Share

Menjadi Istri Sang Billionaire
Menjadi Istri Sang Billionaire
Author: Vaa_Morn

BAB 01

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-05-28 11:20:35

Dera berdiri di depan pintu rumahnya dengan dagu terangkat tinggi. Tatapan tajamnya menelusuri wajah kedua orang tuanya secara bergantian, mencoba menebak alasan mereka memintanya datang setelah sekian lama ia memilih untuk tinggal jauh dari rumah itu. Tas punggung yang menggantung di bahu kanannya terasa semakin berat, tetapi ia tidak berniat meletakkannya. Sejak awal, tujuan Dera datang hanya satu: mengambil laptopnya yang tertinggal. Setelah itu, ia akan pergi.

Sesederhana itu.

Namun, melihat kedua orang tuanya berdiri di ruang tamu dengan wajah serius seperti sekarang, Dera tahu kepulangannya kali ini tidak akan berjalan sesederhana yang ia rencanakan.

Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Dinding berwarna krem yang mulai terlihat kusam, sofa besar di tengah ruang tamu, meja kaca yang selalu bersih, serta berbagai pajangan mahal yang tidak pernah benar-benar menarik perhatiannya. Semuanya masih berada di tempat yang sama. Bahkan aroma khas rumah itu masih bisa dikenali Dera.

Anehnya, tidak ada satu pun yang membuatnya merasa sedang pulang.

Justru sebaliknya.

Semakin lama berada di dalam rumah ini, semakin berat udara yang ia hirup.

Dera menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka suara. “Jadi, kalian mau aku yang gantiin Dela buat nikah sama orang itu?”

Tidak ada basa-basi. Ia tidak memiliki tenaga untuk berpura-pura bersikap manis di depan orang yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa seperti bukan bagian dari keluarga.

“Karena dia kabur, dan aku adalah satu-satunya pilihan yang tersisa, begitu?”

Nada suara Dera terdengar sinis. Kedua matanya menatap lurus ke arah ayahnya, lalu berpindah kepada ibunya yang sejak tadi hanya berdiri dengan wajah cemas.

Ayahnya menghela napas panjang. Pria itu memiliki raut wajah tegas dan kaku yang sejak dulu selalu membuat Dera merasa harus berhati-hati setiap kali berbicara dengannya. “Dera, ini bukan tentang kamu.”

Dera mengangkat sebelah alis.

“Bukan tentang aku?”

“Ini tentang keluarga.” Ayahnya menatap tajam. “Jangan bertindak seolah-olah kamu tidak mengerti keadaan. Pernikahan ini sudah direncanakan sejak lama. Ada banyak hal yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya hubungan antara dua orang.”

Dera tertawa pendek.

“Tentu saja.”

Ia mengangguk pelan, seakan baru saja mendapatkan jawaban atas sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak awal.

“Nama baik keluarga,” lanjut ayahnya. “Jangan bertindak egois. Lakukan ini demi keluarga kita.”

“Ah, nama baik.”

Dera mengulang dua kata itu dengan nada mengejek. Bibirnya melengkung tipis, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

“Kalian baru peduli sekarang?”

“Dera.”

“Aneh sekali.” Dera terkekeh kecil. “Selama ini nama Dela yang selalu keluar dari mulut kalian. Dela harus dijaga. Dela harus sekolah di tempat bagus. Dela harus punya ini dan itu. Dela harus diperlakukan seperti seorang putri. Sekarang setelah dia kabur, tiba-tiba kalian ingat kalau kalian masih punya anak perempuan lain.”

“Jangan bicara seperti itu tentang adikmu,” kata ayahnya.

“Kenapa? Aku salah?”

Ayahnya terdiam.

Dera menatapnya beberapa detik. “Kalau aku salah, bilang.”

Tidak ada jawaban.

Dera mengalihkan pandangan kepada ibunya. Perempuan itu tampak semakin gelisah. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

“Dera,” katanya pelan. “Ibu tau kamu kecewa. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal-hal seperti itu.”

“Mempermasalahkan?”

Dera terkekeh tanpa humor. “Aku cuma mengatakan apa yang selama ini terjadi.”

“Ini bukan soal kenyataan atau tidak.”

“Lalu soal apa?”

Ibunya terdiam.

Dera mengangguk kecil. “Nah. Kalian sendiri nggak tau jawabannya.”

“Dera, kita hanya meminta kamu melakukan hal yang benar.” ujar ibunya dengan suara yang mulai bergetar.

“Yang benar?” Dera mengulang kalimat itu perlahan. “Menurut siapa?”

“Menurut keluarga.”

“Dan keluarga yang kalian maksud itu siapa?”

Ibunya menundukkan kepala.

Dera merasakan dadanya sesak. Bukan karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Justru karena ia sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini. Setiap kali keluarganya membutuhkan sesuatu, Dela selalu menjadi prioritas. Namun ketika Dera yang membutuhkan mereka, tidak pernah ada seorang pun yang benar-benar datang.

Ia sudah terbiasa.

Setidaknya, itu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.

“Kalian tau apa tentang melakukan hal yang benar?” tanya Dera. “Selama ini kalian memperlakukan aku seperti duri dalam daging. Aku selalu jadi anak yang bisa diabaikan. Kalau ada Dela, kalian nggak butuh aku. Tapi sekarang Dela pergi, lalu aku yang harus jadi tumbal?”

“Cukup!”

Suara ayahnya menggema di ruang tamu.

Namun Dera tidak bergeming.

“Kenapa? Aku belum selesai.”

Ayahnya melangkah maju dengan wajah yang semakin memerah. “Kamu harus mengerti keadaan! Keluarga kita sedang dalam masalah besar, dan kamu masih bisa berdiri di sini seolah-olah semua ini tidak ada hubungannya denganmu.”

“Memangnya ada?”

“Kamu anak kami!”

Dera tersenyum getir. “Kalau begitu, kenapa baru sekarang?”

Kalimat itu membuat suasana kembali hening.

Dera bisa melihat rahang ayahnya mengeras. Ibunya menatapnya dengan mata penuh air.

“Dera...” bisik ibunya.

Namun sebelum percakapan itu berlanjut—

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Dera.

Kepalanya sedikit terlempar ke samping. Beberapa detik ia hanya diam, membiarkan rasa panas menjalar dari pipinya hingga ke telinga. Suara tamparan itu masih terngiang di telinganya.

Namun, Dera tidak menangis.

Ia juga tidak mengusap pipinya.

Perlahan, ia kembali menoleh.

Tatapannya jatuh kepada ibunya yang kini tampak sama terkejutnya dengan dirinya sendiri. Air mata mengalir di pipi perempuan itu.

Anehnya, Dera tidak terkejut.

Tamparan itu bukan yang pertama.

Ia sudah terlalu mengenal rasa sakit seperti itu. Bukan hanya sakit yang datang dari tangan seseorang, tetapi juga sakit yang jauh lebih sulit hilang—sakit karena merasa tidak pernah cukup bagi keluarganya sendiri.

Dera menarik napas dalam-dalam.

“Kalian pikir tamparan bisa bikin aku tunduk?” tanyanya pelan.

Ibunya langsung menggeleng. “Dera, Ibu minta maaf. Ibu nggak bermaksud—”

“Cukup.” kata Dera sambil mengangkat tangannya.

Kemudian Dera menatap kedua orang tuanya bergantian.

“Semua ini cuma soal uang, kan?”

Tidak ada yang menjawab.

Dera tertawa kecil. “Aku benar, kan?”

Ayahnya mengalihkan pandangan.

“Kalian mau aku nikah sama pewaris keluarga itu karena perusahaan sedang bermasalah. Kalian mau saham mereka. Kalian mau kekayaan mereka. Kalian mau semuanya terselamatkan lewat pernikahan ini.”

“Bukan seperti itu,” bantah ayahnya.

“Lalu seperti apa?”

“Kamu tidak memahami situasinya.”

“Kalau Dela nggak kabur, apakah Ayah akan meminta aku menikah dengannya?”

Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam.

Dera menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tetap tidak ada jawaban, ia mengangguk kecil.

“Benar, kan?” Dera terkekeh kecil. “Semua yang bagus hanya milik Dela, kalau yang cacat semuanya akan jadi milikku.”

Ibunya mulai terisak. “Dera, kita bisa bangkrut kalau perjodohan ini batal. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga kita.”

Dera menatap ibunya dengan pandangan kosong.

“Bangkrut?”

Ia mengulang kata itu seolah-olah sedang mencoba memahami sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.

“Dan apa peduliku?”

“Dera!”

“Selama ini aku hidup tanpa bantuan kalian.”

Suaranya mulai bergetar, tetapi ia tidak berhenti.

“Waktu aku butuh sesuatu, aku cari sendiri. Waktu aku punya masalah, aku selesaikan sendiri. Waktu aku butuh uang, aku cari cara supaya bisa dapat uang. Bahkan kamar yang aku tempati dulu saja aku yang bersihkan dan aku ubah sendiri supaya bisa jadi tempat tinggal.”

Dera menunjuk ke arah lantai atas.

“Kalian bahkan nggak pernah tanya bagaimana aku hidup di sana.”

Ia menelan ludah.

“Kalian nggak pernah tanya apakah aku punya uang atau nggak. Kalian nggak pernah peduli aku makan atau nggak. Kalian bahkan nggak pernah peduli aku baik-baik saja atau tidak.”

Air mata ibunya semakin deras. Namun Dera tetap melanjutkan.

“Tapi sekarang kalian datang dan bilang aku harus menyelamatkan keluarga?”

Tidak ada jawaban.

Dera memandang kedua orang tuanya.

Untuk beberapa saat, hanya suara isakan ibunya yang terdengar. Akhirnya Dera mendapatkan sesuatu yang mungkin selama ini ia inginkan tanpa pernah menyadarinya.

Kebungkaman.

Tidak ada yang menyalahkannya.

Tidak ada yang membandingkannya dengan Dela.

Tidak ada yang mengatakan bahwa ia terlalu keras kepala.

Mereka hanya diam.

Dera menarik napas panjang, lalu berbalik meninggalkan ruang tamu.

Ia menaiki tangga dengan langkah perlahan. Anak tangga yang sudah lama tidak diperbaiki itu mengeluarkan suara berderit di bawah kakinya. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari ruang tamu dan semakin dekat dengan kamar kecil yang dulu menjadi tempat persembunyiannya.

Kamar yang awalnya hanyalah gudang.

Dera masih ingat bagaimana dulu ia membersihkan ruangan itu sendirian. Kardus-kardus lama ia keluarkan satu per satu. Debu dibersihkan. Barang-barang yang tidak berguna dibuang. Dengan uang yang dikumpulkannya sendiri, ia membeli meja kecil, lampu, dan beberapa barang sederhana untuk membuat ruangan itu terasa layak ditempati.

Tidak ada yang membantu.

Namun ia tidak pernah mengeluh.

Karena setidaknya di kamar itu, ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Dera masuk dan langsung menuju meja.

Laptopnya masih berada di tempat terakhir ia meninggalkannya. Ia mengambil benda itu dan membuka sebentar untuk memastikan tidak ada yang berubah.

Folder skripsinya masih ada.

Dokumen penelitian.

Kerangka skripsi.

File revisi.

Semuanya tersimpan dengan rapi.

Dera menghembuskan napas lega.

“Untung aja masih ada.”

Ia segera memasukkan laptop ke dalam tas.

Baru saja hendak keluar, suara ayahnya kembali terdengar dari lantai bawah.

“Dera!”

Dera memejamkan mata.

“Kita belum selesai berbicara! Kembali ke sini sekarang juga!”

Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya turun.

Ketika sampai di ruang tamu, ayahnya masih berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Ada lagi yang mau dibahas?” tanya Dera santai. “Sudah jelas, kan, jawabanku?”

“Kamu tidak bisa begitu saja pergi.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena ini menyangkut masa depan keluarga.”

Dera menggeleng. “Aku nggak akan jadi boneka kalian.”

“Kamu harus menikah.”

“Aku nggak mau.”

“Dera!”

“Dela yang kalian cari, bukan aku.”

Ibunya kembali mendekat. “Dera, tolonglah. Demi kita.”

Dera menatap perempuan itu cukup lama.

Ada sedikit rasa iba dalam tatapannya, tetapi rasa itu tidak cukup kuat untuk membuatnya mengubah keputusan.

“Kalian minta aku menyelamatkan sesuatu yang bahkan bukan bagian dari hidupku,” katanya. “Kalau kalian mau selamat, cari Dela. Bukan aku.”

Ayahnya berdiri semakin tegak.

“Kalau Dela tidak kabur, aku tidak akan pernah minta bantuan kamu!”

Dera terdiam sesaat.

Kemudian sebuah senyum kecil muncul di bibirnya.

“Benar.”

Ia berbalik menuju pintu.

“Dan aku nggak akan pernah ada di sini kalau bukan karena laptopku.”

Dera membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menghiraukan teriakan ayahnya yang kembali menggema dari belakang.

Begitu menginjak halaman, ia langsung menghirup udara dalam-dalam.

Rasanya jauh lebih ringan.

Dunia di luar rumah itu terasa jauh lebih luas dibandingkan ruang tamu yang baru saja ia tinggalkan. Setidaknya, di luar sana tidak ada orang yang memaksanya menjadi seseorang yang tidak ia inginkan.

Di depan pagar, Zidan sudah duduk di atas motor sambil memainkan ponselnya. Begitu melihat Dera datang, ia langsung mengangkat wajah.

“Lo ngapain di dalam? Ngambil laptop aja lama banget. Gue udah setengah mati nungguin, tahu.”

“Sorry.” Dera berjalan mendekat sambil mengembuskan napas. “Konflik keluarga.”

Zidan memasukkan ponselnya ke saku. “Lagi?”

Dera naik ke jok belakang.

“Lo tau sendiri gimana kalau gue pulang ke sini.”

Zidan terkekeh. “Hidup lo kebanyakan drama, Ra. Kayak figuran yang sibuknya ngalahin pemeran utama.”

Dera memutar bola matanya.

“Jadi, ribut soal apa kali ini?” tanya Zidan akhirnya.

Dera terdiam sebentar. Kemudian menjawab dengan wajah datar.

“Gue disuruh gantiin Dela buat nikah.”

Zidan membeku. “Hah?”

“Gue disuruh nikah.”

“Sama siapa?”

“Orang yang harusnya nikah sama Dela.”

Zidan menatap Dera melalui kaca spion.

Beberapa detik kemudian, ia langsung meledak dalam tawa.

“Hahahaha! Hah? Lo? Nikah?”

Dera mengangkat tinjunya. “Gue nggak segan, Dan. Lo mau kena lagi?”

Zidan masih tertawa meski mulai berusaha menahannya. “Gue cuma nggak bisa bayangin lo jadi emak-emak, Ra. Dunia kayaknya bakal kacau.”

Dera melotot tajam.

“Lo kalau nggak berhenti ketawa, gue sumpel mulut lo pakai batu bata.”

“Siap, Bu!”

“Zidan.”

“Ampun, ampun!” Zidan mengangkat kedua tangannya sejenak. “Calon ibu-ibu galak amat.”

Dera menggerutu sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Ayo cepat. Gue udah muak sama tempat ini.”

Zidan akhirnya menyalakan motor. Mesin kendaraan itu meraung pelan sebelum mereka mulai melaju meninggalkan halaman rumah.

Dera tidak menoleh ke belakang.

Ia tidak ingin melihat rumah itu lagi.

Setidaknya untuk hari ini.

Ia juga tidak tahu bahwa keputusan yang baru saja dibuatnya akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pernikahan pengganti.

Karena pria yang seharusnya menjadi suami Dela bukanlah seseorang yang bisa begitu saja digantikan.

Dan sejak Dera mengambil posisi sebagai pengantin pengganti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 08

    Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 07

    "Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 06

    Dera merasa hari ini sangat melelahkan. Tenaganya sudah terkuras habis, dan ia tidak ingin melakukan apapun selain hanya rebahan. Sepertinya, bertemu pria bernama Dafi Ezekiel Addison itu bukan perkara yang bagus untuk Dera. Merayap menuju kamar yang selama ini menemaninya. Rasa lelahnya benar-ben

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 05

    Syarat yang diajukan olehnya mengenai saham tiga puluh lima persen itu berhasil. Ayahnya mampu menyetujui apa yang ia ajukan, bahkan tak tanggung-tanggung ia juga mengiriminya banyak uang ke nomor rekening Dera. Perjodohan itu tak lama lagi akan terlaksana, dan sepertinya hidup bebasnya tidak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status