MasukZhao Fenglin dengan cepat menendang pedang itu dengan kuat hingga terlempar cukup jauh. Yuwen Shuang tak bernapas selama beberapa saat. Pedang itu nyaris mengenai dadanya jika saja Zhao Fenglin tak bergerak cepat menendangnya. Gadis itu menyentuh dadanya sendiri, ekspresi wajahnya begitu syok.Pria bertopeng itu menggeram saat pedangnya terlempar cukup jauh. Ia sedikit mundur untuk mengambil pedang miliknya.Dua rekannya langsung menyerang bersamaan dari dua arah berbeda. Namun Zhao Fenglin justru bergerak maju ke arah mereka.SREET!Pedangnya meluncur lurus seperti kilat. Pembunuh kedua bahkan tidak sempat bereaksi ketika bilah itu menembus bahunya.“UGH—!”Tubuh pria itu tersentak mundur. Pada saat yang sama Zhao Fenglin menarik pedangnya kembali.Darah menyembur tipis ke udara. Namun pria bertopeng dan satu pembunuh lainnya sudah menyerang dari kiri dan kanan.CLING!Zhao Fenglin menangkis satu pedang.Namun pedang lainnya hampir mengenai bahunya.SREET!Yuwen Shuang refleks meng
Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan sudah dinyalakan, sementara sebagian besar pedagang mulai menutup lapak mereka. Suara percakapan perlahan mereda, digantikan oleh hembusan angin malam yang menyapu lorong-lorong sempit di antara bangunan.Namun ketenangan itu tidak benar-benar ada.Di atap bangunan seberang penginapan, beberapa bayangan bergerak tanpa suara.Pria bertudung yang mengenakan topeng itu masih berdiri di tepi atap, menatap ke arah jendela-jendela lantai dua penginapan.Matanya menyipit tipis.“Sudah dipastikan?” tanyanya rendah.Salah satu anak buahnya yang berlutut tidak jauh darinya segera menjawab, “Kami sudah mengawasi sejak mereka masuk.”Ia menunjuk ke arah jendela di ujung lorong lantai dua.“Target berada di kamar itu.”Pria bertopeng itu mengikuti arah yang ditunjuk. Lampu minyak di dalam kamar itu masih menyala samar di balik kertas jendela.Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,“Bagus.”Angin malam berhembus melewati atap-atap bangunan. Be
Sekitar setengah hari kemudian, jalur hutan itu perlahan mulai berubah.Pepohonan yang tadinya rapat mulai jarang. Tanah yang sebelumnya hanya berupa jalan kecil di antara akar-akar pohon kini semakin lebar, menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan jalur utama.Tidak lama kemudian, atap-atap rumah mulai terlihat di kejauhan. Sebuah kota kecil. Tidak terlalu besar, tapi cukup ramai karena berada di jalur perjalanan menuju ibu kota.Beberapa pedagang terlihat membuka lapak di tepi jalan. Orang-orang lalu lalang membawa barang, sementara suara percakapan bercampur dengan derap kuda yang sesekali melintas.Rombongan Zhao Fenglin memasuki kota itu tanpa banyak menarik perhatian. Meskipun pakaian mereka tampak sedikit kusut karena perjalanan panjang, keberadaan prajurit berkuda di jalan seperti ini bukanlah sesuatu yang terlalu aneh.Gu Liang mengamati sekitar dengan waspada.“Setidaknya kita bisa beristirahat dengan layak malam ini,” gumamnya pelan.Wei Chen mengangguk.“Aku bahkan tid
Pria itu kembali menangkupkan tangan. “Kami sedang melakukan patroli di jalur perbatasan menuju ibu kota,” jawabnya jujur. “Kami tidak menyangka akan bertemu Jenderal Zhao di tempat seperti ini.” Gu Liang dan Wei Chen saling bertukar pandang. Patroli, berarti mereka memang kebetulan melewati jalur ini. Ekspresi Zhao Fenglin tidak berubah. Namun tatapannya kini sedikit melunak. “Di depan jalur ini,” lanjut pria itu, “sekitar setengah hari perjalanan, ada kota kecil di tepi jalan utama menuju ibu kota.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Jika Jenderal membutuhkan tempat untuk beristirahat, ada beberapa penginapan di sana.” Angin pagi kembali berhembus di antara pepohonan. Beberapa prajurit Zhao Fenglin tampak sedikit lega mendengar itu. Namun Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya sekilas jatuh pada Yuwen Shuang yang masih duduk di depannya. Wajah gadis itu tampak pucat setelah perjalanan panjang dan kurang istirahat. Setelah beberapa saat, Zhao Fenglin akhir
Gu Liang tidak langsung menjawab. Ia menunjuk ke arah tanah yang sedikit lembap oleh embun pagi.“Jejak kuda itu.”Wei Chen yang mendengar itu ikut memelankan laju kudanya. Ia menunduk untuk melihatnya. Jejak itu masih baru. Dan jumlahnya tidak sedikit.Gu Liang langsung mengangkat kepalanya ke arah Zhao Fenglin yang berada di depan.“Jenderal.”Nada suaranya kali ini jauh lebih serius.Zhao Fenglin memperlambat kudanya.“Ada apa?”Gu Liang menunjuk ke arah jejak di tanah.“Sepertinya kita tidak sendirian di hutan ini.”Angin pagi bertiup pelan di antara pepohonan.Namun entah mengapa, suasana hutan itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.Yuwen Shuang ikut menoleh. Laku kuda Zhao Fenglin terhenti perlahan, diikuti oleh yang lainnya. Mo Jian dan Shen Yu saling pandang. Ada yang baru saja melewati hutan ini sebelum mereka.Gu Liang turun dari kudanya.Ia berjongkok di dekat tanah yang masih lembap oleh embun pagi. Tangannya menyentuh bekas tapak kuda itu dengan hati-hat
Zhao Fenglin terdiam sesaat.Tatapannya jatuh pada wajah Yuwen Shuang yang menatapnya dengan ekspresi polos, seolah pertanyaannya tadi adalah sesuatu yang sangat wajar.Beberapa detik berlalu dalam keheningan.Gu Liang yang berdiri tidak jauh dari mereka hampir tersedak udara.Namun ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura memperhatikan para prajurit yang sedang merapikan perlengkapan.Zhao Fenglin akhirnya menarik napas pelan.“Untuk membantumu bangkit.”Nada suaranya tetap datar seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.Yuwen Shuang berkedip beberapa kali.“Oh.”Baru setelah itu ia tampak menyadari maksud uluran tangan tersebut. Pipinya kembali terasa sedikit panas. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia perlahan mengulurkan tangannya dan meletakkannya di telapak tangan Zhao Fenglin.Tangan kekar pria itu terasa hangat dan kuat.Dengan satu tarikan ringan, Zhao Fenglin membantu Yuwen Shuang berdiri dari tempatnya bersandar pada pohon.Tubuh gadis itu masih sedikit goyah sesaat setelah







