Share

007 || Gelisah

Penulis: Diva
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-13 23:02:29

Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit.

Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja.

Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya.

“Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat.

Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya.

Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya.

Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama.

“Putri,” panggilnya lembut.

Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan menoleh. “Iya, Nyonya.”

“Kau sudah terbiasa dengan kediaman ini?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Yuwen Shuang singkat. “Para pelayan sangat membantu.”

Han Ruoxi mengangguk pelan.

“Bagus,” ucapnya. “Rumah ini tidak banyak aturan, tapi ada hal-hal yang perlu dibiasakan.”

Yuwen Shuang kembali mengangguk. “Aku mengerti.”

Sepanjang percakapan itu, Zhao Fenglin tetap diam. Ia makan dengan gerakan teratur, seolah pembicaraan itu tidak menyangkutnya. Namun sesekali, tanpa disadari. Pandangannya jatuh pada tangan Yuwen Shuang yang kini bergerak lebih lambat dari sebelumnya.

Zhao Jianwu mengangkat sumpitnya.

“Silakan lanjutkan makan,” ucapnya singkat.

Yuwen Shuang mengambil sedikit lauk, lalu berhenti. Ia menunduk, meletakkan sumpitnya perlahan.

“Aku sudah selesai,” katanya sopan.

Han Ruoxi menatap piring di hadapannya, lalu pada wajah Yuwen Shuang.

“Kau tidak menyentuh banyak makanan, Putru,” ucapnya.

“Aku tidak terbiasa makan banyak di malam hari,” jawab Yuwen Shuang tenang.

Zhao Fenglin berhenti mengunyah. Ia mengangkat pandangannya menatap Yuwen Shuang, lalu melirik makanan gadis itu yang tak berubah sejak awal. Gadis itu hanya mengaduk nasi dan lauk saja sejak tadi.

Zhao Jianwu meletakkan sumpitnya lebih dulu.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “cukup sampai di sini.”

Para pelayan segera bergerak.

Yuwen Shuang berdiri, menunduk sopan. “Terima kasih atas jamuannya.”

Zhao Fenglin berdiri beberapa detik setelahnya. Tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan gadis itu berjalan keluar lebih dahulu. Sebelum akhirnya ia menyusul saat jaraknya sudah cukup jauh

****

Yuwen Shuang tampak gelisah di atas tempat tidur. Sudah dari lima belas menit yang lalu, ia tampak tak nyaman dengan posisi tidurnya. Ia memilih bangkit dari posisinya. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya.

“Aku tidak bisa tidur,” gumam Yuwen Shuang, pelan.

Kepalanya terasa penuh. Meskipun ia mencoba untuk tidak memikirkan semua yang terjadi padanya, tapi rasanya sulit. Rasa sakit, kecewa, dan marah itu tak bisa diabaikan begitu saja. Bayangan wajah Ayahnya, Kaisar Yuwen yang ia temui beberapa kali selama 21 tahun hidup ini. Terus mengganggu pikirannya.

Ia tak menyangka kalau Yuwen Longzhi, begitu kejam padanya. Tidak cukup membuangnya sejak bayi, tapi kini ia disuruh kembali ke Istana untuk dijadikan alat politik.

“Sungguh menyedihkan nasibmu, Yuwen Shuang!”

Gadis itu terkekeh miris meratapi nasibnya. Ia mulai turun dari ranjang, kakinya menapak pada lantai. Ia melangkah pelan ke arah pintu. Yuwen Shuang memutuskan untuk keluar kamar mencari ketenangan.

Tengah malam seperti ini ia yakin semua orang di kediaman sudah tidur.

Langkah Yuwen Shuang terhenti di ambang pintu. Ada keraguan untuk keluar, tapi pada akhirnya tangannya terulur membuka pintu perlahan agar tak menimbulkan suara.

Sepanjang koridor tampak sunyi. Lampu-lampu minyak menyala redup, bayangannya memanjang di lantai. Yuwen Shuang melangkah tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti arah angin malam yang terasa lebih sejuk dari udara kamarnya.

Ia berhenti di sebuah sudut terbuka. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa aroma dedaunan basah. Yuwen Shuang menutup mata sejenak.

‘Tenanglah,’ katanya dalam hati. 'Setidaknya untuk malam ini.'

Ia membuka mata kembali. Wajahnya sudah kembali datar, seolah semua kegelisahan tadi tak pernah singgah meski dadanya masih terasa sesak.

‘Aku sudah menjadi seorang Istri, hidupku sudah tak sebebas dulu. Aku tidak lagi tinggal di Nanjiang, di sini semua pergerakanku terbatas.’

Yuwen Shuang kembali membayangkan kehidupannya di Nanjiang. Ia merasa tenang, dan damai. Ia tak pernah merasa kesepian, berbeda dengan sekarang. Sejak dia kembali ke Ibu kota, sebulan penuh ia hanya berdiam diri di Istana. Dan 3 hari terakhir, hidupnya benar-benar hampa setelah menikah.

“Aku merindukan Nanjiang,” gumam Yuwen Shuang tanpa sadar.

“Putri, apa yang kau lakukan di sana?”

Suara berat seseorang mengejutkannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   008 || Belajar Menjadi Seorang Istri

    Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   007 || Gelisah

    Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   006 || Makan Malam Bersama

    “Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   005 || Kepulangan Zhou Fenglin

    Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   004 || Malam Yang Terpisah

    “Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl

  • Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa   003 || Malam Pertama Di Kediaman Jenderal Zhou

    “Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status