공유

BAB 04

작가: Vaa_Morn
last update 최신 업데이트: 2024-05-28 11:24:32

Ayahnya tidak main-main sepertinya. Apa yang ia ucapkan kemarin adalah mutlak, dan tidak bisa dibantah oleh Dera. Sedangkan Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa saja sekarang, sepertinya dia benar-benar ditimbalkan kepada masalah mereka.

Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tatapan kosong. Jejak emosi mendadak lenyap dari matanya, namun tidak dengan hatinya yang sedang menyimpan beribu-ribu emosi yang masih terpendam dan bersiap untuk diluapkan kapan saja. Kedua tangannya masih terkepal erat, siap untuk memukul siapapun yang berani mengganggunya.

"Kenapa Ayah masih ngotot buat jadiin Dera pengganti dari kesialan Dela? Kemarin Dera udah bilang nggak setuju kan, kenapa masih maksa?"

Dera tertawa pada akhirnya. Ia sudah menolak kan kemarin? Kenapa pria tua itu masih memaksa kehendaknya sendiri? Lagipula pria itu sudah tidak ada hak atas dirinya lagi kan? Dera selalu diacuhkan dan tidak dipedulikan oleh mereka.

"Hahaha... Jangan-jangan semua ini udah direncanain samaAyah? Nyembunyiin Dela layaknya sebuah berlian, karena dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik begitu. Lantas menumbalkan Dera sebagai pengganti, karena Dera nggak lebih layak dari sebuah sampah."

Dera akhirnya terbahak juga. Kenapa tidak terlintas pemikiran seperti ini saja dari kemarin, setidaknya ia akan bersiap-siap untuk kabur pada saat itu juga.

"Mana mungkin Ayah ngebiarin anak kesayangannya mendapat kesusahan. Iya kan? Dera saja yang terlalu bodoh karena terlambat sadar." ucap Dera selanjutnya.

"Diammmm?!"

Dera terbahak sekali lagi. Sosok iblis di depannya memang terlalu angkuh dan tak berperasaan. Hanya kepada Dela lah sosok di hadapannya ini bisa bersikap lembut, dan menjadi sosok Ayah pada umumnya. Tapi semua itu tidak pernah berlaku untuknya!

"Dera akan berdoa semoga takdir Dela bakalan lebih buruk dari gue. Dia bakalan mendapat kekerasan, ketidak adilan, dan semua yang Dera rasain selama ini bakalan dirasain juga sama dia."

Ayahnya membanting stir kemudi, lalu menatapnya dengan sangat berang. Dera yang tidak pernah takut dengan siapapun, malah menantang balik. Bagi Dera semuanya sama saja, sama-sama manusia maksudnya. Hidup dan mati baginya juga sama saja kan?

"Ayah mau bunuh Dera? Silahkan, Dera nggak takut mati! Justru kalau Dera mati, Ayah bakalan menanggung malu dengan pihak pria itu. Dera bakalan berdoa setelah ini, usaha Ayah yang udah dibangun dengan kerja keras akan bangkrut karena ulah mereka!"

Dera menghela nafas lega ketika Ayahnya tidak melakukan apapun padanya. Sebaliknya, Ayahnya kembali mengemudi, mengarah ke rumah yang selama ini sudah ia anggap sebagai neraka fana baginya.

Setelah sekian lama, akhirnya mobil itu berhenti juga. Dera keluar dari mobil lebih dulu, kemudian membanting pintu itu dengan sangat keras. Bodo amat jika nanti ia akan dimutilasi, dibentak, atau dipukuli. Ia sadar mobil yang dipakai mereka mungkin harganya lebih dari ratusan juta.

"Dera ngikut Ayah bukan berarti Dera langsung setuju apa yang kalian mau! Semuanya harus ada bayaran yang setimpal!"

Setelah itu, Dera masuk ke dalam rumah dengan berlari cepat. Mamahnya yang berada di depan pintu dan hendak menyambutnya saja, dihempas cepat oleh Dera.

"Dera, Mamah mohon jangan seperti anak kecil." ucap Mamahnya seolah tersakiti.

"Kalian yang kayak anak kecil, bukan Dera! Dera selama ini selalu diam, nggak pernah nuntut apapun, bahkan nggak pernah ikut campur urusan kalian! Tapi dengan seenak jidat, kalian ngebawa Dera buat ikut campur dan masuk ke urusan kalian! Sinting kalian hah?!"

Dera itu bisa dikatakan sukar untuk mengontrol emosinya sendiri. Selain ceplas-ceplos dan blak-blakan apa adanya, Dera akan berbicara lantang jika dirasa apa yang dikatakan mengandung kebenaran.

Kesabaran Dera bisa dikatakan setipis tisu. Untuk itu Dera memilih untuk masuk ke dalam kamarnya guna meredamkan emosinya, dan tidur. Masalah Dosen Pembimbing saja sudah Dera hiraukan, ia tidak peduli apapun sekarang.

"Sebenernya apa yang nggak ada dalam diri gue tetapi ada diri Dela sih, kenapa hidup gue gini amat!"

Dera akhirnya menangis saat itu juga. Pertahanan Dera yang selama ini ia buat dan terlihat kokoh itu, akhirnya jebol dan tak terbendung juga.

Ia marah, memaki, menyalahkan dirinya sendiri kenapa tidak begitu berdaya. Namun tak lama kemudian, ia menghapus air matanya lalu terkekeh pelan. Lagi pula untuk apa ia menangisi sesuatu yang tidak perlu?

Dera menatap ke sekeliling kamarnya yang nampak tak terawat itu. Agak berdebu seperti tidak pernah dibersihkan. Tapi maklum saja, Dera hanya beberapa kali pulang dalam sebulan. Ia juga tidak mengizinkan siapapun untuk datang.

"Balik kos mungkin lebih baik. Gue sesek lama-lama di sini."

Dera keluar dari kamarnya kemudian disodori pemandangan memuakkan. Ia sedikit syok dan tidak percaya, namun pada akhirnya ia tertawa ringan. Dela tidak kabur, Dela ada di rumah, Dela terlihat segar dan baik-baik saja.

Target sebenarnya dari mereka adalah Dera, dia yang akan dijadikan umpan perkembangan perusahaan. Dera jadi merasa dibohongi. Capek-capek ia menangis tadi, tapi ternyata ia hanya dibohongi.

"Wahhh, keluarga bahagia ternyata telah bersatu. Sehatkah kalian?" Dela bertepuk tangan, tawanya begitu sumbang jika didengar.

Mamahnya bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Dera dengan senyuman manis.

"Ayo gabung, kamu sudah lama tidak kembali ke rumah ini. Kita akan berkumpul bersama-sama, bercerita mengenai hari-harimu yang sudah dilalui."

Dera tersenyum sinis, "Nggak sudi, kalian terlalu banyak muka!"

Ayahnya bangkit menghampiri Dera dan menamparnya. Sudah cukup kesabarannya diuji dari tadi oleh anak yang tak pernah diuntung itu.

Dera menatap nyalang ke arah Ayahnya. Dendam kesumatnya juga sudah sudah sampai ke ubun-ubun, kenapa harus dibumbui dengan hal ini?

"Ayah emang kasar banget kalau sama Dera. Yang kemarin aja belum hilang, kenapa masih ditambahin lagi?" tanya Dera tak percaya, "Begini aja, Dela sudah di rumah kan? Target perjodohan harusnya kembali ke anak itu kan? Sekarang, Dera mau pamit pulang."

Dera mengusap pipinya yang sepertinya sudah memerah akibat reaksi yang sudah ditimbulkan. Tamparan kemarin sakitnya tak seberapa, beda dengan tamparan yang sekarang Ayahnya lakukan.

"ADA TIDAKNYA DELA. YANG HARUS MAJU DI PERJODOHAN INI ADALAH KAMU, DERA!" seru Papahnya setelah Dera berada pada jarak lima meter darinya.

Dera tersenyum, ia sudah menduganya jauh sebelum ini. Dari dulu, Dela memang harus mendapatkan yang terbaik selagi Ayahnya mampu. Mamahnya juga selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang, mendandaninya dengan sangat cantik bak putri kerajaan. Dela sudah terlahir dengan sendok emas ditangannya.

Berbeda dengan Dera, ia diacuhkan entah karena masalah apa. Ayahnya, tidak pernah melirik sedikitpun ke arahnya. Mamahnya masih ada sedikit rasa simpati kepadanya, namun tidak berani berbuat lebih. Dera dari kecil sudah menjadi upik abu dari keluarganya.

"Hanya karena sebuah kecelakaan dan pemuda itu mengalami kelumpuhan, Ayah sampai berpikir menukarkan posisi Dela kepada Dera begitu?"

Mungkin jika tidak ada kecelakaan, Dera sekarang mungkin tidak ada di tempat ini dan berdebat dengan kedua orang tuanya. Dera masih tidak dipedulikan, dan ia sudah menganggap dirinya sendiri anak buangan.

"Dela harus mendapatkan yang terbaik dari ini, Dela harus mendapatkan kebahagiaan." cecar Ayahnya lagi.

"Jadi Dera yang harus menanggung penderitaannya begitu? Dera paham kok kalau Dera itu nggak lebih adalah sebuah sampah bagi kalian."

Mamahnya iba, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam.

"Besok, temui pemuda itu di alamat yang nanti Ayah kirim. Kamu harus terima itu semua, jika kamu tidak ingin menanggung konsekuensinya. Paham!"

Dera hanya diam, tidak ada niatan untuk mengangguk ataupun menerima. Dera tidak tau harus melakukan apa.

Namun akhirnya ia tersenyum miring, semuanya harus ada bayaran dan imbalan yang setimpal. Dera tidak bodoh untuk menerima semuanya dengan sukarela. Lagipula hidupnya dari dulu sudah susah karena mereka.

"Dera, aku mohon turutin kemauan Ayah aja. Ayah sudah melakukan yang terbaik buat kamu, tolongin aku Dera." itu Dela, suaranya begitu mendayu dan lembut ketika didengar.

Dera akhirnya menatap Dela dengan sinis, ia tau drama apa yang sebenarnya kembarannya itu buat. Drama merasa paling tersakiti, namun sebenarnya ia yang paling menderita di sini.

"Harusnya lo kan yang ada di posisi ini! Lo harusnya terima apapun kelebihan atau kekurangan calon suami lo. Bukan main kabur dan nggak setuju kayak gini. Bangsat, babi, anjing emang lo!?"

"Dera! Jangan ngomong kasar?!"

Dari lagi-lagi hanya bisa tertawa. Namun sebenarnya ia lebih menertawakan dirinya sendiri yang terkesan tak berdaya ini.

"Oke... Dera bakalan gantiin Dela di perjodohan ini dengan catatan, saham tiga puluh lima persen perusahaan bakalan jatuh ketangan Dera," kata Dera sembari menghirup oksigen sebentar. "Mau dilanjut atau tidak, semua ada ditangan kalian sendiri sekarang. Dera nggak bodoh! Apapun harus ada timbal balik kan? "

Dera akhirnya melangkah pergi dari sana dengan senyuman manis. Anggap saja saham yang ia minta adalah bentuk tanggung jawab mereka selama 21 tahun Dera hidup.

"Dera! Jangan kurang ajar!"

Terlambat, Dera sudah menyumpal kedua telinganya dengan earphone yang setiap hari selalu ia bawa sambil berbalik dan mengacungkan jari tengahnya.

*****

이 책을 계속 무료로 읽어보세요.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status