Jantung Puspa bertalu kencang di balik dada.“Maaf, Puspa. Aku memang bukan orang alim,” bisik Jarren, suaranya memberat tepat di samping telinga Puspa, “tapi aku nggak menerima pembayaran lewat cara lain yang ada di pikiranmu. Aku hanya akan menyentuh wanita yang sudah aku nikahi.”Wajah Puspa seketika memerah padam.Dengan napas memburu, Puspa memukul keras lengan tegap Jarren.“Maksudku mencicil utang, Jarren! Otakmu itu isinya apa, sih?!” maki Puspa, matanya memelotot tajam.Jarren terkekeh dingin. “Kamu mau cicil sampai kapan, Puspa? Aku nggak punya waktu menunggu puluhan tahun cuma buat menerima cicilan ratusan ribu per bulan.”Puspa membisu.Kata-kata menohok itu tepat sasaran, tetapi hatinya berat memikirkan mahar fantastis yang harus disiapkan pria itu untuk keluarganya.“Lagipula kamu sudah menandatangani kontrak pernikahan kita,” tukas Jarren seraya tersenyum penuh kemenangan.Jarren tidak lagi memberi ruang untuk bantahan. Menggunakan pengaruhnya yang luas, proses pendaftar
آخر تحديث : 2026-07-23 اقرأ المزيد