LOGINBenturan logam masih bergetar saat kalimat itu terlontar. Zhao Fenglin tidak menjawab sedikit pun. Tatapannya tetap dingin, seolah hanya melihat sasaran di depannya.Dalam satu hentakan, ia mendorong pedangnya ke depan. Tenaga itu memaksa Ling Ziye mundur setengah langkah bersama kudanya. Debu kembali menyapu di antara mereka.Ling Ziye memutar bilah pedangnya lalu menyerang balik. Gerakannya ringan, tetapi tajam dan berbahaya. Tebasan pertama mengarah ke bahu, yang kedua langsung turun ke pinggang.Zhao Fenglin menahan keduanya tanpa banyak gerak. Pergelangan tangannya berputar singkat, menepis jalur serangan lalu membalas dengan tusukan lurus ke dada. Ling Ziye memiringkan tubuh tipis dan lolos sejengkal.“Gerskanmu tidak berubah, masih cepat seperti dulu,” ucap Ling Ziye pelan.Zhao Fenglin kembali menyerang tanpa menanggapi. Pedangnya turun bertubi-tubi, memaksa Ling Ziye hanya bertahan. Ritme pertempuran langsung berubah keras.Di sisi lain, Wei Chen melihat tekanan musuh mulai p
Debu menebal saat Zhao Fenglin dan Wei Chen menuruni jalur menuju dataran utama. Angin membawa bau besi dan asap yang semakin kuat dari arah depan. Wei Chen mempercepat kudanya hingga sejajar. Tatapannya tidak lagi menyapu sekitar, melainkan terkunci lurus ke garis depan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan perhitungan yang semakin tajam.“Formasi mereka sudah pecah,” ucapnya rendah. “Gu Liang pasti menahan sisa pasukan di tengah.”Zhao Fenglin tidak menjawab. Namun tangannya mengencang pada kendali, dan kudanya kembali dipacu lebih cepat. Jarak yang tersisa terasa terlalu panjang.Di kejauhan, suara benturan semakin jelas. Dentuman logam dan teriakan bercampur menjadi satu. Asap hitam naik lebih tinggi, menandakan titik pertempuran utama sudah bergeser.Wei Chen menarik napas dalam. “Jika Ling Ziye menekan dari sisi terbuka, mereka akan dipotong dua,” ucapnya cepat. Nada suaranya tetap rendah, tetapi lebih tegang.Zhao Fenglin akhirnya berbicara. “Maka kita potong dia
Tanduk perang kedua belum sepenuhnya menghilang saat Zhao Fenglin sudah bergerak. Kudanya melesat lurus seperti anak panah, membelah debu yang masih menggantung di udara. Pedangnya turun tanpa aba-aba, mengarah tepat ke leher Ling Xuanye.Ling Xuanye menahan di detik terakhir. Benturan logam meledak keras, membuat kuda hitamnya mundur dua langkah. Wei Chen tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia memimpin pasukan kecil mereka menerjang sisi kanan kepungan. Pedangnya bergerak cepat, membuka jalur dengan serangan singkat dan tepat.“Terobos!” teriaknya keras.Shen Yu menjawab dengan tawa kasar. Ia menghantam ke depan seperti badai, menjatuhkan satu prajurit Ling dengan satu tebasan berat. Barisan musuh langsung goyah.Ling Xuanye memutar pedangnya dan menyerang balik. Gerakannya masih tajam, namun tidak setenang sebelumnya. Zhao Fenglin menangkis, lalu membalas dengan tusukan lurus ke dada.Ling Xuanye menghindar tipis. Ujung pedang itu tetap menggores jubahnya dan meninggalkan robekan panja
Kalimat itu jatuh lebih tajam dari pedang. Untuk pertama kalinya, gerakan Zhao Fenglin terhenti sepersekian detik. Namun sepersekian detik di medan perang tidak bisa dibiarkan. Seperkian detik akan mengacaukan segalanya. Ling Xuanye langsung menekan. Pedangnya melesat lurus ke bahu Zhao Fenglin tanpa memberi ruang. Benturan keras terdengar saat Zhao Fenglin menahan tepat waktu.Tatapan Zhao Fenglin berubah. Bukan marah, bukan panik, melainkan dingin yang jauh lebih dalam. Nama itu telah disentuh di tempat yang salah.“Jangan sebut nama dia dengan mulut kotormu,” desisnya pelan.Nada suaranya rendah, namun cukup membuat Ling Xuanye tersenyum tipis. Ia justru tampak lebih puas dari sebelumnya. Seolah memang mengincar reaksi itu.“Masih peduli rupanya!” Ling Xuanye tersenyum remeh. Zhao Fenglin tidak menjawab lagi. Kudanya melesat maju satu langkah, dan pedangnya turun tajam. Serangan kali ini jauh lebih berat dari semua sebelumnya.Ling Xuanye menahan, tapi tubuhnya terdorong ke sampi
Seruan itu menggema di tengah benturan logam. Suaranya dingin, penuh tekanan yang tidak bisa diabaikan. Namun Zhao Fenglin tidak terpengaruh sedikit pun.Pedangnya turun tanpa ragu. Tebasan lurus yang berat, memaksa Ling Xuanye menahan dengan kedua tangan. Benturan itu jauh lebih keras dari sebelumnya.Kuda mereka sama-sama terdorong mundur. Debu terangkat tinggi, menutupi sebagian pandangan. Namun tidak ada yang benar-benar mundur.Ling Xuanye menyipitkan matanya. Senyumnya memudar sangat tipis. Ia akhirnya merasakan perubahan itu.“Menarik,” gumamnya pelan.Zhao Fenglin tidak memberi ruang. Ia kembali menyerang, kali ini tanpa jeda. Gerakannya lebih cepat, lebih tajam, setiap tebasan membawa tekanan yang meningkat.Ling Xuanye menahan, namun posisinya mulai terdorong. Satu langkah, lalu setengah langkah lagi. Ritme pertempuran mulai bergeser.Di sisi lain, Wei Chen menarik napas kasar. Lengannya masih berdarah tipis, namun ia tidak melambat. Setiap gerakannya tetap terukur.Ia meneb
Teriakan itu terlambat.Zhao Fenglin sudah melesat lebih dulu. Kudanya menghantam tanah dengan keras, memecah debu yang terangkat. Dalam satu tarikan napas, jarak di antara mereka langsung terpotong setengah.Ling Xuanye tidak bergerak.Tatapannya tetap tenang. Bahkan saat pedang Zhao Fenglin sudah terangkat, ia hanya menarik kendali kudanya sedikit ke samping. Gerakannya ringan, nyaris tanpa mengeluarkan banyak usaha. Serangan pertama melesat.Namun Zhao Fenglin tidak berhenti. Pedangnya berbalik arah dalam satu gerakan halus. Tebasan kedua datang lebih cepat, langsung mengarah ke leher.Ling Xuanye menahan. Logam beradu. Suaranya tajam, memecah udara yang tegang. Kuda mereka berputar, jarak kembali terbuka sekejap.Di belakang, pasukan Ling bergerak.Serangan datang dari berbagai arah. Tidak serempak, tapi cukup untuk memecah formasi kecil itu. Shen Yu langsung menyambutnya tanpa ragu.Pedangnya turun cepat. Satu, dua, tiga gerakan tanpa jeda. Tubuh pertama jatuh sebelum sempat ber
Yuwen Shuang melangkah menyusuri koridor. Kini tujuannya jelas, ia ingin menemui Zhao Fenglin di ruang belajar. Di kepalanya ucapan Mei’er berputar, tatapannya fokus ke depan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya memberikan hormat. Wajah mereka terkejut, tapi Yuwen Shuang tak peduli. Ia hanya
“Nyonya, maaf aku sedikit terlambat.”Yuwen Shuang menghampiri Han Ruoxi yang telah menunggunya di bawah atap teras gerbang dalam. Kereta kuda keluarga Zhao sudah terparkir beberapa langkah dari sana. Dua ekor kuda hitam berdiri tenang, sesekali mengibaskan ekornya. Seorang kusir memegang kendali d
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia me







