertas berserakan di atasnya.Satu nama dilingkari dengan tinta hitam tebal:Laurent Garnyx. Fera menggunakan kemampuan konsultan hukumnya untuk melacak data tentang Laurent dan Royal Group.

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 70 - Hadir Karena Memilih

    Malam belum selesai ketika semuanya berubah sunyi. Kanaya duduk di kursi taman dekat parkiran, gaunnya masih menyentuh aspal yang dingin. Fera berdiri di sampingnya, sementara Bani mondar-mandir dengan rahang mengeras.“Kak, aku nggak asal pukul,” ujar Bani akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.Kanaya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, tetapi kini lebih tenang.“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta penjelasan.”Bani berhenti berjalan. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kembali foto yang tadi sempat dia tunjukkan pada Fera—Arkana, Rozana dan senyum keluarga yang tampak sempurna.“Komunitas kami sudah dua minggu membaca pola ini,” ucap Bani. “Timeline kemunculan Rozana nggak presisi. Bahkan Bella tidak diikutsertakan dalam pertemuan media.""Lihat saja garis wajah anak itu, lebih mirip generasi Royal Group ketimbang Atmaja." Fera akhirnya ikut bicara, lebih tenang. “Secara administratif, Rozana tercatat sah sebagai bagian dari keluarga Atmaja. Tapi administrasi

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 69 - Bukan Alat, Hanya Solusi

    Kanaya melempar nada protes ringan dan hanya ditanggapi Arkana dengan tarikan bibir tipis. "Kali ini saja... aku akan minta hal aneh," ucapnya pelan, namun ada ketegasan di suaranya.Aroma kopi hangat dari pintu masuk kafe sudah tercium jelas, menenangkan sejenak kepala Kanaya yang penuh hiruk-pikuk reuni. Arkana memilih meja paling sudut untuk mereka berdua, memantau setiap gerak-gerik sekitar dengan mata yang tajam. Kini mereka duduk saling berhadapan.Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di meja dengan telaten. Senyumnya sederhana, namun entah kenapa meninggalkan jeda kecil pada riuh pikirannya.Uap tipis mengepul pelan. Aromanya lembut, hangat, menenangkan. Andai pikirannya semudah itu untuk ditenangkan.Kanaya mengaduk isi cangkirnya perlahan. "Kamu mau bicara apa?""Ini soal Rozana," jawab Arkana, singkat, nadanya terdengar membawa beban.Kanaya antusias mendengar nama itu disebut. "Ah, sudah lama sekali," ucapnya lirih. "Apa kabar majikan balitaku ini?

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 68 - Yang Paling Tidak Terlibat

    Mobil meluncur perlahan meninggalkan Hotel Aurea. Kanaya duduk di sisi kemudi, jemarinya memainkan tali tas selempang. Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal di taman belakang tadi.Sementara Arkana fokus mengemudi. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali sorot matanya menyapu sekitar—instingnya selalu waspada.“Kamu aman?” Arkana meliriknya sekilas.Kanaya menoleh sebentar, menatap garis rahangnya yang tegas, lalu mengangguk pelan.“Aku baik-baik saja.”Hening mengisi kabin mobil.Dalam diam itu, Kanaya menangkap lagi kebiasaan lama Arkana—cara dia selalu sigap, datang bertanya seperlunya, dan cara dia hadir tanpa terlihat berlebihan. Ramah diingat, pun sulit untuk diabaikan dan semua itu bermula di kota Tulip—awal perkenalan mereka. Ya, Tulip...tiba-tiba suara Rani muncul di kepalanya seperti tamu tak diundang—tawa cerewetnya, cerita tentang malam mingguan, film laga di bioskop, dan kebiasaan Arkana yang konon tak pernah lupa membelikan camilan favoritnya.Semua b

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 67 - Komposisi yang Utuh

    Arkana menyadari hal lain di sekitarnya—pantulan cahaya yang bergerak cepat di balik kaca ballroom. Detik berikut, semuanya berubah.Satu lagi kilatan cahaya memecah temaramnya taman, terlalu fokus dan terarah.Arkana tidak langsung menoleh, hanya rahangnya yang mengeras tipis. Dalam sepersekian detik, dia sudah bisa menangkap pergerakan dari balik semak sisi kiri taman, tepat di sudut yang cukup rendah untuk bersembunyi, tetapi mampu menangkap sebuah ekspresi."Jadi ini tujuannya," batin Arkana, napasnya seketika ditahan.Namun bukan kilatan cahaya itu yang membuat amarahnya membuncah, melainkan ketika dia mendongak ke lantai dua Hotel Aurea, dan mendapati satu siluet berdiri diam di balik dinding kaca yang memantulkan cahaya kristal chandelier. Bayangan itu tidak bergerak, hanya siaga—seolah sedang mengamati dari jauh.Arkana mengenali gerak-gerik sosok misterius itu. Dari cara dia berdiri, dan cara melempar pandangan jauhnya—seperti sedang menunggu hasil dari rencana yang sudah ter

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 66 - Kilatan Cahaya di Sekitar Ballroom

    Pintu ballroom terbuka. Embusan udara hangat bercampur musik mengalun keluar, mengiringi langkah kaki yang perlahan berhenti di ambangnya—Kanaya. Sosok yang membuat waktu Arkana terasa melambat, dunia di sekitarnya seolah meredup. Fokus Arkana hanya tertuju pada cara wanita itu berdiri—tenang, namun di matanya menyimpan keraguan halus kala melihat keberadaan dirinya di taman. Bella melirik Arkana dari sudut mata. Dia sudah bisa membaca ekspresi pria itu tanpa perlu bertanya. Dalam benaknya, dia menautkan potongan-potongan momen; bagaimana Kanaya diterima baik di tengah keluarga Atmaja, pengakuan Arkana di panggung, gelagat Renard—semua seakan membuka simpul sendiri, membuat hati Bella seketika terbakar. “Sepertinya, konsekuensi mu sudah tiba, Kana," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Arkana tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras, sementara kakinya sudah maju lebih dulu, meninggalkan Bella di belakang. Setiap langkahnya terasa berat sekaligus pasti, sepertinya keputusan i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status