Compartilhar

Bab 7

Autor: Jihan Maharani
Alisha takut kakaknya akan menyadari ada yang tidak beres. Dia pun mendorong Ricky yang memeluknya dengan erat itu, lalu menjawab dengan suara yang lembut dan patuh, “Aku di toilet dan baru saja digigit nyamuk.”

Ricky menoleh dan menatap Alisha. Alisnya sedikit terangkat dan dia hendak kembali mencium Alisha. Alisha pun mengulurkan tangan untuk menutup bibirnya, lalu buru-buru berkata ke arah telepon, “Tunggu aku sebentar, aku segera ke sana. Aku tutup dulu, ya.”

Alisha menutup teleponnya dengan panik. Ricky memanfaatkan kesempatan itu untuk membenamkan wajahnya di leher Alisha dan menghirupnya dalam-dalam.

"Ricky!"

Alisha mendorong Ricky, lalu bergegas ke depan cermin. Di lehernya yang putih dan jenjang itu terdapat cupang yang menarik perhatian. Alisha langsung mengerutkan kening dan berkata dengan marah kepada Ricky, "Kamu sengaja ya, biar kakakku tahu?"

Ricky pun menghampiri Alisha dan memeluknya. "Bukankah dia selalu ingin kamu membawa pacarmu untuk bertemu dengannya? Kalau dia tanya, aku bisa menemanimu menemuinya."

Mata Alisha langsung terbelalak. Ricky sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia bisa ikut ke rumah Keluarga Avandra untuk bertemu keluarganya.

Alisha-lah yang merasa cemas dan selalu menolaknya.

Sepertinya, Ricky memang sangat ingin bertemu kakaknya dan sampai sekarang belum juga menyerah.

Tentu saja, sekarang Alisha makin tidak mungkin membawa Ricky untuk menemui Belinda. Kali ini, alasan penolakannya berbeda dengan yang sebelumnya.

"Kamu jelas-jelas tahu kalau keluarga kita untuk sementara nggak mungkin menyetujui hubungan kita. Tapi, kamu masih saja bilang begitu." Alisha meraba cupang di lehernya, lalu menatap Ricky dengan marah dan merajuk. "Lain kali, jangan begini lagi. Aku ke sana dulu. Aku nggak boleh membuat kakakku menunggu terlalu lama."

Alisha berjalan ke pintu toilet, tetapi Ricky memeluk pinggangnya dari belakang. Suara Ricky yang berat, lembut dan menggoda itu berbisik tepat di telinga Alisha, "Kalau begitu, kita segera punya anak saja …."

Anak ….

Alisha menunduk dan memandangi perutnya sendiri. Kemudian, dia tersenyum getir. "Oke."

Barulah Ricky melepaskannya. "Cepat pergi, sampai ketemu nanti malam."

Alisha bergegas keluar dari kamar mandi. Masih mau bertemu lagi?

Siapa juga yang mau bertemu.

Soal anak, jangan harap dia bisa mendapatkannya.

Alisha kembali ke ruang VIP. Belinda langsung melihat cupang di leher Alisha. Seketika itu juga, Belinda langsung memicingkan matanya yang indah dan tajam itu. "Tadi benar-benar nyamuk?"

"Bukan, itu pacarku."

Belinda pun buru-buru berkata, "Mana orangnya? Kebetulan kita ketemu dengannya. Aku mau bertemu dengannya, sekalian membantumu menilainya."

"Nggak usah. Tadi aku putus dengannya, makanya dia menciumku dengan paksa. Aku khawatir Kakak akan mendatanginya dan terjadi perselisihan, makanya aku bilang digigit nyamuk."

Tatapan mata Alisha menjadi muram dan suasana hatinya juga agak memburuk. Dalam hati, Alisha diam-diam meminta maaf kepada Belinda, karena terpaksa berbohong.

Jika tidak, begitu Ricky tahu bahwa Alisha sudah mengetahui yang sebenarnya, Keluarga Avandra pasti akan benar-benar terpukul dan nama baik Alisha sendiri juga akan hancur.

Belinda pun tidak bisa menahan rasa terkejutnya. "Bukankah kamu sangat menyukainya? Kamu bilang, kelak kamu juga mau menikah dengannya. Kenapa tiba-tiba mau putus? Apa dia menyakitimu?"

Belinda merasa kasihan pada adiknya. Jika pria yang ditemui Alisha memang orang baik, Belinda bersedia membantu Alisha berbicara dengan keluarga dan mendukung hubungan mereka.

Alisha menengadah. Melihat sorot mata Belinda yang tampak khawatir itu, Alisha pun tersenyum lembut. "Dulu, aku masih muda dan belum mengerti. Kukira sedikit rasa suka itu sudah bisa disebut cinta. Sekarang, aku sudah dewasa dan sadar. Aku bisa membedakan mana cinta yang sesungguhnya. Lagi pula, selama bertahun-tahun ini Kakak yang berkorban untuk keluarga, sementara aku nggak melakukan apa-apa. Aku janji, aku akan pulang dan bersedia dijodohkan demi kepentingan keluarga."

"Dasar anak bodoh! Waktu aku bilang kamu harus menikah demi kepentingan keluarga, sebenarnya itu cuma karena aku ingin kamu membawa pacarmu pulang biar kami bisa bertemu dengannya. Mana tega aku menyuruhmu menikah demi kepentingan keluarga? Alisha, kita seharusnya menikah karena cinta."

Belinda memikul tanggung jawab masa depan Grup Avandra. Banyak hal yang tidak bisa dia dapatkan. Belinda berharap Alisha bisa mendapatkan yang tidak bisa dia dapatkan. Dengan sepenuh hati, Belinda membesarkan adiknya menjadi sosok yang dia inginkan, agar adiknya itu bisa mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa dia miliki sendiri.

“Kita ini kan saudara kandung, sudah seharusnya saling mendukung. Keluarga kita juga nggak punya kakak atau adik laki-laki. Jadi, aku ingin ikut menanggung beban Kakak. Kalian juga nggak akan asal mencarikan sembarang orang untuk menikah denganku. Kalian pasti akan memilih orang yang berwatak baik. Aku percaya pada penilaian Ayah, Ibu dan Kakak.”

Belinda menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Kalau kamu berpikir begitu, itu juga baik. Ayah dan Ibu pasti akan mempertimbangkan segalanya dan memilihkan calon suami yang paling cocok untukmu. Kalau kamu sudah mantap, aku akan membicarakannya dengan mereka saat pulang kali ini.”

Alisha menganggukkan kepalanya.

Sesampainya di apartemen, Belinda menempati kamar sendiri. Saat Belinda sedang mandi, Alisha menerima pesan dari Ricky.

Pria itu mengirimkan sebuah foto.

Makan malam dengan cahaya lilin dan kue ulang tahun. Ruang makan di Kediaman Alisha itu sudah didekorasi sedemikian rupa, sehingga terasa begitu hangat.

[Alisha, aku menunggumu.]

Alisha mematikan ponselnya, mengambil bantal, lalu pergi ke kamar Belinda.

Belinda masih duduk membungkuk di depan meja. Jari-jarinya yang ramping mengetik di keyboard laptopnya.

"Kak, kenapa Kakak masih bekerja? Nggak istirahat?"

"Aku sedang menyempurnakan proposal proyek jaringan stasiun pengisian daya bersama ini sekali lagi. Paling bagus kalau bisa menarik investasi dari Grup Gemilang Abadi. Dengan begitu, kita juga nggak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli sistem kecerdasan buatan mereka."

Setelah selesai mengetik sebaris kalimat, Belinda mengangkat kepalanya. Melihat Alisha memeluk bantal, dia pun tersenyum tipis. "Kenapa, malam ini mau tidur denganku?"

"Bolehkah?"

"Sudah sebesar ini, masih saja manja."

Meski berkata seperti itu, Belinda tetap berdiri dan menuangkan segelas susu. Dia menyuruh Alisha meminumnya, lalu segera tidur.

Alisha belum mengantuk. Jadi, dia duduk di samping Belinda untuk menemaninya bekerja, sekalian mempelajari proyek baru Belinda.

Setelah pekerjaannya hampir selesai, Belinda pergi ke kamar mandi untuk mandi.

Ting tong, ting tong. Terdengar bunyi bel pintu di luar.

Mata Alisha langsung terbelalak. Apartemennya biasanya tidak pernah didatangi orang. Jangan-jangan itu Ricky?

Padahal, Ricky jelas-jelas tahu jika Belinda ada di sini.

Apakah Ricky sengaja ingin mempermalukan Alisha, membuat Alisha cemas, atau karena ingin menemui kakaknya?

Alisha tidak boleh membiarkan Belinda mengetahuinya. Dia pun bergegas berlari keluar untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, sepasang tangan yang kuat langsung menarik Alisha keluar dan menekannya ke dinding.

Tubuh Ricky menguarkan aroma anggur merah yang harum dan menyengat. Napasnya menyelimuti Alisha.

Suara Alisha terdengar panik, saat dia berbisik, "Kamu mau apa? Kakakku ada di dalam, cepat pulang!"

"Nggak mau."

Selama dua tahun ini, saat bersama Alisha, Ricky benar-benar jauh berbeda dari sosoknya di dunia bisnis yang tegas, tenang dan dingin. Ricky seperti pria yang sedang dimabuk cinta. Dia menunjukkan kelembutan dan kegigihan yang sulit untuk diungkapkan. Itulah yang membuat Alisha sebelumnya yakin bahwa pria itu mencintainya.

Baru sekarang Alisha mengerti, bahwa hanya orang yang sedang berakting, yang mampu memainkan watak yang berbeda-beda.

Wajah tampan Ricky mendekat ke arah Alisha. Begitu dekatnya, hingga jarak di antara wajah mereka nyaris tinggal setipis selembar kertas. Suara Ricky yang serak setelah minum terdengar penuh nafsu. "Kalau takut kakakmu tahu, ikutlah denganku."

Wajah Alisha langsung kembali tenang seperti biasa. "Bukankah kita sudah sepakat untuk mengumumkannya setelah aku hamil?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 50

    Suasana hati Alisha sedang buruk ketika ponselnya berdering. Ternyata Belinda yang menelepon.Begitu telepon tersambung, suara Belinda terdengar panik.“Alisha, Adjie terluka. Sekarang sedang dirawat di ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Kota Anala. Bibi Arini dan Paman Lutfi sedang berlibur ke luar negeri. Bibi Arini sudah meneleponku. Mereka nggak bisa pulang secepat itu. Katanya, karena kamu berada di Kota Anala, dia meminta tolong agar kamu pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie terlebih dulu dan membantu merawatnya.”“Terluka karena apa? Apakah parah?”“Aku sendiri juga kurang jelas. Bibi Arini juga nggak ada di lokasi. Kamu kan lebih dekat, pergilah dulu untuk melihatnya.”“Oke.”Urusan perjodohan itu bermula karena dirinya, maka sudah seharusnya Alisha juga yang menyelesaikannya.Terlepas dari semua itu, mengingat hubungan antara kedua keluarga, karena sudah dihubungi, Alisha memang seharusnya pergi menjenguk.Alisha pun bergegas ke rumah sakit dan berlari menuj

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 49

    Ricky mendekap Alisha erat-erat. Sambil meronta, Alisha berkata, “Lepaskan aku! Pergi saja cari wanita lain, mulai sekarang jangan temui aku lagi!”“Alisha, dengarkan aku,” bujuk Ricky dengan lembut. “Aku benar-benar nggak ada apa-apa dengannya. Aku khawatir kamu salah paham, makanya aku nggak bilang kalau aku pergi menemuinya.”Alisha berbalik dan menatap mata Ricky. “Kalau begitu, katakan padaku, sebenarnya apa hubungan kalian?”“Sudah kubilang, dia istri temanku. Aku dititipi untuk membantu menjaganya.”Masih saja membohonginya!Padahal mereka sudah menikah.“Benarkah?”“Hmm. Aku sudah janji pada temanku untuk menjaganya baik-baik. Dia sedang hamil. Kalau ada urusan, dia mencariku. Jadi, aku harus datang. Alisha, jangan marah lagi, ya?”Ricky tampak penuh kasih sayang dan bersungguh-sungguh, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda sedang membohonginya.Sebenarnya, Alisha tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya ingin segera mendapatkan videonya, sekaligus ingin menguji apakah Ricky m

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 48

    Alisha melangkah keluar dari Farley. Mobil Ricky belum pergi. Di bawah cahaya lampu jalan, masih terlihat dua orang di dalam mobil itu sedang membicarakan sesuatu.Alisha bergegas menghampiri mobil Ricky. Lalu, dengan pura-pura riang, dia mengetuk jendela mobil.Ricky menurunkan kaca jendelanya. Begitu melihat Bella duduk di kursi penumpang depan, senyum di wajah Alisha langsung membeku.Kemudian, Alisha berbalik dan berlari pergi.Ricky pun bergegas membuka pintu mobil.“Alisha!”Ricky mengejarnya, lalu meraih pinggang Alisha dan memeluknya dari belakang.Bella yang masih duduk di dalam mobil, mengepalkan tangannya erat-erat.“Lepaskan aku!”Alisha meronta."Alisha, dengarkan aku dulu!"Saat keluar tadi, Alisha masih memakai sepatu hak tinggi yang dia kenakan untuk bekerja di siang hari. Dia lalu menginjak kaki Ricky dengan sekuat tenaga.Ricky merasakan sakit di kakinya dan cengkeramannya sedikit mengendur. Alisha pun menyingkirkan lengan Ricky, lalu berlari pergi.Ricky menahan saki

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 47

    Barulah Ricky bangun dengan perasaan kesal. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja, di samping tempat tidur.Benar saja, setelah selesai menerima telepon, Ricky langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ricky keluar dan mulai berganti pakaian.Setelah Ricky selesai berpakaian, Alisha juga sudah selesai merapikan pakaiannya yang berantakan.Ricky mendekat dan berkata dengan suara serak, “Maaf, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan di luar. Malam ini … aku utang padamu, besok kutebus.”“Ricky, sudah selarut ini, kamu mau ke mana?” tanya Alisha dengan sengaja. “Apa kamu mau menemui wanita yang kutemui di rumah sakit waktu itu?”“Alisha, jangan berpikiran macam-macam. Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku ada janji, malam ini nggak pulang. Besok pagi aku jemput kamu, kita berangkat ke kantor bersama, ya?”Alisha seperti biasa, tidak bertanya lebih jauh.Begitu Ricky keluar dari kamar tidur, Alisha cepat-cepat berganti pakaian dan menyusul kelu

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 46

    Ramah dan santun, terpelajar dan berwibawa.Tutur kata Ricky juga terdengar begitu menyenangkan di telinga.Namun, justru Ricky-lah yang bersikeras ingin menghancurkan Alisha.Selesai makan, mereka pulang ke Kediaman Alisha.Begitu mobil berhenti, Ricky langsung menarik Alisha ke dalam pelukannya dan menciumnya dalam-dalam.Malam ini, restoran bergaya klasik tempat mereka makan menyajikan minuman keras dari buah.Ricky menghabiskan satu botol.Minuman ini rasanya asam manis dan enak diminum. Namun, seperti anggur merah, efeknya baru terasa belakangan.Terlihat jelas bahwa Ricky sedikit mabuk. Di sela bibir dan giginya masih tersisa aroma harum dan lembut dari minuman keras berbahan buah itu.Beberapa hari terakhir ini, bukan sekali dua kali Ricky menginginkannya.Ciuman di dalam mobil tadi sudah menjadi isyarat.Tak lama kemudian, Ricky turun dari mobil, lalu menggendong Alisha masuk ke kamar utama.Ciuman bertubi-tubi menghujani Alisha bagai badai.Alisha tahu bahwa setelah minum, has

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 45

    “Kenapa nggak memberitahuku?”“Aku takut kamu khawatir. Aku baik-baik saja, cuma kap mesin dan bumpernya yang rusak.”“Aku akan carikan sopir untukmu. Aku nggak tenang melihatmu seperti ini.”“Benar-benar nggak perlu. Aku cuma kurang hati-hati kali ini, nggak sempat menginjak rem. Aku jamin nggak akan terulang lagi.”Alisha sama sekali tidak ingin Ricky menempatkan satu orang lagi di sisinya.Ricky tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia membukakan pintu mobil dan Alisha duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, mobil melaju dan berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan.Alisha pun bertanya dengan bingung. “Kamu mau beli sesuatu?”“Nggak belanja bahan masakan?”Alisha tiba-tiba ingat, setiap kali Ricky pulang ke Kediaman Alisha, Alisha selalu memasak sendiri.Tentu saja, kadang-kadang Ricky juga memasak.Entah saat Alisha sedang sakit, atau saat tidak enak badan karena datang bulan.Orang biasanya menjadi rapuh secara psikologis dalam keadaan seperti itu, sehingga perhatian-perhatian Rick

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status