Share

BAB 02

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-05-28 11:22:34

Kos-kosan tempat Dera tinggal malam ini tampak seperti markas besar para remaja pemberontak yang baru saja memenangkan perang dan merayakannya tanpa memikirkan keadaan tempat mereka berpesta. Suara gelak tawa, denting botol yang beradu, serta obrolan yang tidak ada habisnya memenuhi ruang tengah.

Beberapa bungkus makanan ringan berserakan di lantai, kaleng minuman tergeletak sembarangan, sementara dua bantal sofa bahkan sudah berpindah entah ke mana. Kos-kosan kecil yang biasanya cukup tenang itu kini lebih mirip arena pesta daripada tempat tinggal seorang mahasiswa.

“Tempat ternyaman untuk nongkrong,” begitu kata mereka setiap kali datang.

Dera tidak pernah benar-benar mengerti dari mana mereka mendapatkan kesimpulan tersebut. Tempat tinggalnya tidak besar, sofa hanya cukup untuk beberapa orang, meja ruang tengah pun sudah mulai penuh dengan buku dan tumpukan kertas skripsi.

Namun, entah kenapa, teman-temannya selalu menemukan alasan untuk berkumpul di sana. Kalau bukan untuk berdiskusi tentang skripsi, mereka datang untuk menonton pertandingan sepak bola, memesan makanan bersama, bermain gim, atau sekadar duduk berjam-jam sambil membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Kadang Dera merasa kos-kosan itu sudah seperti markas tetap mereka.

Masalahnya, mereka datang sebagai tamu, tetapi bertingkah seperti pemilik rumah.

Dera memandangi keadaan ruang tengah dengan mata menyipit. Ia sudah berdiri di sana selama hampir satu menit, tetapi tidak seorang pun terlihat memiliki niat untuk membereskan kekacauan tersebut.

Aldo dan Arkan masih sibuk tertawa membicarakan sesuatu yang bahkan tidak ingin Dera ketahui, sedangkan Zidan malah asyik dengan ponselnya di sudut sofa, seolah-olah semua sampah yang memenuhi ruangan tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Dera menarik napas dalam-dalam.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sabar.

Ia mencoba mengingat bahwa teman-temannya datang untuk menemaninya. Ia juga mencoba mengingat bahwa beberapa menit lalu mereka masih membicarakan skripsi dan bahkan sempat membantu memeriksa beberapa bagian yang membuatnya bingung.

Sayangnya, semua usaha untuk bersabar langsung hancur ketika ia melihat sebuah bungkus keripik kosong tergeletak tepat di atas laptopnya.

“Gue udah nggak tahan lagi!” seru Dera kemudian.

Aldo dan Arkan langsung berhenti tertawa. Zidan bahkan menurunkan ponselnya dan menatap Dera dengan wajah yang seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.

“Kalau kalian nggak mau bantuin bersih-bersih, gue serius bakalan tendang kalian keluar!” bentak Dera sambil menunjuk ke sekeliling ruangan. “Ini kosan gue, bukan tempat pembuangan sampah!”

Bukannya merasa bersalah, ketiganya justru tertawa.

“Lah, kok marah?” Aldo terkekeh. “Baru juga sedikit berantakan.”

“Sedikit dari mana?” Dera menunjuk lantai. “Itu bungkus makanan siapa?”

Aldo menoleh. “Punya Arkan.”

Arkan langsung membantah. “Bukan punya gue.”

“Terus punya siapa?” cecar Dera lagi.

Arkan berpikir sebentar. “Mungkin punya luka masa lalu.”

Dera menatapnya datar. “Gue hitung sampai tiga.”

“Kenapa sampai tiga?”

“Satu.”

Arkan langsung berdiri.

“Gue buang!”

Dera mengangguk puas. “Bagus.”

Arkan mengambil beberapa bungkus makanan sekaligus, sementara Aldo ikut membantu membereskan kaleng minuman. Zidan masih duduk santai di sofa.

Dera menoleh kepadanya. “Lo?”

Zidan pura-pura tidak mendengar. “Zidan.”

“Hm?”

“Lo nggak ikut bersihin?”

“Gue bagian pengawasan.”

“Pengawasan apaan?”

“Memastikan mereka bekerja dengan benar.”

Dera mengambil bantal sofa dan bersiap melemparkannya.

“Gue lempar laptop lo nanti.”

Zidan langsung berdiri. “Baiklah. Saya bekerja.”

Dera mendengus. Setidaknya sekarang mereka mulai bergerak.

Namun, baru beberapa detik kemudian, Zidan kembali tertawa. Dera langsung menatapnya curiga.

“Apaan?”

“Gue cuma kepikiran sesuatu.”

“Jangan.”

“Gue belum ngomong.”

“Gue tau ujungnya pasti nyebelin.”

Zidan menahan tawa. “Gue nggak bisa ngebayangin kalau si Dera akhirnya nikah.”

Dera langsung memejamkan mata.

“Sepangling apa kita nanti?” lanjut Zidan sambil tertawa. “Jalan aja masih kayak mau nantang orang gelut!”

Aldo langsung menyahut, “Bener juga. Gue penasaran kalau Dera pakai kebaya.”

Arkan tertawa. “Kayaknya pengantinnya bakal lebih galak daripada penghulu.”

Dera menatap mereka bertiga dengan pandangan yang mampu membekukan lautan.

“Nggak usah ngomongin gue bisa?”

Zidan masih tersenyum. “Kita di sini buat bahas skripsi, bukan buat ngurusin hidup gue yang nggak penting.”

“Kalau nggak ngomongin lo, rasanya hambar aja,” kata Aldo sambil terkekeh. “Mana topik yang dibahas selalu bisa jadi trending di grup kita.”

“Gue terkenal?”

“Bukan terkenal. Lo menghibur.”

“Gue tendang juga lo.”

Aldo tertawa dan kembali pura-pura sibuk membereskan lantai.

Dera hanya bisa mendesah. Sebenarnya ia sudah terbiasa menjadi bahan bercandaan mereka. Sejak dulu, mereka memang tidak pernah memberinya kesempatan untuk hidup tenang.

Setiap kali Dera mendapatkan masalah, ketiga orang itu selalu menjadi yang pertama mengetahui dan sekaligus yang pertama menjadikannya bahan lelucon.

Biasanya Dera tidak masalah.

Bahkan ia sering ikut tertawa.

Namun malam ini berbeda.

Pikirannya masih tertinggal di rumah.

Suara ayahnya masih terngiang-ngiang di kepala. Begitu pula wajah ibunya setelah menamparnya. Dera sudah berusaha mengabaikan semuanya sejak meninggalkan rumah, tetapi semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas semuanya muncul kembali.

Ia menunduk, menatap lantai.

Mungkin itu sebabnya sejak tadi ia tidak banyak bicara.

Aldo yang menyadari perubahan ekspresinya akhirnya berhenti membereskan barang.

“Btw, serius, Ra... ”

Dera menoleh.

“Kalau kembaran curut lo nggak ketemu juga, berarti lo beneran bakal gantiin dia buat nikah?” nada suara Aldo kali ini tidak lagi bercanda.

Dera mengembuskan napas panjang. “Gue nggak tau.”

“Orang tua lo bakal maksa?” tanya Aldo lagi.

“Kayaknya.” Dera berjalan menuju sofa lalu duduk. Kedua tangannya saling bertaut di depan tubuh. “Dan kemungkinan besar mereka bakal maksa gue buat ngurus masalah yang mereka ciptain sendiri.”

“Lo mau gimana?”

“Gue juga nggak tau.”

Jawaban itu terdengar lebih jujur daripada apa pun yang ia katakan sepanjang malam.

Zidan yang sejak tadi diam akhirnya ikut duduk di sebelah Dera. “Kalau lo perlu bantuan, bilang aja.”

Dera menoleh. “Bantuan apa?”

“Bantuan apa saja.”

Zidan memasukkan ponselnya ke saku. “Bapak gue pengacara. Bapaknya Arkan hakim. Kita punya cukup banyak koneksi kalau lo memang butuh. Teman-teman lo juga kebanyakan orang yang bisa bantu kalau masalahnya sampai serius.”

Arkan mengangguk. “Iya. Jangan sok kuat sendirian kalau keadaan sudah di luar kendali.”

Dera tersenyum tipis.

“Gue tau.”

“Terus?”

“Gue tetap nggak mau ngandelin kalian.”

Zidan menghela napas. “Kenapa sih?”

“Karena selama gue masih bisa ngurus sendiri, gue bakal urus sendiri.” Dera menatap mereka satu per satu. “Gue cuma nggak mau nanti kalau ada masalah, gue malah merasa hidup gue bergantung sama bantuan orang lain. Selama ini gue bisa bertahan sendiri. Gue mau tetap begitu.”

Arkan menatap Dera beberapa saat sebelum tersenyum. Ia kemudian mendekat dan menepuk kepala Dera seperti seorang kakak yang sedang memberi dukungan kepada adiknya.

“Itu baru sepupu gue. Gue bangga sama lo.”

Dera langsung menepis tangannya. “Jangan elus-elus kepala gue.”

“Kenapa?”

“Rambut gue udah berantakan.”

“Memang dari awal berantakan.”

“Arkan.”

“Oke, oke.”

Mereka kembali tertawa kecil. Namun, Dera hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya berdiri.

“Sekarang bubar semua.”

Tiga orang itu langsung menatapnya.

“Hah?”

“Pulang.”

“Lho, kita belum selesai,” protes Aldo.

“Besok aja.” Dera mengambil jaketnya yang tersampir di kursi. “Gue mau pergi.”

Arkan mengerutkan kening. “Mau ke mana?”

“Entahlah.”

Dera mengambil kunci Vespa dari atas meja.

“Gue cuma butuh waktu buat bersihin kepala gue. Emosi gue udah kayak bom waktu. Kalau gue nggak segera keluar, bisa-bisa otak gue kebakar.”

Zidan berdiri. “Gue ikut.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena gue mau sendirian.”

Zidan hendak membantah, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu kapan harus berhenti mengganggu Dera.

Arkan hanya mengangguk. “Oke. Tapi hati-hati. Ini udah malam.”

Dera membuka pintu.

“Tenang aja.” ia menoleh sebentar sambil tersenyum tipis. “Kalau gue mati, gue berharap semoga gue bisa reinkarnasi jadi kucing.”

Aldo langsung tertawa. “Kenapa kucing?”

“Karena hidupnya enak. Nyawanya juga ada sembilan.”

“Lo stress?”

“Udah masuk gejalanya sih.”

Setelah itu Dera benar-benar pergi.

Begitu pintu kos tertutup, suara tawa mereka perlahan menghilang. Dera berjalan menuju tempat parkir dan menghampiri Vespa miliknya. Ia memasukkan kunci, menyalakan mesin, kemudian duduk sambil menarik napas panjang.

Untuk beberapa saat ia hanya diam.

Kemudian Vespa itu mulai melaju.

Angin malam langsung menyapu wajahnya. Dera sengaja tidak menggunakan kecepatan terlalu tinggi. Ia hanya ingin menikmati perjalanan tanpa tujuan, membiarkan udara dingin sedikit meredakan kepalanya yang panas.

Malam itu jalanan cukup sepi. Lampu-lampu toko sebagian besar sudah mati, hanya beberapa warung dan minimarket yang masih buka. Sesekali kendaraan melintas dari arah berlawanan.

Dera menarik napas panjang. “Gue harus gimana?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Tidak ada yang menjawab.

Ia tahu besok masalahnya masih akan ada. Pernikahan itu tidak akan tiba-tiba menghilang. Orang tuanya juga tidak akan mendadak berubah pikiran hanya karena Dera menolak.

Namun, setidaknya malam ini ia ingin berhenti memikirkannya.

Sayangnya, keinginannya untuk mendapatkan ketenangan hanya bertahan beberapa menit.

Saat melewati sebuah jalan yang cukup remang-remang, Dera melihat kerumunan orang di kejauhan.

Awalnya ia mengira hanya ada tawuran.

Namun ketika mendekat, langkahnya langsung melambat.

Beberapa pria berpakaian hitam terlihat sedang berhadapan dengan sejumlah pria berbadan besar. Mereka tampak seperti bodyguard. Beberapa orang bahkan berdiri mengelilingi sebuah mobil mewah, seolah-olah sedang melindungi seseorang yang berada di dalamnya.

Dera mengerutkan kening. “Apaan itu?”

Ia hampir saja melanjutkan perjalanan.

Lalu suara letusan terdengar.

DOR!

Dera refleks menginjak rem. “Buset!”

Satu per satu bodyguard mulai tumbang. Dera menatap pemandangan itu dengan jantung berdebar kencang.

“Oke... itu bukan tawuran.” simpul Dera setelah itu.

Tangannya mencengkeram setang Vespa.

Naluri pertamanya menyuruh pergi.

Sekarang.

Jangan ikut campur.

Namun, sebelum ia benar-benar pergi, pintu mobil mewah itu terbuka.

Seorang pria turun dari dalamnya.

Dera terdiam.

Dari jarak tersebut, wajahnya memang belum terlihat jelas, tetapi aura pria itu berbeda. Ia tampak tenang meski dikelilingi orang-orang bersenjata. Tidak terlihat panik sedikit pun.

Dera bahkan sempat memperhatikannya beberapa detik.

“Buset...” gumamnya. “Dari sini aja kelihatan kalau dia ganteng.”

Situasi berbahaya ternyata tidak cukup untuk menghentikan otak Dera memberikan penilaian.

“Kaum sultan pasti.” komentar Dera

Pria itu bergerak.

Salah satu penyerang kembali mengangkat senjata.

Dera menelan ludah. “Ya ampun.”

Ia tahu dirinya seharusnya tidak ikut campur.

Namun, entah kenapa, tangannya justru memutar gas.

Vespa itu melaju.

Dera mendekat dengan hati-hati, menunggu celah sampai akhirnya ia berhasil berada cukup dekat dengan pria tersebut.

“Hei!” Pria itu menoleh. “Cepet naik kalau lo nggak mau mati muda!”

Pria itu tampak terkejut.

Dera berteriak lagi, “Naik!”

Tanpa banyak bertanya, pria itu langsung bergerak dan naik ke jok belakang Vespa.

“Pegangan!”

Dera langsung menarik gas.

Vespa itu melesat meninggalkan lokasi.

DOR!

Suara tembakan kembali terdengar dari belakang.

Dera menunduk sambil tetap mengendalikan motornya.

“Gila!” ia membelokkan Vespa ke jalan kecil. “Kenapa gue harus ikut campur masalah orang kaya?”

Pria di belakangnya tetap diam.

“Lo masih hidup, kan?”

“Masih.”

“Bagus.” Dera membelokkan motor lagi. “Karena kalau kita mati, gue bakal kesel karena nggak seharusnya nolongin lo.”

Pria itu akhirnya bertanya, “Kamu selalu menolong orang asing seperti ini?”

“Enggak!”

“Lalu kenapa menolong saya?”

Dera terdiam.

“Gue juga nggak tau.” Dera mempercepat laju Vespa. “Mungkin efek lagi stres.”

Mereka masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor. Dera berharap jalan tersebut cukup berliku untuk menghilangkan jejak orang-orang yang mengejar mereka.

Beberapa menit kemudian, suara kendaraan maupun tembakan tidak lagi terdengar.

Dera akhirnya menepi.

Ia mematikan mesin dan mengembuskan napas panjang.

“Hah...” tangan Dera masih terasa gemetar. “Gue hampir mati.”

Pria itu turun dari motor dengan santai.

Dera menoleh kepadanya.

Pria tersebut bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja dikejar dan ditembaki.

“Lo kok santai banget?”

Pria itu menatap Dera. “Terima kasih.”

“Cuma terima kasih?”

“Saya tidak tau harus mengatakan apa lagi.”

Dera mengangkat bahu. “Ya udah.”

Pria itu merapikan pakaiannya sebelum berkata, “Saya bukan pencuri seperti yang mungkin kamu pikirkan.”

Dera menatapnya heran. “Gue nggak bilang lo pencuri.”

“Saya hanya menjelaskan.”

“Terus kenapa lo dikejar-kejar kayak maling?”

Pria itu tersenyum tipis. “Itu urusan pribadi.”

Dera mendengus. “Jawaban orang kaya memang selalu begitu, ya?”

Pria itu tidak menjawab.

Ia memeriksa saku celananya, lalu saku jaket.

Kosong.

“Saya lupa membawa ponsel dan dompet.”

Dera mengerutkan kening. “Lo serius?”

“Ya.”

“Terus?”

“Bisa tolong antar saya pulang?”

Dera menatapnya selama beberapa detik. “Sekarang?”

“Ya.”

Dera menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Jadi lo minta gue anter lo pulang sekarang?”

Pria itu mengangguk.

“Oke,” kata Dera akhirnya. “Tapi lo gantiin bensin dan biaya waktu gue, ya.”

“Biaya waktu?”

“Iya. Gue orang miskin, bro.”

Pria itu tersenyum tipis. “Tenang saja. Saya akan membayar semuanya.”

“Janji?”

“Janji.”

Dera kembali menyalakan Vespa. “Ya udah, naik.”

Perjalanan berikutnya berlangsung hampir empat puluh menit. Kali ini Dera tidak terlalu banyak bicara. Sesekali ia melirik kaca spion untuk memastikan pria itu masih ada di belakangnya.

Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah gerbang besar.

Dera perlahan mengangkat kepala.

Matanya membesar.

“...Serius?”

Di hadapannya berdiri sebuah rumah megah yang lebih mirip istana daripada rumah. Gerbangnya tinggi, halaman luas, lampu-lampu terang menerangi seluruh area, sementara beberapa bodyguard berdiri di sekitar pintu masuk.

Dera menoleh ke belakang. “Ini rumah lo?”

“Ya.”

“Serius nggak salah alamat?”

Pria itu turun dari Vespa. “Tidak.”

Dera menatap rumah tersebut sekali lagi.

“Gila.”

Pria itu berjalan menuju gerbang. “Terima kasih sudah mengantar.”

Dera masih terpaku. “Lo beneran tinggal di sini?”

Pria itu menoleh sebentar. “Ya.”

Kemudian ia berjalan masuk dan meninggalkan Dera yang masih duduk di atas Vespa bututnya.

Dera menghela napas panjang.

“Gue jadi lupa apa yang mau gue beli tadi.”

Ia menatap rumah itu beberapa saat sebelum akhirnya menyalakan kembali motornya.

Sudah terlalu larut.

Ia tidak punya alasan untuk tetap berada di sana.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kembali dipenuhi banyak hal. Namun kali ini, bukan hanya soal perjodohan. Ia mulai memikirkan hidupnya sendiri.

“Skripsi kelar,” gumamnya sambil menatap jalan di depan.

“Sidang oke.”

Dera tersenyum kecil.

“Wisuda.”

Setelah itu, ia ingin pergi.

Jauh dari kota ini.

Jauh dari rumah yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa tidak pernah cukup.

Jauh dari semua masalah yang selalu berhasil menemukan dirinya.

“Setelah itu gue bakalan pergi jauh-jauh dari kota ini.”

Dera menarik napas panjang. Ia tidak tahu ke mana akan pergi. Ia juga belum tahu pekerjaan seperti apa yang akan didapatkannya. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu mengetahui semuanya sekarang.

Yang ia inginkan hanya satu.

Hidup bahagia dengan caranya sendiri.

Tanpa paksaan.

Tanpa perjodohan.

Tanpa harus menjadi pengganti siapa pun.

Dera tidak tahu bahwa malam itu, ketika ia berhenti untuk menyelamatkan seorang pria asing, rencana sederhana yang selama ini ia susun perlahan mulai berubah.

Karena pria yang baru saja ia antar pulang itu bukanlah pria biasa.

Dan tanpa Dera sadari, pertemuan singkat di tengah malam tersebut adalah awal dari kehidupan yang justru akan membuat keinginannya untuk hidup tenang menjadi semakin sulit terwujud.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 07

    "Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 05

    Syarat yang diajukan olehnya mengenai saham tiga puluh lima persen itu berhasil. Ayahnya mampu menyetujui apa yang ia ajukan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga mengiriminya banyak uang ke nomor rekening Dera. Perjodohan itu tak lama lagi akan terlaksana, dan sepertinya hidup bebasnya tidak akan

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 04

    Ayahnya tidak main-main sepertinya. Apa yang ia ucapkan kemarin adalah mutlak, dan tidak bisa dibantah oleh Dera. Sedangkan Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa saja sekarang, sepertinya dia benar-benar ditimbalkan kepada masalah mereka. Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tat

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 06

    Dera merasa hari ini sangat melelahkan. Tenaganya sudah terkuras habis, dan ia tidak ingin melakukan apapun selain hanya rebahan. Sepertinya, bertemu pria bernama Dafi Ezekiel Addison itu bukan perkara yang bagus untuk Dera. Merayap menuju kamar yang selama ini menemaninya. Rasa lelahnya benar-ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status