Chapter: 125 || Permintaan Maaf Lingga Hujan baru saja reda ketika Ivander memarkirkan mobilnya di pelataran rumah. Aroma tanah basah memenuhi udara, seperti kenangan lama yang dipaksa mengapung kembali. Di ruang tamu, keheningan menggantung seperti lampu yang belum menyala. Anindya duduk di sofa, mengenakan kemeja tipis berwarna biru laut. Wajahnya tenang, tapi tatapannya jauh.Sudah dua bulan lebih pernikahan mereka. Kini dirinya dan Anindya tinggal di rumah besar dan mewah yang Ivander hadiahkan untuk Anindya. Disela kesibukannya, dia selalu rutin mengantar Anindya ke lokasi syuting. Namun, ketika pulang dia meminta tangan kanannya untuk menjemput sang istri. Nama Anindya kini terkenal, karena wanita itu memerankan film Dalam Jejak Cinta yang diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Anindya sendiri. Meskipun tidak semua orang di kota Pandora menyukai Anindya, ada banyak juga yang menghujat Anindya. Katanya, Anindya merupakan aktris dadakan. Dia memiliki orang dalam sehingga bisa langsung menggantikan peran Melani. Pad
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 124 || Keputusan Lingga"Tapi kondisi kalian cukup mengkhawatirkan," petugas polisi menimpali. "Dan lokasi kecelakaan itu perlu kami tinjau, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan." Rizhar merasakan detak jantungnya semakin cepat. Jika polisi menelusuri lebih jauh, mereka bisa menemukan jejak penculikan Ivander. Dan jika itu terjadi, Rizhar tahu masalah ini tidak akan berhenti di sini. "Kami sudah melewatinya, Pak." Lingga akhirnya berbicara, suaranya terdengar sedikit serak. "Kami hanya ingin pulang, bertemu keluarga, dan melupakan kejadian itu. Kami tidak ingin memperpanjang masalah." Petugas polisi saling bertukar pandang, tampaknya tidak puas dengan jawaban mereka. "Begini, Tuan Lingga—" "Tolong, Pak," Lingga memotong dengan suara yang lebih tegas. "Kami hanya ingin pulang." Keheningan mengisi ruangan. Marisa tampak semakin cemas. Sedangkan, Melani yang sejak tadi memperhatikan Lingga dari kejauhan melangkah mendekat. Dia terlalu syok melihat kehadiran Lingga dengan jarak satu meter di de
Last Updated: 2025-04-28
Chapter: 123 || Bertemu Marisa"Lingga, akhirnya kamu kembali, Nak!" Marisa yang melihat presensi Lingga yang melangkah memasuki kantor polisi segera berteriak dengan lantang. Dia berlari menerjang putranya dengan pelukan erat. "Astaga, Lingga!" Suaranya bergetar penuh emosi. Pelukannya begitu erat, seolah berusaha memastikan bahwa putranya benar-benar nyata berada di depannya. Seminggu tanpa kabar, seminggu penuh kecemasan yang menggerogoti hatinya setiap detiknya. Lingga meringis pelan saat pelukan sang Ibu menyentuh luka pada punggungnya. Pukulan besi yang dilayangkan oleh anak buah Ivander pada punggungnya menyisakan luka dengan rasa sakit yang luar biasa. Marisa yang mendengar Lingga meringis kesakitan. Buru-buru melepaskan pelukannya. Dia memeriksa tubuh Lingga dengan rasa khawatir dan panik yang begitu kentara. "Maaf, Mama nggak tau, Nak. Bilang sama Mama mana yang luka!" Marisa segera memeriksa seluruh tubuh Lingga. Untuk mengecek semua luka yang memenuhi tubuh putranya. Namun, dengan cepat Li
Last Updated: 2025-04-28
Chapter: 122 || Siaran Televisi"Pandora — Dunia hiburan kota Pandora kembali dihebohkan dengan kabar menghilangnya Lingga Aditama, mantan sutradara ternama yang terseret dalam skandal perselingkuhan dengan aktris papan atas, Melani Adisti." Ivander mengambil duduk di samping sang istri yang tengah fokus menatap layar televisi. "Setelah skandal mereka terungkap ke publik sebulan lalu, keduanya secara resmi dipecat dari agensi masing-masing akibat pelanggaran kontrak dan pencemaran nama baik institusi. Pemecatan tersebut langsung menjadi sorotan publik dan media hiburan." Ivander yang semula terkejut. Kini terlihat sangat santai, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya menatap istrinya dari samping, mengabaikan siaran berita pagi ini di televisi. "Namun kini, perhatian publik kembali tertuju pada kasus ini. Lingga Aditama dilaporkan menghilang sejak tujuh hari yang lalu. Keluarga menyatakan bahwa sejak pekan lalu, Lingga tidak dapat dihubungi sama sekali." Anindya menoleh pada Iva
Last Updated: 2025-04-17
Chapter: 121 || Kopi Buatan Anindya"Sayang, urusan semalam bener-bener mendadak. Jadi, mereka terpaksa hubungin aku buat bahas masalah perusahaan." Ivander mengambil duduk di samping sang istri, dia menarik pelan dagu Anindya agar menatapnya. "Udah, ya jangan marah lagi. Aku bener-bener minta maaf." Ivander membujuk Anindya dengan nada lembut, berharap istrinya akan luluh dengan bujukannya. Tidak semudah itu, Anindya masih saja kesal dengan Ivander yang meninggalkan dirinya semalaman. Entahlah, dirinya masih tidak mengerti kenapa harus sekesal ini. Padahal, tidak ada yang dirugikan sama sekali. Hanya karena dirinya menahan rasa penasaran sambil menunggu kembalinya Ivander dan berakhir ketiduran. Itu yang membuat Anindya misah-misuh sejak bangun tidur. Beruntung suaminya itu saat dirinya terbangun pagi tadi sudah berada di sisinya tengah memeluk tubuhnya dengan hangat. Jika, tidak ada Ivander di sisinya. Mungkin Anindya semakin marah besar pada Ivander. "Sayang, kita baru menikah tiga hari. Masa udah r
Last Updated: 2025-04-16
Chapter: 120 || Rasa Kesal Anindya"Kamu semalam pulang jam berapa, Ivan?" Di dalam dapur villa yang luas dan minimalis, suasana hangat dan nyaman memenuhi ruangan. Dinding kaca besar menghadap langsung ke laut, memberikan pemandangan yang sempurna untuk memulai hari. Lantai kayu berwarna terang terasa hangat saat Ivander melangkah, sementara Anindya tengah mempersiapkan sarapan di meja marmer yang mengkilap. Dapur yang dipenuhi dengan peralatan modern dan rak terbuka berisi berbagai macam rempah dan bahan makanan segar, memberikan kesan mewah namun tetap terasa santai. Di atas meja, terdapat satu cangkir kopi hitam pekat yang mengepul, aroma kopi yang khas menyebar memenuhi udara. Di sebelahnya, roti panggang yang masih hangat diletakkan di atas piring, dengan selai buah segar dan mentega yang meleleh perlahan. "Sekitar jam sepuluh. Maaf, ya kamu sampai ketiduran nungguin aku." Ivander mendekat pada sang istri. Dia mengusap surai panjang Anindya yang kini duduk di meja makan bersiap memulai sarapan paginya. Di
Last Updated: 2025-04-10
Menjadi Istri Sang Jenderal Buruk Rupa
Yuwen Shuang, 21 tahun, adalah putri buangan Kekaisaran Yuwen, yang sejak bayi telah disingkirkan jauh dari istana. Saat ia dipanggil kembali, harapan yang ia rasakan segera sirna. Kepulangannya hanyalah alat Kaisar untuk memanipulasi kekuasaan. Ia dipaksa menikah dengan Zhao Fenglin, jenderal muda berwajah buruk rupa. Bukan karena cinta, tapi untuk menahan ambisi Fenglin dan memastikan ketaatannya pada Kekaisaran.
Di balik pernikahan paksa itu, intrik istana terus mengintai saudaranya yang iri, selir yang licik, dan rahasia masa lalu yang menakutkan. Sementara itu, Fenglin sendiri membawa identitas tersembunyi dan dendam yang membara, membuat Yuwen Shuang harus berhati-hati setiap langkahnya.
Bisakah Yuwen Shuang bertahan di tengah permainan kekuasaan, rahasia yang mematikan, dan pernikahan yang tidak ia pilih? Ataukah ia akan menjadi pion Kaisar dalam pertarungan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri?
Read
Chapter: 182 || Titah KaisarHujan masih turun tipis saat Yuwen Shuang melangkah keluar dari kamar Zhao Fenglin. Angin malam yang dingin menyapu ujung lengan bajunya. Lentera-lentera di sepanjang koridor bergoyang pelan, menciptakan bayangan samar di lantai batu yang basah.Mei'er dan Yunxi mengikuti beberapa langkah di belakang.Tak ada yang berbicara. Karena semua orang merasakan hal yang sama.Kasim pribadi Kaisar datang ke kediaman keluarga Zhao di tengah malam.Itu bukan pertanda baik.Semakin dekat ke aula utama, langkah Yuwen Shuang justru semakin tenang.Air mata yang tadi masih memenuhi matanya perlahan menghilang.Digantikan kewaspadaa.Saat tiba di depan aula, ia langsung melihat beberapa penjaga keluarga Zhao berdiri di luar dengan wajah tegang.Pintu aula terbuka. Cahaya lampu menerangi ruangan yang luas itu.Han Ruoxi sudah berada di dalam. Wajah wanita itu tampak pucat, namun punggungnya tetap tegak.Di hadapannya berdiri seorang pria tua berpakaian kasim istana. Rambutnya sudah memutih sebagian.W
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: 181 || Tamu Dari IstanaMalam itu terasa sangat panjang. Hujan tipis masih turun di luar jendela, membasahi halaman keluarga Zhao yang sunyi. Lampu-lampu lentera bergoyang pelan diterpa angin, menciptakan bayangan samar di sepanjang koridor.Yuwen Shuang tidak kembali ke kamarnya. Ia tetap duduk di kamar Zhao Fenglin. Kamar yang selama ini hampir tidak pernah ia masuki.Di sini tidak banyak barang mewah. Tidak ada lukisan mahal atau perhiasan seperti yang biasa ditemukan di kediaman bangsawan ibu kota.Kamar ini tidak begitu banyak perabotan. Karena kamar pribadi, dan ruang kerja dipisah. Dan Zhao Fenglin lebih banyak menghabiskan waktu di ruang belajar yang sering ia datangi untuk menghampiri pria itu. Namun entah sejak kapan, saat memikirkan Zhao Fenglin, yang pertama kali muncul di benaknya bukan lagi wajah dingin pria itu.Melainkan hal-hal kecil yang selama ini tak pernah ia perhatikan.Mangkuk bubur hangat yang selalu muncul saat ia sakit. Payung yang diam-diam diberikan saat hujan. Dan sosok tinggi y
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: 180 || Zhao Fenglin Masih HidupSehari telah berlalu sejak surat terakhir dari Wei Chen tiba. Namun tidak ada kabar baru setelah itu.Dan justru itulah yang paling menyiksa.Tak ada satupun bintang yang menghiasi gelapanya langit. Hanya angin dingin berembus pelan melewati halaman kediaman keluarga Zhao, menggoyangkan ranting-ranting pohon plum yang mulai kehilangan daunnya.Yuwen Shuang duduk diam di dekat jendela.Matanya memandang ke luar, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Semalaman ia tidak tidur. Dan siapa pun bisa melihatnya.Mata indah yang biasanya tenang kini sembab dan kemerahan. Wajahnya pucat. Bahkan teh hangat di sampingnya sudah dingin tanpa pernah disentuh.Mei'er berdiri tidak jauh darinya dengan wajah khawatir.“Putri ... makan sedikit saja.”Tak ada jawaban.Yunxi yang baru masuk ke ruangan membawa semangkuk bubur hangat juga hanya bisa menghela napas.“Kalau Jenderal Zhao melihat keadaan Putri sekarang, dia pasti marah.”Kalimat itu akhirnya membuat bulu mata Yuwen Shuang bergerak
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: 179 || Kasim Istana Panji kekaisaran utama. Itu bukan sesuatu yang bisa dibawa sembarang pasukan. Hanya tentara yang bergerak atas nama langsung istana yang berhak menggunakannya. Dan itu berarti satu hal, Kaisar sudah turun tangan. Gu Liang mengumpat pelan. “Bajingan tua itu benar-benar ingin membunuhmu.” Tak ada yang membantah. Karena sekarang semuanya sudah terlalu jelas. Penyerangan di gunung. Kelompok bertopeng. Huo Ren. Pengkhianat di Pasukan Barat. Dan kini pasukan resmi ibu kota. Semuanya mengarah pada satu tujuan yang sama. Zhao Fenglin harus mati. Lu Yan mengepalkan tangannya kuat. “Otak mereka sudah rusak.” Tatapannya berubah dingin. “Mereka lebih takut pada jenderal yang menjaga perbatasan daripada musuh yang sebenarnya.” Wei Chen berdiri diam beberapa saat. Lalu akhirnya menoleh pada penjaga tadi. “Berapa jauh?” “Kurang dari lima li.” Wajah Kepala Desa langsung mengeras. “Cepat sekali.” Pria tua pemburu mendecih. “Mereka pasti bergerak sepanjang malam.”
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: 178 || Pilihan Sulit“Bertambah?” tanya Wei Chen dengan ekspedisi wajah berubah.Penjaga Heishan mengangguk cepat.“Pasukan baru datang dari arah timur. Jumlahnya belum jelas karena kabut terlalu tebal, tapi pengintai melihat banyak obor.”Gu Liang langsung mengumpat pelan. “Mereka mau perang penuh sekarang?”Lu Yan menyipitkan mata tajam.“Huo Ren tidak mungkin bergerak sebesar itu tanpa izin istana.”“Artinya istana memang ingin menyelesaikan semuanya malam ini,” sambung Shen Yu santai.Namun sorot matanya jauh lebih dingin dibanding nada suaranya.Tabib tua langsung berdiri sambil menunjuk Zhao Fenglin.“Aku tidak peduli siapa yang datang. Dia tidak boleh keluar dari ruangan ini.”“Kalau mereka menyerbu lagi, seluruh desa akan hancur,” balas Lu Yan dingin.“Dan kalau dia mati sekarang, kalian semua bisa langsung bunuh diri bersama.”Suasana kembali menegang.Di atas ranjang, Zhao Fenglin memejamkan mata beberapa detik.Kepalanya terasa semakin berat.Demam membuat pendengarannya mulai berdengung samar,
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 177 || Pasukan Istana Semakin BertambahRuangan tetap sunyi setelah kalimat itu keluar dari mulut Zhao Fenglin. Bahkan api tungku seolah terdengar lebih pelan.Lin Shao masih berlutut di lantai dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat tekanan dari ruangan itu semakin menyesakkan.Karena semua orang tahu. Saat Zhao Fenglin berkata akan membunuh seseorang, itu bukan ancaman kosong.Wei Chen akhirnya menarik napas pelan.“Kita harus bergerak lebih cepat dari istana.”Lu Yan mengangguk dingin.“Kalau Xu Guang sudah kembali ke ibu kota, kemungkinan besar mereka sedang menyusun langkah berikutnya.”Shen Yu menyeringai tipis dari sudut ruangan.“Atau mungkin mereka sedang merayakan kematian Jenderal Zhao.”Tatapan Zhao Fenglin turun perlahan.Kematian.Seluruh ibu kota pasti sudah mendengar kabar itu sekarang.Mungkin aula istana sudah dipenuhi ucapan belasungkawa palsu. Para pejabat yang selama ini takut padanya mungkin sedang bernapas lega.Dan di antara semua itu...Yuwen Shuang pasti juga sudah mend
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: 189 || Ending Langit mulai berubah warna ketika mobil Sagara berhenti di tepi pantai yang sepi. Ombak bergulung tenang, menyapu pasir seperti napas panjang yang dilepaskan bumi. Matahari belum benar-benar tenggelam, menyisakan semburat oranye di ufuk barat. Viana turun perlahan dari mobil, mengangkat sedikit kebaya putihnya agar tak terkena pasir. High heels-nya ia lepas, diganti dengan langkah ragu-ragu yang menciptakan jejak di pasir basah. “Aku enggak nyangka kamu beneran bawa aku ke sini,” katanya lirih, menoleh ke belakang saat Sagara ikut menyusul dengan tangan dimasukkan ke saku celananya. Cowok itu hanya mengangkat bahu, senyum kecil di ujung bibirnya. Jas abu-abu yang ia kenakan masih rapi, meski dasinya sudah longgar. “Katanya kamu pengen sesuatu yang nggak rame. Cuma berdua,” jawab Sagara, lalu menoleh ke laut. “Ya ini, pantai paling ujung di Swinden. Sepi, tenang, enggak ada orang.” "Dulu kita pernah ke sini, sepulang sekolah. Ya, cuma buat hibur kamu yang lagi sedih setelah tau per
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 188 || Foto BersamaViana mengangkat wajahnya pada cahaya matahari siang yang begitu terik. Angin membawa sisa harum bunga dari bangku kosong tadi, mengaduk-aduk dadanya—tapi kini tak lagi perih. Lebih ke hangat. Seperti pelukan seseorang yang lama ditunggu, lalu akhirnya datang, bukan untuk menenangkan, tapi untuk menyertai.“Viana, Sayang!” panggil sebuah suara dari kejauhan.Arthur.Pria itu melambai ke arahnya, berdiri tak jauh dari Alesha yang sedang mengelus perutnya yang membuncit. Senyum Alesha terlihat lembut, wajahnya bersinar karena cahaya matahari.Dengan langkah perlahan, Viana mendekat ke arah ayah dan ibu tirinya. Satu tahun lalu, bahkan satu bulan lalu, rasanya tak mungkin ia akan berdiri di sini, dengan hati yang ringan. Tapi waktu dan luka membentuk ruang baru di dalam dirinya—ruang yang tak diisi oleh dendam, tapi oleh pengertian.“Ayo, kita foto, Sayang!” ajak Arthur pelan.Viana mengangguk. “Ayo, Pa.”Alesha berjalan lebih dekat, tampak canggung. Ia menatap Viana sejenak, lalu berkat
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 187 || Mengenang SatyaUsai upacara, langit berubah keemasan. Mentari menggantung lebih rendah, menyelimuti halaman SMA Galaksi dalam cahaya hangat yang temaram.Orang-orang mulai menyebar. Ada yang sibuk berfoto, ada yang tertawa—bahkan menangis bahagia. Balon-balon putih dan emas dilepas ke langit, perlahan menjauh dari jangkauan. Tapi di satu sudut, waktu seakan berhenti.Viana berdiri di bawah pohon trembesi, mendongak menatap balon-balon yang menjauh. Di tangannya tergenggam erat selembar surat kelulusan, tapi hatinya terasa berat. Ada sesuatu yang belum selesai.Sagara berjalan menghampiri, diam-diam berdiri di sisinya. Tak ada kata. Hanya tatapan panjang ke langit, ke arah balon yang makin tinggi—satu di antaranya tersangkut di dahan pohon. Menggantung. Tak ikut terbang.“Kayak Satya ya,” gumam Viana, lirih.Sagara mengangguk pelan. “Dia nggak pernah benar-benar pergi.”Viana menunduk. “Aku masih ingat suara teriakannya waktu hari itu pas dia nyuruh aku pergi. Masih terngiang. Kadang muncul waktu aku
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 186 || Hari KelulusanHari berganti hari, Minggu berganti Minggu, begitupun bulan berganti bulan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari kelulusan telah tiba.Langit pagi membentang biru lembut di atas gedung megah SMA Galaksi, sekolah swasta elite yang hari ini penuh dengan wajah-wajah berseri dan mata-mata yang sembab karena haru. Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran, menandai kedatangan para orang tua yang bangga dan siap menyaksikan momen penting anak-anak mereka.Di antara kerumunan yang berdiri di bawah naungan pohon trembesi tua, Viana berdiri dengan anggun mengenakan kebaya putih gading yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan siluet sederhana tapi elegan. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi jepit mutiara kecil yang berkilau saat cahaya matahari menyapunya. Wajahnya yang biasanya kuat kini tampak tenang, dengan senyum kecil yang menggantung di sudut bibir.Sagara berdiri tak jauh darinya, mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan dasi warna burgundy. Tatapannya sesekali mel
Last Updated: 2025-07-28
Chapter: 185 || Memulai KembaliMobil melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Di kaca belakang, cahaya lampu rumah masih terlihat, begitu pula dua bayangan orang dewasa yang berdiri terpaku di depan garasi, diterpa angin malam yang dingin dan bisu."Papa nolak buat ceraikan Tante Alesha." Viana tertawa pelan, penuh luka. "Nggak ada cara lain selain nerima keberadaan Tante Alesha dalam hidup aku."Viana menoleh pada Sagara yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Saat ini tujuan mereka apartemen. Apartemen yang kata Sagara, menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah. "Aku senang kamu dengerin nasihat aku buat maafin mereka. Mereka orang tua kamu sekarang, meskipun kamu masih nggak bisa nganggep Tante Alesha sebagai Mama kamu. Tapi ingat kasih sayang yang selalu Tante Alesha curahkan ke kamu, Viana!" Sagara menggenggam tangan Viana dengan lembut, dan hangat. Tangan yang sudah lama tidak dia genggam, bahkan terasa sangat jauh dari jangkauannya. Viana tersenyum lebar. "Makasih ya, Sagara. Kam
Last Updated: 2025-07-27
Chapter: 184 || Damai"Viana!"Suara itu memecah keheningan malam yang bergantung di antara lampu-lampu taman rumah besar bergaya Eropa. Viana baru saja membuka pintu mobil ketika suara Arthur menggema, membuat langkahnya terhenti. Tangannya masih menggenggam handle pintu, tapi tubuhnya membeku di tempat. Matanya memejam sesaat, mencoba menahan semua rasa yang mengendap sejak tadi.Arthur mendekat. Kemeja putihnya tampak kusut, dasi tergantung longgar di leher. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh ketegangan. Di belakangnya, Alesha berdiri beberapa langkah, memeluk tas kerja ke dadanya, sementara Sagara berdiri di sisi mobil, menyandarkan punggung ke pintu dengan lengan terlipat."Viana, dengar dulu Papa minta maaf."Suara Arthur serak. Bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang sudah lama menyesak. Matanya memohon. Bukan seperti tatapan seorang ayah yang memarahi anaknya. Tapi seperti seseorang yang akhirnya menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan, dan seberapa besar luka yang telah dibiar
Last Updated: 2025-07-27