Beranda / Romansa / Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih / Bab 5 - Kunjungan Keluarga Arkana

Share

Bab 5 - Kunjungan Keluarga Arkana

Penulis: Pena Ilusi
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-10 16:18:19

"Sepertinya kau sangat berharap tinggal bersamaku," sindir Arkana dengan pandangan remeh membuat Kanaya melengos tajam.

Gadis itu menggeleng cepat diiringi seringai sinis yang tak kalah meremehkan.

"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain apalagi diriku juga sudah bersuami." Otak encernya masih terus bekerja. Dia tidak ingin menjadi yang paling tertindas dalam hubungan tidak sehat itu. "Jadi tolong biarkan aku pergi dari kehidupanmu," pintanya memelas.

Arkana terdiam dengan dahi mengkerut tajam. Dua jarinya ikut naik memijit kening seperti sedang berpikir keras. Sementara Kanaya tidak ingin membuang kesempatan dan dia terus saja berbicara.

"Selangkah lagi kita akan memasuki area perkotaan. Itu artinya kita sudah keluar dari tanah Pegunungan Rosellie. Kita bisa membebaskan diri dari ikatan karma itu," ucapnya meyakinkan.

"Kau yakin bisa semudah itu?"

Arkana masih menyatakan keraguan hatinya, sementara Kanaya sudah terlanjur yakin.

"Ah, anggap saja itu sebuah musibah kecil yang akan mereda seiring waktu."

"Maksudmu?"

"Kita perlu sepakati ini, Arkana. Aku akan pulang ke kampung dan kembali pada suamiku, lalu kau tetap menjalani kebahagiaan bersama istrimu."

Kanaya dengan antusias memperjelas maksud dari ucapannya dan memicu rasa terkejut di wajah Arkana.

"Jadi, kau sudah menikah?" tanya Arkana tidak percaya. "Mana buktinya?"

Arkana perlu pembuktian dan Kanaya terkekeh pelan sambil berupaya menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"S-sebenarnya aku punya bukti, tetapi semua identitas, dompet, tas, dan koperku raib entah ke mana." Kanaya berkilah.

Dia tidak ingin kebohongannya sampai terungkap saat itu juga sebab niatnya cuma satu, yaitu kabur dari kehidupan Arkana.

"Kalau begitu buktikan dengan cara lain, seperti kalung atau cincin pernikahan. Maka aku akan langsung mengizinkanmu pulang."

Arkana seperti ingin mencari celah dan itu membuat posisi Kanaya semakin tidak aman.

"Huh! Kau tidak punya hak untuk menahanku, Arkana!" protesnya tidak terima.

Ekspresi wajahnya yang cemberut memicu gelak tawa dari Arkana yang terlihat mulai lunak.

"Jangan lupa kita masih suami istri, Ratu Kanaya Rozana."

Arkana kembali menekan dengan menyebutkan nama lengkap yang tidak disukai oleh Kanaya, sebab baginya hanya akan memancing kenangan masa lalu dan membuat hati mencelos.

"Hah! Itu cuma permainan Karma Rosellie dan kita bukan penduduk aslinya, bukan?" Bibirnya bersungut gencar. "Lalu kenapa harus diambil pusing?"

Entah berapa kali Kanaya meyakinkan Arkana, hingga lelaki itu terlihat mengangguk paham dan mulai menerima alasan gadis itu.

"Baiklah, Naya. Jika itu mau kamu. Tapi jangan salahkan aku kalau sampai terjadi bahaya dalam perjalananmu nanti."

Kanaya terkekeh geli sambil memutar kedua bola matanya.

"Haish! Lebih baik menanggung karma itu sendirian daripada harus menjadi pelakor dalam rumah tangga orang."

Dengan penuh percaya diri, gadis itu bangkit dan bersiap menuju mobil. Disusul Arkana dari belakang dengan perasaan bercampur aduk.

Sungguh apa yang dikatakan Kanaya benar-benar membuat jantungnya bagai ditalu.

"Kau yakin, cara ini akan berhasil?" tanya Arkana kembali memastikan dan Kanaya mengangguk mantap.

"Selama kita berniat tulus untuk tidak mengganggu ketenteraman orang lain, kenapa tidak?"

"Baiklah kalau begitu. Aku ikut apa katamu."

Arkana mulai yakin pada keputusan. Selama dalam perjalanan, keduanya berbincang cukup ramah. Tidak seperti pertama kali mereka bertemu atau terakhir di terminal kota persinggahan.

"Kau pasti akan merindukanku bila tiba di kampung nanti," canda Arkana.

"Untuk apa aku merindukanmu, Arkana? Bahkan rindu itu sudah terkubur semenjak kau meninggalkan kota Etnik," balas Kanaya dalam tawa renyah yang khas.

Arkana merasa seperti kembali ke zaman sebelum hari mereka berpisah selamanya.

"Wah! Memangnya hatimu terbuat dari apa, Naya? Kau bahkan jauh lebih tegar dari yang kuduga."

Tawa renyah kembali pecah seiring canda lepas yang mengalir bagai bendungan jebol. Entah apa yang membuat semuanya terasa begitu alami hingga tiba di persimpangan kota Bougenville, Kanaya bersiap keluar dari mobil dan akan pergi dari sana.

"Selamat malam."

Sejenak, dia menoleh pada Arkana yang juga menatapnya dari balik kaca mobil. Keduanya sudah sepakat untuk saling melepas demi kehidupan masing-masing.

"Malam juga! Hati-hati, titipkan salamku pada Bani!" pekik Arkana lantang dan diangguk setuju oleh Kanaya.

"Baiklah, akan kusampaikan padanya dan bisa dipastikan adikku itu akan mengumpat tiada henti!" Keduanya kembali tergelak sebelum akhirnya mulai berpisah.

Mobil Arkana melaju pelan. Sejujurnya, dia juga tidak ingin merusak hubungan pernikahan dengan sang istri yang telah terjalin selama dua tahun tanpa tersandung badai sedikitpun.

Jika hari ini dia membawa Kanaya dalam hidupnya, itu sama saja menyerahkan nasib rumah tangganya di ujung tanduk.

"Hah! Sial!" umpat hati Arkana sembari membuang napas kasar. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Mata elangnya masih mencoba untuk menelusur jejak gadis yang hadir bagai mimpi itu. "Bahkan bayangannya saja masih terlihat jelas," gumamnya tidak percaya.

Kanaya terus berdiri memandangi mobil Arkana yang bergerak maju. Masih tercetak jelas dalam ingatan ketika Arkana berjuang menarik tubuhnya dari atas batu ceper yang tiba-tiba bergeser membawa dirinya ke dasar jurang.

Sayangnya, tindakan Arkana gagal dan serentak ikut terseret di kedalaman kurang lebih dua meter itu hingga akhirnya mereka terjebak dalam karma Rosellie.

"Huh! Sungguh mimpi buruk."

Kanaya menggeleng kecil dan sigap bergerak menyeberangi jalan raya sepi lalulintas. Dalam hatinya bertekad untuk mengubur dalam-dalam semua mimpi buruk itu.

Sementara netra Arkana masih bergerak liar menelisik pergerakan lamban gadis itu.

Lalu, dini hari itu, dalam sekejap ekor matanya menangkap sebuah pergerakan mobil melaju menuju arah di mana Kanaya berada.

Suara mobil menabrak sesuatu, diikuti tubuh Kanaya yang terpental jauh, membuat wajah Arkana memucat.

"Kanaya!!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 71 - Konsultan Hukum, Bani dan Fera

    Pagi itu Kanaya kembali bergulat dengan keraguannya sendiri—tetap tinggal atau kembali ke Bougenville. Kebimbangan itu terlalu jelas terlihat hingga Bani dan Fera akhirnya mengajaknya berembuk. Tak lama, mereka sudah berada di studio kecil milik Fera.Kanaya melangkah masuk dengan masih memakai jas hitam berkelas yang tergantung di bahunya—jas milik Arkana yang sempat tertinggal di badannya saat terjadi debat panjang di kafe sudut kota. Jas yang kebesaran itu sengaja dia lepas untuk disampirkan ke sandaran kursi. Bersamaan dengan gerakan itu, sebuah kertas mencuat dari saku jas tersebut. Kanaya melirik singkat, lalu meraih cepat benda tersebut, tetapi belum menelitinya lebih jauh.Lampu gantung temaram menyinari meja panjang yang berfungsi sebagai papan analisis. Laptop terbuka, beberapa lembar kertas berserakan di atasnya.Satu nama dilingkari dengan tinta hitam tebal:Laurent Garnyx. Fera menggunakan kemampuan konsultan hukumnya untuk melacak data tentang Laurent dan Royal Group.

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 70 - Hadir Karena Memilih

    Malam belum selesai ketika semuanya berubah sunyi. Kanaya duduk di kursi taman dekat parkiran, gaunnya masih menyentuh aspal yang dingin. Fera berdiri di sampingnya, sementara Bani mondar-mandir dengan rahang mengeras.“Kak, aku nggak asal pukul,” ujar Bani akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.Kanaya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, tetapi kini lebih tenang.“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta penjelasan.”Bani berhenti berjalan. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kembali foto yang tadi sempat dia tunjukkan pada Fera—Arkana, Rozana dan senyum keluarga yang tampak sempurna.“Komunitas kami sudah dua minggu membaca pola ini,” ucap Bani. “Timeline kemunculan Rozana nggak presisi. Bahkan Bella tidak diikutsertakan dalam pertemuan media.""Lihat saja garis wajah anak itu, lebih mirip generasi Royal Group ketimbang Atmaja." Fera akhirnya ikut bicara, lebih tenang. “Secara administratif, Rozana tercatat sah sebagai bagian dari keluarga Atmaja. Tapi administrasi

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 69 - Bukan Alat, Hanya Solusi

    Kanaya melempar nada protes ringan dan hanya ditanggapi Arkana dengan tarikan bibir tipis. "Kali ini saja... aku akan minta hal aneh," ucapnya pelan, namun ada ketegasan di suaranya.Aroma kopi hangat dari pintu masuk kafe sudah tercium jelas, menenangkan sejenak kepala Kanaya yang penuh hiruk-pikuk reuni. Arkana memilih meja paling sudut untuk mereka berdua, memantau setiap gerak-gerik sekitar dengan mata yang tajam. Kini mereka duduk saling berhadapan.Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di meja dengan telaten. Senyumnya sederhana, namun entah kenapa meninggalkan jeda kecil pada riuh pikirannya.Uap tipis mengepul pelan. Aromanya lembut, hangat, menenangkan. Andai pikirannya semudah itu untuk ditenangkan.Kanaya mengaduk isi cangkirnya perlahan. "Kamu mau bicara apa?""Ini soal Rozana," jawab Arkana, singkat, nadanya terdengar membawa beban.Kanaya antusias mendengar nama itu disebut. "Ah, sudah lama sekali," ucapnya lirih. "Apa kabar majikan balitaku ini?

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 68 - Yang Paling Tidak Terlibat

    Mobil meluncur perlahan meninggalkan Hotel Aurea. Kanaya duduk di sisi kemudi, jemarinya memainkan tali tas selempang. Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal di taman belakang tadi.Sementara Arkana fokus mengemudi. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali sorot matanya menyapu sekitar—instingnya selalu waspada.“Kamu aman?” Arkana meliriknya sekilas.Kanaya menoleh sebentar, menatap garis rahangnya yang tegas, lalu mengangguk pelan.“Aku baik-baik saja.”Hening mengisi kabin mobil.Dalam diam itu, Kanaya menangkap lagi kebiasaan lama Arkana—cara dia selalu sigap, datang bertanya seperlunya, dan cara dia hadir tanpa terlihat berlebihan. Ramah diingat, pun sulit untuk diabaikan dan semua itu bermula di kota Tulip—awal perkenalan mereka. Ya, Tulip...tiba-tiba suara Rani muncul di kepalanya seperti tamu tak diundang—tawa cerewetnya, cerita tentang malam mingguan, film laga di bioskop, dan kebiasaan Arkana yang konon tak pernah lupa membelikan camilan favoritnya.Semua b

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 67 - Komposisi yang Utuh

    Arkana menyadari hal lain di sekitarnya—pantulan cahaya yang bergerak cepat di balik kaca ballroom. Detik berikut, semuanya berubah.Satu lagi kilatan cahaya memecah temaramnya taman, terlalu fokus dan terarah.Arkana tidak langsung menoleh, hanya rahangnya yang mengeras tipis. Dalam sepersekian detik, dia sudah bisa menangkap pergerakan dari balik semak sisi kiri taman, tepat di sudut yang cukup rendah untuk bersembunyi, tetapi mampu menangkap sebuah ekspresi."Jadi ini tujuannya," batin Arkana, napasnya seketika ditahan.Namun bukan kilatan cahaya itu yang membuat amarahnya membuncah, melainkan ketika dia mendongak ke lantai dua Hotel Aurea, dan mendapati satu siluet berdiri diam di balik dinding kaca yang memantulkan cahaya kristal chandelier. Bayangan itu tidak bergerak, hanya siaga—seolah sedang mengamati dari jauh.Arkana mengenali gerak-gerik sosok misterius itu. Dari cara dia berdiri, dan cara melempar pandangan jauhnya—seperti sedang menunggu hasil dari rencana yang sudah ter

  • Menjadi Istri Kedua Mantan Kekasih    Bab 66 - Kilatan Cahaya di Sekitar Ballroom

    Pintu ballroom terbuka. Embusan udara hangat bercampur musik mengalun keluar, mengiringi langkah kaki yang perlahan berhenti di ambangnya—Kanaya. Sosok yang membuat waktu Arkana terasa melambat, dunia di sekitarnya seolah meredup. Fokus Arkana hanya tertuju pada cara wanita itu berdiri—tenang, namun di matanya menyimpan keraguan halus kala melihat keberadaan dirinya di taman. Bella melirik Arkana dari sudut mata. Dia sudah bisa membaca ekspresi pria itu tanpa perlu bertanya. Dalam benaknya, dia menautkan potongan-potongan momen; bagaimana Kanaya diterima baik di tengah keluarga Atmaja, pengakuan Arkana di panggung, gelagat Renard—semua seakan membuka simpul sendiri, membuat hati Bella seketika terbakar. “Sepertinya, konsekuensi mu sudah tiba, Kana," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Arkana tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras, sementara kakinya sudah maju lebih dulu, meninggalkan Bella di belakang. Setiap langkahnya terasa berat sekaligus pasti, sepertinya keputusan i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status