Share

BAB 05

Author: Vaa_Morn
last update publish date: 2024-05-30 10:07:38

Syarat yang diajukan Dera mengenai saham tiga puluh lima persen ternyata berhasil. Di luar dugaan, Ayahnya benar-benar menyetujui permintaan tersebut.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, pria itu juga mengirimkan sejumlah uang ke rekening Dera dengan alasan untuk memenuhi berbagai keperluannya selama menjalani proses perjodohan tersebut.

Dera sempat menatap layar ponselnya cukup lama ketika notifikasi uang masuk muncul. Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang biasanya ia miliki dalam rekening.

Seharusnya ia merasa senang. Setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan ia tidak perlu terlalu memikirkan biaya makan, kuliah, atau kebutuhan lainnya. Namun anehnya, Dera justru merasa semakin tidak nyaman.

Uang itu bukan pemberian cuma-cuma.

Ada harga yang harus dibayarnya.

Perjodohan.

Dan kemungkinan besar, pernikahan.

Alamat restoran yang dikirimkan Ayahnya beberapa jam kemudian semakin menguatkan dugaan tersebut. Tempat itu akan menjadi titik pertemuan antara Dera dan pria yang sejak awal sebenarnya hendak dijodohkan dengan Dela. Kalau kata para sahabatnya, mungkin acara tersebut bisa disebut sebagai kencan pertama.

Bagi Dera sendiri, itu lebih mirip rapat bisnis yang salah tempat.

“Lo yakin, Ra, mau datang ke sana?” Zea yang sejak siang berada di kos Dera memandangnya dengan wajah khawatir. “Lo dijodohin sama orang yang mungkin memiliki keterbatasan dalam berjalan, loh.”

Dera yang sedang duduk di depan laptop langsung mengangkat wajah. “Gue nggak bisa nolak lagi, Ze.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Ayah udah menyetujui persyaratan gue soal saham.” Dera menghela napas. “Bahkan nggak tanggung-tanggung, dia ngirimin banyak uang buat keperluan gue selama proses ini. Kalau sekarang gue tiba-tiba kabur, gue juga nggak tau bakal jadi apa.”

Zea mengerutkan kening. “Lo takut?”

“Takut sih nggak.”

“Terus?”

“Capek.”

Jawaban itu membuat Zea terdiam. Dera memang terlihat santai, tetapi sahabatnya tahu betul kalau di balik candaan dan sikap ceplas-ceplosnya, Dera sedang berada di titik yang tidak mudah.

Zea kemudian mendekat dan duduk di sampingnya. “Pikirin kebahagiaan lo, Ra. Kalau lo pengin kabur sekarang, gue bisa bantu.”

Dera tersenyum kecil. “Selama ini kebahagiaan gue juga bisa dibilang nggak ada, Ze.”

“Jangan ngomong begitu.”

“It’s okay.” Dera menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kalau pemuda itu emang ditakdirkan jadi jodoh gue, ya mungkin harus gur syukurin dan gue jalanin dari sekarang.”

“Lo nggak boleh sepesimis ini, Dera. Lo masih ada kita-kita yang bisa ngebantuin lo.”

“Gue tau.”

“Terus kenapa lo masih santai?”

Dera terkekeh. “Karena kalau gue panik, masalahnya juga nggak bakal hilang.”

Zea memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. “Gue kadang bingung sama jalan pikiran lo.”

“Gue juga.”

“Terus sekarang lo mau apa?”

Dera melihat jam di layar ponselnya, kemudian berdiri. “Gue mau pergi buat ketemu calon suami gue.”

Zea langsung membelalakkan mata. “Segitu santainya?”

“Kalau bukan gue yang pergi, emangnya lo mau gantiin?”

“Ogah!”

“Nah, makanya.”

Dera mengambil tas kecilnya dan memeriksa ponsel. Alamat restoran sudah tersimpan di sana. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan tersebut. Yang jelas, ia ingin datang sebagai dirinya sendiri. Tidak ada gunanya berpura-pura menjadi orang lain hanya demi membuat calon suaminya terkesan.

“Lo masih mau di sini?” tanya Dera.

“Gue masih betah di sini. Nanti yang lain juga pada ke sini.”

“Ya udah. Gue pergi dulu. Kalau kalian pulang sebelum gue datang, jangan lupa beresin sama kunci pintu.”

Zea mengangguk. “Iya, hati-hati.”

Dera mengacungkan jempol sebelum keluar dari kamar.

Penampilannya hari itu tidak berbeda jauh dari kehidupan sehari-harinya. Ia tidak menggunakan pakaian feminin atau berusaha terlihat seperti perempuan sosialita yang biasa datang ke restoran mewah.

Tidak ada gaun, tidak ada rok, bahkan riasan wajah pun hampir tidak ada. Dera hanya menggunakan basic skincare agar kulitnya tetap terjaga.

Ia berdiri di depan cermin sebentar sebelum terkekeh melihat dirinya sendiri.

“Ke restoran bintang lima, pakaiannya masih kayak rakyat jelata.” Dera merapikan hoodie yang dikenakannya. “Mana yang mau gue temuin sultan kaya raya lagi.”

Dera tertawa renyah. Ia sadar penampilannya mungkin tidak akan memberikan kesan pertama yang baik. Namun menurutnya, bersikap apa adanya jauh lebih baik daripada memaksakan diri menjadi seseorang yang bukan dirinya. Ia tidak ingin membangun citra palsu hanya supaya lawan bicaranya terpesona.

Lagipula, kalau pria itu nantinya menjadi suaminya, cepat atau lambat ia akan mengetahui seperti apa Dera sebenarnya.

Jadi buat apa berpura-pura?

Dera kali ini tidak menggunakan motor. Ia sudah memesan taksi online terlebih dahulu. Setelah acara kencan yang tidak pernah ia minta ini selesai, Dera berencana membeli beberapa buku untuk referensi skripsinya. Setelah itu, kalau masih ada waktu dan tenaga, ia ingin pergi ke arena drifting untuk menjalankan hobinya.

Setidaknya itu jauh lebih menyenangkan daripada memikirkan pernikahan.

“Sudah sampai, Neng. Benar ini tempatnya?” tanya sopir taksi ketika kendaraan berhenti di depan sebuah restoran mewah.

Dera yang sejak tadi sibuk menyusun rencana setelah pertemuan langsung tersadar.

“Oh, iya, Pak. Betul.”

Ia membuka pintu, lalu sebelum turun bertanya, “Bayar pakai DANA bisa, kan?”

“Bisa banget, Neng. Nggak masalah mah buat mamang.”

Dera tersenyum. “Makasih, Pak.”

Begitu kakinya menginjak trotoar, keberanian yang sejak tadi ia kumpulkan mendadak menghilang.

Dera menatap bangunan restoran di hadapannya.

Besar.

Mewah.

Dan jelas bukan tempat yang biasa ia datangi.

Ia bahkan sempat melihat pantulan dirinya di kaca pintu restoran.

Hoodie hitam.

Celana joger kebesaran.

Sepatu kasual.

Tidak ada aksesori mewah.

Dera menelan ludah.

“Gue minder banget, anjir.” Dera mengusap wajah. “Udah kayak nyasar di tempat yang nggak seharusnya gue pijak.”

Seharusnya uang yang diberikan Ayahnya bisa ia gunakan untuk mempercantik diri. Membeli pakaian baru, pergi ke salon, atau setidaknya menggunakan riasan yang lebih pantas untuk bertemu seseorang dari keluarga kaya raya.

Namun Dera memilih menyimpan uang tersebut.

Hemat pangkal kaya.

Begitulah prinsipnya.

Setelah berdiri cukup lama di depan restoran, Dera akhirnya menarik napas panjang dan masuk. Debaran jantungnya semakin terasa ketika beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Dera berusaha tidak peduli dan langsung menuju meja penerima tamu.

“Maaf, Kak,” sapa seorang pelayan dengan ramah. “Sudah reservasi tempat atau belum sama sekali?”

Untungnya pelayan tersebut sama sekali tidak menghakimi penampilannya.

Dera mengangguk kecil. “Mmm... reservasi atas nama Tuan Dafi Ezekiel Addison di mana, ya, Mbak?”

“Oh, Tuan Dafi.” Pelayan itu langsung tersenyum profesional. “Mari ikuti saya.”

Dera tidak menjawab. Ia hanya mengikuti pelayan tersebut melewati area restoran. Semakin jauh berjalan, semakin ia sadar bahwa pria yang akan ditemuinya bukan orang sembarangan.

“Sekaya apa sih Tuan Dafi-dafi itu?” gumam Dera dalam hati.

Mereka berhenti di depan sebuah ruangan khusus.

“Nah, Mbaknya tinggal masuk saja. Tuan Dafi sudah ada di dalam dari tadi.”

Dera mengangguk kecil.

Begitu pelayan pergi, ia berdiri sendirian di depan pintu. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.

“Lah, kok gue yang panik?”

Dera melihat jam tangannya.

Waktu yang diberikan Ayahnya bahkan masih tersisa lima menit.

“Kenapa orangnya datang cepat banget? Gue jadi berasa kayak terlambat interview.”

Ia menarik napas, lalu perlahan masuk.

Langkahnya melambat ketika melihat siluet seseorang yang duduk di dekat jendela. Seorang pria dengan pakaian serba rapi dan tampak mahal. Bahkan dari jarak beberapa meter saja, Dera bisa melihat bahwa segala sesuatu yang dikenakannya terlihat berkelas.

Namun satu hal langsung menarik perhatian Dera.

Kursi roda.

Dera menelan ludah.

“Beneran lumpuh.”

Ia tidak bermaksud meremehkan. Hanya saja, informasi yang diberikan Ayahnya ternyata memang benar.

Dera kemudian memberanikan diri mendekat.

“Permisi.”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Dera berhenti di depannya. “Atas nama Dafi Ezekiel Addison atau bukan?”

Pria tersebut akhirnya menoleh.

Dera langsung merasa seperti dikuliti hidup-hidup.

Tatapan pria itu tajam, penuh selidik. Matanya bergerak dari wajah Dera, pakaian, hingga sepatu yang dikenakannya. Seolah-olah sedang melakukan penilaian menyeluruh terhadap perempuan yang baru saja datang menemuinya.

Dera mulai salah tingkah.

“Gue kayak kenal lo,” kata Dera akhirnya. “Tapi gue lupa di mana. Kita pernah ketemu sebelum ini, kan?”

“Tidak.”

Dera menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“Mungkin halusinasi gue doang kali, ya.”

Pria itu tetap diam.

Dera menarik kursi dan duduk tanpa menunggu dipersilakan. Ia merasa kalau terus berdiri, kakinya bisa gemetar.

“Btw, lo tau gue siapa?”

“Tidak.”

Dera menghembuskan napas kesal.

“Jawaban lo cuma satu kata?”

Pria itu tidak menjawab.

Dera menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kalau begini terus, gue bisa mati muda.”

Ia sebenarnya ingin tertawa, tetapi tatapan pria itu terlalu dingin untuk diajak bercanda.

Pria tersebut akhirnya membuka suara.

“Kamu tidak tau tata cara berpenampilan yang benar?”

Dera mengerutkan kening. “Apa?”

“Tata krama kamu juga bisa dikatakan kurang.”

Dera langsung terdiam.

Pria itu melanjutkan, “Apa wanita seperti ini yang akan dijodohkan dengan saya?”

Dera menelan ludah. Entah kenapa komentar sederhana tersebut membuatnya merasa benar-benar seperti upik abu.

Mereka memang bagaikan langit dan bumi. Dera tidak pernah mengutamakan penampilan, sedangkan pria di hadapannya sepertinya terbiasa dengan segala sesuatu yang harus dilakukan secara sempurna.

Dera bahkan mulai membayangkan bagaimana kalau mereka benar-benar menikah.

Mungkin kepalanya akan meledak setiap hari.

“Kenapa foto yang dikirimkan dengan realitanya berbeda?” tanya pria itu.

Dera membisu beberapa saat.

Tentu saja berbeda.

Mereka bukan orang yang sama.

Perempuan dalam foto yang mungkin dikirimkan kepada pria ini adalah Dela, dengan penampilan feminin seperti sosialita muda. Sementara Dera? Gadis tomboy yang memakai rok saja bisa membuat para sahabatnya tertawa setengah mati.

Dera akhirnya mengangkat wajah.

“Kalau gue bilang itu bukan orang yang sebelumnya lagi, lo mau bereaksi kayak gimana?”

Pria itu sedikit menaikkan alis.

“Maksudnya?”

“Sebelum itu, kenalin gue Dera Aurora Bethani.” Dera menunjuk dirinya sendiri. “Sekarang lo sadar kan dengan siapa lo berbicara saat ini?”

Pria itu masih diam, tetapi tatapannya berubah sedikit lebih serius.

Dera melanjutkan, “Yang difoto itu kembaran gue, Dela Aurelia Belvina. Dia sempat kabur karena nggak mau dijodohin sama lo. Sampai sini paham, kan?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Dera menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Meskipun gue disuruh bohong soal identitas, gue nggak mau kita terikat tanpa sebuah kejujuran. Gue dan orang yang sebelumnya dijodohin sama lo, jelas memiliki perbedaan yang kentara. Bahkan dari segi kualitas, kita beda.”

Pria tersebut akhirnya mengangguk pelan.

“Saya tau kenapa dia tidak mau melanjutkan perjodohan ini.”

Dera menatapnya.

“Itu karena saya cacat, kan?”

Dera ingin saja menjawab iya.

Namun ia mengurungkan niat tersebut.

Pria di hadapannya mungkin dingin dan angkuh, tetapi ia tetap manusia. Tetap memiliki perasaan yang bisa terluka.

“Semua orang di dunia ini pasti memiliki kecacatannya masing-masing,” jawab Dera akhirnya. “Mungkin bukan dari segi fisik, tapi dari segi yang lain. Percaya deh, pasti ada yang nerima lo apa adanya.”

Pria itu menatapnya tajam.

“Apa kamu termasuk orang yang menerima saya apa adanya?”

Pertanyaan itu membuat Dera kehilangan kata-kata.

Ia menundukkan wajah dan memainkan jemarinya sendiri.

“Gue...”

Tidak ada jawaban yang keluar.

Bagaimana mungkin ia menjawab?

Ia sendiri tidak pernah meminta berada di posisi ini. Ia tidak mengenal pria tersebut. Ia bahkan baru pertama kali berbicara dengannya.

Dera hanya pihak yang dipaksa menggantikan orang lain.

Pria itu kemudian tersenyum miring.

“Semua wanita memang sama saja.”

Dera mengangkat wajah, tetapi pria tersebut sudah mengambil ponselnya. Jemarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang menghubungi seseorang. Tidak sampai satu menit kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang pria masuk, lalu membungkuk kepadanya.

“Antarkan saya pulang, sekarang.”

Dera memperhatikan pria itu mulai didorong pergi.

Ia tidak berniat mencegah.

Kalau pria tersebut ingin pergi, silakan.

Namun ketika kursi roda itu hampir mencapai pintu, Dera tiba-tiba bersuara.

“Gue mencintai diri sendiri aja nggak becus, apalagi mencintai orang lain.”

Langkah pria tersebut berhenti.

Dera menatap punggungnya.

“Lo tau kenapa gue diem aja dan nggak bisa jawab?”

Pria itu masih diam.

“Gue bisa nerima segala kekurangan apa pun yang sudah masuk ke dalam hidup gue,” lanjut Dera perlahan. “Tapi gue takut terluka.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

“Karena luka yang berulang kali hadir itu... udah ngebuat gue nggak percaya lagi sama orang lain.”

Tidak ada jawaban.

Dera pun tidak menunggu.

Ia mengambil tasnya dan berdiri. Biarlah pria itu menilai dirinya sesuka hati. Dera sudah mengatakan apa yang memang ingin ia katakan.

Ia tidak tahu apakah pertemuan itu bisa disebut kencan atau justru kegagalan total.

Yang Dera tahu, setidaknya untuk pertama kalinya ia datang ke hadapan seseorang tanpa menyembunyikan siapa dirinya.

Dan entah kenapa, saat berjalan meninggalkan restoran, Dera sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat terakhirnya tadi justru meninggalkan sesuatu yang berbeda di dalam pikiran pria yang ia tinggalkan.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 28

    Pagi-pagi sekali, Dera dikejutkan dengan dering telepon yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Jadi Dera yang hendak menyiapkan sarapan untuk dia dan Dafi memilih untuk berhenti, skripsi akhirnya lebih penting. Kemarin, baru saja dia mendapatkan ACC untuk bagian pembahasan. Sebentar lagi penderitaannya akan berakhir. Arkan juga sudah menyepam pesan sejak kemarin. Mungkin karena Dera belum sempat membuka ponsel, jadi baru sempat membukanya sekarang. Ada ajakan nongkrong kemarin, tapi tidak jadi karena Dera tidak ikut serta dengan mereka."Harus cepet, bentar lagi wisuda!" seru Dera penuh semangat. Dera segera bergegas, mengambil tasnya dan memasukkan laptop serta berkas-berkas penting yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dafi, yang masih setengah terjaga, bangun dan melihat Dera yang tampak sibuk entah karena apa. "Buru-buru, mau kemana?" tanya Dafi dengan raut bingung. "Kampus, maaf ya nggak jadi masak. Bimbingan kali ini lebih awal dari hari-hari sebelumnya, ada urusan mendad

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 27

    "Manusia sultan mah bebas. Gue yakin si Dafi rumahnya nggak cuma ini dan yang sebelumnya doang, pasti masih banyak aset yang gue nggak tau. Mana rumahnya tetep gede semua lagi." kata Dera sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Ehhh tunggu, ini beneran rumah yang waktu itu gue datengin karena habis nolongin orang kan? Jadi apa bener yang gue tolongin waktu itu beneran si Dafi?" Dafi sudah keluar dari dalam mobil lebih dulu, meninggalkan dirinya yang masih berada di dalam mobil karena dia sempat berpura-pura tidur tadi. Luar kota yang dimaksud Dafi ternyata hanya perbatasan kota saja. Dera kira harus membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan ke tempat yang Dafi maksud. Dera keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Dia memandangi rumah besar yang sekarang tampak begitu familiar. Ingatannya mulai berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu ketika dia menolong seorang pria yang dikeroyok. "Jadi yang gue tolongin waktu itu beneran Dafi, jangan-jangan bener gue

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 26

    "Apa itu masih sakit? Sini saya obatin muka kamu." kata Dafi ketika Dera baru saja masuk ke dalam mobil. Kaget, tentu saja Dera merasakan hal itu. Dafi menggeser tubuhnya agar Dera bisa duduk di sampingnya. Sejak tadi dia juga sudah menyiapkan P3K, berharap Dera mau segera diobati lukanya ketika menyusulnta. Namun nyatanya Dafi harus dibuat menunggu, sambil mengamati gerak-gerik yang dilakukan istrinya sejak tadi. Bangga tentu saja, padahal Dafi sudah mencari informasi sedetail yang dia bisa. Yang dilakukan Ayahnya kepada Dera hhanyalah menorehkan ebagian luka besar menganga tak pernah diobati. Namun Dera masih terlihat berbaik hati, menunggu dengan setia hingga Ayahnya masuk ke dalam taksi. "Ini mungkin sedikit perih, tapi kamu harus bertahan ya?" Dafi tiba-tiba berkata lembut, tangannya bergerak pelan membersihkan luka tamparan di wajah Dera dengan hati-hati. Dera meringis sedikit, tapi dia tetap diam tidak berkomentar apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh fakta-fakta yang

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 25

    Dera itu memang tipikal perempuan yang gampang patuh, namun di sisi lain dia juga tipikal yang pembangkang juga. Setelah masuk ke dalam kontrakan, dia memilih untuk memasang telinganya dalam-dalam. Ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Ayahnya dan suaminya secara serius tentu saja! Mendekatkan telinganya ke arah pintu, berharap bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan Dafi di luar sana. Ayahnya berbicara dengan nada yang jelas tegang dan marah, sementara Dafi masih dengan suara yang tenang dan datar. "Saya sudah tidak peduli dengan siapa saya berbicara sekarang. Pada intinya, anda harus membantu perusahaan saya! Sesuai perjanjian bisnis dalam pernikahan, sudah seharusnya anda membantu keruntuhan perusahaan saya!" suara Ayah Dera terdengar jelas di telinga Dera saat ini. Dera terkekeh kecil, benar-benar tidak tau malu Ayahnya itu. Padahal Ayahnya sendiri yang melanggar perjanjian dengan menggantikan Dela dengan dirinya didetik-detik terakhir lantaran berita kecelakaa

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 24

    Dera tidak langsung pulang ke rumah suaminya. Sebaliknya dia memilih untuk pergi ke tempat kontrakannya sebelumnya, ada beberapa barang penting yang seharusnya dia bawa ke tempat tinggal barunya. Beruntung ketika Arkan mengambil barang-barangnya tempo beberapa hari yang lalu, kuncinya tidak dibawa dan diletakkan di tempat persembunyian aman. Jadi dia memilih untuk bersantai sebentar, presetan dengan waktu yang sudah hampir menjelang sore. "Ini baru Dera, kehidupan seperti ini yang sebenarnya gue mau. Aman, tenang, damai, dan yang pasti hidup sendirian." kata Dera sambil tersenyum dan memejamkan matanya.Andai Ayahnya tidak memintanya untuk menikah, andai Ayahnya tidak memintanya untuk menggantikan posisi kembarannya dalam sebuah pernikahan bisnis, mungkin Dera masih bisa hidup dengan tenang sekarang. Minusnya, Dera mungkin akan selalu hidup di bawah garis kemiskinan. "Hidup terlalu sempurna untuk kembaran gue. Sedangkan hidup gue terlalu hancur demi kebahagian kembaran gue." lanjut

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 23

    Dafi kini berada di kursi kebesarannya dengan senyum yang kadang-kadang timbul. Kantornya yang mewah dan rapi memancarkan kesan profesionalisme, namun pikiran Dafi melayang kembali ke momen-momen bersama Dera tadi pagi. Dia merasakan kepuasan yang mendalam melihat bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan membaik meskipun dengan sedikit paksaan. Di depannya, Andrew Matthew sang sahabat sekaligus sekretarisnya itu menatap Dafi dengan raut bingung. Ia sebenarnya sedikit agak ngeri, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi selama mereka menjalin persahabatan. Sahabatnya tidak sedang kerasukan kan sekarang? "Hei, bro," panggil Andrew pelan, berusaha mengembalikan perhatian Dafi dari lamunan dan senyum mengembangkan, "Lo nggak sedang kerasukan kan? Gue takut lo ketempelan genderuwo diperjalanan ke kantor tadi." Andrew Matthew menatap Dafi dengan rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia sudah mengenal Dafi sejak lama, dan senyum yang kadang-kadang muncul di wajah sahabatnya itu adalah

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 08

    Siang berganti malam, hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan sangat cepat bagi seorang Dera. Satu minggu telah berlalu, dan ini adalah hari penting bagi Dera. Namun sebenarnya tidak pernah ada sedikitpun di dalam rencananya. Hari pernikahan yang tak pernah Dera bayangkan sejauh ini. Rasanya

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 07

    "Pernikahan kamu akan dipercepat satu minggu lagi. Jadi selama menunggu hari itu tiba, kamu harus kembali ke rumah saya lagi. Ini saya lakukan agar tidak ada kecurigaan dari pihak mempelai pria." Dera hampir saja membenturkan kepalanya ketembok, ketika sang Ayah mengetahui tempat dirinya tinggal b

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 06

    Dera merasa hari ini sangat melelahkan. Tenaganya sudah terkuras habis, dan ia tidak ingin melakukan apapun selain hanya rebahan. Sepertinya, bertemu pria bernama Dafi Ezekiel Addison itu bukan perkara yang bagus untuk Dera. Merayap menuju kamar yang selama ini menemaninya. Rasa lelahnya benar-ben

  • Menjadi Istri Sang Billionaire   BAB 04

    Ayahnya tidak main-main sepertinya. Apa yang ia ucapkan kemarin adalah mutlak, dan tidak bisa dibantah oleh Dera. Sedangkan Dera hanya bisa terdiam seribu bahasa saja sekarang, sepertinya dia benar-benar ditimbalkan kepada masalah mereka. Dera menatap jalanan melewati kaca jendela mobil dengan tat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status