Chapter: 125 || Permintaan Maaf Lingga Hujan baru saja reda ketika Ivander memarkirkan mobilnya di pelataran rumah. Aroma tanah basah memenuhi udara, seperti kenangan lama yang dipaksa mengapung kembali. Di ruang tamu, keheningan menggantung seperti lampu yang belum menyala. Anindya duduk di sofa, mengenakan kemeja tipis berwarna biru laut. Wajahnya tenang, tapi tatapannya jauh.Sudah dua bulan lebih pernikahan mereka. Kini dirinya dan Anindya tinggal di rumah besar dan mewah yang Ivander hadiahkan untuk Anindya. Disela kesibukannya, dia selalu rutin mengantar Anindya ke lokasi syuting. Namun, ketika pulang dia meminta tangan kanannya untuk menjemput sang istri. Nama Anindya kini terkenal, karena wanita itu memerankan film Dalam Jejak Cinta yang diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Anindya sendiri. Meskipun tidak semua orang di kota Pandora menyukai Anindya, ada banyak juga yang menghujat Anindya. Katanya, Anindya merupakan aktris dadakan. Dia memiliki orang dalam sehingga bisa langsung menggantikan peran Melani. Pad
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 124 || Keputusan Lingga"Tapi kondisi kalian cukup mengkhawatirkan," petugas polisi menimpali. "Dan lokasi kecelakaan itu perlu kami tinjau, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan." Rizhar merasakan detak jantungnya semakin cepat. Jika polisi menelusuri lebih jauh, mereka bisa menemukan jejak penculikan Ivander. Dan jika itu terjadi, Rizhar tahu masalah ini tidak akan berhenti di sini. "Kami sudah melewatinya, Pak." Lingga akhirnya berbicara, suaranya terdengar sedikit serak. "Kami hanya ingin pulang, bertemu keluarga, dan melupakan kejadian itu. Kami tidak ingin memperpanjang masalah." Petugas polisi saling bertukar pandang, tampaknya tidak puas dengan jawaban mereka. "Begini, Tuan Lingga—" "Tolong, Pak," Lingga memotong dengan suara yang lebih tegas. "Kami hanya ingin pulang." Keheningan mengisi ruangan. Marisa tampak semakin cemas. Sedangkan, Melani yang sejak tadi memperhatikan Lingga dari kejauhan melangkah mendekat. Dia terlalu syok melihat kehadiran Lingga dengan jarak satu meter di de
Last Updated: 2025-04-28
Chapter: 123 || Bertemu Marisa"Lingga, akhirnya kamu kembali, Nak!" Marisa yang melihat presensi Lingga yang melangkah memasuki kantor polisi segera berteriak dengan lantang. Dia berlari menerjang putranya dengan pelukan erat. "Astaga, Lingga!" Suaranya bergetar penuh emosi. Pelukannya begitu erat, seolah berusaha memastikan bahwa putranya benar-benar nyata berada di depannya. Seminggu tanpa kabar, seminggu penuh kecemasan yang menggerogoti hatinya setiap detiknya. Lingga meringis pelan saat pelukan sang Ibu menyentuh luka pada punggungnya. Pukulan besi yang dilayangkan oleh anak buah Ivander pada punggungnya menyisakan luka dengan rasa sakit yang luar biasa. Marisa yang mendengar Lingga meringis kesakitan. Buru-buru melepaskan pelukannya. Dia memeriksa tubuh Lingga dengan rasa khawatir dan panik yang begitu kentara. "Maaf, Mama nggak tau, Nak. Bilang sama Mama mana yang luka!" Marisa segera memeriksa seluruh tubuh Lingga. Untuk mengecek semua luka yang memenuhi tubuh putranya. Namun, dengan cepat Li
Last Updated: 2025-04-28
Chapter: 122 || Siaran Televisi"Pandora — Dunia hiburan kota Pandora kembali dihebohkan dengan kabar menghilangnya Lingga Aditama, mantan sutradara ternama yang terseret dalam skandal perselingkuhan dengan aktris papan atas, Melani Adisti." Ivander mengambil duduk di samping sang istri yang tengah fokus menatap layar televisi. "Setelah skandal mereka terungkap ke publik sebulan lalu, keduanya secara resmi dipecat dari agensi masing-masing akibat pelanggaran kontrak dan pencemaran nama baik institusi. Pemecatan tersebut langsung menjadi sorotan publik dan media hiburan." Ivander yang semula terkejut. Kini terlihat sangat santai, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya menatap istrinya dari samping, mengabaikan siaran berita pagi ini di televisi. "Namun kini, perhatian publik kembali tertuju pada kasus ini. Lingga Aditama dilaporkan menghilang sejak tujuh hari yang lalu. Keluarga menyatakan bahwa sejak pekan lalu, Lingga tidak dapat dihubungi sama sekali." Anindya menoleh pada Iva
Last Updated: 2025-04-17
Chapter: 121 || Kopi Buatan Anindya"Sayang, urusan semalam bener-bener mendadak. Jadi, mereka terpaksa hubungin aku buat bahas masalah perusahaan." Ivander mengambil duduk di samping sang istri, dia menarik pelan dagu Anindya agar menatapnya. "Udah, ya jangan marah lagi. Aku bener-bener minta maaf." Ivander membujuk Anindya dengan nada lembut, berharap istrinya akan luluh dengan bujukannya. Tidak semudah itu, Anindya masih saja kesal dengan Ivander yang meninggalkan dirinya semalaman. Entahlah, dirinya masih tidak mengerti kenapa harus sekesal ini. Padahal, tidak ada yang dirugikan sama sekali. Hanya karena dirinya menahan rasa penasaran sambil menunggu kembalinya Ivander dan berakhir ketiduran. Itu yang membuat Anindya misah-misuh sejak bangun tidur. Beruntung suaminya itu saat dirinya terbangun pagi tadi sudah berada di sisinya tengah memeluk tubuhnya dengan hangat. Jika, tidak ada Ivander di sisinya. Mungkin Anindya semakin marah besar pada Ivander. "Sayang, kita baru menikah tiga hari. Masa udah r
Last Updated: 2025-04-16
Chapter: 120 || Rasa Kesal Anindya"Kamu semalam pulang jam berapa, Ivan?" Di dalam dapur villa yang luas dan minimalis, suasana hangat dan nyaman memenuhi ruangan. Dinding kaca besar menghadap langsung ke laut, memberikan pemandangan yang sempurna untuk memulai hari. Lantai kayu berwarna terang terasa hangat saat Ivander melangkah, sementara Anindya tengah mempersiapkan sarapan di meja marmer yang mengkilap. Dapur yang dipenuhi dengan peralatan modern dan rak terbuka berisi berbagai macam rempah dan bahan makanan segar, memberikan kesan mewah namun tetap terasa santai. Di atas meja, terdapat satu cangkir kopi hitam pekat yang mengepul, aroma kopi yang khas menyebar memenuhi udara. Di sebelahnya, roti panggang yang masih hangat diletakkan di atas piring, dengan selai buah segar dan mentega yang meleleh perlahan. "Sekitar jam sepuluh. Maaf, ya kamu sampai ketiduran nungguin aku." Ivander mendekat pada sang istri. Dia mengusap surai panjang Anindya yang kini duduk di meja makan bersiap memulai sarapan paginya. Di
Last Updated: 2025-04-10
Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa
Yuwen Shuang, 21 tahun, adalah putri buangan Kekaisaran Yuwen, yang sejak bayi telah disingkirkan jauh dari istana. Saat ia dipanggil kembali, harapan yang ia rasakan segera sirna. Kepulangannya hanyalah alat Kaisar untuk memanipulasi kekuasaan. Ia dipaksa menikah dengan Zhao Fenglin, jenderal muda berwajah buruk rupa. Bukan karena cinta, tapi untuk menahan ambisi Fenglin dan memastikan ketaatannya pada Kekaisaran.
Di balik pernikahan paksa itu, intrik istana terus mengintai saudaranya yang iri, selir yang licik, dan rahasia masa lalu yang menakutkan. Sementara itu, Fenglin sendiri membawa identitas tersembunyi dan dendam yang membara, membuat Yuwen Shuang harus berhati-hati setiap langkahnya.
Bisakah Yuwen Shuang bertahan di tengah permainan kekuasaan, rahasia yang mematikan, dan pernikahan yang tidak ia pilih? Ataukah ia akan menjadi pion Kaisar dalam pertarungan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri?
Read
Chapter: 192 || Kembali Ke Ibu KotaBerbaliklah Zhao Fenglin dari jembatan batu itu. Langkahnya tetap tenang, tetapi Wei Chen dapat merasakan perubahan pada pria di sampingnya. Selama bertahun-tahun mereka bertempur bersama, ia tahu satu hal. Semakin tenang Zhao Fenglin terlihat, semakin besar badai yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.Kabut malam perlahan menelan cahaya obor pasukan kekaisaran. Di belakang mereka, suara derap kaki kuda Lu Dehai semakin menjauh hingga akhirnya menghilang bersama embusan angin.Beberapa saat kemudian, Wei Chen akhirnya memecah keheningan."Jenderal, apakah kau mempercayai ucapannya?"Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering."Tidak sepenuhnya.""Lalu kita tetap kembali?" tanyanya lagi. "Kita memang harus kembali."Wei Chen menghela napas pelan. "Padahal bisa saja itu jebakan.""Memang jebakan."Jawaban Zhao Fenglin begitu tenang hingga membuat Wei Chen terdiam."Tapi jebakan itu memang ditujukan agar aku masuk ke
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: 191 || Nasihat Kasim Lu DehaiSuasana di atas jembatan batu kembali membeku. Bahkan desir angin yang berembus dari permukaan sungai terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Wei Chen memperhatikan perubahan wajah Lu Dehai tanpa berkedip. Selama bertahun-tahun menjadi kasim kepercayaan Kaisar, pria tua itu hampir tidak pernah memperlihatkan emosinya di depan orang lain. Namun kini, raut wajahnya jelas berubah.Zhao Fenglin tetap berdiri tenang. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Lu Dehai."Apa yang terjadi?"Lu Dehai tidak langsung menjawab. Ia melipat kembali gulungan titah di tangannya sebelum menghela napas pelan."Baru saja datang laporan dari ibu kota."Tatapan Zhao Fenglin semakin dalam. "Laporan apa?"Kasim tua itu sempat terdiam beberapa saat, seolah sedang memilih kata yang paling tepat. Setelah itu, ia berkata dengan suara datar."Baginda memerintahkan seluruh pasukan yang mengepung Heishan untuk ditarik besok pagi."Wei Chen langsung mengernyit. Perintah itu terlalu mendadak.Bahkan Zh
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: 190 || Titah KekaisaranKeheningan di atas jembatan batu bertahan beberapa saat. Angin malam terus berembus membawa kabut tipis dari permukaan sungai, membuat obor-obor di kejauhan tampak bergetar seperti lautan api yang tak berujung. Tak seorang pun bergerak lebih dulu. Bahkan pengawal di belakang Lu Dehai tetap berdiri tegak tanpa mengubah posisi, seolah memahami bahwa percakapan malam ini jauh lebih berbahaya daripada sebuah pertempuran.Lu Dehai akhirnya mengembuskan napas pelan. Sorot matanya masih tertuju pada Zhao Fenglin, meneliti wajah pucat yang seharusnya sudah tak bernyawa itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir kasim tua tersebut perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Tampaknya," ucap Lu Dehai tenang, "rumor yang beredar di ibu kota memang tidak selalu bisa dipercaya."Zhao Fenglin tidak membalas senyumnya. Tatapannya tetap datar, sementara tubuhnya berdiri tegak meski napasnya terdengar sedikit berat."Kalau hanya untuk memastikan aku masih hidup," katanya pelan, "kau sudah mendapatkan jaw
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: 189 || Kasim Lu DehaiRuangan menjadi sunyi setelah kalimat Zhao Fenglin selesai. Api tungku berderak pelan di sudut rumah kayu, sementara angin dingin dari celah jendela membawa aroma asap dan darah yang masih tersisa dari pertempuran sebelumnya. Tatapan semua orang tertuju pada Zhao Fenglin. Karena mereka tahu, pria itu benar. Jika istana mengirim seorang kasim alih-alih langsung menyerbu bersama tiga ribu pasukan, berarti ada sesuatu yang berubah.Wei Chen menyipitkan mata."Menurutmu apa tujuan mereka?"Zhao Fenglin bersandar pelan pada sandaran ranjang. Wajahnya masih pucat karena demam, tetapi sorot matanya tetap tenang."Mereka ingin memastikan sesuatu."Lu Yan mengernyit. "Memastikan apa?""Aku."Ruangan kembali hening.Tatapan Zhao Fenglin jatuh ke arah jendela yang gelap. "Kalau mereka benar-benar yakin aku sekarat, mereka tidak perlu mengirim utusan."Shen Yu yang sejak tadi bersandar di dinding menyeringai tipis. "Jadi mereka takut.""Bukan takut padaku." Suara Zhao Fenglin terdengar pelan. "M
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 188 || Menemui Permaisuri WeiYuwen Zhen langsung mengerutkan kening. Wajah tenangnya yang sejak tadi hampir tidak berubah kini menunjukkan sedikit ketegangan. "Di mana kurir itu sekarang?" "Sudah diamankan oleh pengawal Gerbang Barat, Yang Mulia," jawab kasim itu cepat. "Kementerian Pengawasan telah menerima laporan dan mengirim orang untuk menginterogasinya." Tatapan Putra Mahkota langsung berubah lebih dalam. "Siapa yang pertama kali membaca surat itu?" "Kepala penjaga gerbang, Yang Mulia." Kasim itu menunduk lebih rendah. "Namun sebelum surat disegel kembali, beberapa orang sudah melihat isinya." Yuwen Zhen terdiam sejenak. Ia tahu apa artinya. Kabar itu akan menyebar jauh lebih cepat daripada yang bisa dikendalikan istana. Di sampingnya, Yuwen Shuang perlahan menurunkan pandangan. Jemarinya yang berada di bawah meja mengepal pelan di balik lengan baju. Masih hidup. Pikiran itu terus terulang di kepalanya. Meski belum ada bukti pasti, secercah harapan yang selama ini berusaha ia tekan
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 187 || Surat Yuwen Shuang berdiri cukup lama di koridor setelah sidang berakhir. Angin pagi membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, namun pikirannya jauh lebih dingin daripada cuaca hari itu. Ia memahami satu hal dengan sangat jelas. Sidang tadi bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk melihat siapa saja yang masih berani berdiri di pihak Zhao Fenglin. Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. "Putri Kedua." Yuwen Shuang menoleh. Seorang kasim tua berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenali pria itu sebagai pelayan yang sering bertugas di sekitar kediaman Putra Mahkota. Wajah pria itu tampak hormat, tetapi juga sedikit gugup. "Ada apa?" tanyanya. Kasim itu membungkuk lebih rendah. "Yang Mulia Putra Mahkota ingin berbicara dengan Putri." Mata Yuwen Shuang sedikit menyipit. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, namun rasa waspada kembali muncul. Sejak kembali ke istana, ini adalah pertama kalinya Yuwen Zhen secara pribadi meminta bertemu dengannya. "Di mana?" "Di Paviliu
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 063 || EdmundAdrian akhirnya mengangkat wajahnya. "Perusahaan milik keluarga Morcant."Daisy tidak langsung bereaksi.Nama itu seperti menghantamnya lebih keras daripada yang seharusnya. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Adrian tanpa berkedip. Kemudian pandangannya perlahan beralih kepada layar yang masih menampilkan mobil hitam tersebut.Keluarga Morcant.Selena.Daisy mengepalkan tangannya di sisi tubuh."Jadi mobil itu milik keluarganya?" tanya Morgan.Adrian mengangguk. "Terdaftar atas nama salah satu perusahaan keluarga Morcant. Tapi kendaraan ini bukan kendaraan yang biasa dipakai Selena.""Siapa yang biasa pakai?" tanya Lucian.Adrian kembali melihat data di ponselnya. "Kami masih mencari informasi lengkapnya. Data kendaraan lama ini tidak langsung terhubung dengan nama pribadi."Lucian menatap layar. "Tapi mobil itu dipakai untuk membawa Daisy.""Benar."Daisy masih tidak mengatakan apa-apa.Pikirannya kembali pada malam enam tahun lalu. Pada Selena yang datang menghampirinya. Pada p
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: 062 || Keluarga MorcantDaisy masih berdiri di tempatnya. Kalimat yang baru saja muncul dalam ingatannya.Selena tidak datang sendirian malam itu.Daisy menekan kedua tangannya ke sisi kepala. Napasnya mulai tidak teratur. Ia bisa melihat lampu-lampu terang dari ruang acara. Mendengar suara musik yang bercampur dengan tawa para tamu. Mencium aroma parfum yang memenuhi udara. Semua terasa begitu dekat, tetapi juga begitu jauh."Dia siapa?" tanya Morgan dengan suara hati-hati.Daisy tidak menjawab.Lucian segera mendekatinya. "Daisy.""Aku nggak tahu."Jawaban itu keluar begitu cepat hingga membuat Lucian terdiam.Daisy memejamkan mata. "Aku nggak tahu siapa pria itu.""Jangan dipaksa mengingat semuanya sekarang," kata Lucian.Daisy langsung membuka mata dan menatapnya. "Tapi aku tahu dia ada di sana.""Gimana kamu bisa yakin?""Karena aku ingat itu, Lucian! Aku inget jelas banget!" Suaranya bergetar. Daisy menelan ludah, lalu berusaha menyusun kembali potongan ingatan yang terus muncul secara acak di kepalan
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 061 || Ingagan DaisyDaisy menatap foto itu cukup lama. Wajah Selena terlihat jelas di dalamnya, sedang berdiri di depan sebuah kafe yang tidak dikenalnya. Rambut wanita itu tergerai di atas bahu, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya. Tidak ada yang aneh dari foto tersebut jika dilihat sekilas. Selena hanya terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu atau baru saja bertemu dengan orang lain.Namun perhatian Daisy tidak tertuju pada Selena.Melainkan pada pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.Wajah pria itu memang tidak sepenuhnya terlihat karena sebagian tertutup bayangan, tetapi bentuk rahangnya, postur tubuhnya, dan cara berdirinya membuat Daisy langsung mengenali sosok yang selama enam tahun hanya hidup dalam potongan ingatannya.Pria yang sama.Pria yang berada di lorong hotel malam itu."Ini ...." Suara Daisy tertahan di tenggorokannya.Lucian segera mengambil ponselnya kembali. "Adrian, kirim foto ini ke tim. Aku mau identitas pria itu ditemukan secepat mungkin."Adrian mengang
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: 061 || Mantan KekasihDaisy menatap Adrian tanpa berkedip. Selama beberapa detik, ia bahkan tidak mampu memahami apa yang baru saja didengarnya. Selena. Nama itu terus berputar di kepalanya, bercampur dengan gambaran sahabat yang selama bertahun-tahun selalu berada di sisinya. Wanita yang memeluknya ketika ia menangis. Wanita yang menemaninya melewati masa-masa paling gelap dalam hidupnya. Wanita yang bahkan masih ia percaya hingga beberapa minggu lalu."Selena?" suara Daisy akhirnya keluar, begitu pelan hingga hampir terdengar seperti bisikan.Adrian mengangguk. "Kami baru saja mendapatkan rekaman dari server lama hotel. Sebagian besar data sudah rusak, tapi rekaman dari kamera di lorong masih bisa dipulihkan."Lucian langsung mengulurkan tangannya. "Tunjukkan."Adrian menyerahkan ponselnya. Lucian menekan layar, lalu rekaman mulai diputar. Gambar yang muncul tampak buram dan dipenuhi garis-garis gangguan. Namun sosok wanita yang berjalan di lorong hotel masih terlihat cukup jelas.Daisy langsung mengenal
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: 060 || Selena Morcant?Kalimat terakhir itu membuat Daisy seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas. Tatapannya terpaku pada Lucian, tetapi pikirannya sudah kembali pada malam enam tahun lalu. Malam yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur sedalam mungkin. Malam yang selalu muncul dalam bentuk potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap, suara-suara samar, dan rasa takut yang tidak pernah benar-benar bisa ia jelaskan."Foto aku?" suara Daisy terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk membuat Morgan menoleh kepadanya.Lucian mengangguk. "Mereka belum menjelaskan foto seperti apa.""Ambil amplopnya," perintah Morgan kepada anggota keamanan melalui alat komunikasinya. "Jangan sentuh bagian dalamnya sebelum diperiksa.""Sudah kami amankan, Pak."Lucian menatap Daisy. "Kamu tidak perlu melihatnya sekarang."Daisy langsung menggeleng. Jemarinya yang menggenggam tangan Evelyn semakin erat. "Aku harus lihat.""Daisy.""Kalau seseorang sengaja meninggalkan foto itu, berarti dia ingin aku melihatnya." Daisy meng
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: 059 || Pria Misterius"Foto Evelyn."Dua kata itu membuat Daisy langsung menegang. Wajahnya yang sejak tadi pucat seketika berubah semakin dingin. Ia menoleh ke arah Lucian, lalu tanpa sadar menarik Evelyn lebih dekat ke tubuhnya. Gadis kecil itu masih berdiri di sampingnya dengan wajah bingung, sama sekali tidak memahami mengapa semua orang tiba-tiba terdiam.Lucian segera mengangkat alat komunikasinya. "Jangan sentuh foto itu. Amankan seluruh area koridor timur dan periksa semua kamera di sekitar sana.""Baik, Pak," jawab salah satu anggota keamanan dari seberang.Morgan menatap Lucian dengan serius. "Foto Evelyn yang mana?""Belum tahu.""Kalau dia sengaja meninggalkan foto itu, berarti dia memang ingin kita menemukannya."Lucian tidak langsung menjawab. Ia berbalik kepada Adrian. "Bawa aku ke sana."Adrian mengangguk dan segera memimpin jalan. Morgan ikut menyusul, tetapi sebelum meninggalkan ruangan, ia menoleh kepada Daisy."Kamu tetap di sini."Daisy langsung menggeleng. "Nggak. Aku mau lihat.""Dai
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: 189 || Ending Langit mulai berubah warna ketika mobil Sagara berhenti di tepi pantai yang sepi. Ombak bergulung tenang, menyapu pasir seperti napas panjang yang dilepaskan bumi. Matahari belum benar-benar tenggelam, menyisakan semburat oranye di ufuk barat. Viana turun perlahan dari mobil, mengangkat sedikit kebaya putihnya agar tak terkena pasir. High heels-nya ia lepas, diganti dengan langkah ragu-ragu yang menciptakan jejak di pasir basah. “Aku enggak nyangka kamu beneran bawa aku ke sini,” katanya lirih, menoleh ke belakang saat Sagara ikut menyusul dengan tangan dimasukkan ke saku celananya. Cowok itu hanya mengangkat bahu, senyum kecil di ujung bibirnya. Jas abu-abu yang ia kenakan masih rapi, meski dasinya sudah longgar. “Katanya kamu pengen sesuatu yang nggak rame. Cuma berdua,” jawab Sagara, lalu menoleh ke laut. “Ya ini, pantai paling ujung di Swinden. Sepi, tenang, enggak ada orang.” "Dulu kita pernah ke sini, sepulang sekolah. Ya, cuma buat hibur kamu yang lagi sedih setelah tau per
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 188 || Foto BersamaViana mengangkat wajahnya pada cahaya matahari siang yang begitu terik. Angin membawa sisa harum bunga dari bangku kosong tadi, mengaduk-aduk dadanya—tapi kini tak lagi perih. Lebih ke hangat. Seperti pelukan seseorang yang lama ditunggu, lalu akhirnya datang, bukan untuk menenangkan, tapi untuk menyertai.“Viana, Sayang!” panggil sebuah suara dari kejauhan.Arthur.Pria itu melambai ke arahnya, berdiri tak jauh dari Alesha yang sedang mengelus perutnya yang membuncit. Senyum Alesha terlihat lembut, wajahnya bersinar karena cahaya matahari.Dengan langkah perlahan, Viana mendekat ke arah ayah dan ibu tirinya. Satu tahun lalu, bahkan satu bulan lalu, rasanya tak mungkin ia akan berdiri di sini, dengan hati yang ringan. Tapi waktu dan luka membentuk ruang baru di dalam dirinya—ruang yang tak diisi oleh dendam, tapi oleh pengertian.“Ayo, kita foto, Sayang!” ajak Arthur pelan.Viana mengangguk. “Ayo, Pa.”Alesha berjalan lebih dekat, tampak canggung. Ia menatap Viana sejenak, lalu berkat
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 187 || Mengenang SatyaUsai upacara, langit berubah keemasan. Mentari menggantung lebih rendah, menyelimuti halaman SMA Galaksi dalam cahaya hangat yang temaram.Orang-orang mulai menyebar. Ada yang sibuk berfoto, ada yang tertawa—bahkan menangis bahagia. Balon-balon putih dan emas dilepas ke langit, perlahan menjauh dari jangkauan. Tapi di satu sudut, waktu seakan berhenti.Viana berdiri di bawah pohon trembesi, mendongak menatap balon-balon yang menjauh. Di tangannya tergenggam erat selembar surat kelulusan, tapi hatinya terasa berat. Ada sesuatu yang belum selesai.Sagara berjalan menghampiri, diam-diam berdiri di sisinya. Tak ada kata. Hanya tatapan panjang ke langit, ke arah balon yang makin tinggi—satu di antaranya tersangkut di dahan pohon. Menggantung. Tak ikut terbang.“Kayak Satya ya,” gumam Viana, lirih.Sagara mengangguk pelan. “Dia nggak pernah benar-benar pergi.”Viana menunduk. “Aku masih ingat suara teriakannya waktu hari itu pas dia nyuruh aku pergi. Masih terngiang. Kadang muncul waktu aku
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 186 || Hari KelulusanHari berganti hari, Minggu berganti Minggu, begitupun bulan berganti bulan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari kelulusan telah tiba.Langit pagi membentang biru lembut di atas gedung megah SMA Galaksi, sekolah swasta elite yang hari ini penuh dengan wajah-wajah berseri dan mata-mata yang sembab karena haru. Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran, menandai kedatangan para orang tua yang bangga dan siap menyaksikan momen penting anak-anak mereka.Di antara kerumunan yang berdiri di bawah naungan pohon trembesi tua, Viana berdiri dengan anggun mengenakan kebaya putih gading yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan siluet sederhana tapi elegan. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi jepit mutiara kecil yang berkilau saat cahaya matahari menyapunya. Wajahnya yang biasanya kuat kini tampak tenang, dengan senyum kecil yang menggantung di sudut bibir.Sagara berdiri tak jauh darinya, mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan dasi warna burgundy. Tatapannya sesekali mel
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 185 || Memulai KembaliMobil melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Di kaca belakang, cahaya lampu rumah masih terlihat, begitu pula dua bayangan orang dewasa yang berdiri terpaku di depan garasi, diterpa angin malam yang dingin dan bisu."Papa nolak buat ceraikan Tante Alesha." Viana tertawa pelan, penuh luka. "Nggak ada cara lain selain nerima keberadaan Tante Alesha dalam hidup aku."Viana menoleh pada Sagara yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Saat ini tujuan mereka apartemen. Apartemen yang kata Sagara, menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah. "Aku senang kamu dengerin nasihat aku buat maafin mereka. Mereka orang tua kamu sekarang, meskipun kamu masih nggak bisa nganggep Tante Alesha sebagai Mama kamu. Tapi ingat kasih sayang yang selalu Tante Alesha curahkan ke kamu, Viana!" Sagara menggenggam tangan Viana dengan lembut, dan hangat. Tangan yang sudah lama tidak dia genggam, bahkan terasa sangat jauh dari jangkauannya. Viana tersenyum lebar. "Makasih ya, Sagara. Kam
Last Updated: 2025-07-27
Chapter: 184 || Damai"Viana!"Suara itu memecah keheningan malam yang bergantung di antara lampu-lampu taman rumah besar bergaya Eropa. Viana baru saja membuka pintu mobil ketika suara Arthur menggema, membuat langkahnya terhenti. Tangannya masih menggenggam handle pintu, tapi tubuhnya membeku di tempat. Matanya memejam sesaat, mencoba menahan semua rasa yang mengendap sejak tadi.Arthur mendekat. Kemeja putihnya tampak kusut, dasi tergantung longgar di leher. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh ketegangan. Di belakangnya, Alesha berdiri beberapa langkah, memeluk tas kerja ke dadanya, sementara Sagara berdiri di sisi mobil, menyandarkan punggung ke pintu dengan lengan terlipat."Viana, dengar dulu Papa minta maaf."Suara Arthur serak. Bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang sudah lama menyesak. Matanya memohon. Bukan seperti tatapan seorang ayah yang memarahi anaknya. Tapi seperti seseorang yang akhirnya menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan, dan seberapa besar luka yang telah dibiar
Last Updated: 2025-07-27