LOGINAyahnya ternyata tidak main-main. Apa yang diucapkannya kemarin benar-benar mutlak dan sama sekali tidak bisa dibantah oleh Dera.
Setelah dipaksa masuk ke dalam mobil, Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa sambil menahan segala emosi yang sejak tadi berkumpul di dalam dadanya. Sepertinya, benar-benar dirinya yang ditumbalkan untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka. Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tatapan kosong. Berbagai kendaraan berlalu-lalang di luar sana, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar ia perhatikan. Kedua tangannya masih terkepal erat di atas paha, sementara rahangnya mengeras. Ia berusaha menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat keadaan semakin buruk. Namun, semakin lama ia diam, semakin banyak pula pikiran yang berputar di kepalanya. Akhirnya Dera tidak tahan. “Kenapa Ayah masih ngotot buat jadiin aku pengganti dari kesialan Dela?” tanyanya sambil menoleh. “Kemarin aku udah bilang nggak setuju, kan? Kenapa masih maksa?” Ayahnya tetap menatap jalan di depan. “Karena keputusan ini sudah dibuat.” “Hah?” “Ayah bilang, kamu harus menggantikan Dela.” Dera tertawa kecil karena tidak percaya mendengar jawaban tersebut. “Oh, jadi begitu? Aku sudah nolak, tapi keputusan Ayah tetap lebih penting daripada keputusan aku?” “Dera, jangan memperpanjang masalah.” “Yang memperpanjang siapa?” Dera langsung menyahut. “Aku atau Ayah?” Ayahnya menghela napas, tetapi tetap tidak menjawab. Sikap diam itu justru membuat Dera semakin yakin bahwa dirinya memang tidak pernah dianggap memiliki pilihan dalam keluarga tersebut. Ia selalu diacuhkan, tidak dipedulikan, dan sekarang ketika mereka membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan masalah, barulah mereka mengingat keberadaannya. “Hahaha...” Dera tiba-tiba tertawa lagi. Kali ini tawanya terdengar getir. “Jangan-jangan semua ini memang sudah direncanakan sama Ayah?” “Dera.” “Nyembunyiin Dela layaknya sebuah berlian karena dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik, begitu?” Dera terus berbicara meskipun Ayahnya mulai terlihat tidak suka. “Lantas menumbalkan aku sebagai pengganti karena aku nggak lebih layak dari sebuah sampah?” “Cukup.” Dera malah terbahak. “Kenapa baru sekarang marah? Bukannya aku cuma ngomong kenyataan?” “Diam!” “Mana mungkin Ayah ngebiarin anak kesayangannya mendapat kesusahan. Iya, kan?” Dera menggeleng sambil tersenyum pahit. “Aku saja yang terlalu bodoh karena terlambat sadar. Harusnya dari kemarin aku sudah tau kalau apa pun yang terjadi, Dela tetap bakal jadi prioritas.” “Dera, Ayah bilang diam!” Dera kembali tertawa. Sosok di hadapannya benar-benar terasa seperti iblis yang hanya mengenakan wajah seorang ayah. Hanya kepada Dela pria itu bisa bersikap lembut, perhatian, dan menjadi sosok Ayah seperti kebanyakan orang tua lainnya. Namun semua itu tidak pernah berlaku untuknya. Sejak kecil, Dera sudah terbiasa melihat perbedaan perlakuan tersebut. Ia tidak pernah tahu apa kesalahannya, tetapi dirinya selalu menjadi anak yang berada paling belakang dalam daftar perhatian keluarganya. “Aku akan berdoa semoga takdir Dela bakalan lebih buruk dari aku,” ucap Dera akhirnya. “Dia bakalan mendapat kekerasan, ketidakadilan, dan semua yang aku rasain selama ini bakalan dirasain juga sama dia.” Ayahnya tiba-tiba membanting setir hingga mobil sedikit oleng sebelum akhirnya kembali stabil. Pria itu langsung menoleh dengan wajah merah karena marah. “Jangan pernah mendoakan keburukan untuk saudaramu sendiri!” Dera tidak gentar. Ia malah menatap balik dengan sorot mata menantang. “Kenapa? Takut?” “Kamu benar-benar kurang ajar!” “Terus Ayah mau apa?” Dera tertawa sinis. “Mau bunuh aku?” Ayahnya terdiam. “Silakan,” lanjut Dera tanpa sedikit pun rasa takut. “Aku nggak takut mati.” “Jangan bicara sembarangan.” “Justru kalau aku mati, Ayah bakalan menanggung malu dengan pihak pria itu. Aku bakalan dianggap korban dari keluarga kalian sendiri. Ayah pikir mereka bakal diam aja?” Dera menarik napas, kemudian tersenyum tipis. “Belum lagi kalau setelah ini mereka menuntut keluarga kita. Aku malah bakalan berdoa supaya usaha Ayah yang sudah dibangun dengan kerja keras selama ini bangkrut karena ulah mereka.” “Dera!” “Kenapa? Sakit dengarnya?” Ayahnya tidak menjawab lagi. Tangannya kembali menggenggam kemudi dan mobil terus melaju. Dera yang sejak tadi menunggu kemarahan lebih besar akhirnya menghela napas lega ketika menyadari Ayahnya tidak melakukan apa pun kepadanya. Setidaknya ia masih bisa keluar dari mobil ini dalam keadaan hidup. Tidak lama kemudian, Dera menyadari arah perjalanan mereka. Ia mengenali jalan yang mereka lewati dan langsung tahu ke mana mereka akan pergi. Rumah. Rumah yang selama bertahun-tahun sudah ia anggap sebagai neraka fana. Dera menyandarkan tubuhnya ke jok dan memejamkan mata. Kalau boleh memilih, sebenarnya ia tidak ingin kembali ke tempat itu. Kos kecil yang ia tempati jauh lebih nyaman daripada rumah besar yang penuh dengan orang-orang yang membuatnya merasa tidak diinginkan. Namun kali ini ia tidak memiliki pilihan. Setelah perjalanan yang terasa begitu lama, akhirnya mobil berhenti juga di depan rumah. Dera langsung membuka pintu sebelum Ayahnya sempat mengatakan apa pun. Ia keluar lebih dulu dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BRAK! Bodo amat. Kalau nanti Ayahnya marah karena mobil yang digunakan mungkin harganya lebih dari ratusan juta, Dera tidak peduli. Bahkan kalau setelah ini dirinya dimarahi, dipukuli, atau entah diapakan, saat ini ia sudah tidak memiliki energi untuk memikirkan akibatnya. Dera berbalik menghadap Ayahnya yang baru saja keluar dari mobil. “Aku ngikut Ayah bukan berarti aku langsung setuju sama apa yang kalian mau!” tegasnya. “Semuanya harus ada bayaran yang setimpal!” Tanpa menunggu jawaban, Dera langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Mamahnya yang kebetulan berada di dekat pintu bahkan sempat tersenyum ketika melihat kedatangannya. “Dera, kamu akhirnya pulang. Mamah—” Dera langsung melewatinya hingga tubuh Mamahnya sedikit terhempas. “Dera!” “Minggir dulu, Mah.” Mamahnya menatap punggung Dera dengan ekspresi sedih. “Mamah mohon jangan seperti anak kecil.” Dera berhenti. Ia perlahan berbalik dan menatap Mamahnya. “Kalian yang kayak anak kecil, bukan aku!” “Dera, bicara baik-baik.” “Kenapa aku harus bicara baik-baik?” Dera mulai meninggikan suaranya. “Aku selama ini selalu diam, nggak pernah nuntut apa pun, bahkan nggak pernah ikut campur urusan kalian! Tapi dengan seenak jidat, kalian ngebawa aku buat ikut campur dan masuk ke urusan kalian!” “Ini semua demi keluarga.” “Keluarga yang mana?” Mamahnya terdiam. “Kalian baru ingat aku sebagai keluarga kalau lagi butuh bantuan, kan?” Dera tertawa getir. “Sinting kalian, hah?” “Dera!” suara Ayahnya terdengar keras dari belakang. Namun Dera sudah tidak ingin melanjutkan pertengkaran. Kesabarannya memang setipis tisu. Kalau terus berada di ruang keluarga itu, ia takut akan mengatakan sesuatu yang jauh lebih buruk. “Aku mau ke kamar.” Dera langsung menaiki tangga dan masuk ke kamar lamanya. Begitu pintu tertutup, ia menguncinya dari dalam. Tas yang dibawanya dilempar begitu saja ke atas kasur, sementara tubuhnya ikut menyusul. Dera bahkan tidak peduli dengan jadwal bersama dosen pembimbing yang seharusnya ia pikirkan hari ini. Skripsi, kampus, semuanya terasa tidak penting untuk sementara. “Sebenernya apa yang nggak ada dalam diri gue tetapi ada dalam diri Dela, sih?” gumamnya sambil menatap langit-langit. “Kenapa hidup gue gini amat?” Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Dera menutup wajah dengan kedua tangan. Pertahanan yang selama ini ia bangun dan selalu ia tunjukkan kepada orang lain seolah begitu kokoh, ternyata hanya membutuhkan satu dorongan untuk runtuh. Ia menangis sambil memaki keadaan, menyalahkan dirinya sendiri, bahkan mempertanyakan kenapa sejak kecil ia tidak pernah cukup berharga untuk mendapatkan perlakuan yang sama seperti Dela. “Kenapa gue nggak pernah cukup dimata mereka?” Suara Dera bergetar. “Gue kurang apa?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Dera menangis beberapa saat sampai akhirnya ia menghapus air matanya sendiri. Ia terkekeh pelan karena merasa bodoh sudah menangisi sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama. “Ngapain gue nangis?” Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Percuma.” Dera kemudian bangkit dan menatap sekeliling kamar. Ruangan tersebut tampak agak berdebu dan tidak terawat seperti tidak pernah dibersihkan. Hal itu memang tidak mengherankan karena ia hanya pulang beberapa kali dalam sebulan. Bahkan ia tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke kamar tersebut. Baginya, kamar itu hanya tempat lama yang menyimpan terlalu banyak kenangan buruk. “Balik kos mungkin lebih baik,” gumamnya. “Gue sesek lama-lama di sini.” Dera mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Namun begitu sampai di ruang keluarga, langkahnya langsung terhenti. Ada seseorang yang sedang duduk santai di sofa. Dera mengedip beberapa kali. Dela. Kakak kembarnya itu ternyata ada di rumah. Tidak kabur. Tidak sedang bersembunyi. Tidak terlihat seperti seseorang yang sedang dikejar-kejar masalah. Dela bahkan tampak segar dan baik-baik saja. Dera hanya berdiri sambil menatap pemandangan di depannya. Setelah beberapa detik, ia justru tertawa ringan. “Wahhh...” Dera bertepuk tangan pelan. “Keluarga bahagia ternyata telah bersatu. Sehatkah kalian?” Dela langsung menoleh kepadanya. Mamahnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Dera dengan senyuman manis seolah tidak terjadi pertengkaran apa pun sebelumnya. “Ayo gabung. Kamu sudah lama tidak kembali ke rumah ini. Kita akan berkumpul bersama-sama, bercerita mengenai hari-harimu yang sudah dilalui.” Dera menatap Mamahnya tidak percaya. “Nggak sudi.” “Dera...” “Kalian terlalu banyak muka.” Senyum Mamahnya langsung menghilang. Dera kembali melihat Dela yang sekarang duduk diam. Tiba-tiba ia merasa seperti baru saja dibohongi. Capek-capek ia menangis sendirian di kamar, mempertanyakan hidupnya, merasa dirinya benar-benar ditumbalkan karena Dela kabur, tetapi ternyata Dela ada di rumah. Jadi apa sebenarnya yang sedang terjadi? Dera menatap Ayahnya. “Jadi Dela nggak kabur?” “Bukan urusanmu.” Dera tertawa pendek. “Bukan urusan aku? Bukannya aku yang dijadikan penggantinya?” Ayahnya melangkah mendekat dengan wajah penuh amarah. “Sudah cukup kesabaran Ayah diuji dari tadi.” “Oh, padahal yang nguji juga diri sendiri.” Dera belum sempat menghindar ketika tangan Ayahnya kembali melayang ke pipinya. PLAK! Kepala Dera sedikit terlempar ke samping. Ia terdiam beberapa detik, merasakan panas yang menyengat di pipinya. Tamparan kemarin saja belum sepenuhnya hilang sakitnya, dan sekarang Ayahnya menambah luka yang baru. Dera perlahan menoleh. “Ayah emang kasar banget kalau sama aku.” Ia menyentuh pipinya yang mulai memerah. “Yang kemarin aja belum hilang, kenapa masih ditambahin lagi?” “Jangan kurang ajar!” “Begini aja,” kata Dera, berusaha tetap tenang. “Dela sudah di rumah, kan? Target perjodohan harusnya kembali ke anak itu, kan? Sekarang aku mau pamit pulang.” Dera kemudian berjalan menjauh. Namun baru beberapa langkah, suara Ayahnya kembali menggema di ruangan. “ADA ATAU TIDAKNYA DELA, YANG HARUS MAJU DI PERJODOHAN INI ADALAH KAMU, DERA!” Dera berhenti. Ia tersenyum. Sebenarnya ia sudah menduganya sejak awal. Dari dulu, Dela memang harus mendapatkan yang terbaik selama Ayahnya mampu memberikannya. Mamahnya juga selalu merawat Dela dengan penuh kasih sayang, mendandaninya dengan sangat cantik, dan memperlakukannya bak putri kerajaan. Dela sudah terlahir dengan sendok emas di tangannya. Berbeda dengan Dera yang sejak kecil seperti upik abu di rumah sendiri. “Aku benar-benar penasaran,” ujar Dera sambil berbalik. “Hanya karena sebuah kecelakaan dan pemuda itu mengalami kelumpuhan, Ayah sampai berpikir menukarkan posisi Dela kepada aku begitu?” “Dela harus mendapatkan yang terbaik,” jawab Ayahnya tegas. “Dela harus mendapatkan kebahagiaan.” “Jadi aku yang harus menanggung penderitaannya?” “Ini demi keluarga.” Dera tersenyum getir. “Aku paham kok. Aku itu nggak lebih dari sebuah sampah bagi kalian.” Mamahnya terlihat iba. Namun seperti biasanya, tidak ada satu pun tindakan yang benar-benar bisa mengubah keadaan. Ayahnya kembali berbicara dengan nada tegas. “Besok, temui pemuda itu di alamat yang nanti Ayah kirim. Kamu harus menerima semua ini kalau kamu tidak ingin menanggung konsekuensinya. Paham?” Dera hanya diam. Ia tidak mengangguk. Tidak juga mengatakan iya. Namun beberapa detik kemudian, senyum miring muncul di wajahnya. Kalau mereka menginginkan dirinya menjadi pengganti Dela, maka Dera tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. “Aku mau kasih satu pilihan buat kalian.” Ayahnya mengerutkan kening. “Apa?” “Tiga puluh lima persen saham perusahaan.” Ruangan langsung hening. Dera menarik napas sebelum melanjutkan, “Aku bakalan gantiin Dela di perjodohan ini dengan catatan saham tiga puluh lima persen perusahaan bakalan jatuh ke tangan aku.” “Dera, kamu gila?” “Enggak.” Dera tersenyum. “Aku cuma nggak bodoh.” Dela akhirnya ikut bersuara dengan suara lembut dan mendayu. “Dera, aku mohon turutin kemauan Ayah aja. Ayah sudah melakukan yang terbaik buat kamu. Tolongin aku, Dera.” Dera menatap saudara kembarnya dengan sinis. “Harusnya lo yang ada di posisi ini!” Dela terdiam. “Lo harusnya terima apa pun kelebihan atau kekurangan calon suami lo. Bukan main kabur dan nggak setuju kayak gini.” Emosi Dera kembali naik. “Bangsat, babi, anjing emang lo?!” “Dera! Jangan ngomong kasar!” Dera malah tertawa. Entah menertawakan Dela, keluarganya, atau dirinya sendiri yang ternyata masih bisa dibuat menangis oleh orang-orang tersebut. Ia mengusap pipinya sekali lagi, lalu menatap Ayahnya dengan tatapan penuh tantangan. “Oke.” Dera menghirup oksigen sebentar sebelum melanjutkan, “Aku bakalan gantiin Dela di perjodohan ini dengan catatan saham tiga puluh lima persen perusahaan bakalan jatuh ke tangan aku.” “Kamu pikir Ayah akan memberikan itu?” “Mau dilanjut atau tidak, semua ada di tangan kalian sendiri sekarang.” Dera mengangkat bahu. “Aku nggak bodoh. Apa pun harus ada timbal balik, kan?” Dera kemudian berbalik dan melangkah pergi dengan senyuman manis. Anggap saja saham tiga puluh lima persen tersebut merupakan bentuk tanggung jawab keluarganya atas dua puluh satu tahun kehidupan yang selama ini ia jalani sendirian. “Dera! Jangan kurang ajar!” Terlambat. Dera sudah memasang earphone yang setiap hari selalu dibawanya. Musik mengalun menutupi suara-suara dari belakang. Ia bahkan sempat berbalik dan mengacungkan jari tengah sebelum akhirnya berjalan keluar dari rumah. Setidaknya untuk kali ini, Dera tidak pergi dengan tangan kosong. Kalau mereka ingin menjadikannya tumbal, maka mereka harus membayar harga yang setimpal. *****Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad
"Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue
"Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang
Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa
Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut
Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah
"Anjirrr, gue kesiangan! Gue lupa ada agenda mau ketemu Dosen Pembimbing!" Dera kelimpungan tidak jelas. Melompat dari tempat tidur, lantas ia berlari menuju kamar mandi untuk cuci muka saja. Tidak perlu mandi, gosok gigi saja yang ia lakukan sembari mencari pakaian yang hendak digunakan. Mengam
Kos-kosan tempat Dera tinggal malam ini tampak seperti markas besar para remaja pemberontak. Suara gelak tawa, denting botol yang beradu, dan obrolan yang tak ada habisnya menggema dari ruang tengah. Kosan kecil yang biasanya tenang kini dipenuhi keributan. Beberapa bungkus snack berserakan di lanta
Dera berdiri di depan pintu rumahnya, dagunya terangkat tinggi saat tatapan tajam matanya menelusuri wajah kedua orang tuanya. Tas punggungnya tergantung malas di bahu kanannya, seperti benda berat yang selalu siap ia tinggalkan. Rasa jengah melandanya, udara di sekitar rumah ini terasa begitu berat
Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya







