Share

BAB 03

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-05-28 11:23:45

“Anjirrr, gue kesiangan! Gue lupa ada agenda mau ketemu Dosen Pembimbing!”

Dera langsung kelimpungan begitu matanya terbuka dan menyadari waktu yang sudah cukup siang. Ia melompat dari tempat tidur, hampir saja tersandung selimut yang masih berserakan di lantai, sebelum akhirnya berlari menuju kamar mandi. Tidak ada waktu untuk mandi.

Cuci muka dan gosok gigi saja sudah cukup untuk pagi ini. Sambil menyikat gigi, pikirannya sibuk memikirkan pakaian yang akan dikenakan. Setelah selesai, Dera kembali ke kamar dan membuka lemari dengan terburu-buru, mengambil celana jeans hitam, kaos oblong oversize, lalu hoodie putih sebagai pelengkap.

Ia tidak peduli apakah penampilannya terlihat bagus atau tidak. Yang penting masih pantas digunakan untuk pergi ke kampus.

Setelah memasukkan laptop dan beberapa barang penting ke dalam tas punggung, Dera mengaplikasikan sunscreen ke wajahnya sekadarnya. Baru saja hendak pergi, ia teringat sesuatu.

Kunci motor.

“Mana kuncinya?” tanya Dera setelah ia sudah siap berangkat.

Dera kembali mengobrak-abrik meja kecil di dekat tempat tidur. Tidak ada. Ia membuka laci, memeriksa atas lemari, bawah tempat tidur, bahkan sampai mengecek saku celana yang sedang dikenakannya sendiri. Hasilnya tetap sama, nihil.

“Kenapa di saat genting kayak gini gue malah lupa naruh kunci motor?” Dera mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Gue harus gimana sekarang?”

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali memegang benda tersebut. Kemarin malam? Sebelum pergi? Setelah pulang? Dera memejamkan mata sambil berusaha mengingat-ingat, tetapi yang muncul di kepalanya justru bayangan pria asing yang ia antar menggunakan Vespa tadi malam.

Pria yang tiba-tiba muncul di tengah keributan dan membuat malamnya berubah menjadi pengalaman paling absurd dalam beberapa waktu terakhir.

“Bukan, nggak mungkin,” gumamnya kemudian. “Fokus, Dera. Kunci motor dulu.”

Dera mengambil ponsel dengan niat menghubungi salah satu sahabatnya. Namun sebelum sempat membuka daftar kontak, sebuah notifikasi masuk dari grup kampus. Ia membukanya tanpa berpikir panjang, lalu dahinya langsung berkerut ketika membaca isi pesan tersebut.

(Pertemuan dengan dosen pembimbing ditunda. Jadwal selanjutnya akan diinformasikan kembali.)

Dera membaca pesan itu sekali lagi.

Kemudian sekali lagi.

“Hah?”

Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas lega. Tubuhnya yang sejak tadi tegang mendadak terasa lemas. Dera bahkan sampai menjatuhkan diri ke atas kasur sambil memegang dada.

”Oh.” kata Dera selanjutnya. “Anjir, hampir mati gue.”

Ia memejamkan mata sebentar, kemudian terkekeh sendiri.

“Santuyyy, rileks, Dera. Nggak ada yang perlu lo cemasin sekarang.” Dera menepuk pipinya sendiri pelan. “Sekarang pikirin gimana cara lo mau pergi ke kampus?”

Kunci motor kembali terlintas di pikirannya. Ia duduk dan kembali memandang sekeliling kamar, berharap tiba-tiba benda yang dicari muncul begitu saja.

Namun setelah beberapa saat, Dera akhirnya menyerah. Daripada menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mencari kunci yang entah ia letakkan di mana, lebih baik memesan ojek online.

“Ya udah. Ojek online aja.”

Lima belas menit kemudian, pengemudi ojek online yang dipesannya akhirnya datang. Dera buru-buru meraih tas punggung dan berjalan keluar. Begitu sampai di depan kos, ia melihat pengemudi tersebut sedang menunggu sambil memeriksa ponselnya.

“Maaf, Mas, nungguin lama,” kata Dera sambil menghampiri.

Padahal sebenarnya ia baru saja keluar tepat ketika pengemudi itu tiba.

“Saya yang terlambat, Neng. Maafin. Ini ke alamat seperti yang dipesan, kan?” tanya pengemudi tersebut sambil memastikan alamat di ponselnya.

Dera mengangguk. “Iya, Mas. Betul.”

Ia kemudian naik dan memasang helm. Sepanjang perjalanan menuju kampus, Dera beberapa kali membuka ponselnya. Ia berharap sahabat-sahabatnya sudah datang hari ini. Bukan hanya karena ia ingin bertemu mereka, tetapi juga karena ada satu alasan lain yang jauh lebih penting.

Dera lapar.

Perutnya bahkan sudah terasa kosong sejak bangun tidur. Kemarin malam ia belum sempat makan karena waktu sudah terlalu larut ketika ia pulang. Namun membeli makanan sendiri pagi ini bukan pilihan yang terlalu bagus.

Tabungan yang dimilikinya tinggal sedikit dan Dera harus mengatur pengeluarannya dengan hati-hati. Uang kuliah, kebutuhan sehari-hari, biaya skripsi, semuanya harus dipikirkan.

Untungnya, ia memiliki sahabat-sahabat yang selalu bisa diandalkan.

Setidaknya, kalau mereka sudah berkumpul, kemungkinan besar perut Dera tidak akan kelaparan lagi.

Sesampainya di depan kampus, Dera turun dari motor dan menyerahkan uang pembayaran. “Makasih, Mas. Maaf nggak bisa ngasih lebih. Saya kere soalnya.”

Ia terkekeh kecil, membuat pengemudi itu ikut tertawa.

“Nggak apa-apa, Neng. Yang penting sudah sampai.”

“Makasih, Mas.”

Dera kemudian berjalan masuk ke area kampus sambil membuka ponselnya. Ia berharap mendapat notifikasi mengenai posisi para sahabatnya. Ternyata mereka sudah berkumpul di kantin sejak setengah jam yang lalu dan sedang menunggunya.

“Ya ampun, lama banget.”

Dera langsung mempercepat langkah. Ia takut mereka sudah bosan menunggu. Begitu sampai di depan kantin, matanya langsung mencari ke seluruh penjuru ruangan. Baru beberapa detik kemudian, suara seseorang terdengar begitu keras dari pojok kanan.

“Woyyy, Dera! Kita di sini! Cepetan, gue nungguin lo makan sarapan bareng!”

Dera langsung menundukkan wajah karena malu. Beberapa mahasiswa bahkan menoleh ke arah mereka akibat teriakan Zidan.

“Berisik banget, sih!” gerutu Dera sambil berjalan mendekat.

Posisi mereka memang berada di area pojok kanan kantin, agak jauh dari keramaian utama. Tempat itu sudah seperti markas tidak resmi mereka. Justru karena merasa sedikit tersembunyi dari mahasiswa lain, mereka bisa lebih leluasa mengobrol dan bercanda tanpa memikirkan orang-orang di sekitar.

Dera menarik kursi kosong, lalu menatap orang-orang yang berkumpul di meja tersebut. “Tumben kalian lagi ngumpul semua gini. Biasanya bikin geng sendiri-sendiri.”

Yang ia maksud adalah sahabat laki-laki dan perempuannya sedang bergabung menjadi satu. Biasanya Zidan, Aldo, dan Arkan punya kesibukan sendiri, sementara Reina dan Zea lebih sering bersama dua sahabat perempuan mereka yang lain.

Namun kali ini semuanya justru berada di satu meja, seolah ada sesuatu yang sedang mereka bicarakan di belakang Dera.

Dera langsung curiga.

“Apa?” tanya Dera.

Zidan mengangkat alis. “Apa apaan?”

“Kenapa kalian ngumpul semua?” tanya Dera lagi.

“Si trio cecunguk ini katanya ada hot news,” jawab Reina sambil menunjuk Zidan, Aldo, dan Arkan. “Makanya kita ikutan gabung ke sini.”

Dera menatap mereka dengan curiga. “Hot news apaan?”

Reina tersenyum lebar. “Katanya bentar lagi lo mau nikah, ya? Kata Zidan kayak gitu tadi.”

“Buset!” Dera spontan memegangi dadanya seolah baru saja dihantam sesuatu yang sangat keras.“Apa-apaan kalian ini?”

Zidan langsung tertawa melihat reaksinya. “Lah, emang salah?”

“Zidan, lo kalau ngasih info jangan setengah-setengah dong. Kasihan si Reina sama Zea, mereka jadi salah paham sama gue.”

“Gue cuma ngomong kemungkinan.”

“Masalahnya kemungkinan yang lo omongin itu bikin gue kelihatan kayak mau menikah besok pagi!”

Zea tertawa. “Terus sebenarnya gimana?”

Dera menghela napas. Ia tahu tidak mungkin menyembunyikan masalah tersebut dari sahabat-sahabatnya. Mereka sudah mengenalnya sejak lama dan tahu hampir semua bagian hidupnya.

Sahabat perempuan Dera sendiri ada empat, meskipun hari ini hanya Reina dan Zea yang datang karena dua lainnya sedang berlibur ke luar negeri. Mereka berasal dari jurusan yang sama, sehingga kedekatan mereka terbentuk sejak awal kuliah.

Sementara Zidan, Aldo, dan Arkan sudah Dera kenal sejak zaman SD. Mereka tumbuh bersama, melewati masa susah dan senang, sampai hampir tidak ada rahasia yang benar-benar bisa disembunyikan dari satu sama lain.

“Jadi gini, guys. Kalian tahu Dela, kan?” Dera akhirnya membuka cerita.

“Tau,” jawab Zea santai. “Si Mak Lampir itu, kan? Kenapa?”

Dera menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Ia sendiri bingung harus menjelaskan dari mana.

“Si Dela ini mau dijodohin sama Bapaknya. Tapi karena si Dela tau kalau cowok yang mau dijodohin sama dia katanya habis kecelakaan dan lumpuh, akhirnya si Dela kabur. Dan jadilah, tumbal Bapaknya sekarang adalah gue.”

“Bapaknya, Bapak lo juga kali!” Zidan langsung menyanggah.

Dera menoleh datar. “Masalahnya gue nggak pernah nganggep dia Bapak gue, gimana dong?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Mereka semua tahu Dera sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Ketidakadilan yang ia terima di dalam keluarganya membuat Dera tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa mengurus dirinya sendiri.

Bahkan untuk sekadar bertahan hidup, ia tidak bisa terlalu banyak berharap kepada orang tuanya. Kalau bukan karena keluarga Arkan yang selama ini membantunya, entah bagaimana nasib Dera sekarang.

“Jadi kelanjutannya kayak gimana?” tanya Zea penasaran. “Lo bakalan tetap gantiin si Mak Lampir itu? Lo bakalan ikhlas lahir batin begitu?”

“Nggak tau.” Dera mengangkat bahu. “Apapun yang terjadi nanti, semuanya nggak ada dalam pikiran dan tujuan hidup gue.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap makanan yang baru saja diletakkan di depannya.

“Btw, gue udah dipesenin makan, kan?” tanya Dera memastikan.

Zidan terkekeh. “Tenang, udah dipesenin. Masalah bayar mah udah di-handle sama si Arkan.”

Dera langsung menoleh kepada Arkan. Senyumnya mendadak berubah sangat manis.

“Terima kasih, my big brother.” balas Dera.

Dera bahkan langsung memeluk Arkan yang kebetulan duduk di paling ujung.

Arkan tertawa kecil dan menepuk bahunya. “Nggak masalah. Lo kalau ada apa-apa tinggal bilang gue, atau bokap sama nyokap gue. Kemarin bokap gue juga ngirim uang ke rekening lo. Cek aja nanti. Katanya buat uang kuliah sama uang makan bulan ini.”

Dera terdiam sebentar sebelum tersenyum kecil. Seharusnya kasih sayang dan perhatian seperti itu datang dari kedua orang tuanya sendiri. Namun pada kenyataannya, ia justru mendapatkannya dari keluarga Arkan. Orang tua Arkan sudah banyak membantu kehidupannya, mulai dari biaya kuliah sampai kebutuhan sehari-hari.

Dera tentu tidak ingin terus bergantung kepada mereka. Ia masih tahu diri. Karena itu, ketika mendapatkan kesempatan bekerja paruh waktu, ia akan mengambilnya. Ia ingin memiliki uang sendiri dan sebisa mungkin memenuhi kebutuhannya tanpa terus meminta bantuan.

“Thanks, Big Bro. Nanti bilangin ke bokap lo kalau bulan depan jangan ngasih uang lagi. Gue udah ada kerjaan lagi soalnya.” kata Dera.

Arkan langsung menyipitkan mata.

“Kerja apa?”

“Rahasia.”

“Dera.”

“Apaan?”

“Jangan ikut balap-balapan lagi, Ra. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama adik tersayang gue.”

Dera menghela napas sambil mulai menyantap makanannya. “Ya nggak janji sih. Kan lo tau itu hobi gue.”

“Justru karena gue tau, gue ngomong.”

Dera terkekeh. “Lo tuh lebay.”

“Gue serius. Lo itu Adik gue satu-satunya..”

“Arkan, umur kita cuma beda lima bulan.”

“Terus?”

“Kenapa lo manggil gue adik?”

“Karena gue mau punya adik.”

“Terus gue yang jadi korban?”

“Anggap aja begitu.”

Dera hanya menggeleng sambil kembali makan. Sebagai anak tunggal, Arkan memang sudah menganggap Dera seperti adiknya sendiri. Mereka sudah terlalu lama bersama sampai hubungan tersebut terasa seperti keluarga sungguhan.

“Ishhh, jangan gitu dong, Ra,” Reina ikut memperingatkan. “Lo tau kan hobi lo itu bahaya?”

Dera tetap makan dengan tenang. “Nggak apa-apa bahaya.”

“Ra.”

“Kalau mati kan tinggal dikubur.”

Serentak mereka menggeleng.

Aldo yang sejak tadi fokus membaca buku akhirnya ikut membuka suara. “Masih muda, Ra. Nggak ada salahnya mencoba hal baru. Tapi dengan cara yang nggak ngebahayain diri lo. Gue yakin lo pasti bisa.”

Dera menatap Aldo sebentar. Ia tahu semua orang di meja itu benar-benar peduli kepadanya. Hanya saja, semakin mereka memberikan nasihat, semakin ia merasa ingin pergi.

“Nggak janji.” Dera menghabiskan suapan terakhirnya, kemudian berdiri dan meraih tas. “Gue udah selesai makan nih. Gue duluan, ya. Bye, semua!”

“Lah, mau ke mana?” Zidan bertanya.

“Ke mana aja.”

“Dera!”

Namun Dera sudah berlari meninggalkan mereka. Sejujurnya, ia hanya tidak ingin mendengar nasihat-nasihat tersebut lebih lama. Kepalanya sudah terlalu penuh. Ia tidak ingin mendengar bahwa hidupnya masih panjang, bahwa ia harus berhati-hati, atau bahwa dirinya masih memiliki banyak hal yang harus diperjuangkan.

Dera tahu semua itu.

Ia hanya sedang tidak ingin mendengarnya.

Baru beberapa menit berjalan menyusuri koridor kampus, seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.

“Lo yang namanya Dera, kan?” tanya seseorang tak dikenal.

Dera menoleh. “Iya. Kenapa?”

“Lo dicariin sama orang di luar gerbang tuh. Katanya penting dan harus cepat ke sana. Kalau lo nggak ke sana, katanya bakalan ada konsekuensinya.”

Dera langsung mengernyit. “Gue? Siapa yang nyariin gue? Nggak ada kerjaan amat nyariin itik buruk rupa.”

“Heh, nggak boleh ngomong gitu!” Mahasiswa itu terkekeh. “Gue nggak tau orangnya sih. Udah lihat dulu aja sana. Barangkali beneran penting. Tapi kalau emang itu ancaman buat lo, teriak aja sekencang mungkin nanti.”

“Ya udah, thanks infonya.”

Dera langsung berlari menuju gerbang. Awalnya ia masih berpikir mungkin orang tersebut salah mengenali dirinya. Namun langkahnya perlahan melambat ketika matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.

Dera mengenalnya.

Ia langsung menghela napas panjang.

“Hidup damai gue kayaknya udah nggak ada lagi.”

Pak Tua.

Orang yang kemarin datang ke rumahnya. Orang yang kemungkinan besar datang membawa pembicaraan yang sama sekali tidak ingin Dera dengar.

Dera berdiri beberapa saat, menatap pria tua tersebut dari kejauhan. Kalau sampai Pak Tua bela-belain datang ke kampus hanya untuk mencarinya, berarti masalah ini benar-benar belum selesai.

“Tandanya gue harus mengiyakan apa yang dia mau, kan?” gumam Dera dengan wajah pasrah.

Untuk sesaat, Dera benar-benar kehilangan arah. Rasanya ingin berbalik dan pura-pura tidak melihat siapa pun. Kalau ada dua pilihan antara hidup dan mati saat ini, mungkin Dera akan memilih opsi kedua saja. Setidaknya kematian tidak akan memaksanya menghadapi pernikahan yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.

Namun Dera kembali mengingat satu hal.

Ia bukan boneka mereka.

Ia sudah lama melepaskan diri dari jeratan keluarganya dan membangun kehidupannya sendiri. Tidak seharusnya mereka kembali menariknya ke dalam masalah yang dibuat oleh Dela.

Dera menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai melangkah menuju gerbang.

Apa pun yang akan dikatakan Pak Tua nanti, Dera tidak tahu.

Yang jelas, ia sudah bisa memastikan satu hal.

Masalah pernikahan itu belum selesai.

Dan sepertinya, hidup tenang yang selama ini susah payah ia bangun memang benar-benar akan segera berakhir.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 08

    Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 07

    "Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 06

    Dera merasa hari ini sangat melelahkan. Tenaganya sudah terkuras habis, dan ia tidak ingin melakukan apapun selain hanya rebahan. Sepertinya, bertemu pria bernama Dafi Ezekiel Addison itu bukan perkara yang bagus untuk Dera. Merayap menuju kamar yang selama ini menemaninya. Rasa lelahnya benar-ben

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 05

    Syarat yang diajukan olehnya mengenai saham tiga puluh lima persen itu berhasil. Ayahnya mampu menyetujui apa yang ia ajukan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga mengiriminya banyak uang ke nomor rekening Dera. Perjodohan itu tak lama lagi akan terlaksana, dan sepertinya hidup bebasnya tidak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status