Share

Keterkejutan Abyan

last update Last Updated: 2025-08-11 00:04:37

Abyan mengangkat alis tipis, mencoba tetap tenang. “Oh, itu… kemarin aku sibuk urusan kerjaan sampai larut. Handphone ketinggalan di mobil, jadi nggak kebawa masuk.”

Pak Adi, ayahnya, ikut menimpali. “Kerjaan apa sampai nggak bisa dihubungi sama sekali? Kamu tuh sudah mau nikah, jangan bikin calon istrimu khawatir.”

Abyan meneguk kopi, memberi jeda sejenak sebelum menjawab. “Ada urusan di luar kota, Pa. Nggak bisa ditunda. Baru pulang subuh tadi.” Ia mengalihkan pandangan, menghindari tatapan penuh selidik ibunya.

“Ya sudah, tapi tolong jangan bikin orang khawatir lagi,” ujar Bu Ratna, walau tatapannya seakan belum sepenuhnya percaya.

Abyan hanya mengangguk, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan ayahnya. Fokus dia sekarang adalah mendapat kepercayaan sang kakek walaupun mustahil karena ada cucu lain. Tapi, yang selalu ditekan untuk bekerja hanyalah dirinya. itu tidak adil, bukan? Hanya karena cucu lain masih berstatus mahasiswa, sang kakek membebaskan Hendrik anak sulung dari Gunawan, adik dari Adi, papa Abyan. Setelah itu, ia berpamitan untuk berangkat ke kantor.

Malam tadi memang Abyan sengaja pulang ke rumah orang tuanya karena selalu dihubungi setelah tiga hari kemarin Abyan sengaja tidak mengaktifkan teleponnya. Dia berkomunikasi lewat ponsel satu lagi khusus dengan asistennya dan Bi Rini juga Pak Sastro..

Begitu mobilnya meninggalkan gerbang rumah orang tua, Abyan menghela napas panjang.

Entah kenapa, pikirannya kembali pada sosok Nisa di villa. Perempuan itu… terlalu polos untuk dibiarkan sendirian, tapi terlalu keras kepala untuk dilarang. Bayangan Nisa yang mencangkul halaman belakang dengan peluh membasahi pelipisnya terlintas jelas di kepala Abyan.

“Tiga hari… sudah bikin Bi Rini setengah mati jantungan,” gumam Abyan sambil tersenyum miring.

Ia mengetuk setir, memikirkan bagaimana nanti saat pulang, kemungkinan besar ia akan menemukan villa itu semakin rapi dan kinclong, sementara Nisa tetap bersikeras bahwa semua itu “nggak apa-apa.”

Namun, ada rasa aneh di dadanya. Bukan sekadar khawatir, tapi juga semacam kehangatan yang sulit ia jelaskan.

Mobil melaju lebih cepat. Mungkin hari ini ia akan pulang lebih awal, sekadar memastikan Nisa tidak mencoba membongkar bangunan villa itu.

Ya, selama ditinggalkan, Bi Rini tidak hentinya laporan tentang kegiatan Nisa di villa. Abyan hanya bisa geleng-geleng kepala apalagi saat melihat video Nisa sedang mencangkul dengan baju yang serba tertutup.

Setelah tiga hari ini, dia berniat akan pulang ke villa. Dia ingin memastikan dan melihat langsung apa yang dilakukan oleh Nisa.

***

Sore harinya, Abyan pulang lebih cepat, dia meminta Arya untuk tidak memberitahu keberadaan dirinya sekarang karena dia belum ingin diketahui tentang keberadaan Nisa.

Keluarganya juga belum ada yang tahu tentang villa yang dibeli Abyan beberapa bulan lalu.

Abyan langsung memarkirkan mobilnya di halaman villa tanpa banyak suara. Begitu masuk ke dalam villa, ia tidak langsung melihat Nisa di ruang tamu. Suasana terasa sepi, hanya terdengar suara gesekan kain dan dentingan ember dari arah dapur belakang.

Dengan langkah pelan, Abyan menyusuri lorong. Begitu sampai di pintu belakang, matanya langsung membulat.

“Nisa…” suaranya rendah tapi tegas.

Gadis itu sontak menoleh. Tangannya memegang sikat, bajunya terlihat basah sebatas paha. Sesuatu terendam di ember besar berisi air sabun. Rupanya ia sedang mencuci gorden villa yang panjangnya hampir dua kali tubuhnya.

“Oh… Tuan Abyan udah pulang?” Nisa tersenyum kikuk, lalu kembali mengucek kain gorden itu seperti tak ada yang salah.

Abyan menghela napas panjang, menahan diri untuk tidak marah. “Itu gorden mahal, Nisa. Bukan buat dicuci sembarangan, apalagi diember begitu.”

Nisa berhenti, menatapnya sebentar. “Tapi udah kotor, Tuan. Sayang kan kalau debunya numpuk.”

Abyan melangkah mendekat, meraih kain itu dari tangannya. “Mulai sekarang, kamu jangan sentuh barang-barang berat atau mahal di sini. Kalau ada yang kotor, bilang ke Bi Rini. Mengerti?”

Nisa hanya mengangguk, meski raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju. Abyan memicingkan mata, merasa kalau larangan itu hanya akan bertahan sampai besok.

"Sekarang mandi!" titah Abyan.

"Saya sudah mandi... " jawabnya polos.

Abyan mengerutkan keningnya. "Lalu?"

"Saya gak ngapa-ngapain, Tuan. Nanti bude marah." tanpa disadarinya, Nisa mengungkapkan itu.

Abyan menghampiri Nisa dan berjongkok di sampingnya. "Di sini gak ada bude? Kamu aman bersama saya." ucapnya sedikit melembut.

Nisa menoleh, menatap Abyan keheranan. "Bude?" tanyanya."Ah, saya kira... "

"Kamu aman di sini, jangan khawatir. Sekarang tinggalkan itu dan mandi sebelum saya yang memandikan."

Sret!

Secepat kilat Nisa berlari dengan baju yang basah dan alhasil lantai yang dipijak oleh Nisa ikut basah.

"Ya, Allah... "

"Permisi, Tuan." Ucap Pak Sastro dari belakang.

Abyan menoleh, tatapannya langsung ke Pak Sastro dan Bi Rini yang menunduk ketakutan.

"Kenapa?" tanya Abyan datar.

"M-maafkan kami, Neng Nisa tidk bis dicegah." Pak Sastro meremas jarinya yang terasa dingin.

"Ceritanya bagaimana? Kenapa dia bisa sampai mengambil gorden yang tinggi itu?" Abyan mulai introgasi dan sebelumnya dia meminta Bi Rini dan Pak Sastro untuk duduk terlebih dahulu.

**

"Jangan! jangan pukuli aku bude... Aku akan cari uang yang banyak... " Nisa merintih dalam tidurnya, napasnya tersenggal, keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Neng Nisa kenapa? Bangun, Neng... " Bi Rini yang baru saja keluar dari kamarnya setelah salat asar menghampiri Nisa yang ketiduran di ruang tengah. lap setengah kering masih berada di genggamannya.

"Pak... Bapak!" Bi Rini memanggil Pak Sastro yang lebih dulu keluar rumah.

Dengan langkah cepat, Pak Sastro menghampiri Bi Rini dan mendapati Nisa yang sedang meracau.

Setelah dibangunkan, Nisa langsung ke kamarnya dan mandi.

Namun, saat Bi Rini sedang membersihkan sayuran dan Pak Sastro sedang menyiram tanaman di belakang, mereka dikejutkan dengan suara benda jatuh.

Saat diketahui, mereka menggelengkan kepalanya. "Neng Nisa... "

Ternyata Nisa berada di tumpukan gorden. Lalu Nisa keluar dari tumpukan gorden tersebut dan melihat ke arah Bi Rini dan Pak Sastro yang menatapnya khawatir. "Bi, jangan larang saya. Nanti bude marah." ucap Nisa.

**

"Saya mengkhawatirkannya, maafkan saya tuan." ucap Pak Sastro kepada Abyan.

Abyan mengerutkan keningnya, ia sepertinya harus mencari tahu apa saja yang terjadi kepada Nisa.

"Ya sudah, saya minta maaf karena Nisa sudah merepotkan bibi sama bapak. Nanti tolong pinta orang laundry saja yang meneruskan mencuci gordennya. Sepertinya Nisa perlu penanganan lebih serius lagi."

Bi Rini dan Pak Sastro mengangguk, tapi mereka tidak bisa berterus terang untuk mengomentari Nisa yang selalu tidak ingin diam. Yang ia pegang adalah pekerjaan setiap hari bahkan untuk makan saja dia harus dipaksa terlebih dahulu.

***

Abyan menatap langit sore yang memancarkan semburat senja. Matahari mulai tenggelam menandakan bahwa hari akan berganti malam.

Abyan memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk kedepannya. "Aku tidak ingin mencintai dia karena kasihan. Tapi sepertinya hati ini menghangat saat melihat tingkah dia yang random." gumamnya sambil tersenyum tipis.

Kring Kring Kring

Dering ponsel Abyan terdengar nyaring. "Bos, Tuan Mahardika masuk rumah sakit... "

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Malam yang Menegangkan

    Dua bodyguard menyeret Abyan melewati lorong panjang yang dingin. Lampu-lampu kristal yang biasa terasa mewah kini tampak seperti saksi bisu penderitaan. Abyan meronta, tapi pegangan mereka terlalu kuat. Mereka membawanya ke ujung rumah besar itu, ke sebuah pintu baja tua yang jarang dibuka. Salah satu bodyguard memutar kunci besar dan pintu berderit berat, memperlihatkan tangga turun yang gelap dan berdebu. “Masuk.” Salah satu bodyguard mendorong Abyan dengan kasar. “Serius, kalian mau kurung gue kayak penjahat?!” Abyan melawan, tapi hanya dijawab tatapan dingin. “Perintah Tuan Besar.” Dorongan keras membuat Abyan terhuyung turun ke anak tangga. Mereka menutup pintu baja itu dan suara kunci diputar terdengar jelas, menggema di ruang bawah tanah. Kini Abyan sendirian. Udara lembab menusuk hidung, aroma besi berkarat bercampur debu. Ruangan itu kosong, hanya ada satu kursi kayu tua di tengah. Dindingnya beton dingin, tak ada jendela. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Paksaan Kakek Abyan

    “Apa…? Kakek… ini… apa maksudnya?” suara Abyan serak, nyaris tak terdengar.“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kamu cucu laki-laki satu-satunya yang akan menjadi penerus keluarga ini. Hari ini kamu menikah dengan Renata, sesuai kesepakatan keluarga beberapa bulan lalu.”Abyan menggeleng pelan, tubuhnya terasa dingin. “Kenapa… kenapa nggak ada yang bilang ke aku…?”Yasmin, mamanya hanya menunduk di sudut ruangan, terlihat gugup dan pasrah. Alvin, papa-nya berdiri kaku, menatapnya dengan ekspresi sulit terbaca. Renata duduk di dekat ibunya dengan gaun pastel, wajahnya cantik namun penuh kegelisahan.Abyan melangkah mundur, dadanya terasa sesak. “Aku… nggak bisa, Kek. Aku nggak bisa nikah hari ini…” suaranya bergetar, tapi matanya tegas.Kakeknya menghentakkan tongkatnya ke lantai, membuat semua orang terdiam. “Abyan! Kamu pikir hidup ini cuma soal keinginan kamu?! Keluarga kita sudah menjaga nama baik puluhan tahun! Kamu akan menikah hari ini, titik!”Semua mata tertuju pada Abyan. Namun

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Kamu Adalah Doa

    Pesan dari sang kakek, sang penguasa keluarga, muncul di layar ponsel Abyan. Itu menjadi sarapan pagi baginya—teguran keras yang entah untuk keberapa kalinya ia terima. Dan sepertinya, ini adalh teguran yang paling keras baginya. Abyan hanya menatap pesan itu sebentar, lalu menghela napas. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Nisa yang sedang merapikan jilbab di depan cermin kecil. Gadis itu terlihat sederhana, tapi ketenangan yang dipancarkannya membuat hati Abyan terasa damai. Tanpa aba-aba, Abyan melangkah mendekat dan memeluk Nisa dari belakang. "A-aby... Mas...!" Nisa terlonjak, nyaris menjatuhkan jarum pentul di tangannya. "Maaf..." bisik Abyan pelan di dekat telinganya. Suaranya berat, penuh ragu, seolah takut merusak ketenangan pagi itu. "Sebentar aja... izinin aku kayak gini, ya?" Nisa menunduk, wajahnya memerah. Ia kaku, bingung harus bagaimana, tapi tidak berusaha melepaskan diri. Degup jantungnya berpacu tak karuan, dan dia hanya bisa menggigit bibir, berusaha me

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Wanita Pilihan

    Malam ini Nisa kembali mengigau dengan rasakan yang hampir sama seperti malam sebelumnya. Abyan tidak membayangkan beberapa hati lalu dia tidak ada di rumah. Berarti Nisa juga mengigau seperti sekarang. "Aku janji akan membuat kamu pulih. Semoga saja tidak terlambat." Gumam Abyan di dalam hatinya. Dia tidak tega dengan Nabila yang bahkan sampai gemetar. Abyan hanya bisa memeluknya untuk meredam kegelisahan Nisa. *** Pagi harinya, sinar matahari masuk lewat celah gorden, mengenai wajah Nisa yang masih setengah terlelap. Ia mengerjap pelan, lalu sadar bahwa ia kini berada di kamar yang sama dengan Abyan. Aroma tumisan bawang langsung menyeruak ke hidungnya. Nisa bangun dan duduk, merapikan kerudung tidur yang semalam masih melekat di kepalanya. Ternyata pintu kamarnya terbuka. Nisa sampai terperanjat karena pintu itu terbuka lebar. Apa sengaja? pikirnya. Sedangkan di dapur, Abyan tampak sibuk mengaduk wajan sambil menatap panci di sebelahnya. “Nah… kalau warnanya udah begini, ar

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Perlahan Menerima

    Abyan menghela napas, suaranya tegas tapi lembut. "Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan mundur dari semua rencana keluarga. Aku nggak mau kehilangan kamu, Nisa. Aku mau kita berjuang bareng, walaupun jalannya nggak mudah. Dalam hidupku cukup satu kali menikah."Nisa menggigit bibir, hatinya seperti berperang antara ingin percaya dan takut kecewa. "Mas tahu kan… aku cuma nggak mau hidup dalam bayang-bayang orang lain. Aku nggak mau selalu dibandingkan dengan… dia."Abyan mengangguk pelan. "Aku ngerti. Makanya aku mau selesain semua ini dulu. Tapi yang jelas… hatiku udah milih kamu. Dan aku percaya, pertemuan kita ini bukan kebetulan. Tapi Allah yang ngatur."Keheningan menyelimuti kamar itu sejenak. Nisa menunduk lagi, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Baiklah… aku percaya sama Mas. Tapi aku nggak janji bisa selalu kuat."Abyan tersenyum tipis, lalu berkata lirih, "Kalau kamu nggak kuat, biar aku yang jadi kuat buat kita."Tidak lama kemudian, Abyan menatap Nisa dengan sorot mata

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Permintaan Abyan

    "Menurut kamu bagaimana hubungan kita?" Tanya Abyan kepada Nisa setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Arya. Nisa yang sedang membaca Alquran menutupnya lalu menoleh kearah Abyan. "M-maksudnya?" "Hubungan kita untuk kedepannya bagaimana?" Tanya Abyan. "Oh... Em, eu... " Nisa berpikir sejenak, lalu ia menghela napas pelan. "S-saya bagaimana masnya aja, s-saya terima apa pun keputusan nya. Karena Saya tahu kalau kemarin Mas Abyan menerima saya karena terdesak." Jawab Nisa, ia menunduk. "Saya tidak ingin berharap lebih," Gumam Nisa di dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan itu karena dia juga berpikir lagi tentang dirinya yang apalah, dia tahu kalau Abyan tidak pantas untuknya yang hanya gadis desa. Abyan menatap Nisa cukup lama, seolah berusaha membaca apa yang sebenarnya ada di balik kata-katanya. Napasnya terdengar berat, tapi bukan karena marah—lebih seperti sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkan. "Aku nggak mau hubungan kita cuma karena terpaksa, Nisa," ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status