Share

Menolong Aloy

Penulis: Cancer Girl
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 16:20:23

Mereka menikah susah satu tahun lebih, dan belum dikaruniai seorang anak.

**Flashback on

Olla adalah gadis berusia dua puluh enam tahun, ia hidup sebatang kara dari kecil. Ibunya meninggal saat melahirkan Olla dan bapaknya meninggal karena sakit parah.

Olla memilik bakat menyanyi yang luar biasa. Karena itu, ia sering mengikuti berbagai kontes dan lomba menyanyi dan selalu menang.

Karena bakatnya yang luar biasa, Olla mendapat berbagai tawaran menyanyi dari panggung ke panggung.

Dari hasil menyanyi itulah Olla dapat membangun sebuah rumah megah dan membeli kendaraan pribadi, sebuah mobil dan juga motor.

**

Sore itu, matahari hampir terbenam. Olla baru saja pulang dari sebuah acara panggung besar di luar kota. Seperti biasa, setelah tampil, tubuhnya terasa letih, tapi hatinya bahagia. Ia menikmati setiap tepuk tangan dan sorakan penonton, seolah itu penghapus semua luka kesepiannya.

Ketika ia melintas di jalan raya yang agak sepi, matanya tertumbuk pada sosok pria tergeletak di tepi trotoar. Tubuhnya kotor, wajahnya pucat pasi. Sekilas, Olla berpikir orang itu sedang tidur, tapi begitu dilihat lebih dekat, napasnya tampak lemah.

"Ya Tuhan, dia kenapa?" gumam Olla sambil menepikan motornya.

Dengan langkah cepat, ia mendekat. "Mas, mas dengar saya?" Olla menepuk bahu pria itu pelan. Tapi tak ada respon.

Tubuhnya masih hangat, tapi wajahnya benar-benar pucat. Naluri peduli Olla muncul tanpa pikir panjang.

Ia menoleh ke sekitar, mencari pertolongan. Tak ada siapa pun. Akhirnya ia melambaikan tangan ke arah taksi yang melintas. "Pak! Berhenti!"

Begitu taksi berhenti, Olla meminta bantuan sopirnya. "Pak, tolong bantu saya. Orang ini pingsan."

Tanpa banyak tanya, sopir itu ikut mengangkat tubuh pria itu ke dalam mobil. Olla menyalakan motornya dan mengikuti taksi itu menuju rumah sakit terdekat.

Di rumah sakit, suasana agak ramai. Olla bergegas masuk ke bagian IGD, meminta bantuan perawat. Dalam waktu singkat, pria itu dibaringkan di brankar dan didorong ke ruang perawatan.

Olla berdiri di depan ruang itu, menunggu dengan napas sedikit memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya, mungkin karena panik atau cemas.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dengan senyum menenangkan. "Apa anda keluarganya?" tanya dokter.

Olla agak kikuk, tapi akhirnya mengangguk. "Eh, iya, Dok. Saya adiknya."

Ia tidak tahu kenapa harus berbohong, tapi ia takut pasien itu tidak akan ditolong kalau ia bilang hanya orang asing.

Dokter mencatat sesuatu di buku kecilnya. "Kakak Anda hanya mengalami dehidrasi dan kelelahan. Mungkin belum makan dan kurang minum selama beberapa hari. Tidak ada luka serius. Setelah cairan infus habis, dia pasti sadar."

Olla menghela napas lega. "Terima kasih, Dok."

Ketika dokter pergi, Olla masuk ke dalam ruang rawat.

Di sana, pria itu terbaring lemah. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tampan. Ada kesan lembut dan polos di sana.

Olla duduk di kursi di samping tempat tidur, menatapnya dalam diam. Dalam hatinya muncul rasa iba.

Beberapa menit kemudian, kelopak mata pria itu perlahan terbuka. "Di mana aku?" suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Olla tersenyum lembut. "Kamu di rumah sakit. Aku yang bawa kamu ke sini."

Pria itu menatap Olla bingung. "Kamu siapa?"

"Aku Olla," jawabnya singkat tapi ramah. "Tadi aku lihat kamu pingsan di jalan, jadi aku bantu."

Pria itu tampak terkejut, lalu berusaha bangun. Olla segera menahannya. "Jangan bangun, kamu masih lemas."

"Tapi aku merepotkan kamu," ucapnya pelan.

"Nggak apa-apa. Aku cuma nggak tega aja lihat kamu di pinggir jalan sendirian."

Pria itu menarik napas panjang dan tersenyum samar. "Namaku Aloy."

Olla mengangguk. "Senang bisa kenal kamu, Mas Aloy. Tapi sepertinya kamu udah sadar dan nggak papa. Yuk, nanti aku antar pulang."

Aloy memalingkan wajah. Ia kebingungan. "Aku nggak punya rumah."

Olla mengerutkan kening. "Lho, terus orang tua kamu, saudara?"

Aloy terdiam. Wajahnya memerah menahan rasa malu.

Olla pun terdiam beberapa saat. Hatinya berdebat antara percaya atau tidak, tapi wajah pria itu terlihat tulus.

Akhirnya Olla menghela napas dan berkata pelan, "Ya sudah, kalau gitu ikut aku aja dulu. Istirahat di rumahku sampai kamu sehat."

Aloy menatapnya dengan mata lebar. "Serius?"

Olla tersenyum dalam anggukannya. Mereka pun pulang bersama dan mengobrol saling bercerita tentang kisahnya masing-masing.

Aloy bercerita bahwa dirinya sudah tidak memiliki orang tua. Rumahnya mengalami kebakaran dan merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya.

Aloy juga kehilangan pekerjaan akibat pabrik rokok tempatnya mengais rejeki mengalami kebangkrutan.

Olla merasa iba, akhirnya ia menawarkan Aloy menjadi supir pribadinya mengantar jemput dirinya ketika ada job manggung.

Aloy sangat senang, ia juga mendapat kamar walau di belakang rumah. Tiap ada job, Aloy mengantar Olla ke lokasi dan menjemputnya.

Mereka sering mengobrol dan bercanda. Lama kelamaan timbul rasa nyaman di antara mereka. Hingga akhirnya mereka menuju jenjang pernikahan. Kini Aloy resmi menjadi suami Olla.

**Flashback off

Malam hari, Aloy berpakaian rapi. Aroma maskulin menguar di seluruh ruangan. Ia mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja dekat televisi.

"Kamu mau kemana, mas? Ini sudah malam, lho," tanya Olla.

"Bukan urusan kamu," jawab Aloy ketus.

"Jelas urusanku jugalah, aku ini istrimu."

"Ah, bawel banget sih kamu." Alot pun melangkah keluar tanpa mempedulikan Olla lagi.

Pintu rumah tertutup dengan bunyi cukup keras, meninggalkan gema yang terasa menyayat hati di telinga Olla.

Gadis itu hanya berdiri mematung di ruang tamu, menatap pintu yang baru saja menelan bayangan suaminya.

Sesak rasanya di dada, seolah udara malam yang masuk lewat celah jendela berubah menjadi beban yang menekan napasnya.

“Kenapa sih, Mas, setiap malam selalu pergi?” gumamnya kepada dirinya sendiri.

Langkah kakinya pelan menuju jendela. Dari sela tirai, Olla melihat lampu mobil Aloy menyala, kemudian perlahan menjauh, meninggalkan halaman rumah yang kembali sunyi. Aroma parfum maskulin yang tadi sempat memenuhi ruangan kini mulai pudar, berganti dengan aroma hampa.

Ia menarik napas panjang, lalu duduk di sofa. Di atas meja, dua cangkir teh yang baru saja ia buat masih mengepulkan asap tipis. Teh kesukaan Aloy, teh melati hangat dengan sedikit madu, tapi seperti malam-malam sebelumnya, tak pernah disentuh.

"Dulu kamu nggak begini, Mas," bisiknya pelan sambil menatap cangkir itu.

"Dulu kamu perhatian, lembut, bahkan nggak pernah ninggalin aku sendirian malam-malam begini."

Malam semakin larut. Hujan tipis turun, mengetuk atap rumah, menambah dingin yang menusuk kulit. Olla memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan dingin yang entah datang dari cuaca atau dari sikap suaminya yang semakin hari semakin asing.

Telepon di meja bergetar. Olla cepat-cepat meraihnya, berharap itu dari Aloy.

Tapi ternyata hanya notifikasi pesan promosi. Ia menutupnya dengan wajah lesu. Matanya beralih ke jam dinding, jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas. Sudah larut sekali.

Pikirannya melayang ke masa lalu. Ia teringat pertama kali menolong Aloy di pinggir jalan, bagaimana pria itu dulu begitu sopan, lembut, dan penuh terima kasih.

Tak pernah terpikir bahwa lelaki yang dulu diselamatkannya kini akan jadi orang yang paling sering menyakitinya dengan diam dan ketus.

Olla berdiri, melangkah ke dapur. Ia mencuci cangkir yang sudah dingin, tapi air yang mengalir di tangannya terasa seolah lebih dingin dari biasanya.

Ketika suara petir menggelegar di luar, Olla menoleh ke arah pintu. "Kemana dia, hujan-hujan begini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 29

    "Iya, benar," angguk Suli mantap. Nada suaranya tenang, nyaris tanpa getar, seolah yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang luar biasa.Ia mengaduk matcha latte-nya perlahan, gerakannya elegan, matanya sesekali menatap Aloy tanpa kesan memaksa."Dan aku sedang mencari orang yang mau investasi emas," lanjutnya santai, "dengan modal lima ratus juta dan keuntungan tiga miliar."Sendok di tangan Aloy berhenti bergerak. Jantungnya seakan melonjak, lalu berdetak lebih cepat dari biasanya. "Lima ratus juta balik tiga miliar?" batinnya.Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti dengungan lebah yang tak mau pergi."Apa benar yang kamu katakan, Laras?" tanya Aloy, berusaha terdengar biasa saja meski matanya jelas memancarkan ketertarikan.Suli mengangkat wajahnya, menatap Aloy lurus-lurus. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan senyum percaya diri seorang perempuan yang terbiasa berada di lingkaran orang berduit."Apa tampang saya terlihat seperti penipu?" katanya pela

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 28

    Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 27

    Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 26

    Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 25

    Pagi itu udara di sekitar rumah sakit terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapi di halaman depan.Charol melangkah pelan di lorong rumah sakit sambil membawa paperbag putih di tangannya. Di sampingnya, Suli berjalan dengan wajah tegang namun penuh harap.Sesampainya di depan ruang perawatan anak, langkah Suli melambat. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu.Di atas ranjang, Lala tampak duduk bersandar dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar ketika melihat ibunya datang."Ibuk!" serunya lirih tapi penuh semangat.Suli segera menghampiri, duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya lembut, menahan getar di suaranya."Udah agak mendingan, Buk," jawab Lala polos. "Sakitnya nggak begitu kerasa kayak kemarin."Suli menghela napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengusap kepala Lala dengan penuh kasih. "Syukurlah, Ibuk takut kamu

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 24

    "Oh, aku nggak kenal kok, Cha. Dia itu tadi njatuhin sendok, aku cuma bantu ngambilin aja," jawab Aloy ringan, nyaris tanpa beban.Charol mengangguk kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Hem, dasar pembohong. Pandai sekali kamu memainkan peran, Aloy," batinnya. Namun wajahnya tetap tenang, nyaris tak menunjukkan apa pun selain ketertarikan yang wajar."Oh gitu," ucapnya singkat.Pelayan datang menghidangkan pesanan. Aloy mulai terlihat lebih santai, bahkan sempat tertawa kecil menceritakan hal-hal remeh, seolah lupa bahwa ia sedang duduk bersama perempuan yang kelak akan menghancurkan hidupnya perlahan.**Sementara itu, di apartemen mewah, Niar mondar-mandir dengan wajah bosan. Televisi menyala, tapi tak satu pun acara menarik perhatiannya."Aduh, kok laper, ya. Cari makan ah. Aku pengin makan di restoran mewah," gumamnya sambil berdiri. "Hasil manggung kemarin juga masih banyak."Ia berganti pakaian dengan cepat, gaun pendek warna hitam yang membalut tubuhnya dengan pas, make u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status