LOGINDan setelah itu Marisa di bawa pulang oleh paman dan bibi nya ke rumah Marisa, saat itu mereka membawa anak kecil berusia delapan tahunan. Itu adalah Selly, mereka bertiga malah membawa koper pakaian dan berniat untuk tinggal di rumah Marisa.
Sejak saat itulah Marisa selalu di perlakukan tidak adil oleh paman dan bibi nya, Marisa selalu di peringatkan perihal balas budi karena mereka telah merawat Marisa sejak saat itu. Bahkan rumah peninggalan orang tua Marisa di akui oleh mereka dan Marisa yang masih kecil pun hanya bisa menuruti keinginan mereka karena Marisa mengira mereka orang-orang yang tulus. Flashback of... Marisa pun menggaret koper nya keluar dari rumah yang selama ini di tempati nya dengan perasaan sedih. "Semua sudah ku lakukan untuk membalas budi kepada kalian, hanya karena tidak mau menikah dengan orang yang kalian sukai aku bahkan di usir dari rumah ku sendiri." Ucap Marisa sebelum benar-benar pergi dari rumah itu. "Jangan kamu lupa, masih banyak hutang orang tua kamu yang harus kamu tanggung!!" Balas Bondan. "Aku curiga orang tua ku tidak benar-benar memiliki hutang dan itu hanya akal-akalan kalian saja untuk mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras." Mereka pun kelabakan mendengar ucapan Marisa. "Jangan mengada-ada kamu ya!! Memang benar orang tua kamu yang tidak becus urus anak itu banyak hutang dan sampai sekarang belum lunas." Sahut Bondan. "Baiklah." Ucap Marisa tegas dan mulai melangkahkan kaki nya keluar dari halaman rumah itu. Di jalan Marisa menimbang nimbang kemana dia akan pergi sedangkan hari sudah menunjukkan pukul dua belas malam. "Dimana aku tidur malam ini?" Gumam Marisa. Disaat Marisa sedang melamun di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari arah barat, mendengar itu Marisa segera mencari sumber suara. Perlahan dia mendekat ke arah sumber suara, di sana seorang pria dewasa dengan perawakan tinggi besar sedang duduk di atas motor. Dengan ragu-ragu Marisa bertanya kepada pria itu. "Apa ada yang bisa saya bantu?" Pria itu menoleh ke arah Marisa dengan tatapan dingin dan itu membuat nyali Marisa menciut, andai waktu bisa di ulang Marisa lebih memilih untuk tidak mendekati pria itu. "Memang kamu bisa bantu saya apa? Wanita dasar nya lemah tapi isi otak nya kelicikan semua!" Ucap pria itu tetap dingin sambil menyalakan rokok yang di pegang nya. "Hey, anda bilang saya licik? Saya hanya berniat membantu dan tidak punya niat buruk apapun!!" Balas Marisa dengan emosi, karena tidak terima di katakan wanita licik. "Udahlah, memang kamu bisa memperbaiki motor ku ini?" Tanya pria itu meremehkan Marisa. "Ya..ya.. tidak bisa. Saya kan bukan montir." "Dasar wanita lemah!!" Pria itu terus terusan mengatai Marisa. Marisa yang sudah mulai kesal dengan pria itu berniat untuk pergi dari sana dan kembali memikirkan tempat tinggal nya untuk sementara waktu. "Memang mau kemana pakai bawa koper segala? Mau kabur dari kenyataan atau cuman mau menghindar dari kenyataan?" Tanya pria itu pada Marisa. "Ingin rasanya menghilang dari dunia ini!!" Balas Marisa lalu dia duduk di atas trotoar dekat motor pria itu. "Sama, aku juga rasanya mau menghilang. Apa kita menghilang sama-sama saja?" Ucapan pria itu membuat Marisa menolehkan kepala nya. "Hello, memang kamu siapa sok akrab sama saya? Pakai cara ngajakin menghilang bersama." "Ya manusia lah, masa setan seganteng ini." "Kalau mau cari kontrakan, di komplek xxx ada yang mau di kontrakin." Lanjut sang pria. "Tidak perlu bantuan pria aneh seperti kamu!!" Jawab Marisa dengan nada cuek. "Ya sudah kalau tidak mau di bantu!!" Pria itu langsung pergi sambil mendorong motor nya. "Mau kemana?" Tanya Marisa berteriak sambil berlari menghampiri pria itu. "Pulang!!" "Boleh antar aku ke kontrakan itu tidak?" Tanya Marisa penuh harap kepada pria itu. "Tidak!! Saya lagi sibuk." "Ya sudah kalau tidak mau!!" Marisa pun pergi dengan perasaan campur aduk antara marah dan kecewa karena tadi sok-sokan tidak mau di bantu oleh pria itu. Jadilah dia berjalan sendirian berlawanan arah dengan pria tadi. Marisa terus menarik koper nya di trotoar hingga ada sebuah mobil berhenti tepat di samping nya. "Mau ke komplek xxx ya mbak?" Tanya sang supir Marisa seketika melongo keajaiban datang dari mana tiba-tiba ada orang yang bertanya sesuai dengan keinginan hatinya. "Tadinya sih begitu, tapi saya tidak tahu jalan ke arah sana!" Jawab Marisa jujur. "Biar saya antar mbak!" Marisa ragu antara ikut atau tidak, jika tidak ikut takut nanti menyesal seperti tadi. Jadilah Marisa ikut dengan mobil itu. "Maaf, bapak tahu dari mana kalau saya mau ke komplek xxx?" Tanya Marisa ragu. "Itu ada di dahi mbak nya." Jawab sang supir sambil tersenyum ramah, repleks Marisa memegang dahi nya. "Hehehe, tidak ada kok mbak. Saya cuma ada perasaan kalau mbak nya itu mau kesana gitu mbak." "Bapak bukan orang jahat kan?" Ditengah malam seperti ini Marisa takut hal yang tidak di inginkan terjadi. "Mbak nya tenang saja, saya tidak akan macam-macam karena saya cuma manusia yang membutuhkan uang untuk anak dan istri saya!" "Makasih ya pak." "Sama-sama mbak." Setelah kurang lebih lima belas menit melintasi jalanan yang gelap dan sepi karena sudah tengah malam, akhir nya mereka sampai di komplek yang tadi di katakan oleh pria yang bertemu Marisa di jalan. Di depan sana Marisa sudah di tunggu oleh pemilik rumah yang ingin di sewa oleh Marisa dan supir yang tadi membawa Marisa juga ikut membantu membawa koper nya. Marisa merasa heran padahal dia belum bertemu dengan sang pemilik kenapa sampai-sampai sudah di tunggu oleh pemilik rumah? "Ini mbak yang mau ngontrak di rumah saya?" Tanya ibu pemilik rumah itu. Marisa ragu untuk menjawab pertanyaan sang pemilik rumah, masalah nya rumah yang ada di hadapan nya bukan rumah sembarangan. Rumah itu terlihat minimalis dan terlihat mewah dari luar halaman nya pun luas seperti bukan rumah kontrkan pada umumnya yang berpetak-petak. "Berapa sebulan nya ya bu?" Tanya Marisa ragu. Sang pemilik rumah pun tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan Marisa. "lima ratus ribu saja neng!" Marisa yang mendengar harga itu pun melongo. Masalah nya rumah sebesar itu cuma di hargai lima ratus ribu, tanpa pikir panjang Marisa pun langsung ingin mengontrak di rumah itu. "Pakai uang dp dulu tidak bu?" "Sudah di dp neng, jadi tidak perlu bayar dp lagi bahkan sudah di bayar satu tahun!" Marisa kembali di buat melongo oleh apa yang di katakan oleh pemilik rumah, bagaimana bisa sudah di dp sedangkan Marisa saja baru datang ke rumah itu. "Oh itu uang dp dari yang kontrak sebelum neng, orang nya sudah meninggal uang nya mau saya balikin sama kelurga nya tapi dia tidak punya keluarga neng. Hitung-hitung buat nambah amal jariyah kan?" "Hehe, iya bu." Sahut Marisa dengan raut wajah bingung.Ibu-ibu itu bingung harus berbuat apa, sedangkan dia harus segera pulang membawa belanjaan nya. Di saat dia sedang berfikir antara memaksa Marisa ikut dengan nya atau harus pulang dengan membawa kabar bahagia tanpa membawa bukti, Marisa dan Hana pergi tanpa berkata apapun di saat ibu itu terdiam.Saat ibu-ibu itu tersadar, orang yang di bilang nya mirip Siska itu sudah tidak ada. Dia berusaha mencari jejak Marisa sampai dia rela mengitari toserba yang besar itu, namun yang dia cari tidak ada tampak batang hidung nya pun.Akhir nya ibu itu menyerah dan memilih untuk membayar belanjaan nya ke kasir dan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online."Kenapa malam ini ada aja gangguan nya, orang kita mau senang-senang kan Han?" Ucap Marisa sambil menghembuskan napas nya kasar."Iya ya? Apa jangan-jangan Tuhan tidak meridhoi kita untuk memakai uang yang kita punya?" "Aneh-aneh aja kamu Han, orang ini rezeki Tuhan yang memberi masa tidak di perbolehkan memakai!" Marisa geleng-geleng samb
Saat Ammar sedang makan malam bersama keluarga nya, Marisa yang waktu itu gabut karena tidak ada kerjaan memilih untuk keluar dari kontrakan nya untuk menghirup udara segar. Karena merasa sepi, dia mengajak Hana untuk pergi jalan-jalan pada malam itu. Mereka menikmati malam yang cerah di sebuah cafe yang bertingkat, di atar balkon cafe mereka duduk berdua dan bertukar cerita. Saat mereka tengah asyik bersenda gurau, seseorang yang mereka kenali datang menghampiri mereka. "Aduh bikin sakit mata saja melihat kalian ada di sini!" Siapa lagi kalau bukan Selly sang pembuat onar dan manusia yang sok paling sempurna di dunia ini. "Kalau bikin sakit mata, jangan di lihat dong!" Ketus Marisa yang malas menanggapi Selly. "Risa, aku kok seperti mendengar suara-suara gitu yah. Kamu dengar tidak?" Tanya Hana pada Marisa sambil memutar bola mata nya malas. "Iihh kok merinding yah? Jangan-jangan cafe ini ada hantu nya lagi!" Sahut Marisa sambil mempergakan gaya ketakutan. "Kita pergi sa
"Sudahlah ma, aku sedang malas berdebat kali ini. Malam ini biar kalian saja yang pergi ke pertemuan itu." Setelah mengucapkan kata yang membuat ibu nya tambah marah lalu Ammar pergi meninggalkan orang tua nya. "Ammar jangan membuat mama sama papa kamu malu, kamu bahkan tidak pernah mau hadir di acara pertemuan kedua keluarga kita!!" Teriak Melly karena Ammar sudah berada di ambang pintu yang berada jauh dari tempat mereka duduk. Ammir lalu mengusap punggung sang istri untuk menenangkan. "Mungkin Ammar butuh waktu untuk membuka hati nya, kamu jangan terlalu memaksakan kehendak dari pada menghargai perasaan anak." "Dia memang berbeda dari Dimas, anak itu selalu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang tua." Geram Melly dan lalu membandingkan kedua anak nya. "Sudahlah ma, nanti terdengar oleh Ammar kalau kamu membandingkan mereka lagi. Bisa-bisa Ammar pergi dari rumah seperti dulu." Ucap Tuan Ammir menenangkan sang istri. Dulu ketika Ammar membantah peri
Ammar pulang ke rumah lebih awal untuk menemui kedua orang tua nya. Sebelum pulang Ammar menyuruh Yudi untuk pergi bersama Selly untuk mewakili dirinya meting di salah satu cafe terkenal di kota itu. Karena klein yang akan bertemu dengan Ammar bukan lah klein yang sangat penting, jadi Ammar bisa menyuruh Yudi dan Selly untuk pergi mewakili dirinya. "Yah, padahal tadi mau tidur sebentar mumpung libur Ini mah nama nya bukan libur tapi cuma di beri waktu istirahat sedikit lebih lama dari biasa nya." Gumam Yudi saat menerima perintah dari sang bos, namun hal itu malah membuat murka Ammar. Yudi dan Ammar berteman sejak mereka masih duduk di bangku sma hingga sekarang, mereka berteman dengan baik hingga Ammar mengajak nya untuk bekerja sebagai orang kepercayaan nya. ***** Sesampai nya di rumah Ammar langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua nya yang waktu itu sedang bersantai di ruang keluarga. "Hay anak mama, tumben kamu pulang cepat ada apa nih?" Tanya Melly istri dari tuan Am
Semua mata tertuju pada Marisa yang kini penampilan nya sungguh berbeda dari biasa nya. Dengan berjalan beriringan bersama Ammar membuat nya merasa seperti seorang asisten sesungguh nya. "Bos apa ini tidak berlebihan? Saya jadi tidak enak menjadi pusat perhatian semua orang seperti ini!" Ucap Marisa yang saat itu sedang berusaha menjejeri langkah Ammar. "Kamu masih mau kerja dengan saya?" "Masih bos!" "Kalau begitu jangan hiraukan orang-orang sekitar karena kamu di sini hanya bekerja untuk saya!" Ammar kemudian memerintahkan seorang office boy untuk membuatkan meja kerja untuk Marisa. "Taruh di ruangan saya!" Ucap Ammar dengan nada khas nya. Setelah memerintahkan, Ammar pergi ke ruang meting yang ada di dalam kantor nya. "Dasar jalang tidak tahu malu, sudah berani menggoda bos sampai-sampai bos tunduk sama kamu!" Tunjuk Selly yang saat itu melihat para office boy bekerja untuk memindahkan salah satu meja kerja untuk Marisa. "Siapa yang menggoda, orang bos sendiri
"Sekarang kamu harus menurut dengan ucapan dan apapun perintah dari saya." Kali ini dia tidak membatah apapun perintah Ammar dan berusaha mengikuti alur yang di buat oleh penulis. Meraka berdua masuk ke salon itu dan manyuruh karyawan salon itu untuk memberikan Marisa perawatan yang baik bahkan dia membeli member vip di salon itu. "Berikan pelayanan yang terbaik untuk dia, jika dia tidak puas dengan pelayanan yang kalian berikan maka saya akan tutup salon kalian ini!" Mereka yang berada di dalam salon itu pun merasa takut dan segan kepada Marisa karena ancaman yang di berikan oleh Ammar. Setelah menunggu beberapa saat, kini Marisa telah selasai dengan kegiatan nya di dalam sana dan seketika membuat Ammar sedikit pangling melihat perubahan pada wajah Marisa. Wajah yang awal nya terlihat biasa saja, kini di polesi make up yang membuat wajah nya berubah drastis. "Kamu cantik!" Ucap Ammar spontan saat melihat Marisa dari dekat. "Apa?" "Tidak apa, sekarang ikut saya ke satu







