Masuk“Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”
Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan. Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu. Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah. “Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.” Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama. “Permisi, Jenderal.” Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Zhao Fenglin yang kini masih membisu di tempat. Zhao Fenglin hanya bisa menatap punggung gadis itu menjauh, dan menghilang di belokan koridor. Pria itu menghela napas dengan berat. Sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia belok ke koridor kiri, menuju kamarnya. Sedangkan Yuwen Shuang belok ke koridor kanan. Sangat berlawanan. “Gadis itu .,” gumam Zhao Fenglin pelan saat membuka pintu kamarnya. **** Langit kini sudah menggelap, kediaman keluarga Zhou mulai lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu dinyalakan di sepanjang lorong, dan para pelayan berlalu-lalang menyiapkan makan malam. Yuwen Shuang keluar dari kamarnya dengan langkah tenang. Gadis itu menggunakan hanfu sederhana, dan juga rapi. Mei’er dan Yunxi berjalan mengikutinya di sisi kiri dan kanan, menjaga jarak dengan sopan. “Putri, makan malam kali ini bersama dengan Jenderal Zhao Fenglin,” bisik Mei'er pelan. Yuwen Shuang berjalan lurus ke depan, ekspresinya tetap datar. Ia tahu malam ini berbeda dari tiga hari sebelumnya. Tiga hari terakhir, ia selalu duduk di meja makan bersama Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi. Malam ini, kursi itu tidak lagi kosong. Ia berhenti sejenak di ujung lorong, menarik napas singkat. “Aku tahu. Tapi itu tidak masalah.” Yuwen Shuang melanjutkan langkahnya, diikuti oleh kedua pelayannya. “Putri, kalau tidak nyaman kau bisa izin tidak ikut makan malam,” ucap Yunxi dengan nada khawatir. Mengingat respon Zhao Fenglin beberapa jam yang lalu, membuat Yunxi dan Mei'er mengkhawatirkan majikannya tidak nyaman nantinya. “Jangan mengkhawatirkan aku,” kata Yuwen Shuang dengan tegas. Namun, baru lima langkah ia maju, terpaksa harus kembali terhenti. Saat tujuh langkah di depan sana, Zhao Fenglin berjalan ke arahnya. Yuwen Shuang terpaku pada posisinya, saat melihat wajah suaminya tak lagi tertutup kain. Kini ia dapat melihat wajahnya yang tampan, tak seperti rumor yang ia dengar. Tidak seperti yang dikatakan oleh Selir Wei Ruyin dan juga Yuwen Liao tentang wajah buruk rupa Zhao Fenglin. “Putri, siapa pria itu?” bisik Mei'er yang baru pertama kali melihat pria asing itu. Selama tiga hari tinggal di kediaman Zhou. “Mungkin dia saudara sepupu Jenderal Zhao Fenglin,” sahut Yunxi tak kalah berbisik. “Putri Yuwen,” sapa Zhao Fenglin dengan suara berat. Yuwen Shuang tersentak kecil. Gadis itu mengalihkan pandangannya dengan cepat dari wajah Zhao Fenglin. Ia menunduk singkat, sesuai tata krama. “Jenderal Zhao.” Suaranya tenang, seolah keterkejutannya barusan tidak pernah terjadi. Mei'er dan Yunxi saling melirik dalam diam. Mereka terkejut bukan main saat mendengar panggilan majikannya pada pria itu. Zhao Fenglin berdiri beberapa langkah di hadapannya. Tatapannya masih sama seperti sebelumnya, datar. Tapi ia tak menyangka wajahnya setampan ini, tak seperti yang ia bayangkan. “Kau ingin pergi ke ruang makan?” tanya Zhao Fenglin singkat. “Iya,” jawab Yuwen Shuang tanpa ragu. “Nyonua dan Tuan sudah menunggu.” Zhao Fenglin terdiam mendengar panggilan Yuwen Shuang pada kedua orang tuanya. Sebelum akhirnya mengangguk. “Aku juga.” Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Tanpa berkata lagi, Zhao Fenglin berbalik dan melangkah lebih dulu. Yuwen Shuang mengikuti di belakangnya, menjaga jarak. Sepanjang lorong, hanya suara langkah kaki yang terdengar. Zhao Fenglin berjalan lurus ke depan, sementara Yuwen Shuang berjalan menatap lantai di depan. Sepanjang koridor hanya diisi oleh keheningan di antara mereka. ‘Aku benci berada di situasi seperti ini,’ batin Yuwen Shuang menggerutu. Mei’er dan Yunxi tertinggal beberapa langkah di belakang. Keduanya saling pandang singkat, lalu kembali menunduk. Di depan ruang makan, langkah Zhao Fenglin melambat. Ia berhenti sesaat. Langkah Yuwen Shuang ikut terhenti. Untuk sepersekian detik, ia mengira pria itu akan mengatakan sesuatu. Namun Zhao Fenglin hanya mengulurkan tangan, mendorong pintu kayu itu terbuka. “Silakan,” ucapnya singkat. Yuwen Shuang menoleh sekilas, lalu mengangguk. “Terima kasih.” Ia melangkah masuk lebih dulu. Tatapan Zhao Fenglin sempat tertahan sesaat pada punggung gadis itu, sebelum akhirnya ia ikut melangkah masuk ke ruang makan. Zhao Jianwu tersenyum saat melihat keduanya. Han Ruoxi menatap Yuwen Shuang sekilas, lalu pada putranya. “Fenglin,” ucapnya pelan. “Ini makan malam pertamamu di rumah setelah menikah.”Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia menatap lurus pada wajah Yuwen Shuang. “Aku tidak bisa tidur, dan aku mencoba keluar dari kamar untuk mencari angin,” jelas Yuwen Shuang balas menatap pria itu. Zhao Fenglin terdiam sejenak. Pandangannya bergeser singkat ke arah langit malam, lalu kembali pada Yuwen Shuang.“Sudah larut,” ucapnya akhirnya. “Udara malam tidak selalu baik.”“Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang cepat. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. “Aku tidak berniat lama.”Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Angin malam berdesir pelan, menyibakkan ujung lengan pakaian Yuwen Shuang.“Masuklah,” kata Zhao Fenglin singkat. “Masih ada hari esok.”Yuwen Shuang mengangguk. “Baik, Jenderal.”Ia melangkah pergi lebih
Yuwen Shuang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya rapi di pangkuan. Hidangan di hadapannya masih utuh, uapnya mulai menipis. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum orang-orang yang lebih tua lebih dulu menggerakkan sumpit. Di depannya, Zhao Fenglin duduk dengan sikap lurus. Pandangannya tertuju ke meja, fokus dengan hidangan di atas meja. Zhao Jianwu mengangkat sumpit lebih dulu. Han Ruoxi mengikutinya. “Silakan,” ujar Zhao Jianwu singkat. Barulah Yuwen Shuang mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit nasi, lalu lauk yang paling dekat dengannya. Gerakannya tenang, terkendali. Seolah tidak ada yang mengganjal di dadanya, seolah makan malam ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Zhao Fenglin makan dengan porsi wajar. Tidak terburu-buru, gerakannya teratur. Sejak tadi Zhao Fenglin tak sedikitpun melirik Yuwen Shuang yang duduk di hadapannya. Han Ruoxi melirik keduanya. Wanita itu menatap keduanya lama. “Putri,” panggilnya lembut. Yuwen Shuang segera menurunkan sumpit dan
“Jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang kembali, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. “Jika tidak ada urusan lain, aku akan kembali ke dalam.”Ia berdiri tegak di hadapannya, tanpa menunduk, tanpa mendekat. Jarak di antara mereka dibiarkan tetap sama seperti sejak awal. Cukup dekat untuk disebut suami istri, namun terlalu jauh untuk disebut pasangan.Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Tatapan pria itu masih tertahan di wajahnya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik ketenangannya. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan datar, tak berbeda dari saat upacara pernikahan tiga hari lalu.Yuwen Shuang menunggu. Tidak mendesak, tidak juga gelisah.“Aku tidak bermaksud mengganggumu.” Yuwen Shuang kembali membuka suara, suaranya datar dan sopan. “Aku hanya menyambut kepulanganmu sebagaimana seharusnya,” ucapnya datar. “Tidak lebih dari itu.”Yuwen Shuang menunduk singkat, sesuai tata krama.“Permisi, Jenderal.”Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Meni
Tiga hari berlalu sejak pernikahan itu, dan kediaman keluarga Zhou selalu tenang. Jenderal Zhou Jianwu dan Han Ruoxi memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Hal itu membuat Yuwen Shuang merasa dihargai, dan dianggap. Meskipun ia berusaha menepis perasaan nyaman atas sikap baik kedua mertuanya. Yuwen Shuang duduk di depan meja kecil di sisi jendela. Cahaya pagi jatuh lembut pada wajahnya, menerangi secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi. Ia tidak menyentuhnya. “Putri, tehnya sudah dingin,” ujar Mei’er pelan dari samping. “Aku tahu,” jawab Yuwen Shuang singkat. Ia menatap halaman dalam yang sepi. Selama tiga hari ini, tidak ada satu pun kabar dari Zhao Fenglin. Tidak ada pesan. Tidak ada kepulangan. Seolah pernikahan itu hanya berhenti di Aula kekaisaran. Bahkan Zhao Jianwu yang hari itu menyusul kepergian Zhao Fenglin, tak mengatakan apapun padanya. Tiga hari ini tak ada lagi yang membahas kepergian suaminya itu. Pintu kamar terbuka pelan. Yunxi masuk dengan langk
“Putri, ini kamarmu.” Suara Han Ruoxi terdengar pelan saat pintu kamar didorong terbuka. Cahaya lampu minyak langsung menyambut dari dalam ruangan yang luas dan rapi. Yuwen Shuang melangkah masuk tanpa berkata apa-apa. Matanya menyapu sekilas sekeliling kamar. Ranjang kayu besar, meja rias sederhana, tirai tipis berwarna pucat. Tidak berlebihan, namun jelas menunjukkan status keluarga Zhou sebagai bangsawan. “Jika ada yang kau perlukan malam ini, katakan pada pelayan,” lanjut Han Ruoxi. “Istirahat, Putri. Hari ini sangat melelahkan.” Yuwen Shuang mengangguk kecil. “Terima kasih, Nyonya.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Han Ruoxi menatap kerudung merah yang masih menutupi wajah menantunya. Ia ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Kau boleh melepasnya sekarang. Di sini tidak ada orang lain.” Yuwen Shuang diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Baik.” Han Ruoxi memberi isyarat pada Mei’er dan Yunxi. “Kalian tunggu di luar.” “Baik, Nyonya.” Pintu kamar ditutup perl
“Selir Wei?” kejut Yuwen Shuang saat membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan senyum tipis khasnya. Perhiasan di rambutnya berkilau tertimpa cahaya lentera. Han Ruoxi ikut berbalik. Ia membungkukkan tubuhnya dengan hormat, gestur singkat namun penuh tata krama. Mata Selir Wei Ruyin menyipit sejenak. Ia mengenali wanita itu. Ibu kandung Jenderal Zhou Fenglin. Namun keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum wajahnya kembali dihiasi ekspresi tenang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Yuwen Shuang. “Shuang’er,” ucapnya lembut, namun suaranya tajam di balik kelembutan itu. “aku tahu ini sangat berat untukmu. Ditinggalkan oleh suamimu tepat setelah upacara pernikahan … itu adalah penghinaan.” Han Ruoxi yang mendengar itu hanya mematung. Tubuhnya mendadak kaku. “Aku mengerti,” jawab Yuwen Shuang pelan. “Tapi ini sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diubah.” Selir Wei Ruyin memandangi Yuwen Shuang dengan tatapan lem







