MasukDua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Hujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Udara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak siap.” ujar Caspian, mematikan mesin mobilnya sambil melirik Alexa. Alexa menatap gerbang itu beberapa detik, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menghela napas dalam, “Aku harus menghadapinya.” Caspian mengangguk pelan. “Oke. Aku tunggu disini, panggil saja aku kapanpun kau butuh.” Alexa tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Cahaya lampu teras menyambutnya, terang, dingin dan palsu. Caspian masih memperhatikan Alexa hingga punggung gadis itu hilang dibalik pintu besar rumah itu. Entah kenapa rahangnya mengeras, tempat ini layaknya jeruji emas untuk Alexa. Dan Caspian benci akan hal itu. Begitu masuk, Alexa langsung disambut dua orang yang tersenyum
“Brengsek!” Caspian melepaskan cekalannya, berjalan mundur untuk memberikan Alexa ruang bernapas. “Dia mau apa?” tanya-nya kemudian. Alexa menggigit bibir bawahnya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tak tahu, dia mengirimiku pesan semalam, katanya ingin bertemu.” Caspian terdiam, ia tahu hubungan Alexa dengan ayahnya tidak baik. Sejak Alexa pindah ke rumah ini, tidak sekalipun ia menyebut nama ayahnya dengan nada hangat. Dan ia tahu—lebih dari apapun, bahwa Alexa pernah ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Hari ketika Alexa pulang membawa kabar bahwa ia ingin mandiri, pria itu menatapnya seolah ia tidak layak dicintai. Caspian tidak pernah melupakan bagaimana Alexa menceritakannya sambil menahan napas agar suaranya tidak pecah. “Kenapa tiba-tiba?” Caspian bergumam. “Entah, aku takut. Ketakutan yang tak tahu karena alasan apa.” balas Alexa. Ia menatap Caspian, tatapan yang terlihat sangat rapuh. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. “Em, apa kau bisa me-menganta
Pagi ini, sunyi menyapa rumah besar Caspian. Tak ada satu pun suara, bahkan suara kecil dari helaan napas seseorang. Caspian berdiri di ambang pintu, menyandarkan diri pada kusen. Matanya sibuk memerhatikan Alexa yang tengah duduk di sofa dengan selimut tipis menutupi kakinya. Tatapannya kosong ke arah tv yang bahkan tidak menyala. Caspian menghela napas panjang, selama ini ia selalu bisa menahan amarah seseorang, bahkan teriakan sekali pun. Tapi diamnya Alexa, terasa begitu menyiksa. Alexa bahkan enggan untuk duduk sarapan bersamanya. Caspian hanya bisa terus memerhatikannya dari jauh, namun ia tak bisa menahannya lagi. Diamnya Alexa, adalah hal yang paling berat dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. “Alexa..” panggilnya pelan, sambil berjalan untuk meraih punggung sofa. Alexa tidak menoleh, tidak menjawab, bahkan tidak bergerak. Caspian menutup matanya sejenak, dadanya bergemuruh. “Aku tak suka kamu seperti ini. Setidaknya kamu bisa marah, teriak, atau bentak aku. Jangan
Setelah kejadian memalukan dengan Henry dan Valery, ia hanya ingin pulang dan bersembunyi di balik selimut. Namun rencana itu buyar, karena Caspian masih ingin menyelesaikan urusan pernikahan mereka. Menuntun Alexa menuju butik terbesar di pusag kota, tempat yang biasa digunakan kalangan elite untuk memilih gaun pernikahan. Ruangan itu terang, mewah dan penuh sutra menggantung dimana-mana. Alexa merasa canggung berada di tengah-tengah kilau kristal. Sementara tangannya masih gemetar akibat kejadian tadi. “Pilih yang kau suka,” ujar Caspian sambil duduk di sofa kulit hitam, menyilangkan kakinya dengan satu tangan yang menopang dagu. Nada suaranya terdengar normal, tapi Alexa tahu ia sedang menahan sesuatu. Alexa mencoba mengabaikan dengan berjalan ke deretan gaun putih yang memanjang. Ia menyentuh kain satin itu dengan hati-hati. “Aku tidak tahu mana yang bagus…” gumamnya pelan.“Ambil semuanya kalau perlu.” timpal Caspian datar. Alexa menghela napas, lelaki itu benar-benar tid