Share

Teriakan Nisa

last update Last Updated: 2025-08-09 22:21:29

Malam telah semakin larut. Udara di luar dingin dan menusuk tulang, sementara kabut mulai menebal di sekitar villa. Jam di dinding berdentang pelan menandakan pukul dua dini hari.

Abyan masih terjaga.

Meski tubuhnya lelah, pikirannya enggan tenang. Ia duduk di sofa kamarnya, menggulir layar ponsel tanpa tujuan. Pikirannya melayang ke berbagai hal—pekerjaan, keputusan impulsif hari ini, dan… Nisa.

Tiba-tiba, suara teriakan melengking memecah keheningan.

“Jangan! Tolong! Jangan pukul aku!”

Abyan terperanjat. Suara itu berasal dari kamar Nisa.

Tanpa pikir panjang, ia berlari ke lorong dan mencoba membuka pintu kamar tamu yang tertutup rapat.

“Nisa?” panggilnya sambil mengetuk. “Nisa, kamu kenapa?”

Tapi tak ada jawaban, hanya teriakan semakin nyaring diselingi isakan.

Dengan cepat, Abyan mendorong gagang pintu. Terkunci.

Tanpa ragu, ia mundur sejenak, lalu menghantam pintu dengan bahunya.

“Brak!”

Pintu terbuka dengan suara keras.

Ia menemukan Nisa menggeliat dalam tidurnya, wajahnya penuh ketakutan, tubuhnya berkeringat. Selimut sudah tersingkap, dan tangannya seperti mencoba menangkis sesuatu yang tak terlihat.

“Jangan… jangan… sakit, Bude…”

Abyan segera menghampiri dan mengguncang bahunya pelan. “Nisa! Bangun! Ini saya, Abyan. Kamu mimpi buruk!”

Nisa mendadak terbangun dengan nafas tersengal. Matanya terbuka lebar, berkaca-kaca. Ia menatap Abyan dengan pandangan kosong yang perlahan-lahan mulai sadar.

Seketika tubuhnya lunglai, lalu ia menangis dalam diam.

Abyan hanya bisa menatapnya dengan kaku. Perempuan ini begitu rapuh… dan mungkin selama ini telah memikul luka yang tak pernah sempat sembuh. Luka yang tak ia ceritakan… karena tak pernah ada yang benar-benar ingin tahu.

Dengan perlahan, ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Nisa lagi.

“Nggak apa-apa. Kamu aman sekarang,” bisiknya. “Nggak ada siapa-siapa di sini. Cuma saya.”

Nisa hanya mengangguk kecil, tapi air matanya masih mengalir.

Abyan bangkit, hendak keluar dari kamar, tapi baru beberapa langkah, terdengar suara lirih dari belakang.

“Jangan pergi dulu…”

Langkah Abyan terhenti. Ia menoleh.

Nisa masih menatapnya, takut, seperti anak kecil yang ketakutan di tengah badai.

Abyan menelan ludah, lalu mematikan lampu dan kembali ke sisi tempat tidur. Ia duduk pelan, lalu merebahkan tubuh di sisi paling pinggir, menjaga jarak. Tapi cukup dekat jika ia dibutuhkan.

“Aku di sini,” ucapnya pelan. “Tidurlah.”

Butuh waktu cukup lama sampai nafas Nisa kembali teratur. Tapi bahkan dalam tidurnya yang tenang, wajahnya masih menyimpan lelah dan luka yang belum sembuh.

Sementara itu, Abyan menatap langit-langit kamar, berusaha memaknai semua yang terjadi.

Ia bukan suami yang siap. Bukan penyelamat. Bukan siapa-siapa.

Tapi malam ini, ia tahu satu hal: perempuan di sampingnya itu butuh ruang aman. Dan untuk sementara waktu… biarlah ia menjadi ruang itu.

**

Cahaya matahari pagi mulai menerobos lewat celah tirai, menerangi kamar dengan lembut. Aroma embun dan wangi kayu dari villa menyeruak ke dalam.

Abyan membuka matanya perlahan. Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Ia terdiam sejenak. Ada kehangatan berbeda yang ia rasakan pagi ini.

Dan benar saja...

Di bawah satu selimut yang sama, ada Nisa yang masih terlelap dalam pelukannya. Wajah gadis itu tenang, tapi tubuhnya menggeliat pelan, seperti mulai sadar dari tidur panjang.

Abyan bahkan belum sempat menarik tangannya ketika Nisa tiba-tiba membuka mata. Pandangan mereka bertemu.

Sepersekian detik, dunia seolah berhenti.

Lalu…

Nisa terlonjak panik. "A-astaghfirullah!"

Ia bangkit dari tempat tidur sambil merapikan kerudung yang sudah sedikit miring, wajahnya merah padam. “M-maaf banget, aku... aku nggak tahu kenapa bisa—”

Abyan ikut terduduk. “Nggak… aku juga minta maaf. Semalam… kamu mimpi buruk, dan aku…”

Mereka saling diam.

Keduanya gugup. Mata sama-sama menghindar. Tapi ada sesuatu yang menggantung di udara: kehangatan yang tak bisa dibantah.

Setelah beberapa detik saling kikuk, Abyan berdiri. “Aku salat subuh dulu… meski telat banget.”

Nisa hanya mengangguk cepat. “Iya… iya, silakan.”

Abyan mengambil wudhu, dan tak lama kemudian, mereka salat berjamaah di ruang tengah. Suaranya saat mengimami terdengar tenang, meski tergesa. Nisa mengikuti di belakang, mencoba menjaga khusyuk, walau jantungnya masih berdebar tidak karuan.

Begitu salam terakhir diucap, Abyan langsung membereskan sajadahnya. Ia melirik jam dan menghela napas.

“Aku harus segera berangkat,” ucapnya sambil berdiri. “Masih ada rapat di kantor pusat jam sembilan.”

Nisa berdiri cepat. “Tunggu, aku… aku bantu siapkan sarapan dulu. Setidaknya bawa bekal.”

Dia berlari kecil ke dapur dan melihat Bi Rini yang sudah sibuk menanak nasi dan menyiapkan lauk.

“Bi… boleh bantu nggak?” tanya Nisa dengan ragu.

Bi Rini tersenyum ramah. “Lho, tentu boleh, Neng. Sana ambil tempat makan di rak piring, kita bungkus buat Tuan Abyan.”

Nisa membantu memotong timun, menata ayam goreng dan sambal di wadah, serta menuang air minum ke dalam tumbler. Tangannya sedikit gemetar, tapi hatinya hangat. Ini pertama kalinya ia merasa seperti bagian dari rumah, meski hanya sementara. Dia menatanya asal saja karena selama ini dia tidak pernah menata makanan. Sudah makan dalam satu hari Dua kali saja sudah cukup baginya dengan lauk seadanya atau kadang hanya nasi saja.

Tak lama kemudian, Abyan muncul di ambang pintu dapur dengan setelan kerja rapi.

“Ini buat kamu,” ujar Nisa sambil menyodorkan tempat bekal. “Jalanan pasti macet.”

Abyan mengambilnya dengan anggukan pelan. “Terima kasih.”

Senyap sejenak. Lalu, Abyan memandang Bi Rini. “Saya titip Nisa, ya, Bi. Kalau ada apa-apa, langsung kabari saya.”

“Siap, Tuan,” jawab Bi Rini mantap.

Abyan kembali menatap Nisa. Sekilas, matanya menunjukkan kekhawatiran, tapi ia tak berkata apa-apa lagi. Hanya menatapnya sejenak… lalu melangkah pergi.

Suara mobil menjauh. Hening. Nisa berdiri di ambang pintu, menatap kosong ke depan. Entah kenapa, villa itu terasa sepi sekali tanpa suara langkah Abyan.

Dan entah sejak kapan... ia mulai takut ditinggal sendirian. Tidak pernah merasakan kehadiran sosok laki-laki membuatnya langsung merasa nyaman dan ingin selalu dekat. Tapi, dia juga tidak bisa memaksakan, Abyan bukanlah siapa-siapa. Dia hanya orang yang bertanggung jawab di atas kesalahan yang terjadi kemarin.

**

Sudah tiga hari berlalu sejak Nisa tinggal di villa mewah itu. Tapi bagi Nisa, tempat itu tetap terasa asing, dingin, dan terlalu luas untuknya yang terbiasa tinggal di rumah sempit dan penuh teriakan.

Abyan sendiri tidak pernah mberi kabar walaupun lewat Bi Rini.

Ia mencoba membiasakan diri dengan rutinitas yang ia pahami: bekerja. Tangannya tak pernah bisa diam. Pagi-pagi ia sudah bangun lebih dulu dari siapa pun. Menyapu teras, membersihkan jendela, menyiram bunga, sampai akhirnya beralih ke urusan dalam rumah.

Bi Rini, yang biasanya bertanggung jawab atas semua urusan villa, sampai kehabisan napas setiap pulang dari pasar.

"Ya ampun, Neng! Lagi ngapain sih?" serunya suatu pagi saat melihat Nisa sedang mencangkul halaman belakang. "Hentikan, Neng. Nanti Tuan Abyan marah..."

Nisa berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. Peluh membasahi wajahnya yang masih pucat, tapi matanya terlihat mantap.

"Gak apa-apa, Bi. Aku sudah terbiasa." Jawaban itu selalu sama, selalu diucapkan setiap Bi Rini menegur.

Kadang, baru dua jam pergi ke pasar, Bi Rini pulang dan mendapati villa sudah bersih kinclong. Seluruh ruangan tertata rapi, piring sudah dicuci dan dikeringkan, bahkan baju yang belum sempat dilipat sudah disetrika dengan rapi.

Yang tak pernah disentuh Nisa hanyalah dapur. Bukan karena tak bisa masak, tapi karena ia tak tahu apa yang biasa dimakan oleh orang kaya. Ia takut salah. Lagi pula, sudah ada Bi Rini yang mengatur urusan dapur dan belanja.

Nisa hanya tahu satu hal: diam itu membuat pikirannya bising. Maka ia memilih sibuk, meski terkadang tubuhnya terasa letih luar biasa. Ia bekerja seolah semua perintah bude-nya masih terngiang jelas di kepalanya. Semua kata-kata kasar, semua tugas berat, semuanya seakan tertanam dan tak bisa hilang begitu saja.

Bi Rini yang awalnya khawatir, lama-lama hanya bisa menggeleng dan diam-diam menyeka air mata saat melihat Nisa tertidur kelelahan di sofa ruang tengah, masih memegang sapu.

"Aduh, Neng... kamu ini kerja atau nyiksa diri..." gumam Bi Rini lirih, sambil menyelimuti tubuh mungil Nisa dengan selimut tipis.

**

Sementara itu, di ruang makan yang luas, Abyan duduk di hadapan kedua orang tuanya. Di tangannya masih ada cangkir kopi yang belum sempat ia sentuh.

“Byan, ini ada apa? Dari kemarin kamu nggak aktif sama sekali,” tanya Bu Ratna, Mamanya, dengan nada khawatir. “Tunangan kamu sampai telepon mama, bilang nggak bisa menghubungi kamu. Dan menurut dia hubungan kalian merenggang?"

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Menikah Resmi

    Mama Abyan menutup mulutnya. Tangannya gemetar, tapi tak ada jerit histeris. Hanya napas yang tercekat—campuran duka dan sesuatu yang lebih berat: akhir dari ketakutan yang selama ini menaungi hidupnya. Papa Abyan melangkah mendekat ke ranjang. Ia menatap wajah ayahnya lama. Wajah yang dulu ditakuti semua orang. Kini pucat, sunyi, dan… kecil. “Sudah selesai, Yah,” gumamnya pelan. “Akhirnya.” Tak ada doa yang lantang. Tak ada isak. Hanya kelelahan generasi yang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang satu orang. Beberapa menit kemudian, Renata dan Rio datang tergesa. Renata menangis tertahan, lebih karena panik daripada kehilangan. Rio berdiri kaku, wajahnya sulit dibaca—takut, mungkin, pada apa yang akan terjadi setelah ini. “Bagaimana dengan perusahaan?” tanya Rio tanpa sadar, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya. Mama Abyan menoleh tajam. “Kakekmu baru meninggal,” ucapnya dingin. “Dan itu yang kau pikirkan?” Rio terdiam. Papa Abyan menghembuskan napas panjang. “Semua

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Selesai

    Suara itu datang dari ujung ruangan. Semua menoleh. Kakek Bagaskara duduk di kursi rodanya, wajahnya jauh lebih tua dari terakhir kali. Tatapannya kosong, bukan marah... melainkan kalah. Untuk pertama kalinya, ia tak punya kendali. “Bukan Abyan yang menghancurkan keluarga ini,” ucapnya pelan tapi menusuk. “Kitalah yang melakukannya. Aku.” Ruangan sunyi. Renata menangis tersedu di sudut ruangan. Semua ambisi, semua rencana hidup mewahnya runtuh bersamaan dengan terbongkarnya aibnya sendiri. Rio sudah lebih dulu menghilang, melarikan diri dari sorotan dan penghakiman. “Kakek…” suara Renata parau. “Kita masih bisa memperbaiki—” “Tidak,” potong sang kakek. “Sudah terlambat.” Ia memejamkan mata. Bayangan Abyan kecil terlintas.... anak yang tumbuh bukan dengan kasih, tapi dengan beban. “Abyan tidak lagi milik keluarga ini,” lanjutnya. “Dan setelah hari ini… keluarga ini juga tidak lagi berhak atas hidupnya.” Ayah dan ibu Abyan terdiam. Bagi ibu Abyan, kalimat itu adala

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Bukan Akhir

    Satu minggu kemudian. Kota bergerak lebih cepat dari biasanya. Lampu-lampu gedung menyala seperti mata-mata yang tak pernah tidur. Di salah satu titik tertinggi, Abyan berdiri menatap layar-layar monitor di hadapannya. Denyut nadi di pelipisnya terasa keras, tapi wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang melancarkan serangan terakhir. “Semua jalur siap,” lapor Arya di sampingnya. “Begitu lo kasih kode, sistem inti mereka runtuh. Setelah itu, Mahardika cuma tinggal nama.” Abyan mengangguk pelan. Tangannya sudah terangkat untuk memberi aba-aba... BIP. Satu notifikasi masuk. Bukan dari tim. Bukan dari intel. Nomor tak dikenal. Abyan menatap layar ponselnya. Jantungnya seolah berhenti satu detik terlalu lama. Video. Ia membukanya. Safe house. Kamera bergoyang sedikit, lalu fokus. Nisa duduk di kursi kayu, tangan terikat di belakang. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar tapi ia berusaha tetap tegak. Di sampingnya, Bi Rini menangis tertahan, sementara Pak

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Rencana Terbesar

    Di ujung telepon, suara Pak Santoso terdengar sedikit terengah, seperti baru saja berlari. “Mas Abyan… dia kembali. Orang itu. Kali ini dia mencoba manjat pagar depan. Untung saya sempat melihat dan saya teriaki. Tapi orangnya kabur ke gang kecil. Tinggal bekas jejak lumpurnya di pagar.” Abyan langsung tegak, sorot matanya berubah tajam. Arya yang duduk di sebelah langsung berhenti menulis dan ikut memperhatikan. “Jam berapa kejadian itu?” tanya Abyan cepat. “Sekitar jam 1 lewat 40, Mas. Hujan rintik. Dia pakai hoodie gelap, gerakannya cepat… kayak orang yang tahu situasi rumah. Tapi saya nggak sempat lihat mukanya.” Abyan mengepalkan tangan. “Berarti mereka udah mulai bergerak aktif. Tempat itu nggak lagi aman sepenuhnya.” *** Arya bersandar di kursi, mendengarkan serius. “Ini bukan sekadar intai, Byan. Mereka ngetes perimeter. Biasanya… habis ini datang kelompok berikutnya.” Abyan mengangguk, rahangnya mengeras. “Aku tahu.” Ia kembali ke telepon. “Pak Santoso, de

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Nekat

    Wanita muda itu tersenyum tipis, matanya tajam walau wajahnya terlihat lugu. “Tenang saja. Orang tidak akan curiga sama pedagang buah. Aku akan tahu siapa pun yang lewat di depan rumah itu.” Mereka berdua saling tukar pandang singkat. Sementara itu, dari dalam rumah, Nisa tengah duduk di ruang tamu, menuliskan sesuatu di buku catatannya, tak menyadari bahwa dunia di luar perlahan berubah. Ia hanya merasakan kegelisahan samar yang beberapa hari ini sering datang tanpa sebab. Di tempat lain, Rio mematikan alat komunikasinya, lalu menatap Paman Ridwan yang duduk di kursi kulit besar. “Langkah pertama selesai,” ucap Rio dengan nada puas. Ridwan mengangguk perlahan. “Jangan terburu-buru. Kita biarkan Abyan merasa aman. Saat fokusnya sepenuhnya tertuju pada perebutan kekuasaan, kita pukul dari titik terlemahnya.” Rio menyeringai licik. “Perempuan itu…” Ridwan berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang mulai gelap. “Betul. Perempuan itu akan menjadi kunci untuk men

  • Menjadi Istri Rahasia CEO Penyayang   Serangan Balik

    “Dia melihat semua ini dari layar siaran,” lanjut Rio dengan mata berkaca-kaca. “Lo pikir semua tindakan lo tidak ada konsekuensinya? Keluarga kita… semua hancur karena ambisimu!”“Sudah, Rio,” potong Arya dengan nada menahan. “Jangan mulai di sini.”“Kenapa nggak?!” bentak Rio. “Kalian semua sibuk perang dan rebut kekuasaan! Sementara orang tua kita—keluarga kita—remuk di belakang kalian!”Suasana ruang kendali yang tadinya dipenuhi suara mesin kini berubah mencekam. Semua anak buah Abyan yang berada di sana terdiam, menyadari ini bukan sekadar pertengkaran keluarga biasa.Abyan perlahan menoleh ke Rio. Suaranya tenang tapi mengandung bara. "Gue ngelakukuin ini… supaya kita tidak terus hidup dalam bayang-bayang penindasan. Gue gak menyesal.”Rio maju selangkah, emosinya memuncak. .“Kalau semua harus dibayar dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai… apa masih pantas disebut kemenangan, Abyan?”Pertanyaan itu menggantung tajam di udara, membuat Arya pun tertunduk dalam diam. Aby

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status