Se connecterSaat keluarganya menjerumuskan Puspa ke dalam utang, dia justru diselamatkan oleh Jarren, musuh bebuyutannya. Jarren meminta balasan, yaitu pernikahan kontrak dan seorang anak. Semuanya tampak sederhana, sampai rahasia masa lalu dan perasaan yang tak pernah terucap mulai terungkap. “Kontraknya boleh berakhir. Tapi siapa bilang aku bakal melepas istriku?” Jarren menyobek surat cerai yang diajukan oleh Puspa.
Voir plusBRAK!
Daun pintu kayu itu dihantam keras ke dinding hingga getarannya merambat ke meja guru tempat Puspa duduk.
Puspa tersentak.
“Ada yang namanya Puspa di sini?!” Suara berat, menusuk gendang telinga Puspa saat dia tengah fokus mengoreksi tugas siswanya di ruang guru sendirian.
Seorang pria berbadan tegap, berkulit gelap, dengan otot-otot lengan yang menyembul ketat dari balik kaus hitamnya berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah menyapu seisi ruangan yang seketika hening.
Puspa menelan ludah, menetralkan degup jantungnya yang mendadak liar sebelum perlahan berdiri dari kursi.
“Saya,” sahutnya berusaha tetap tenang. “Ada perlu apa, ya? Ini lingkungan sekolah, tolong dijaga kesopanannya.”
Pria itu melangkah maju. Sepatu boot-nya menggelegar di atas lantai keramik.
Tanpa permisi, dia menghempaskan selembar kertas lusuh tepat di atas meja Puspa. “Nggak usah banyak ngomong! Lo punya utang 200 juta. Hari ini tenggat waktunya!”
Kerutan mendalam muncul di dahi Puspa. Dia meraih kertas itu dengan tangan gemetar.
“Utang? Bicara apa Anda? Saya nggak pernah mengajukan pinjaman sepeser pun!" bantah Puspa.
“Baca namanya, Pinter!” gertak pria itu, memajukan tubuhnya hingga bayangannya yang besar mengurung Puspa. “Nama lo, Puspa Manora, tercatut jelas di sini sebagai penjamin utama. Kontak darurat. Dialihtangankan ke lo karena si peminjam kabur!”
Darah Puspa serasa berhenti mengalir. Napasnya tertahan saat membaca deretan angka dan namanya yang tercetak tebal.
Kepala Puspa seketika pening.
Bagaimana mungkin? Siapa yang berani memakai namanya untuk nominal fantastis ini?
“Saya nggak tahu-menahu soal ini. Ini pasti kesalahan–”
“Gue nggak mau tahu!” Pria itu mencengkeram tepi meja, memangkas jarak hingga Puspa refleks mundur semeter. “Mau lo yang utang atau cuma penjamin, uang itu harus balik hari ini! Atau lo mau sekolah ini makin gempar?”
Puspa memucat.
“Gertakan yang sangat primitif untuk seorang penagih dari sindikat ilegal.” Suara bariton yang dingin dan teratur itu memotong konfrontasi di ruangan.
Langkah kaki yang tenang berbunyi masuk dari luar.
Puspa menoleh, dan matanya seketika membelalak.
Seorang pria tinggi berjas gelap melangkah masuk dengan tangan kanan terbenam santai di saku celana.
Tatapan matanya tajam bagai pisau, membingkai wajah tampan yang sangat familiar bagi Puspa.
“Jarren?”
Puspa bergeming dalam kebingungannya. Kenapa Jarren ada di sini?
Jarren melangkah semakin dekat, berdiri tepat di samping Puspa tanpa memandangnya sedikit pun. Dia merebut kertas lusuh di tangan Puspa, lalu membacanya sekilas.
“Bunga 30 persen per bulan, ancaman kekerasan di fasilitas umum, dan pengancaman atas dokumen yang nggak sah secara hukum.” Pandangan Jarren terkunci rapat pada pria berotot di hadapan mereka. “Mau saya sebutkan nomor pasal UU ITE dan KUHP yang siap memenjarakan bos Anda sebelum matahari terbenam hari ini?”
Si penagih utang mendengkus, melangkah maju berusaha mengintimidasi. “Siapa lo?! Nggak usah ikut campur kalau nggak tahu urusannya!”
“Saya sangat paham urusannya,” kilah Jarren cepat. “Aplikasi pinjaman tempat Anda bekerja sudah resmi dibekukan OJK minggu lalu. Menggunakan cara praksis seperti ini hanya akan mempercepat Anda menyusul rekan-rekan Anda di sel tahanan.”
Pria besar itu terdiam sejenak. Sorot matanya ragu, menatap Jarren dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum beralih menatap Puspa.
“Lo kenal sama orang ini, Puspa?” tanyanya tanpa sopan santun.
Puspa menoleh pada Jarren.
Di saat yang sama, Jarren juga memalingkan wajah pada Puspa. Dua pasang manik hitam itu bertemu.
Puspa melemparkan tatapan penuh kebencian dan rasa tidak sudi, sementara Jarren menatapnya penuh cemooh serta keangkuhan yang kentara.
Kilat permusuhan beradu tajam di udara, membakar sisa-sisa kenangan lama yang tidak pernah padam sejak dulu.
Namun, sebelum Puspa sempat membuka suara untuk mengusir Jarren, pria berjas itu sudah kembali bersuara mantap.
“Saya pacarnya,” sahut Jarren santai.
Puspa mengangkat kedua alis.
Pacar? Sejak kapan?
Jarren menarik sebuah kartu nama dengan desain elegan dari saku jasnya dan menyelipkannya di antara jemari si penagih utang. “Sekaligus pengacaranya. Gunakan sisa akal sehat Anda. Kalau mau bicara hukum, bawa dokumen resmi Anda ke kantor saya. Tapi kalau masih nekat berteriak di sini, saya pastikan Anda keluar dari sekolah ini menggunakan mobil polisi.”
Raut muka penagih utang itu berubah drastis setelah membaca tulisan di kartu nama tersebut. Dia menatap Jarren dengan gigi terkatuk, lalu melirik Puspa penuh ancaman.
“Urusan kita belum selesai!” serunya kasar sebelum berbalik dan melangkah pergi menyisakan dentuman pintu yang kembali bergetar.
Keheningan melingkupi ruangan.
Puspa menghela napas panjang, merapikan bajunya yang agak kusut karena tegang. Kendati sangat membenci kehadiran Jarren, Puspa tahu batas diri.
“Terima kasih,” gumam Puspa pelan, enggan menatap mata pria di sampingnya. “Urusan tadi ... makasih bantuannya.”
Jarren tersenyum sinis.
“Jangan kegeeran.” Jarren menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. “Aku cuma nggak sudi telingaku pecah gara-gara bentakan preman tadi. Lagipula, kalau nggak ada aku, kamu pasti cuma bisa pasrah ditindas orang tadi, kan?”
Kata-kata itu bagai korek api yang menyambar bensin. Darah Puspa seketika mendidih.
“Aku nggak sepasrah itu!” Puspa mendongak, menatap Jarren penuh kejengkelan. “Kamu dari dulu emang nggak pernah berubah. Tetap nyebelin! Terus maksud kamu apa coba, ngaku-ngaku jadi pacar aku?!”
“Kalau aku cuma ngaku sebagai pengacara, dia bakal terus ganggu kamu di sini.” Jarren menatap Puspa dingin, tidak terpengaruh sama sekali oleh nada tinggi wanita itu.
“Aku nggak butuh bantuan kamu!” semprot Puspa, kebingungannya meluap menjadi kejengkelan yang memuncak. “Sebenarnya kamu ngapain ke sini? Kenapa tiba-tiba muncul lagi di hadapanku?”
Jarren tidak menjawab. Dia hanya bersedekap, menatap Puspa dari atas ke bawah dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sebelum pertanyaan Puspa terjawab, pintu ruang guru kembali terbuka.
Seorang guru laki-laki melangkah masuk dengan terburu-buru, wajahnya tampak panik sekaligus segan begitu melihat Jarren.
“Pak Jarren! Waduh, maaf sekali, Pak. Bapak salah masuk ruangan,” ujar guru itu dengan sopan. “Kepala Yayasan sudah menunggu Bapak di ruang rapat utama dari tadi. Rapat akan segera dimulai, Pak.”
Puspa semakin mengernyit bingung. Dia menatap guru itu dan Jarren bergantian.
“Kepala Yayasan rapat sama ... Jarren? Ada urusan apa?”
“Urusan keluarga internal yayasan, Bu.” Guru itu menjawab. “Beliau butuh bantuan hukum dan pendampingan dari Pak Jarren.”
Puspa membeku. Kenyataan itu menghantamnya pelan.
Setelah 10 tahun Puspa berhasil menghindari pria yang paling tidak ingin dia temui lagi di muka bumi ini, kini mereka justru kembali bertemu di situasi yang paling tidak terduga.
Jarren memperbaiki letak jam tangan mewahnya sebelum berbalik mengekor guru tersebut.
Namun tepat di ambang pintu, Jarren menghentikan langkahnya. Pria itu sedikit menoleh, menyisakan profil samping wajahnya yang tegas di hadapan Puspa.
“Preman tadi nggak bakal berhenti cuma karena satu gertakan,” tukas Jarren. “Dia bakal datang lagi. Jadi, cepat kembalikan uang yang kamu pinjam, pacarku.”
Garis-garis halus di sudut mata Jarren melengkung sempurna kala pupil matanya membesar. “Aku suka banget lagi, Mpus,” puji Jarren antusias, suara baritonnya bergetar pelan. Puspa tanpa sadar terkekeh renyah, merasakan kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya. “Artinya juga bagus banget, Mpus,” sambung Jarren lagi seraya mengusap layar ponselnya, membaca baris demi baris makna kata yang baru saja mereka rangkai. “Biantara Bintang Dewanora, penguasa udara yang berjiwa bebas, menjadi penunjuk arah sekaligus cahaya malam yang indah. Nama yang sangat cocok untuk seorang kakak.” Puspa mengangguk setuju, matanya berbinar terang. Momen indah itu berlanjut dengan diskusi hangat yang mengalir tanpa sekat. Dengan ketelitian dan penuh kasih sayang, jemari mereka bergantian memilah lembaran makna, merangkai setiap huruf untuk ketiga jagoan lainnya. Hingga akhirnya, disepakatilah deretan nama indah un
Belum sempat bibir Puspa merangkai jawapan atas permohonan tulus itu, daun pintu kamar VIP mendadak terdorong dari luar. Saras melangkah masuk dengan binar mata berseri-seri, tangannya melambai pelan seraya memegangi dada dengan raut wajah penuh kegembiraan. “Puspa, Jarren, bayi-bayinya mau datang!” seru Saras penuh antusias, tak sanggup menyembunyikan getaran bahagia di suaranya. “Ya Allah, mereka semua tampan-tampan sekali!” Jarren spontan berdiri tegak, merapikan letak kemejanya seraya mengambil beberapa langkah mendekati pintu. Senyum tipis yang sarat keharuan perlahan mengembang di bibir Puspa kala dua perawat berseragam merah muda melangkah masuk. Masing-masing mendorong satu keranjang bayi berisi dua sosok mungil berdampingan. “Selamat siang, Ibu Puspa, Bapak Jarren,” sapa salah seorang perawat dengan ramah. Atmosfer kamar inap yang tadinya riuh oleh emosi mendadak diliputi kehangatan ya
“Tidur saja nggak apa-apa, Ibu. Prosedur bedahnya sudah hampir selesai.” Dokter anestesi yang berdiri menatap monitor irama jantung di sisi ranjang tersenyum menenangkan. Bagaikan mendapat izin, seluruh pertahanan kesadaran Puspa meloloskan kendalinya. Kegelapan yang amat hangat dan damai seketika menyapu habis sisa rasa lelah wanita itu. Suara pendar pendingin udara yang mengalun lembut menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Puspa kala matanya perlahan terbuka. Langit-langit ruangan bernuansa krem yang luas dan lampu temaram menyadarkannya bahwa Puspa telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas VIP. Sensasi hangat di punggung tangannya seketika menguat. Jarren yang duduk di kursi samping ranjang spontan menegakkan tubuh tegapnya. “Puspa? Kamu dengar aku, Sayang?” bisik Jarren lembut, menatap dalam ke iris mata istrinya. Puspa mengangguk sangat pelan, lalu mengedipkan kelopak matany
“A-apa, Mas?” bisik Puspa parau, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Jarren tidak menarik kembali ucapannya. Pria itu justru mendaratkan keningnya di pelipis Puspa seraya merengkuh jemari istrinya yang membeku. “Aku cinta kamu, Mpus,” ulang Jarren tanpa ragu sedikit pun sambil menekankan setiap kata. “Sangat cinta.” Puspa hendak membuka bibirnya, menuntut penjelasan atas pengakuan yang hadir di detik-detik pertaruhan nyawa ini. Namun suara dokter spesialis dari balik tirai steril di batas dadanya memotong percakapan itu. “Ibu Puspa, berasa saya colek nggak?” tanya dokter santai. Puspa mengedipkan matanya, menyesuaikan fokus. “Enggak ... enggak berasa apa-apa, Dokter.” “Oke, Ibu, dibawa santai ya,” timpal sang dokter menenangkan. “Sekarang operasi sesar sudah sangat canggih. Nanti begitu dedek bayinya keluar semua dan Ibu pindah ke kamar rawat inap, Ibu sudah bisa jalan lag






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus