Chapter: 14. Maaf?Caspian menyeret Alexa masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexa, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup kuat untuk menyampaikan satu hal: ia sedang tidak ingin dibantah.Alexa duduk kaku di kursi penumpang. Dadanya naik turun cepat, bukan karena lelah, melainkan karena kata-kata yang menumpuk di tenggorokannya sejak siang tadi. Sejak Caspian terlalu sibuk. Sejak ia merasa menjadi istri yang hanya hadir di sela jadwal pria itu.Mobil melaju cepat, terlalu cepat.Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya gerbang rumah besar itu terbuka dan mobil berhenti di pelataran. Begitu pintu tertutup, Alexa menarik tangannya dari Caspian dan melangkah lebih dulu masuk.Langkahnya tegas. Tidak ragu.Begitu pintu utama tertutup, Alexa berbalik.“Berapa lama lagi aku harus seperti ini, Caspian?” suaranya bergetar, tapi bukan lemah. “Aku istrimu. Bukan dekorasi rumah yang kau tinggalkan setiap hari.”Caspian menutup pintu perlahan. Napasnya ditaha
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: 13. Ruang Yang Terlalu SunyiHari-hari setelah pernikahan berjalan terlalu… normal.Bukan normal yang menenangkan, melainkan normal yang terasa asing bagi Alexa. Tidak ada lagi sorot kamera, gaun-gaun mewah, atau bunga-bunga putih yang memenuhi setiap sudut hidupnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas dan kesibukan Caspian yang semakin hari semakin menyita seluruh waktunya.Pagi-pagi buta, Caspian sudah meninggalkan rumah. Malam hari, ia pulang dengan wajah letih, jas yang belum sempat dilepas, dan ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Alexa sering menunggunya di ruang makan, duduk rapi dengan makan malam yang mulai mendingin, hanya untuk akhirnya mendengar suara langkah kaki Caspian yang langsung menuju ruang kerja.Alexa berusaha memahami.Ia tahu, menikahi Caspian Maverick berarti menikahi dunia yang penuh tekanan, keputusan besar, dan tanggung jawab yang tidak main-main. Tapi tetap saja, hatinya bukan mesin. Ia butuh waktu, butuh kehadiran, butuh diyakinkan bahwa ia bukan hanya sekadar simbol di samping nama b
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: 12. Indah Tapi MencekamDua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: 11. Manis GulaHujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: 10. Bukan Hanya Sebuah AncamanUdara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak siap.” ujar Caspian, mematikan mesin mobilnya sambil melirik Alexa. Alexa menatap gerbang itu beberapa detik, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menghela napas dalam, “Aku harus menghadapinya.” Caspian mengangguk pelan. “Oke. Aku tunggu disini, panggil saja aku kapanpun kau butuh.” Alexa tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Cahaya lampu teras menyambutnya, terang, dingin dan palsu. Caspian masih memperhatikan Alexa hingga punggung gadis itu hilang dibalik pintu besar rumah itu. Entah kenapa rahangnya mengeras, tempat ini layaknya jeruji emas untuk Alexa. Dan Caspian benci akan hal itu. Begitu masuk, Alexa langsung disambut dua orang yang tersenyum
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: 09. Kesempatan“Brengsek!” Caspian melepaskan cekalannya, berjalan mundur untuk memberikan Alexa ruang bernapas. “Dia mau apa?” tanya-nya kemudian. Alexa menggigit bibir bawahnya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tak tahu, dia mengirimiku pesan semalam, katanya ingin bertemu.” Caspian terdiam, ia tahu hubungan Alexa dengan ayahnya tidak baik. Sejak Alexa pindah ke rumah ini, tidak sekalipun ia menyebut nama ayahnya dengan nada hangat. Dan ia tahu—lebih dari apapun, bahwa Alexa pernah ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Hari ketika Alexa pulang membawa kabar bahwa ia ingin mandiri, pria itu menatapnya seolah ia tidak layak dicintai. Caspian tidak pernah melupakan bagaimana Alexa menceritakannya sambil menahan napas agar suaranya tidak pecah. “Kenapa tiba-tiba?” Caspian bergumam. “Entah, aku takut. Ketakutan yang tak tahu karena alasan apa.” balas Alexa. Ia menatap Caspian, tatapan yang terlihat sangat rapuh. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. “Em, apa kau bisa me-menganta
Last Updated: 2025-12-12
Chapter: 06. Retak yanv Mulai TerlihatTangan Bella bergetar tipis saat meletakkan layar ponsel pintarnya di atas meja kaca di hadapan Natan. Di atas layar yang terang, foto buram berlatar belakang restoran bernuansa remang itu terpampang nyata. Natan yang sedang tertawa sambil memegang gelas wine, duduk berhadapan dengan Livia.Natan melirik foto itu sejenak, lalu menarik cangkir kopinya tanpa sedikit pun rasa panik atau bersalah di wajahnya.Bahkan sebuah tawa renyah meluncur dari bibir pria itu."Ini yang bikin muka kamu ditekuk dari tadi pagi, Bella?" tanya Natan, suaranya dipenuhi nada meremehkan yang amat kental.Bella menatap suaminya lurus-lurus. "Kamu bilang ada rapat darurat luar kota, Mas. Tapi kamu malah makan malam berdua sama Livia di restoran mewah."Natan meletakkan cangkirnya kembali, menghembuskan napas kasar seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan. "Itu makan malam tim setelah rapat dengan klien selesai, Bella. Kebetulan tempat duduk yang tersisa di meja itu ya cuma di depan Livia. Satu mej
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: 05. Si Lemah yang BerbahayaSuara dengung mesin pendingin ruangan dan gesekan sepatu berpadu riuh di lorong utama lantai lima gedung Andrexa Group. Bella berjalan perlahan menyusuri koridor marmer yang berkilau, memeluk tas kain berisi kotak bekal makan siang untuk suaminya, hidangan hangat yang ia masak sendiri sejak pagi. Setelah penemuan kotak anting-anting misterius di laci kerja Natan kemarin, Bella berniat memberi kejutan kecil, sebuah usaha terakhir untuk merajut kembali komunikasi mereka yang kian terkoyak.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai belokan menuju pintu kantor CEO, langkah Bella mendadak mati.Dari celah dinding kaca yang sedikit terbuka, Bella melihat Livia melangkah pelan sambil memeluk setumpuk berkas tebal di dadanya. Wajah wanita itu tampak pucat, disapu riasan tipis yang memancarkan kesan lelah dan rentan. Saat berada tepat di depan pintu ruangan Natan, jemari Livia tampak melemah.Brak!Tumpukan kertas itu berserakan di atas lantai. Livia seketika berlutut, napasnya tersengal pel
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: 04. Perempuan yang Selalu SalahPagi berganti dengan cahaya samar yang menyusup di celah gorden. Mata Bella terasa berat dan sembap, tetapi kebiasaan selama lima tahun terakhir menggerakkan tubuhnya untuk bangkit lebih awal. Meski semalaman kepalanya dihantam gelisah dan aroma parfum asing di kerah jas Natan masih menempel di ingatannya, Bella tetap melangkah menuju dapur.Tiga puluh menit kemudian, dua porsi roti panggang, telur setengah matang, dan meja makan yang bersih sudah siap. Bella menata semuanya dengan rapi, berusaha mengubur puing-puing kekecewaan semalam.Suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Natan turun dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi. Ia melangkah menuju meja makan tanpa sepatah kata pun menyapa, matanya tertuju penuh pada layar ponsel pintar di tangan kanannya.Bella menarik napas pelan, mendudukkan diri di seberang kursi Natan lalu menggeser secangkir kopi hitam panas ke depan suaminya."Mas… kita bisa bicara sebentar?" tanya Bella pelan. Suaranya halus, berusaha mene
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: 03. Rumah yang Terasa Asing Suara pintu utama yang tertutup rapat mengembalikan Bella ke dalam keheningan rumahnya yang dingin. Karbol rumah sakit masih tertinggal samar di ujung penciumannya, tetapi bau sup krim yang telah mendingin di meja makan langsung menyambutnya. Pukul satu dini hari. Bella melangkah ke ruang makan. Tiga hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi masih tertata utuh di sana. Daging steak sudah mengeras, sementara lelehan lilin di atas kue cokelat kecil itu telah membeku, meninggalkan sisa benang hitam. Tanpa bersuara, Bella mengambil piring demi piring dan membuang semua masakannya ke dalam tempat sampah. Setiap kali makanan itu terhempas, ada rasa nyeri yang menjalar lambat di dadanya. Saat membersihkan meja kaca, pandangannya tersangkut pada bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding dekat bufet. Di foto itu, Natan tersenyum tipis, merangkul pinggangnya yang berbalut gaun putih. Bella menatap retakan halus di sudut kaca bingkai itu. Kapan reta
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: 02. Pelukan yang Salah Layar ponsel itu sudah mati sejak setengah jam lalu, tetapi gambarnya seolah menancap di mata Bella. Natan. Livia. Koridor rumah sakit. Tangan pria itu yang begitu familier mengusap rambut wanita lain. Pukul sebelas malam. Bella menatap kunci mobil di atas meja. Rasa tidak percaya dan sedikit sisa harapan yang bodoh terus membisikkan satu hal. Foto bisa saja bohong, atau sekadar diambil dari sudut yang salah. Ia harus melihatnya sendiri. Ya, ke rumah sakit. Bau karbol dan antiseptik menyengat hidung saat Bella melangkah menyusuri lorong lantai tiga Rumah Sakit Medika. Langkah kakinya terayun tanpa suara di atas lantai hospital bernuansa putih bersih itu. Di depan pintu kamar VIP nomor 308, langkahnya mendadak mati. Pintu itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit selebar dua jari. Dari celah itu, sinar lampu kamar yang hangat menyorot keluar. Natan duduk di tepi ranjang. Di tangannya ada mangkuk keramik putih berisi bubur. D
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: 01. Malam Dingin AnniversaryAku gak jadi pulang. Livia pingsan di kantor. Aku antar dia dulu ke rumah sakit.Bela menghela napasnya panjang saat membaca pesan yang masuk di ponselnya. Livia. Lagi-lagi nama itu.Padahal hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Bella dan suaminya—Natan—yang kelima, tapi lagi-lagi sang suami lebih mementingkan wanita lain dibanding dirinya.Ibu jarinya memutih karena mencengkeram tepi ponsel terlalu kuat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis, saat rasa kecewa itu kembali datang."Mungkin memang kondisinya darurat," bisik Bella pada keheningan ruangan. Suaranya serak, memantul pelan di dinding-dinding tinggi rumah Andrexa. "Nathan cuma membantu staf."Ia meraih korek api, memantik api kecil, lalu menyalakan lilin di atas kue. Nyala api kekuningan itu bergoyang pelan, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.Bella memejamkan mata, menghirup udara lambat-lambat, lalu meniup lilin itu sendirian. Bersamaan dengan padamnya api, setitik air mata akhirnya lo
Last Updated: 2026-08-01
Dekapan Tuan Mafia
Bagi ayahnya, Jolina Roberson hanyalah koin taruhan untuk melunasi hutang judi. Namun bagi Felix Wesley, Jolina adalah mangsa yang sudah lama ia incar untuk sebuah balas dendam yang manis.
Hanya dalam semalam, Jolina resmi menjadi milik sang penguasa bawah tanah yang paling kejam. Felix posesif, agresif, dan tidak mengenal kata "tidak". Di balik kemewahan mansion yang melindunginya, Jolina menyadari bahwa ia bukan sekadar istri, melainkan tawanan obsesi.
Saat musuh mulai mengepung dan rahasia masa lalu terkuak, Jolina harus memilih. Lari dari neraka yang diciptakan Felix, atau tetap tinggal dalam dekapan maut sang Mafia yang perlahan mulai mencuri hatinya.
"Kau adalah milikku, Jolina. Di ranjangku, atau di liang lahatku."
Read
Chapter: 47. Di antara Debu dan KebohonganRerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: 46. Pertemuah di Persimpangan TakdirMalam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: 45. Jejak di Bawah Bayang-bayangKeheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 44. Keheningan di Bawah Celah TakdirPagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 43. Serpihan Memori yang TerkuburDi sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 42. Misteri yang TersisaAsap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Last Updated: 2026-07-21