Share

Bab 3

Author: Deyrara
last update Last Updated: 2025-12-21 16:01:15

Marisa yang sadar bahwa dirinya akan di usir pun berusaha menenangkan amarah sang paman. "Paman tolong maafkan Risa, selama ini apapun keinginan paman dan bibi Risa selalu berusaha memenuhi nya." Mohon Marisa sambil berusaha menahan air mata nya.

"Terus kenapa sekarang kamu tidak menuruti keinginan paman?" Tanya Bondan penuh tekanan.

"Keinginan paman dan bibi sangat berat bagi aku, aku tidak sanggup menjalani semua itu." Jawab Marisa sambil menunduk.

"Belum di jalani kok sudah bilang gak sanggup, makanya kamu coba dulu kalau sudah tidak sanggup baru bilang tidak sanggup." Bentak Riana dan itu membuat Marisa terlonjak kaget.

"Sudahlah kalau kamu tidak sanggup lebih baik pergi dari sini dan ingat jangan kamu pernah menampakkan batang hidung kamu di hadapan kami lagi!!"

"Memang anak sama orang tua sama-sama tidak bisa di andalkan!" Tambah Bondan lagi.

Runtuh sudah pertahanan Marisa yang berusaha tidak menitikkan air mata nya lagi, karena kini dia teringat dengan kedua orang tua nya.

"Malah nangis, cengeng banget sih kayak anak kecil aja. Udah sana cepat bereskan pakaian dan pergi dari sini!!"

Marisa berjalan dengan gontai menuju dapur, karena kamar nya berada di dapur yang lembab dan kadang ada tikus yang berkeliaran.

Marisa duduk di atas ranjang yang sudah lapuk dan kasur yang sudah begitu tipis karena sudah terlalu lama di pakai dan tidak di ganti. Sedangkan paman dan bibi serta sepupu nya malah enak dengan kamar mereka yang luas dan kasur yang empuk.

Rumah paman dan bibi Marisa cukup besar dan bisa di bilang orang yang cukup berada di kawasan tempat tinggal mereka, namun mereka memperlakukan Marisa layak nya seorang pembantu yang hanya memiliki tempat tidur paling kecil dan sempit bahkan kamar itu bekas gudang yang dahulu di rapikan sendiri oleh Marisa.

"Ayah, ibu. Kenapa kalian pergi secepat ini? Aku benar-benar hidup sendirian sekarang, bahkan paman dan bibi yang sudah ku anggap orang tua pun sekarang sudah tidak perduli dengan aku dan perasaan ku." Ucap Marisa sambil mengusap foto keluarga kecil nya yang dahulu sangat bahagia.

Orang tua Marisa meninggal di saat mereka selesai merayakan hari ulang tahun Marisa yang ke sepuluh tahun di sebuah restoran bersama dengan teman-teman Marisa.

Flashback...

"Hore, Ayah ibu. Makasih ya sudah memberikan yang terbaik untuk Risa, Risa sayang sama kalian." Ucap Marisa kecil yang saat itu sedang berulang tahun.

"Sama-sama, ini hadiah dari ayah dan ibu. Coba kamu buka!"

Saat Marisa tangah fokus membuka hadiah dari orang tua nya terdengar ledakan besar di dalam restoran yang kini mereka tempati sebagai tempat acara ulang tahun Marisa.

Restoran itu seketika serasa seperti gempa dan banyak bagian atap yang runtuh orang-orang berteriak dan berlarian kesana kemari mencari arah keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Marisa melihat sekeliling ada yang kaki nya tertimpa reruntuhan ada yang seluruh badan nya tertimpa reruntuhan ada yang tertimpa di bagian kepala, semua orang yang Marisa lihat sudah luka-luka.

Marisa melihat di samping nya sang ibu yang selalu berada di sisi menggenggam tangan nya begitu erat dan berjalan terpincang-pincang, rupanya sang ibu juga terkena reruntuhan bangunan.

"Selamatkan diri, ayo Risa kita pergi dari sini!!" Suara yang Marisa dengar sayup-sayup itu seperti suara sang ayah. Namun dia tidak dapat menemukan sosok sang ayah. Marisa terus menangis dan berjalan bersama sang ibu berusaha berjalan untuk menghindari reruntuhan.

"Ibu.... ibu jangan tinggalkan Risa, kita terus berjalan keluar ya bu. Aku tidak mau jauh dari ibu, ibu tetap gandeng tangan Risa ya bu!!"

"Risa kamu tenang ya nak, ibu akan tetap bersama Risa dan ibu tidak akan pernah meninggalkan Risa dalam keadaan apapun." Ucap sang ibu penuh keyakinan.

Mereka berdua terus bergandengan tangan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati, di tangga orang-orang berdesak desakan untuk bisa cepat menuruni anak tangga dan keluar dari bangunan itu.

Sedangkan bangunan nya terus bergetar-getar menandakan bahwa bangunan akan segera roboh, Lastri sang ibu Marisa pun menarik tangan Marisa agar mereka cepat keluar dari bangunan itu.

Saat mereka sudah hampir keluar dan sudah berada di ambang pintu, terdengar suara bangunan retak. Lastri yang menyadari akan hal itu gagas saja dia mendorong Marisa keluar dari pintu yang penuh dengan manusia dan Marisa berhasil keluar dari jejalan orang-orang itu.

Namun tidak dengan sang ibu, Lastri justru tertimpa bangunan yang runtuh bersama dengan orang-orang yang tadi berjejalan di dekat pintu.

Kepala nya bocor karena tertimpa besi yang jatuh dari lantai balkon restoran itu, badan nya remuk karena tertimpa dinding beton dan orang-orang di dekat Lastri pun juga ikut tertimpa.

Orang-orang yang sudah berada di luar berteriak histeris menyaksikan betapa tragis nya keadaan korban reruntuhan bangunan restoran itu.

"Ibu...ibu...huhuhu...ibu!!!" Teriak Marisa begitu histeris melihat keadaan sang ibu yang meninggal tragis di depan mata nya.

Keadaan Marisa pun juga tidak begitu baik, setelah di dorong oleh sang ibu kaki nya baret-baret karena terkena gesekan ke tanah yang berbatu-batu. Tangan nya pun juga tertusuk beling-beling bekas pecahan kaca saat ledakan.

"Tenang ya dek, ibu kamu pasti senang karena anak yang begitu di cinta dan di sayangi nya selamat dari ancaman maut!!"

"Tapi ibu aku tidak selamat, huhuhu!!"

"Itu adalah bentuk kasih sayang dan pengorbanan ibu kamu karena di begitu mencintai anak nya! Dan itu juga sudah menjadi takdir yang telah di tetapkan oleh Tuhan, kamu yang sabar ya dek!!" Ucap seorang ibu-ibu yang menemani anak nya menghadiri pesta ulang tahun Marisa.

"Ayah... terus ayah aku kemana?" Tanya Marisa bingung karena dari tadi tidak melihat sosok sang ayah.

Orang-orang yang juga tidak tahu di mana sang ayah hanya bisa menggeleng tanda mereka juga tidak mengetahui keberadaan sang ayah.

Marisa terus menangis melihat sekeliling karena tidak dapat menemukan sang ayah. Kemudian datang seorang lelaki seumuran sang ayah menghampiri Marisa kecil yang tidak tahu arah dan tidak tahu cara melanjutkan hidup seperti sebelum nya.

"Marisa sayang, kamu jangan sedih ya!!"

"Paman siapa?" Tanya Marisa polos.

"Aku Bondan, adik dari ayah kamu dan ini istri paman, panggil saja Riana. Sekarang kamu jangan nangis lagi ya, walaupun ayah dan ibu kamu sudah tiada setidaknya kamu masih memiliki paman dan bibi yang akan menyayangi kamu!"

Marisa,yang masih kecil dan polos pun percaya begitu saja dengan ucapan lelaki itu, orang-orang di sana tentu ragu dengan ucapan Bondan.

"Mana bukti kalau kamu saudara mereka?" Tanya ibu-ibu yang tadi menenangkan Marisa.

Bondan pun menunjukkan foto keluarga mereka lengkap dengan kakek dan nenek Marisa, setelah melihat foto itu mereka pun percaya kalau Bondan dan Riana adalah keluarga dari Marisa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 10

    "Marisa!!' Teriak Mira kepada Marisa. "Kemana saja sih? Aku cariin dari tadi!" "Tadi aku kebelat dan mau ke kamar mandi!" Jawab Marisa dengan suara bergetar. "Kamu kenapa, kok wajah kamu pucat, kamu sakit?" Pertanyaan beruntun dari Mira membuat Marisa sedikit lebih tenang, karena dia berfikir masih ada orang yang sedikit perduli padanya. "Aku tidak kenapa-kenapa kok! Ayo kita balik kerja lagi." Mereka berdua pun kembali ke tempat acara untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, setelah selesai acara mereka berdua pun pulang dan berpisah di jalan. Saat Marisa menunggu ojek online di halaman hotel, seseorang yang Marisa ingin hindari datang menghampiri. "Jam segini keluar dari hotel, habis chekin?" Ucap Selly orang yang datang menghampiri Marisa. Marisa hanya memutar bola mata malas dan tidak menghiraukan ucapan Selly. "Tidak terima tawaran pak Harun malah jadi simpanan om-om! Udah benar juga ibu sama bapak aku mau jodohin malah ngelawan ujung-ujung nya jadi pemuas para l

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 9

    Marisa mendengar suara derapan kaki banyak orang dari kejauhan, Marisa berusaha sekuat tenaga untuk melawan pak Harun dan segera meminta tolong kepada orang-orang yang akan lewat. Hingga mereka sampai di koridor hotel, Marisa melihat sekelompok orang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Marisa berjalan sambil terseret seret karena tarikan pak Harun. "Tolong!!" Teriak Marisa ketika orang-orang itu mulai mendekat. "Diam!!" Bentak pak Harun. "Tolong siapapun itu tolong saya, saya mohon!!" Marisa tidak berhenti dan tidak menyerah untuk meminta tolong walaupun cengkraman tangan pak Harun semakin erat. Hingga mereka berpas-pasan dengan seorang pria dewasa dengan tubuh tinggi tegap menggunakan setelan jas yang rapi dengan di iringi oleh empat orang pengawal di belakang nya. Mata mereka bertemu, sejenak mereka saling tatap dan Marisa memberikan kode permintaan tolong kepada orang itu. Namun sayang pria dewasa itu tidak mengerti dan melewati nya begitu saja. Hingga Marisa sampa

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 8

    Setelah pulang dari kantor, Marisa berhenti di wc umum untuk mengganti pakaian dan bebersih badan. Setiap malam hari Marisa bekerja di sebuah klub malam, jika dia pulang ke rumah maka sama saja akan membuang buang waktu dan bisa saja dia terlambat berangkat ke tempat kerja. Marisa bekerja sebagai pelayan di tempat kerja nya, dahulu dia pernah di tawarkan kerja menjadi pelayan bagi para pria berhidung belang namun Marisa tidak ingin menghilangkan kehormatan dan martabat nya sebagai seorang perempuan. Bagi nya pekerjaan yang gaji nya kecil lebih baik dari pada pekerjaan dengan gaji besar namun dia harus menurunkan harga diri nya. Setelah selesai bersiap, Marisa langsung berangkat ke klub malam dengan berjalan kaki karena jarak tempuh dari wc yang di singgahi Marisa dengan tempat bekerja nya tidak terlalu jauh. "Marisa cepat, pelanggan sudah banyak yang menunggu!" Ucap teman Marisa yang juga bekerja sebagai pelayan. "Baiklah, ayo kita semangat bekerja!!" Jawab Marisa penuh seman

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 7

    "Kenapa ini ribut-ribut?" Tanya Selly pura-pura tidak tahu dengan masalah yang terjadi. "Ini bu, dokumen yang sudah saya kerjakan tiba-tiba basah karena office girl baru ini!" Ucap staf itu mengadu pada Selly. "Suruh saja dia yang mengerjakan kembali semua dokumen yang tadi rusak!!" Jawab Selly sambil melirik ke arah Marisa. "Benar juga, sekarang kamu kerjakan semua dokumen saya yang sudah kamu buat rusak. Saya tunggu sampai jam dua belas siang jika semua belum beres saya akan adukan kamu ke pak bos biar di pecat di hari pertama bekerja!" Seketika ruang itu menjadi riuh kembali karena orang-orang yang berada di ruangan itu semua menertawakan Marisa. "Tapi saya tidak mengerti bagaimana cara nya!" Jawab Marisa sambil meremat jari jemari nya. "Ya jelas tidak mengerti lah, orang yang pendidikan nya rendah mana bisa mengerjakan semua ini!" Jawab Selly sambil menekan kata rendah di depan semua orang. "Tapi saya tidak sengaja, adakah cara lain untuk saya bertanggung jawab?" Tan

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 6

    Marisa menunggu dengan gelisah pengumuman hasil interview nya hari ini, kali ini Hana yang selalu memberi nya semangat dan keyakinan jika dirinya akan di terima bekerja. "Sudahlah Marisa, aku yakin kamu akan lulus tes." "Tapi di sana ada Selly, dari dulu dia selalu berlaku tidak adil dan selalu tidak suka jika aku mendapatkan kebagiaan sedikit saja!" Tak berapa lama, dentingan telepon Marisa berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Setelah melihat nya Marisa langsung berteriak dan berlompat-lompatan sambil memeluk Hana. Hana yang di beri pelukan tiba-tiba hanya bisa membelalakkan mata nya karena terlalu erat nya pelukan yang di berikan Marisa. "Tidak bisa bernafas!!" Ucap Hana sambil memukul lengan Marisa. Setelah pelukan terlepas barulah Marisa memebritahukan Hana isi pesan yang baru saja masuk. "Aku di terima!!!" Teriak Marisa. "Benarkah?" Tanya Hana dan di beri anggukan kepala oleh Marisa, kini giliran Hana yang memeluk Marisa dengan erat karena teman nya sudah berhasil mel

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 5

    Saat mentari pagi bersinar terang, Marisa terbangun dari tidur nya. Kali ini hati Marisa terasa lebih tenang karena dia bisa bangun lebih siang dari biasa nya. Saat di rumah sang paman, Marisa selalu di tuntut bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk mereka dan beberes rumah dan tidak jarang juga Marisa tidak makan bahkan sisa makanan pun tidak ada di atas meja makan. Semua makanan yang di masak oleh Marisa selalu habis tak bersisa dan tidak jarang pula Marisa hanya minum air putih saat pergi bekerja. "Haahh... akhir nya bisa hidup lebih santai. Kenapa tidak dari dulu saja sih aku di usir dari rumah?" Gumam Marisa. "Ohh iya semua itu karna aku yang yang bodoh!!" Gumam nya lagi sambil menepuk jidat.Tidak lama setelah dia bangun dari kasur, terdengar suara nada dering handphone milik Marisa."Marisa bukan nya kamu mau interview hari ini, kamu kemana saja sih dari kemarin aku hubungi selalu tidak bisa?" Ucap seseorang dengan nada tinggi di seberang telepon."Hehe, sorry handphone

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status