Share

Bab 4

Author: Deyrara
last update Last Updated: 2025-12-23 10:29:56

Dan setelah itu Marisa di bawa pulang oleh paman dan bibi nya ke rumah Marisa, saat itu mereka membawa anak kecil berusia delapan tahunan. Itu adalah Selly, mereka bertiga malah membawa koper pakaian dan berniat untuk tinggal di rumah Marisa.

Sejak saat itulah Marisa selalu di perlakukan tidak adil oleh paman dan bibi nya, Marisa selalu di peringatkan perihal balas budi karena mereka telah merawat Marisa sejak saat itu.

Bahkan rumah peninggalan orang tua Marisa di akui oleh mereka dan Marisa yang masih kecil pun hanya bisa menuruti keinginan mereka karena Marisa mengira mereka orang-orang yang tulus.

Flashback of...

Marisa pun menggaret koper nya keluar dari rumah yang selama ini di tempati nya dengan perasaan sedih.

"Semua sudah ku lakukan untuk membalas budi kepada kalian, hanya karena tidak mau menikah dengan orang yang kalian sukai aku bahkan di usir dari rumah ku sendiri." Ucap Marisa sebelum benar-benar pergi dari rumah itu.

"Jangan kamu lupa, masih banyak hutang orang tua kamu yang harus kamu tanggung!!" Balas Bondan.

"Aku curiga orang tua ku tidak benar-benar memiliki hutang dan itu hanya akal-akalan kalian saja untuk mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras." Mereka pun kelabakan mendengar ucapan Marisa.

"Jangan mengada-ada kamu ya!! Memang benar orang tua kamu yang tidak becus urus anak itu banyak hutang dan sampai sekarang belum lunas." Sahut Bondan.

"Baiklah." Ucap Marisa tegas dan mulai melangkahkan kaki nya keluar dari halaman rumah itu.

Di jalan Marisa menimbang nimbang kemana dia akan pergi sedangkan hari sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

"Dimana aku tidur malam ini?" Gumam Marisa.

Disaat Marisa sedang melamun di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari arah barat, mendengar itu Marisa segera mencari sumber suara.

Perlahan dia mendekat ke arah sumber suara, di sana seorang pria dewasa dengan perawakan tinggi besar sedang duduk di atas motor.

Dengan ragu-ragu Marisa bertanya kepada pria itu. "Apa ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu menoleh ke arah Marisa dengan tatapan dingin dan itu membuat nyali Marisa menciut, andai waktu bisa di ulang Marisa lebih memilih untuk tidak mendekati pria itu.

"Memang kamu bisa bantu saya apa? Wanita dasar nya lemah tapi isi otak nya kelicikan semua!" Ucap pria itu tetap dingin sambil menyalakan rokok yang di pegang nya.

"Hey, anda bilang saya licik? Saya hanya berniat membantu dan tidak punya niat buruk apapun!!" Balas Marisa dengan emosi, karena tidak terima di katakan wanita licik.

"Udahlah, memang kamu bisa memperbaiki motor ku ini?" Tanya pria itu meremehkan Marisa.

"Ya..ya.. tidak bisa. Saya kan bukan montir."

"Dasar wanita lemah!!" Pria itu terus terusan mengatai Marisa.

Marisa yang sudah mulai kesal dengan pria itu berniat untuk pergi dari sana dan kembali memikirkan tempat tinggal nya untuk sementara waktu.

"Memang mau kemana pakai bawa koper segala? Mau kabur dari kenyataan atau cuman mau menghindar dari kenyataan?" Tanya pria itu pada Marisa.

"Ingin rasanya menghilang dari dunia ini!!" Balas Marisa lalu dia duduk di atas trotoar dekat motor pria itu.

"Sama, aku juga rasanya mau menghilang. Apa kita menghilang sama-sama saja?" Ucapan pria itu membuat Marisa menolehkan kepala nya.

"Hello, memang kamu siapa sok akrab sama saya? Pakai cara ngajakin menghilang bersama."

"Ya manusia lah, masa setan seganteng ini."

"Kalau mau cari kontrakan, di komplek xxx ada yang mau di kontrakin." Lanjut sang pria.

"Tidak perlu bantuan pria aneh seperti kamu!!" Jawab Marisa dengan nada cuek.

"Ya sudah kalau tidak mau di bantu!!" Pria itu langsung pergi sambil mendorong motor nya.

"Mau kemana?" Tanya Marisa berteriak sambil berlari menghampiri pria itu.

"Pulang!!"

"Boleh antar aku ke kontrakan itu tidak?" Tanya Marisa penuh harap kepada pria itu.

"Tidak!! Saya lagi sibuk."

"Ya sudah kalau tidak mau!!" Marisa pun pergi dengan perasaan campur aduk antara marah dan kecewa karena tadi sok-sokan tidak mau di bantu oleh pria itu.

Jadilah dia berjalan sendirian berlawanan arah dengan pria tadi. Marisa terus menarik koper nya di trotoar hingga ada sebuah mobil berhenti tepat di samping nya.

"Mau ke komplek xxx ya mbak?" Tanya sang supir Marisa seketika melongo keajaiban datang dari mana tiba-tiba ada orang yang bertanya sesuai dengan keinginan hatinya.

"Tadinya sih begitu, tapi saya tidak tahu jalan ke arah sana!" Jawab Marisa jujur.

"Biar saya antar mbak!"

Marisa ragu antara ikut atau tidak, jika tidak ikut takut nanti menyesal seperti tadi. Jadilah Marisa ikut dengan mobil itu.

"Maaf, bapak tahu dari mana kalau saya mau ke komplek xxx?" Tanya Marisa ragu.

"Itu ada di dahi mbak nya." Jawab sang supir sambil tersenyum ramah, repleks Marisa memegang dahi nya.

"Hehehe, tidak ada kok mbak. Saya cuma ada perasaan kalau mbak nya itu mau kesana gitu mbak."

"Bapak bukan orang jahat kan?" Ditengah malam seperti ini Marisa takut hal yang tidak di inginkan terjadi.

"Mbak nya tenang saja, saya tidak akan macam-macam karena saya cuma manusia yang membutuhkan uang untuk anak dan istri saya!"

"Makasih ya pak."

"Sama-sama mbak."

Setelah kurang lebih lima belas menit melintasi jalanan yang gelap dan sepi karena sudah tengah malam, akhir nya mereka sampai di komplek yang tadi di katakan oleh pria yang bertemu Marisa di jalan.

Di depan sana Marisa sudah di tunggu oleh pemilik rumah yang ingin di sewa oleh Marisa dan supir yang tadi membawa Marisa juga ikut membantu membawa koper nya.

Marisa merasa heran padahal dia belum bertemu dengan sang pemilik kenapa sampai-sampai sudah di tunggu oleh pemilik rumah?

"Ini mbak yang mau ngontrak di rumah saya?" Tanya ibu pemilik rumah itu.

Marisa ragu untuk menjawab pertanyaan sang pemilik rumah, masalah nya rumah yang ada di hadapan nya bukan rumah sembarangan. Rumah itu terlihat minimalis dan terlihat mewah dari luar halaman nya pun luas seperti bukan rumah kontrkan pada umumnya yang berpetak-petak.

"Berapa sebulan nya ya bu?" Tanya Marisa ragu.

Sang pemilik rumah pun tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan Marisa. "lima ratus ribu saja neng!" Marisa yang mendengar harga itu pun melongo.

Masalah nya rumah sebesar itu cuma di hargai lima ratus ribu, tanpa pikir panjang Marisa pun langsung ingin mengontrak di rumah itu.

"Pakai uang dp dulu tidak bu?"

"Sudah di dp neng, jadi tidak perlu bayar dp lagi bahkan sudah di bayar satu tahun!"

Marisa kembali di buat melongo oleh apa yang di katakan oleh pemilik rumah, bagaimana bisa sudah di dp sedangkan Marisa saja baru datang ke rumah itu.

"Oh itu uang dp dari yang kontrak sebelum neng, orang nya sudah meninggal uang nya mau saya balikin sama kelurga nya tapi dia tidak punya keluarga neng. Hitung-hitung buat nambah amal jariyah kan?"

"Hehe, iya bu." Sahut Marisa dengan raut wajah bingung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 10

    "Marisa!!' Teriak Mira kepada Marisa. "Kemana saja sih? Aku cariin dari tadi!" "Tadi aku kebelat dan mau ke kamar mandi!" Jawab Marisa dengan suara bergetar. "Kamu kenapa, kok wajah kamu pucat, kamu sakit?" Pertanyaan beruntun dari Mira membuat Marisa sedikit lebih tenang, karena dia berfikir masih ada orang yang sedikit perduli padanya. "Aku tidak kenapa-kenapa kok! Ayo kita balik kerja lagi." Mereka berdua pun kembali ke tempat acara untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, setelah selesai acara mereka berdua pun pulang dan berpisah di jalan. Saat Marisa menunggu ojek online di halaman hotel, seseorang yang Marisa ingin hindari datang menghampiri. "Jam segini keluar dari hotel, habis chekin?" Ucap Selly orang yang datang menghampiri Marisa. Marisa hanya memutar bola mata malas dan tidak menghiraukan ucapan Selly. "Tidak terima tawaran pak Harun malah jadi simpanan om-om! Udah benar juga ibu sama bapak aku mau jodohin malah ngelawan ujung-ujung nya jadi pemuas para l

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 9

    Marisa mendengar suara derapan kaki banyak orang dari kejauhan, Marisa berusaha sekuat tenaga untuk melawan pak Harun dan segera meminta tolong kepada orang-orang yang akan lewat. Hingga mereka sampai di koridor hotel, Marisa melihat sekelompok orang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Marisa berjalan sambil terseret seret karena tarikan pak Harun. "Tolong!!" Teriak Marisa ketika orang-orang itu mulai mendekat. "Diam!!" Bentak pak Harun. "Tolong siapapun itu tolong saya, saya mohon!!" Marisa tidak berhenti dan tidak menyerah untuk meminta tolong walaupun cengkraman tangan pak Harun semakin erat. Hingga mereka berpas-pasan dengan seorang pria dewasa dengan tubuh tinggi tegap menggunakan setelan jas yang rapi dengan di iringi oleh empat orang pengawal di belakang nya. Mata mereka bertemu, sejenak mereka saling tatap dan Marisa memberikan kode permintaan tolong kepada orang itu. Namun sayang pria dewasa itu tidak mengerti dan melewati nya begitu saja. Hingga Marisa sampa

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 8

    Setelah pulang dari kantor, Marisa berhenti di wc umum untuk mengganti pakaian dan bebersih badan. Setiap malam hari Marisa bekerja di sebuah klub malam, jika dia pulang ke rumah maka sama saja akan membuang buang waktu dan bisa saja dia terlambat berangkat ke tempat kerja. Marisa bekerja sebagai pelayan di tempat kerja nya, dahulu dia pernah di tawarkan kerja menjadi pelayan bagi para pria berhidung belang namun Marisa tidak ingin menghilangkan kehormatan dan martabat nya sebagai seorang perempuan. Bagi nya pekerjaan yang gaji nya kecil lebih baik dari pada pekerjaan dengan gaji besar namun dia harus menurunkan harga diri nya. Setelah selesai bersiap, Marisa langsung berangkat ke klub malam dengan berjalan kaki karena jarak tempuh dari wc yang di singgahi Marisa dengan tempat bekerja nya tidak terlalu jauh. "Marisa cepat, pelanggan sudah banyak yang menunggu!" Ucap teman Marisa yang juga bekerja sebagai pelayan. "Baiklah, ayo kita semangat bekerja!!" Jawab Marisa penuh seman

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 7

    "Kenapa ini ribut-ribut?" Tanya Selly pura-pura tidak tahu dengan masalah yang terjadi. "Ini bu, dokumen yang sudah saya kerjakan tiba-tiba basah karena office girl baru ini!" Ucap staf itu mengadu pada Selly. "Suruh saja dia yang mengerjakan kembali semua dokumen yang tadi rusak!!" Jawab Selly sambil melirik ke arah Marisa. "Benar juga, sekarang kamu kerjakan semua dokumen saya yang sudah kamu buat rusak. Saya tunggu sampai jam dua belas siang jika semua belum beres saya akan adukan kamu ke pak bos biar di pecat di hari pertama bekerja!" Seketika ruang itu menjadi riuh kembali karena orang-orang yang berada di ruangan itu semua menertawakan Marisa. "Tapi saya tidak mengerti bagaimana cara nya!" Jawab Marisa sambil meremat jari jemari nya. "Ya jelas tidak mengerti lah, orang yang pendidikan nya rendah mana bisa mengerjakan semua ini!" Jawab Selly sambil menekan kata rendah di depan semua orang. "Tapi saya tidak sengaja, adakah cara lain untuk saya bertanggung jawab?" Tan

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 6

    Marisa menunggu dengan gelisah pengumuman hasil interview nya hari ini, kali ini Hana yang selalu memberi nya semangat dan keyakinan jika dirinya akan di terima bekerja. "Sudahlah Marisa, aku yakin kamu akan lulus tes." "Tapi di sana ada Selly, dari dulu dia selalu berlaku tidak adil dan selalu tidak suka jika aku mendapatkan kebagiaan sedikit saja!" Tak berapa lama, dentingan telepon Marisa berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Setelah melihat nya Marisa langsung berteriak dan berlompat-lompatan sambil memeluk Hana. Hana yang di beri pelukan tiba-tiba hanya bisa membelalakkan mata nya karena terlalu erat nya pelukan yang di berikan Marisa. "Tidak bisa bernafas!!" Ucap Hana sambil memukul lengan Marisa. Setelah pelukan terlepas barulah Marisa memebritahukan Hana isi pesan yang baru saja masuk. "Aku di terima!!!" Teriak Marisa. "Benarkah?" Tanya Hana dan di beri anggukan kepala oleh Marisa, kini giliran Hana yang memeluk Marisa dengan erat karena teman nya sudah berhasil mel

  • Menjadi Kesayangan Tuan Ammar   Bab 5

    Saat mentari pagi bersinar terang, Marisa terbangun dari tidur nya. Kali ini hati Marisa terasa lebih tenang karena dia bisa bangun lebih siang dari biasa nya. Saat di rumah sang paman, Marisa selalu di tuntut bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk mereka dan beberes rumah dan tidak jarang juga Marisa tidak makan bahkan sisa makanan pun tidak ada di atas meja makan. Semua makanan yang di masak oleh Marisa selalu habis tak bersisa dan tidak jarang pula Marisa hanya minum air putih saat pergi bekerja. "Haahh... akhir nya bisa hidup lebih santai. Kenapa tidak dari dulu saja sih aku di usir dari rumah?" Gumam Marisa. "Ohh iya semua itu karna aku yang yang bodoh!!" Gumam nya lagi sambil menepuk jidat.Tidak lama setelah dia bangun dari kasur, terdengar suara nada dering handphone milik Marisa."Marisa bukan nya kamu mau interview hari ini, kamu kemana saja sih dari kemarin aku hubungi selalu tidak bisa?" Ucap seseorang dengan nada tinggi di seberang telepon."Hehe, sorry handphone

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status