登入Saat keluarganya menjerumuskan Puspa ke dalam utang, dia justru diselamatkan oleh Jarren, musuh bebuyutannya. Jarren meminta balasan, yaitu pernikahan kontrak dan seorang anak. Semuanya tampak sederhana, sampai rahasia masa lalu dan perasaan yang tak pernah terucap mulai terungkap. “Kontraknya boleh berakhir. Tapi siapa bilang aku bakal melepas istriku?” Jarren menyobek surat cerai yang diajukan oleh Puspa.
查看更多“Kamu biasanya nggak peduli pendapat orang lain,” sahut Jarren santai, tangannya tetap berada di atas kemudi saat mobil melintasi pekarangan rumah utama yang luas.Puspa menghembuskan napas panjang, menatap bayangan pohon-pohon peneduh yang terpantul di kaca jendela.“Soal penerimaan dalam keluarga, aku kurang percaya diri,” aku Puspa jujur.Tanpa perlu penjelasan lebih jauh, Jarren langsung mengerti kepedihan yang tersirat dalam nada suara istrinya.Wanita di sampingnya ini memang memiliki ayah, ibu, dan seorang kakak.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang layak dipanggil keluarga, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat bersandar justru menjadi sumber luka bagi Puspa.“Sekalipun ini hanya pernikahan sementara,” lanjut Puspa lirih, mengusap lembut perutnya yang berbalut blazer longgar.Rahang Jarren seketika mengeras. Ada sengatan tidak nyaman yang mendadak menghantam dadanya mendengar frasa itu meluncur begitu mudah dari bibir Puspa. Namun wanita itu terlalu sibuk dengan gel
Dua lengan kekar Jarren melingkar sempurna di pinggang Puspa. Tanpa peringatan, pria itu mengangkat tubuh istrinya begitu mudah, mendudukkannya di atas meja dapur granit yang dingin. Sebelum Puspa sempat protes, Jarren membuka kedua kaki wanita itu, lalu menyusup berdiri tegas di antaranya. “Mas!” Puspa terkesiap. Jarren tidak membalas. Pria itu justru menunduk, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di permukaan perut Puspa yang tertutup daster tipis. “Awalnya aku sengaja undang mereka buat ketemu kamu,” bisik Jarren. Puspa mendaratkan kedua telapak tangannya di atas bahu polos Jarren yang masih licin oleh bulir keringat usai berolahraga. Sensasi hangat dan sedikit basah merambat ke jemari Puspa. “Awalnya begitu, lalu akhirnya?” tanya Puspa pelan, menatap lurus manik mata suaminya dalam jarak beberapa sentimeter. Jarren menengadah. Posisi wajah Puspa yang kini sedikit lebih tinggi membuat pria itu harus mendongak tipis, memamerkan garis rahangnya yang tegas.
“Jangan bercanda, Jarren,” cetus Puspa tajam. Mata wanita itu menyipit, meneliti setiap senti garis wajah Jarren. Namun tidak ada selapis pun raut jahil, tengil, atau guratan humor yang biasanya bertengger di sana. Rahang Jarren justru mengeras dengan pendar mata yang teramat intens. “Aku nggak bercanda, Mpus,” sahut Jarren. Kernyitan di dahi Puspa semakin dalam. “Terus kenapa kalian sampai berantem karena aku?” Puspa memiringkan kepalanya, menatap Jarren lekat-lekat. Jarren mendengkus pelan, mengalihkan pandangannya sekilas sebelum kembali mengunci manik mata Puspa. “Rangga minta aku buat jauhin kamu, terus aku nggak mau.” Puspa membisu. Tidak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya, tidak juga ada perubahan pada raut wajahnya yang diliputi kebingungan. “Saat itu kan Rangga lagi gigih banget deketin kamu,” lanjut Jarren, bibirnya mengukir tawa sinis tatkala memori lama itu berputar di kepalanya. “Jadi dia anggap kehadiran aku adalah gangguan buat dia.” Puspa
Puspa memperhatikan raut wajah suaminya itu dengan datar. Jarren melirik Puspa sekilas lewat sudut matanya, menyadari keheningan aneh yang menyelimuti istrinya. “Iya, Mas. Aku ngerti maksudmu,” balas Puspa akhirnya. “Aku cuma merasa nggak tega karena Sena masih kecil dan sekarang sedang sakit. Tapi aku nggak akan memaksa.” Jarren membuang napas kasar. Jemarinya masih mencengkeram kemudi terlalu kuat. “Lain kali, kamu seharusnya langsung bilang ke aku kalau Rangga datang mencari kamu.” Balasan pria itu masih terdengar tajam, menyengat di udara kabin yang sempit. Puspa menarik napas panjang. Kehangatan yang tadi sempat membelai dadanya kini berganti menjadi letupan kekesalan. “Bisa biasa saja nggak?” tanya Puspa dengan sedikit ketus. “Ini aku juga bilang, kok. Kak Rangga yang datang tanpa aku undang, bukan aku yang ngundang atau sengaja meresponsnya. Justru dia datang karena dia sudah nggak bisa menghubungi aku lewat telepon atau chat.” “Kamu blokir dia?” Jarren menoleh sejenak,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評分
評論更多