LOGINKeheningan di dalam tenda berubah tegang. Semua mata tertuju pada prajurit yang baru saja berbicara.Zhao Fenglin tidak langsung bereaksi. Tatapannya tetap tajam, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari yang terlihat. Informasi itu tidak masuk akal, dan justru karena itu, berbahaya.“Ke mana?” tanyanya singkat.Prajurit itu menelan ludah. Napasnya masih sedikit memburu, namun ia memaksa dirinya tetap tenang. “Ke arah timur laut, Jenderal.”Gu Liang langsung mengernyit. Tangannya bergerak ke atas peta, menunjuk wilayah yang dimaksud. Sorot matanya berubah, menghitung sesuatu dalam diam.“Itu bukan jalur serangan,” ucapnya pelan.Wei Chen menyipitkan matanya. Tatapannya bergeser dari peta ke Zhao Fenglin. Ia jelas menangkap sesuatu yang tidak biasa.“Atau … bukan kita targetnya,” katanya.Kalimat itu jatuh pelan.Namun cukup untuk membuat Shen Yu langsung melangkah maju. “Tidak mungkin,” ucapnya cepat. “Mereka datang ke sini untuk perang.”Zhao Fenglin tetap diam.Tangannya per
Keheningan itu tidak langsung pecah. Udara terasa semakin berat, seolah menekan dada setiap orang yang berdiri di dalam kamar. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu dengan tergesa.Han Ruoxi tetap menatap ke arah pintu. Tatapannya dingin, namun pikirannya bergerak cepat. Ia mengulang setiap detik yang baru saja terjadi tanpa melewatkan satu pun.Selir Li Mei tidak berbicara. Jemarinya tetap menggenggam tangan Yuwen Shuang, namun kini jauh lebih kuat. Sorot matanya berubah, tidak lagi hanya cemas, tetapi juga penuh kecurigaan.Tabib utama menunduk sedikit. Tangannya masih berada di pergelangan Yuwen Shuang. Ia merasakan perubahan itu dengan jelas, dan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.“Reaksinya tidak muncul tanpa sebab,” ucapnya pelan.Han Ruoxi langsung menoleh. Alisnya sedikit mengernyit, namun sorot matanya tetap tajam. Ia tidak menyukai jawaban yang setengah terbuka.“Kalau begitu, pasti ada sesuatu yang memicunya,” ucapnya dingin.Tidak ada yang membantah.Di sudut r
Cahaya pagi masih masuk perlahan ke dalam kamar. Udara terasa lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya, namun suasana tetap sunyi. Semua perhatian tertuju pada satu sosok di atas ranjang.Yuwen Shuang sudah benar-benar sadar. Tatapannya masih kosong, seolah belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. Nafasnya tetap pelan, namun lebih stabil dari sebelumnya.Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap bagian tidak lagi sepenuhnya miliknya. Bahkan hanya untuk berkedip pun terasa lambat.Selir Li Mei tetap di sisinya. Jemarinya masih menggenggam tangan putrinya, tidak pernah lepas sejak beberapa hari terakhir. Tatapannya penuh perhatian, namun juga menyimpan ketegangan yang belum hilang.“Shuang’er,” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Yuwen Shuang hanya menatap ke depan. Pandangannya tidak fokus, bergerak sangat pelan seolah mencoba mengenali ruangan di sekitarnya. Namun tidak ada reaksi yang jelas.Han Ruoxi memperhatikan itu dari dekat. Alisnya sedikit mengernyit,
Lorong itu kembali sunyi setelah langkah Lin Yue menjauh. Mei’er tetap berdiri di tempatnya, tidak langsung bergerak, seolah masih merasakan sisa ketegangan yang menggantung di udara. Tatapannya perlahan berubah, tidak lagi sekadar waspada, tetapi mulai penuh perhitungan.Ia menarik napas pelan. Pikirannya bergerak cepat, mengulang setiap detail kecil yang baru saja ia lihat. Reaksi sekecil apa pun dari Lin Yue tidak lagi terasa kebetulan.Mei’er akhirnya melangkah kembali. Namun arah yang ia tuju bukan dapur seperti yang ia katakan sebelumnya. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, seolah tidak ingin menarik perhatian siapa pun.Di sisi lain kediaman, beberapa pelayan masih berlalu lalang seperti biasa. Mereka tidak menyadari perubahan kecil yang sedang terjadi di balik ketenangan itu. Tidak ada yang tahu bahwa sesuatu sedang mulai terungkap.Mei’er berhenti di dekat sudut lorong yang mengarah ke dapur. Ia tidak langsung masuk, hanya berdiri dalam diam. Tatapannya mengarah ke dalam,
Udara terasa lebih berat, seolah menekan setiap orang yang berdiri di sana. Tidak ada yang berani berbicara sembarangan.Selir Li Mei menatap tabib utama tanpa berkedip. Sorot matanya berubah dingin, jauh lebih tajam dari sebelumnya. Jemarinya kembali mengencang di atas tangan Yuwen Shuang.“Apa maksudnya ‘ditahan’?” tanyanya pelan.Tabib itu menunduk lebih dalam. Napasnya ditarik perlahan sebelum menjawab. Ia jelas berhati-hati memilih kata.“Seolah-olah ada sesuatu yang membuat racun itu tetap aktif,” ucapnya. “Bukan hanya efek sisa biasa.”Han Ruoxi menyipitkan matanya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Tatapannya menusuk, tidak memberi ruang untuk jawaban samar.“Katakan dengan jelas,” ucapnya dingin.Tabib itu terdiam sepersekian detik. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Namun ia tetap melanjutkan.“Kemungkinan … ada pemicu lain,” katanya pelan.Ruangan seketika menjadi lebih sunyi.Mei’er menahan napasnya. Yunxi menoleh dengan wajah pucat. Bahkan para tabib lain ter
Tiga hari telah berlalu sejak malam panjang yang hampir merenggut nyawa itu. Cahaya pagi kembali masuk melalui celah jendela, membawa udara yang lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Namun suasana di dalam kamar masih dipenuhi ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.Selir Li Mei tetap berada di kediaman Zhou. Selama empat hari penuh, ia tidak kembali ke istana, memilih tinggal di sisi putrinya tanpa meninggalkan ruangan lebih dari beberapa langkah. Keputusan itu tidak dibantah siapa pun.Han Ruoxi juga masih berada di sana. Wajahnya terlihat lebih tenang, namun sorot matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Yuwen Shuang. Ia mengawasi setiap perubahan sekecil apa pun dengan penuh perhatian.Mei’er dan Yunxi tampak kelelahan. Mata mereka sedikit sembab, namun keduanya tetap bertahan tanpa mengeluh. Tidak ada yang berani lengah, bahkan untuk sesaat.Di atas ranjang, Yuwen Shuang masih terbaring. Wajahnya tetap pucat, namun tidak lagi seputih hari pertama. Napasnya kini lebih teratu
“Kita akan menghancurkannya,” potong Zhao Fenglin tenang.Ia berbalik hendak kembali ke dalam tenda, lalu berhenti sejenak.“Pastikan dia tidak kekurangan apa pun di perjalanan,” katanya datar. “Dia membawa nama kediaman Zhao.”Kalimat itu terdengar seperti perintah biasa.Namun tiga orang yang ber
“Ibu ….”Suara Yuwen Shuang tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran.Kereta kembali berguncang keras. Sesuatu menghantam sisi luarnya hingga kayu tebal itu berderak seakan ingin pecah. Mei’er menjerit pelan dan semakin merapat, sementara Yunxi memeluk tubuh majikannya erat, berusaha menahan gun
Hari demi hari telah berlalu, Yuwen Shuang tampak lebih segar dari sebelumnya. Tubuhnya sudah tidak selemas beberapa hari yang lalu. “Apakah ada kabar di perbatasan?” tanyanya pada Mei’er. Yuwen Shuang sudah tahu kalau ada penyerangan di perbatasan. Sehingga sore saat Zhao Fenglin pergi ke barak,
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan







