Share

Bab 2

Author: Deyrara
last update Last Updated: 2025-12-19 20:29:12

Setelah kabur dari restoran, Marisa lebih memilih pergi bekerja dari pada pulang ke rumah paman dan bibi nya.

"Ya Tuhan, bantulah hamba menyelesaikan masalah ini. Hamba tidak mau menikah dengan orang yang bahkan lebih pantas aku sebut ayah!" Gumam Marisa sambil berjalan menuju pantri.

Marisa bekerja di salah satu kafe di pusat kota, jika malam hari banyak pengunjung yang berkunjung ke kafe tempat Marisa kerja.

Saat mengantarkan salah satu pesanan pelanggan, Marisa tidak sengaja tersenggol salah satu pelanggan wanita yang sedang berjalan, karena kurang fokus jadilah gelas dan piring yang berisi minuman dan makanan terjatuh dan sebagian tumpah pada baju sang pelanggan wanita.

Prang...

Suara jatuhan benda keras terdengar begitu jelas di dalam kafe yang ramai pengunjung, tentu saja hal itu menarik perhatian seluruh pelanggan yang berada di sana.

"Kamu itu punya mata tidak sih?" Ucap seorang wanita yang ketumpahan minuman tersebut.

"Maaf mbak, saya tidak sengaja."

"Baju saya jadi basah ini, kamu harus ganti rugi. Baju saya ini harga nya mahal sanggup bayar tidak?"

"Seorang pelayan seperti kamu mana mampu ganti rugi, kerja seumur hidup pun bahkan tidak akan mampu!" Tunjuk wanita itu pada Marisa, Marisa yang di marahi oleh pelanggan hanya terdiam sambil membersihkan sisa-sisa pecahan yang berserakan di lantai.

Tak berselang beberapa lama, datang seorang lelaki berkacamata dam berperawakan tinggi tegap, dia adalah seorang manejer kafe itu.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya manejer itu pada seorang wanita yang tadi terkena tumpahan minuman.

Mendengar suara itu Marisa segera bangkit dari tempat nya dan berusaha menjelaskan pada sang manejer, namun semua terlambat dan sudah lebih dahulu sang wanita yang terkena tumpahan minuman mengadu.

"Adit, lihat nih baju aku jadi basah dan kotor seperti ini. Semua ini karena ulah karyawan kamu tidak becus bekerja." Ucap sang wanita manja kepada sang manejer Marisa.

"Maafkan saya pak, saya tidak sengaja. Saya sudah berhati-hati tapi mbak nya ini yang menyenggol tangan saya." Ucap Marisa berusaha membela diri.

"Bohong!! Sayang kamu jangan percaya sama dia, dia saja kerjanya tidak becus. Kamu harus pecat karyawan yang tidak mengutamakan kenyamanan pelanggan seperti ini."

"Mana mungkin aku memecat karyawan yang kerja nya sangat telaten dan disiplin seperti Marisa! Ini hanya kesalahan kecil dan jangan kamu perpanjang urusan ini!!" Jawab Adit berusaha membela Marisa.

"Kamu membela wanita yang bukan siapa-siapa kamu di bandingkan aku yang sudah jadi tunangan kamu? Aku akan laporkan kelakuan kamu sama om aku, biar kamu di pecat dan tidak punya pekerjaan lagi." Ucap sang wanita mengancam Adit sang manejer.

Adit menghembuskan napas dengan kasar dan berkata pada Marisa. "Marisa, maafkan saya kali ini tidak dapat membela kamu. Mulai sekarang kamu saya pecat!!"

"Pak saya mohon jangan pecat saya, saya sangat butuh pekerjaan ini!!" Mohon Marisa kepada Adit sang manejer agar bisa mempertimbangkan masalah ini.

"Ini gaji kamu untuk bulan ini!" Ucap Adit sambil menyodorkan amplop yang berisi uang.

Marisa pun hanya dapat menerima kenyataan bahwa diri nya telah di pecat dari pekerjaan nya, Marisa sangat menyesal karena tidak bisa fokus pada pekerjaan nya padahal pekerjaan sebagai pelayan di kafe itu salah satu harapan nya untuk bisa membayar hutang-hutang orang tua nya dan memiliki gaji yang besar dari gaji pekerjaan nya yang lain.

"Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, apakah hamba tidak pantas hidup di dunia ini sampai engkau tega memberikan hamba cobaan yang bertubi-tubi."

Marisa sekarang sedang duduk di kursi pinggir jalan sambil memikirkan hidup nya yang sekarang sedang berantakan.

"Apa aku pulang dan menerima penawaran orang itu untuk melahirkan seorang anak?" Batin Marisa, sekarang pikiran nya sedang melayang-layang tak tentu arah.

"Seperti nya itu adalah hal yang mudah, setelah aku melahirkan aku akan mendapatkan sebuah vila dan aku akan pergi dari hidup mereka!"

"Tapi hal seperti itu hanya dapat menjatuhkan harga diri ku sebagai seorang perempuan yang bisa saja di cap orang sebagai seorang perempuan matre, rela menjual rahim hanya untuk melahirkan keturunan untuk orang-orang kaya seperti mereka."

Saat Marisa melamamun tiba-tiba datang seseorang yang dia kenal menghampiri ke tempat nya kini duduk.

"Enak ya kamu kabur tanpa mau bertanggung jawab!!"

"Bi, maafkan aku. Aku tidak mau menjual rahim dan memberikam anak yang susah payah ku kandung hanya untuk kepentingan kita semua." Ucap Marisa sambil meremat jari jemari nya.

"Kamu itu harus tahu balas budi, jangan mau lepas tanggung jawab sama hutang-hutang orang tua kamu dan ingat kamu itu sudah menumpang hidup sama kami jadi harus tahu balas budi!!"

"Iya bi, aku rela kerja siang malam untuk membalas hutang budi kepada kalian karena sudah memberikan aku tumpangan dan merawat aku sejak aku masih kecil. Terimakasih bibi dan paman sudah merawat aku tapi maaf aku tidak bisa menikah dengan pak Harun!"

"Kamu rela kerja siang malam? Kalau bibi jadi kamu bibi lebih memilih menikah sama pak Harun dan hidup enak tanpa harus banting tulang siang dan malam, tinggal melahirkan anak keturunan pak Harun selesai. Uang dapat vila pun dapat, apa susah nya?"

"Kalau begitu biar bibi saja yang nikah sama pak Harun kenapa harus menyuruh aku?" Bantah Marisa, kali ini keberanian dari manakah yang dapat membuat Marisa bisa membantah perkataan sang bibi. Tak seperti biasa nya yang harus menurut apa kata bibi dan pama. nya.

"Sudah mulai berani sekarang kamu ya melawan bibi! Pulang sekarang dan minta maaf sama keluarga pak Harun dan kamu setujui pernikahan ini!!" Ucap Riana sambil menarik tangan Marisa dan menyeret nya masuk ke dalam mobil.

"Bi, tolong berikan aku kebebasan untuk memilih jalan hidup ku!"

"Bibi melakukan semua ini hanya demi kebaikan kamu Marisa, ingat semua hanya demi kamu!!"

"Demi aku atau hanya untuk kepentingan pribadi kalian? Kalau hanya ingin kebaikan kenapa tidak kalian dahulukan kebaikan anak kalian dari pada kebaikan aku yang hanya keponakan kalian?"

"Karena Selly tidak pantas, sekarang Selly sudah menjadi sekertaris di perusahaan properti terbesar di kota ini."

"Apa bibi sudah lupa aku pun juga sudah bekerja."

"Tapi pekerjaan kamu beda, bibi kasihan melihat kamu kerja siang malam makanya bibi ingin menjodohkan kamu sama pak Harun!"

Setelah beberapa saat mereka berdabat mobil pun tak terasa sudah sampai ke halaman rumah keluarga Bondan. Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

"Bagus Riana, kamu sudah bisa menemukan gadis yang tidak tahu malu ini. Sini ikut paman ke dalam kamar kamu dan bereskan semua pakaian mu, paman sudah sangat malu dan ingin memberikan kamu hukuman yang berat."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 24

    Ibu-ibu itu bingung harus berbuat apa, sedangkan dia harus segera pulang membawa belanjaan nya. Di saat dia sedang berfikir antara memaksa Marisa ikut dengan nya atau harus pulang dengan membawa kabar bahagia tanpa membawa bukti, Marisa dan Hana pergi tanpa berkata apapun di saat ibu itu terdiam.Saat ibu-ibu itu tersadar, orang yang di bilang nya mirip Siska itu sudah tidak ada. Dia berusaha mencari jejak Marisa sampai dia rela mengitari toserba yang besar itu, namun yang dia cari tidak ada tampak batang hidung nya pun.Akhir nya ibu itu menyerah dan memilih untuk membayar belanjaan nya ke kasir dan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online."Kenapa malam ini ada aja gangguan nya, orang kita mau senang-senang kan Han?" Ucap Marisa sambil menghembuskan napas nya kasar."Iya ya? Apa jangan-jangan Tuhan tidak meridhoi kita untuk memakai uang yang kita punya?" "Aneh-aneh aja kamu Han, orang ini rezeki Tuhan yang memberi masa tidak di perbolehkan memakai!" Marisa geleng-geleng samb

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 23

    Saat Ammar sedang makan malam bersama keluarga nya, Marisa yang waktu itu gabut karena tidak ada kerjaan memilih untuk keluar dari kontrakan nya untuk menghirup udara segar. Karena merasa sepi, dia mengajak Hana untuk pergi jalan-jalan pada malam itu. Mereka menikmati malam yang cerah di sebuah cafe yang bertingkat, di atar balkon cafe mereka duduk berdua dan bertukar cerita. Saat mereka tengah asyik bersenda gurau, seseorang yang mereka kenali datang menghampiri mereka. "Aduh bikin sakit mata saja melihat kalian ada di sini!" Siapa lagi kalau bukan Selly sang pembuat onar dan manusia yang sok paling sempurna di dunia ini. "Kalau bikin sakit mata, jangan di lihat dong!" Ketus Marisa yang malas menanggapi Selly. "Risa, aku kok seperti mendengar suara-suara gitu yah. Kamu dengar tidak?" Tanya Hana pada Marisa sambil memutar bola mata nya malas. "Iihh kok merinding yah? Jangan-jangan cafe ini ada hantu nya lagi!" Sahut Marisa sambil mempergakan gaya ketakutan. "Kita pergi sa

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 22

    "Sudahlah ma, aku sedang malas berdebat kali ini. Malam ini biar kalian saja yang pergi ke pertemuan itu." Setelah mengucapkan kata yang membuat ibu nya tambah marah lalu Ammar pergi meninggalkan orang tua nya. "Ammar jangan membuat mama sama papa kamu malu, kamu bahkan tidak pernah mau hadir di acara pertemuan kedua keluarga kita!!" Teriak Melly karena Ammar sudah berada di ambang pintu yang berada jauh dari tempat mereka duduk. Ammir lalu mengusap punggung sang istri untuk menenangkan. "Mungkin Ammar butuh waktu untuk membuka hati nya, kamu jangan terlalu memaksakan kehendak dari pada menghargai perasaan anak." "Dia memang berbeda dari Dimas, anak itu selalu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang tua." Geram Melly dan lalu membandingkan kedua anak nya. "Sudahlah ma, nanti terdengar oleh Ammar kalau kamu membandingkan mereka lagi. Bisa-bisa Ammar pergi dari rumah seperti dulu." Ucap Tuan Ammir menenangkan sang istri. Dulu ketika Ammar membantah peri

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 21

    Ammar pulang ke rumah lebih awal untuk menemui kedua orang tua nya. Sebelum pulang Ammar menyuruh Yudi untuk pergi bersama Selly untuk mewakili dirinya meting di salah satu cafe terkenal di kota itu. Karena klein yang akan bertemu dengan Ammar bukan lah klein yang sangat penting, jadi Ammar bisa menyuruh Yudi dan Selly untuk pergi mewakili dirinya. "Yah, padahal tadi mau tidur sebentar mumpung libur Ini mah nama nya bukan libur tapi cuma di beri waktu istirahat sedikit lebih lama dari biasa nya." Gumam Yudi saat menerima perintah dari sang bos, namun hal itu malah membuat murka Ammar. Yudi dan Ammar berteman sejak mereka masih duduk di bangku sma hingga sekarang, mereka berteman dengan baik hingga Ammar mengajak nya untuk bekerja sebagai orang kepercayaan nya. ***** Sesampai nya di rumah Ammar langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua nya yang waktu itu sedang bersantai di ruang keluarga. "Hay anak mama, tumben kamu pulang cepat ada apa nih?" Tanya Melly istri dari tuan Am

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 20

    Semua mata tertuju pada Marisa yang kini penampilan nya sungguh berbeda dari biasa nya. Dengan berjalan beriringan bersama Ammar membuat nya merasa seperti seorang asisten sesungguh nya. "Bos apa ini tidak berlebihan? Saya jadi tidak enak menjadi pusat perhatian semua orang seperti ini!" Ucap Marisa yang saat itu sedang berusaha menjejeri langkah Ammar. "Kamu masih mau kerja dengan saya?" "Masih bos!" "Kalau begitu jangan hiraukan orang-orang sekitar karena kamu di sini hanya bekerja untuk saya!" Ammar kemudian memerintahkan seorang office boy untuk membuatkan meja kerja untuk Marisa. "Taruh di ruangan saya!" Ucap Ammar dengan nada khas nya. Setelah memerintahkan, Ammar pergi ke ruang meting yang ada di dalam kantor nya. "Dasar jalang tidak tahu malu, sudah berani menggoda bos sampai-sampai bos tunduk sama kamu!" Tunjuk Selly yang saat itu melihat para office boy bekerja untuk memindahkan salah satu meja kerja untuk Marisa. "Siapa yang menggoda, orang bos sendiri

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 19

    "Sekarang kamu harus menurut dengan ucapan dan apapun perintah dari saya." Kali ini dia tidak membatah apapun perintah Ammar dan berusaha mengikuti alur yang di buat oleh penulis. Meraka berdua masuk ke salon itu dan manyuruh karyawan salon itu untuk memberikan Marisa perawatan yang baik bahkan dia membeli member vip di salon itu. "Berikan pelayanan yang terbaik untuk dia, jika dia tidak puas dengan pelayanan yang kalian berikan maka saya akan tutup salon kalian ini!" Mereka yang berada di dalam salon itu pun merasa takut dan segan kepada Marisa karena ancaman yang di berikan oleh Ammar. Setelah menunggu beberapa saat, kini Marisa telah selasai dengan kegiatan nya di dalam sana dan seketika membuat Ammar sedikit pangling melihat perubahan pada wajah Marisa. Wajah yang awal nya terlihat biasa saja, kini di polesi make up yang membuat wajah nya berubah drastis. "Kamu cantik!" Ucap Ammar spontan saat melihat Marisa dari dekat. "Apa?" "Tidak apa, sekarang ikut saya ke satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status