INICIAR SESIÓN“Tentu saja secepatnya,” jawab Jarren tanpa ragu. Radio mobil Jarren memutarkan lagu-lagu hits. Jarren bernyanyi pelan mengikutinya. Sesekali tubuh bagian atasnya ikut bergerak. Puspa mengernyitkan dahi. Namun dia terlalu lelah untuk berkomentar. Begitu tiba di rumah, Jarren dengan hati-hati membantu Puspa turun dari mobil. Pria itu memegangi kedua bahu istrinya. “Jarren, aku nggak lagi sakit,” ucap Puspa. “Iya, tapi di depan ada tangga,” sahut Jarren sambil menunjuk beberapa anak tangga di dekat pintu masuk. “Pelan-pelan.” “Lebay deh kamu,” gerutu Puspa, melepaskan diri dari Jarren. Puspa melangkah lebih dulu, meninggalkan Jarren. “Mpus! Tunggu!” protes Jarren. Dengan mudah Jarren dapat menyusul Puspa. Meski Puspa menolaknya, Jarren tetap menggandeng wanita itu. “Den Jarren,” sapa Mbok begitu mereka masuk ke rumah. “Ibu lagi ada tamu.” “Tamu?” ulang Jarren. Dahi pria itu langsung mengernyit dalam. Begitu pula dengan Puspa. Mbok mengangguk. “Iya. Ibu nerima tamu di kamar
“Aku nggak suka dipermalukan seperti saat kita SMA. Tapi kali ini, aku suka caramu. Makasih udah kasih kesempatan aku buat lihat wajah Yasmeen,” sambung Puspa perlahan tersenyum.Jarren perlahan ikut mengukir senyum. “Akhir-akhir ini kamu sering bilang makasih, ya.”Puspa memutar bola mata. Dia malas mendengar Jarren mengomentari tutur katanya yang memang entah sejak kapan menjadi lebih sopan pada pria itu.“Lalu, apa maksudmu dengan ‘sampai akhir hidup’?” Puspa memiringkan kepalanya.Senyum Jarren memudar. Dia mengalihkan pandangan ke arah jalanan di depan mereka.“Aku hanya berusaha meyakinkan Yasmeen untuk nggak mengganggu aku atau kamu,” jawab Jarren.Untuk sesaat, Puspa tertegun. Seperti ada sesuatu yang menghantam tepat di dadanya.Namun, ini Jarren. Tidak heran jika pria itu bersikap sesuka hati.Puspa ingin menyingkirkan pikiran-pikiran buruk tentang pria itu. Namun, bukankah Jarren sendiri yang membuatnya terus berpikir seperti itu? Sebentar bersikap manis, sebentar bersikap
Di gedung kantor firma hukum JD & Partners. “Aku nggak salah kostum, kan?” tanya Puspa pelan. Dimas menatap Puspa dari ujung kepala sampai kaki. “Enggak, aman, kok.” Puspa mengangguk. Dia melangkah tepat di belakang Dimas. Beberapa karyawan yang tidak sengaja bertemu dengan Puspa tersenyum, mengenali wanita itu sebagai istri Jarren atau sesekali Dimas yang memperkenalkan dirinya pada mereka karena tidak semua datang saat pesta anniversary. “Itu ruangan kerja Pak Jarren.” Dimas menunjuk ke sebuah ruangan paling ujung begitu pintu lift terbuka. “Seharusnya beliau sudah selesai. Ayo!” Mereka melanjutkan langkah. Namun sebelum sampai di depan pintu, suara dari dalam ruangan sudah terdengar. “Bapak memecat saya?!” teriak seorang wanita dari dalam. Langkah Puspa melambat. “Kamu sudah dengar apa yang dikatakan oleh divisi HR. Kenapa bertanya lagi pada saya?” Kali ini Puspa mengenalinya sebagai suara Jarren. “Saya akan adukan ini ke Ibu Saras!” ancam wanita itu. “Apa hubungannya d
“A-apa?” Puspa terbata-bata, masih berusaha mengumpulkan kembali akal sehatnya.Puspa segera menurunkan tangannya yang semula sedang meraba bibirnya yang terasa bengkak.“Singkirkan pikiran burukmu tentang aku,” ulang Jarren dengan sabar sambil mengusap lembut garis rahang Puspa. “Dan juga pikiran kotormu.”“Aku nggak berpikir kotor,” bantah Puspa cepat sambil melangkah mundur. “Nggak pernah sekali pun! Tapi kalau berpikir buruk tentangmu, ya. Itu pun karena sikap dan ucapanmu sendiri.”Jarren tertawa lembut.Puspa mendengkus. Dia hampir berjongkok untuk merapikan isi pouch-nya yang bersebaran, saat Jarren menahan wanita itu.“Biar aku aja,” tukas Jarren.Pria itu berjongkok. Dia memasukkan satu per satu barang Puspa ke dalam pouch.Jarren cukup lama memandang test pack itu, sebelum akhirnya benda panjang itu bergabung dengan barang Puspa yang lain di dalam tas kecilnya.“Besok kamu izin setengah hari ke sekolah.” Jarren mengulurkan pouch ke arah Puspa. “Aku akan kosongkan jadwal sian
“Puspa.” Suara Jarren terdengar. Puspa dan Dimas sama-sama menoleh ke arah yang sama. Sesaat tatapan mereka bertemu. Jarren mengalihkan pandangannya pada Dimas dan mengangguk tipis. “Aku ke dalam dulu, Puspa,” pamit Dimas. Tanpa menunggu respons Puspa, pria itu melangkah pergi. Meninggalkan Puspa dan Jarren di sini. Puspa berdiri berhadapan dengan Jarren. Tidak cukup dekat untuk saling berbisik, tetapi kecanggungan yang Puspa rasakan begitu kentara. Wanita itu menggigit pipi bagian dalam. “Dansanya udah selesai?” Puspa memecah keheningan. Jelek sekali pertanyaannya. Namun Puspa tidak tahu harus bertanya apa. Jarren mengangguk. “Pasangan dansaku kabur.” Puspa menghela napas panjang. “Dimas bilang, kamu memutus kerja sama dengan perusahaan tempat para wanita yang menggangguku bekerja,” ucap Puspa mengalihkan pembicaraan. Jarren mengikis jarak dengan Puspa. Dia meraih pergelangan tangan wanita itu, lalu menatap Puspa tanpa sedikit pun terlihat gugup. “Itu keputusan bisnis.”
Dada Puspa terasa kosong. Dia menatap Jarren tanpa berkedip.Jadi itu yang ada di pikiran Jarren? Perceraian?Bukan bayi mereka, yang Puspa pikir akan mengeratkan hubungan mereka.Apa yang terjadi dengan sikap manis Jarren sebelum Puspa memberitahu soal kehamilan?Apa semuanya hanya sandiwara Jarren demi bisa membuat Puspa merasa lebih malu daripada keisengannya di masa SMA?Menikahinya, bersikap manis, menghamilinya, lalu menertawakan kebodohan Puspa.Air di pelupuk mata Puspa mulai menggenang. Puspa tersenyum miring, tawa lembut lolos dari bibirnya.Bagaimana bisa Puspa masuk ke jebakan Jarren lagi? Rupanya biar sepuluh tahun berlalu pun, Puspa masih jatuh ke lubang yang sama.Puspa menelan ludah dengan susah payah.“Tenang. Kontrak kita memang akan selesai, kan?” Puspa memaksakan senyum.Jarren terdiam.Puspa perlahan menghentikan langkah, melepaskan genggaman tangan Jarren dan juga dirinya dari pria itu.“Puspa,” panggil Jarren lirih.Tidak ingin mengundang perhatian lagi, Puspa b







