MasukAlexa Mouise Draxen, terpaksa menerima tawaran pernikahan dari pria yang baru ia temui saat hendak mengakhiri hidupnya. Semua memang sudah sehancur ini, biarlah ia tambah hancur bersama pria itu. Namun, kehidupannya justru berubah total. Caspian Maverick adalah suami yang obsesif dan protektif, tak pernah membiarkan Alexa kekurangan atau bahkan terluka sedikitpun. Hingga satu rahasia besar terungkap, Caspian ternyata putra dari ketua mafia kelas kakap yang identitasnya bahkan tak bisa ditembus kepolisian. Lalu, bagaimana hidup Alexa selanjutnya setelah mengetahui fakta gelap itu? Bagaimana dengan cinta mereka? Ikuti terus kisah Alexa dan Caspian, jangan lupa follow authornya ya...
Lihat lebih banyakPast, 4:14 pm, School
I don't know what made me do it, I usually don't but he... he was captivating. That's right. Maybe, it was his hair that made me stop and look a little while longer. Yes. It must've been that standout platinum hair of his that made me grab my camera and snapped a photo of him. I should've checked if the flash was on, I know, but at that instance, I was dumbfounded.
I felt lost in his marvel.
He turned around, noticing how the flash reflected in his violet eyes, looking back at me, he asked, "What... who are you?"
"Lyanna. I'm Lyanna Stuart."
"I see..."
"You look beautiful."
I don't know what I said but he burst out laughing at me and continued, "You're weird, does that usually works for you?"
"Weird how?" I asked confused
"You see beauty in chaos." He walked past me and continued, "Arthur, my name's Arthur Langdon. We'll...meet again."
And I watched as he left. There was something about him that draws me in as if he was a black hole. Maybe he was. I don't know and for the first time in my life, he was a mystery I wished to unlock. For the first time, I actually wanted to do something out of this mediocre life.
I saw him as my escape.
But my day went on as I went home, as usual, no one's home so I invited my closest friend over. He is a popular jock at our school.
"JD, quite nice of you to come without anyone else and that's new." I mocked
He threw his cigarettes outside and opened two can of sodas offering me the other one, he stated, "Oh come on, Ly, I'm bored of her besides the bros are having a party and I'm not in the mood to come since my best friend is going to be all alone again so you owe me for this one."
"Yeah whatever you say."
We played games and watched football and waited for the dawn to come, JD has always been the only one watching for me ever since we were young. I always used to envy him; he has the perfect life, a perfect family, a perfect reputation, and a perfect well-being.
But for JD, he's just some f*ckup guy waiting to throw his future away someday compared to his brothers. I guess we can't really have it all, wanting things most people hate the most about them.
I changed the topic, "Do you know him?" as I showed him the photo I took earlier of the captivating guy I met earlier with his outstanding platinum hair.
JD pats my messy jet black hair like I was a child and mocked me, "Better luck next time kid, that guy's... hmm how do I say this? He's just him, you know what I mean?"
I ignored his remarks and let my mind wander in a far away place. What does he mean by that? I really don't know what he means by that.
Maybe I should've asked before I got myself in this mess.
"Ly? Hey, Lyanna?"
Present, 9:31 am, Hospital
"Ly? Hey, Lyanna?"
I slowly open my eyes showing me a blurry image of JD in front of me, he reeks of cigarettes that it made me cough.
"Oh hey, Ly, sorry 'bout that, rough night." He stated as he dust off his clothes. My mind could barely process what is happening before my eyes so I stared at him 'til his image became clear, I replied, "JD..."
"Hey Lyanna. How are you feeling?"
"I'm... not sure but I just had a dream about you." I said trying to stitch up the dream I just had.
"Oh really? I'm flattered but that's a bit weird, what was it about?"
"Just... me telling you about a guy, you said he was somehow... uncommon." I stated as if finding what words to say next as I look at the horizon from afar hoping to grasp his silhouette.
JD grinned, "Does this guy has a name? Maybe it's just JD?"
"Arthur."I looked straight at her, curious, "He told me his name's Arthur Langdon. At least that's what I remember."
Suddenly his face dimmed as if I said something wrong, the other athletes along with JD couldn't look straight at me. Their moods suddenly shifts from the mention of his name. Some with disgust remarking, "Stay away from the Langdons. They're hot. Literally."
JD's friends laughed except me. But who was he?
JD cleared his throat and replied without any trace of a smile or mockery, "Enough of that."
None of them said anything, they couldn't. So they left wishing me a speedy recovery. This school year's game was the first and last game of my football career in college, I wasn't able to join the previous years... hmm, I wonder why was that?
Just before JD left, he said, "Ly, I really am glad to see you awake. Stop whining and get well soon. Don't try to force yourself to remember anything. It's better this way."
"What do you mean by that?" I asked
JD was about to say something as he opens his mouth hesitantly but in the end, he decided not to and simply pat my back as he left.
Everyone was acting weird, did they change or did I?
It's so frustrating that I can't understand anything at all. I can't remember. It feels like I forgot something oddly important.
Rather, someone.
Caspian menyeret Alexa masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexa, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup kuat untuk menyampaikan satu hal: ia sedang tidak ingin dibantah.Alexa duduk kaku di kursi penumpang. Dadanya naik turun cepat, bukan karena lelah, melainkan karena kata-kata yang menumpuk di tenggorokannya sejak siang tadi. Sejak Caspian terlalu sibuk. Sejak ia merasa menjadi istri yang hanya hadir di sela jadwal pria itu.Mobil melaju cepat, terlalu cepat.Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya gerbang rumah besar itu terbuka dan mobil berhenti di pelataran. Begitu pintu tertutup, Alexa menarik tangannya dari Caspian dan melangkah lebih dulu masuk.Langkahnya tegas. Tidak ragu.Begitu pintu utama tertutup, Alexa berbalik.“Berapa lama lagi aku harus seperti ini, Caspian?” suaranya bergetar, tapi bukan lemah. “Aku istrimu. Bukan dekorasi rumah yang kau tinggalkan setiap hari.”Caspian menutup pintu perlahan. Napasnya ditaha
Hari-hari setelah pernikahan berjalan terlalu… normal.Bukan normal yang menenangkan, melainkan normal yang terasa asing bagi Alexa. Tidak ada lagi sorot kamera, gaun-gaun mewah, atau bunga-bunga putih yang memenuhi setiap sudut hidupnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas dan kesibukan Caspian yang semakin hari semakin menyita seluruh waktunya.Pagi-pagi buta, Caspian sudah meninggalkan rumah. Malam hari, ia pulang dengan wajah letih, jas yang belum sempat dilepas, dan ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Alexa sering menunggunya di ruang makan, duduk rapi dengan makan malam yang mulai mendingin, hanya untuk akhirnya mendengar suara langkah kaki Caspian yang langsung menuju ruang kerja.Alexa berusaha memahami.Ia tahu, menikahi Caspian Maverick berarti menikahi dunia yang penuh tekanan, keputusan besar, dan tanggung jawab yang tidak main-main. Tapi tetap saja, hatinya bukan mesin. Ia butuh waktu, butuh kehadiran, butuh diyakinkan bahwa ia bukan hanya sekadar simbol di samping nama b
Dua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Hujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Udara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak
Pagi ini, sunyi menyapa rumah besar Caspian. Tak ada satu pun suara, bahkan suara kecil dari helaan napas seseorang. Caspian berdiri di ambang pintu, menyandarkan diri pada kusen. Matanya sibuk memerhatikan Alexa yang tengah duduk di sofa dengan selimut tipis menutupi kakinya. Tatapannya kosong ke
Setelah kejadian memalukan dengan Henry dan Valery, ia hanya ingin pulang dan bersembunyi di balik selimut. Namun rencana itu buyar, karena Caspian masih ingin menyelesaikan urusan pernikahan mereka. Menuntun Alexa menuju butik terbesar di pusag kota, tempat yang biasa digunakan kalangan elite un
Alexa tak pernah membayangkan dirinya akan berada di dalam toko perhiasan terbesar dan paling eksklusif di kota ini. Semua pelayan di sana mengenakan sarung tangan hitam dari bahan satin. Etalase kaca memajang rapi perhiasan-perhiasan dari berbagai logam. Alexa mengedipkan mata beberapa kali, meras












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan