LOGINMobil hitam milik Aloy berhenti tepat di depan rumah bercat krem milik keluarga Niar.
Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan pohon yang bergoyang lembut tertiup angin malam. Dari balik kemudi, Aloy menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul tujuh malam. Ia menekan klakson dua kali, pendek dan cepat. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Sosok perempuan berambut panjang terurai muncul dengan langkah tergesa. Wajahnya tampak cerah diterpa cahaya lampu teras. Begitu melihat siapa yang datang, senyum lebar mengembang di bibirnya. "Mas, kamu datang kok nggak ngabarin dulu?" ujar Niar sambil mendekat ke mobil. Aloy tersenyum tipis, menurunkan kaca jendela. "Aku mau kasih kejutan. Tadi aku lewat sini, jadi sekalian mampir." "Ya udah, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu. Kita ke tempat biasa, ya." Niar segera berbalik dan masuk ke dalam rumah sebelum sempat mengundang Aloy masuk. Ia tahu, orang tuanya tak menyukai pria itu. Sejak awal, mereka sudah menentang hubungan Niar dengan Aloy. Kata mereka, Aloy pria yang tidak jelas pekerjaannya, hanya numpang hidup pada istrinya, dan tidak punya tanggung jawab. Tapi, Niar memilih untuk tidak percaya begitu saja. Menurutnya, orang tuanya hanya belum mengenal Aloy dengan baik. Dari balik jendela ruang tamu, dua pasang mata menatap tajam ke arah halaman. "Lihat, Pa. Anakmu itu bandel sekali. Disuruh jauhi laki-laki itu, malah tiap malam ketemuan," ujar Nunik, ibunya Niar, dengan nada kesal. Pak Jaya menarik napas panjang, menatap mobil di luar pagar yang masih menyala lampunya. "Sudahlah, Ma. Aku juga capek menasihati dia. Anaknya sendiri yang keras kepala. Biarkan saja, nanti kalau ada apa-apanya, dia juga yang ngrasain sendiri. Nunik hanya mendengus. "Tapi kalau sampai anak kita rusak gara-gara laki-laki itu, jangan salahkan siapa-siapa." Pak Jaya diam. Dalam hatinya, ada kekhawatiran besar yang tidak diucapkan. Ia tahu, pandangan mata laki-laki seperti Aloy tidak bisa dipercaya. Beberapa menit kemudian, Niar keluar dari rumah dengan pakaian berbeda. Ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, rambutnya dibiarkan tergerai. Ia melangkah cepat menuju mobil. "Ayo, Mas," katanya sambil membuka pintu. Aloy tersenyum puas, lalu menyalakan mesin. Mobil itu pun meluncur pelan meninggalkan halaman rumah. Dari balik jendela, Nunik masih menatap dengan hati gelisah. "Anak itu benar-benar buta." gumamnya. Di dalam mobil, suasana sempat hening. Hanya suara musik lembut dari radio menemani perjalanan mereka. Niar menatap keluar jendela, menikmati hembusan angin malam yang masuk lewat celah kaca. "Mas, kita mau ke mana?" tanya Niar akhirnya. Aloy melirik sekilas ke arahnya. "Tempat biasa. Aku pengin tenang, cuma sama kamu." Nada suaranya lembut, namun di balik itu ada maksud tersembunyi. Setelah sekitar dua puluh menit, mobil itu berhenti di sebuah hotel di pinggiran kota. Hotel itu tidak terlalu besar, tapi cukup mewah. Cahaya lampu kuning temaram menyambut di lobi. Aloy memarkir mobil di sisi kanan, dekat taman kecil yang dipenuhi tanaman hias. "Mas, kok ke sini lagi? Takut ada yang lihat," kata Niar pelan. Aloy terkekeh. "Siapa juga yang mau lihat kita? Lagian, kamu kan tahu, aku cuma bisa tenang kalau sama kamu." Niar hanya diam. Ia tahu hubungan mereka tidak seharusnya seperti ini. Tapi entah kenapa, setiap kali bersama Aloy, hatinya merasa hangat. Pria itu pandai berbicara, pandai membuatnya merasa dibutuhkan. Meski ada rasa bersalah yang kadang muncul, Niar selalu menepisnya. Begitu masuk kamar, Aloy duduk di tepi ranjang, menyalakan televisi, dan menatap layar tanpa benar-benar memperhatikan. "Kamu tadi nyanyi di mana?" tanyanya santai. "Di acara ulang tahun pejabat daerah," jawab Niar sambil menaruh tas di meja. "Capek banget, tapi lumayan lah bayarannya." Aloy menatapnya, lalu tersenyum samar. "Kamu hebat. Tapi tahu nggak, penyanyi kayak kamu tuh butuh seseorang yang ngerti gimana caranya biar makin terkenal." "Emang Mas ngerti dunia panggung?" goda Niar. Aloy tertawa pelan. "Tentu. Kamu lupa siapa yang bantu Olla sampai sukses kayak sekarang?" Nama itu membuat Niar menatapnya penasaran. Aloy pura-pura terlihat menyesal. "Iya, dulu dia bukan siapa-siapa. Aku yang bantu dia bangun karier. Aku yang carikan kenalan, aku yang dampingi dari panggung ke panggung. Tapi begitu dia sukses, dia malah sombong. Aku dibikin seenaknya sendiri." Nada suaranya dibuat penuh luka, meski sesungguhnya semua kebohongan. "Dia pikir karena suaranya bagus, bisa seenaknya memperlakukan aku. Bahkan dia pernah ngusir aku dari rumah sendiri." Niar mengerutkan kening. "Serius? Aku kira kalian pasangan yang harmonis." Aloy menghela napas panjang, seolah menahan emosi. "Itu cuma di depan orang. Di belakang, dia beda. Kamu nggak tahu, Ni. Aku capek hidup sama perempuan kayak dia. Makanya, aku cuma pengin ketenangan, dan aku nemuin itu di kamu." Niar menunduk. Kata-kata Aloy terasa seperti racun yang manis. Ia tahu seharusnya tidak percaya begitu saja, tapi caranya berbicara terlalu meyakinkan. "Mas, tapi, aku nggak mau jadi orang ketiga. Apalagi istri kamu itu temen baik aku," bisiknya pelan. Aloy mendekat sedikit, menatap matanya. "Kamu bukan orang ketiga. Besok kalau aku sudah cerai sama Olla, aku akan nikahin kamu." Suasana kembali hening. Niar menatap lantai, jantungnya berdetak cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dalam diam, Aloy merasa puas. Ia tahu, kata-kata yang ia ucapkan berhasil menanamkan sesuatu di hati perempuan itu, rasa kasihan dan ketergantungan. Beberapa saat kemudian, Niar mencoba mencairkan suasana. "Mas, aku beliin apartemen dong. Biar enak kalau kamu mau nemuin aku. Nggak usah ke hotel kayak gini terus." Aloy tertawa lalu menepuk tangan Niar. "Sabar dulu. Aku belum punya uang cukup buat itu." Niar meliriknya heran. "Katanya uang kamu banyak. Kamu bilang, Olla itu cuma numpang di rumah kamu. Bukannya semua harta punya kamu?" Seketika wajah Aloy berubah serius. Namun ia cepat menutupi ekspresinya dengan tawa ringan. "Iya bener, tapi kan butuh proses, soalnya semua uang ku dikuasain Olla. Jadi harus pelan-pelan mintanya, pokoknya kamu sabar ya, pasti aku beliin, kok." Tapi di dalam hatinya, Aloy merasa panas. Ia tidak menyangka Niar masih mengingat ucapannya yang dulu. Ia memang pernah membual, mengatakan bahwa semua harta yang dimiliki Olla adalah miliknya, rumah, mobil, hingga tabungan. Semua hanya demi terlihat berkuasa di depan perempuan itu. Sementara itu, Niar terus berbicara tanpa menyadari perubahan ekspresi Aloy. "Tapi aku heran, Mas. Kalau memang kamu yang buat dia sukses, kenapa sekarang kamu malah hidup sederhana?" Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk harga diri Aloy. Ia menggertakkan gigi, tapi tetap menjaga nada bicaranya agar terdengar lembut. "Kamu nggak ngerti dunia ini, Ni. Kadang yang kerja keras justru nggak kelihatan. Aku yang latih dia, aku yang dorong dia tampil. Tapi dia egois, penginnya menang sendiri." "Jadi, kamu nggak bahagia sama dia?" tanya Niar ragu. Aloy menatap langit-langit kamar, pura-pura berpikir. "Dulu iya, sekarang nggak. Aku ngerasa cuma jadi pelengkap dalam hidupnya. Makanya aku lebih tenang kalau sama kamu. Kamu nggak pernah nuntut, cuma dengerin aku." Niar terdiam cukup lama. Ada rasa iba di dadanya. Ia tidak tahu mana yang benar, tapi ia ingin percaya pada kata-kata Aloy. Mungkin karena di matanya, pria itu tampak tulus. "Mas, aku nggak tahu harus bilang apa. Aku cuma pengin kamu bahagia." Aloy tersenyum samar. "Dan aku bahagia kalau sama kamu." Di luar kamar, hujan masih deras. Suaranya menenangkan, namun bagi Olla yang saat itu tengah menunggu di rumah, malam justru terasa panjang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jam dinding yang terus berdetak. Ponselnya beberapa kali ia buka, namun tak ada pesan masuk dari Aloy. "Dia ke mana, sih?" gumamnya pelan. Ia mencoba berpikir positif. Mungkin suaminya memang ada kepentingan. Tapi entah kenapa, firasat buruk terus mengusik hatinya. Sementara itu, di sisi lain kota, Aloy justru tenggelam dalam kebohongannya sendiri, membangun dunia palsu yang penuh tipu daya. Di hotel, Aloy memeluk Niar, dan mengecup keningnya. "Aku kangen sama kamu." "Aku juga, Mas." Niar balas memeluk Aloy. Dua insan itu kembali melakukan dosa disaksikan tembok hotel. Menjelang tengah malam, Niar dan Aloy keluar dari hotel. Mereka berpisah di depan lobi. Niar pulang naik taksi, sementara Aloy kembali ke mobilnya dengan wajah puas. "Perempuan memang gampang dibentuk kalau dikasih perhatian," gumamnya sambil menyalakan mesin mobil. Di rumah, lampu masih menyala. Olla belum tidur. Saat mendengar suara mobil di halaman, ia berdiri dan bergegas ke jendela. "Mas, dari mana aja? Aku khawatir," ucapnya begitu Aloy masuk. Aloy hanya tersenyum tipis. "Tadi ketemu teman lama. Maaf sampai lupa waktu." Olla menghela napas lega, tak ingin memperpanjang. "Lain kali kasih kabar, ya." Aloy mengangguk pelan, tapi di balik senyum itu tersimpan seribu kebohongan. Malam hari, ketika Aloy tertidur lelap, ponselnya berdering, ada satu pesan masuk. Olla yang kebetulan terjaga, pun menoleh ke arah Aloy. Rasa penasaran membuatnya mengambil ponsel suaminya. Dengan tangan gemetar, ia membaca pesan dari sebuah kontak bertuliskan bengkel. "Mas, makasih ya sayang, tadi enak banget, ih belaian kamu nggemesin banget. Besok kalau ketemu peluk yang lama biar kangennya hilang." Tubuh Olla bergetar. "Dari tukang bengkel, kok pesannya mesra, pakai sayang-sayangan segala?""Iya, benar," angguk Suli mantap. Nada suaranya tenang, nyaris tanpa getar, seolah yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang luar biasa.Ia mengaduk matcha latte-nya perlahan, gerakannya elegan, matanya sesekali menatap Aloy tanpa kesan memaksa."Dan aku sedang mencari orang yang mau investasi emas," lanjutnya santai, "dengan modal lima ratus juta dan keuntungan tiga miliar."Sendok di tangan Aloy berhenti bergerak. Jantungnya seakan melonjak, lalu berdetak lebih cepat dari biasanya. "Lima ratus juta balik tiga miliar?" batinnya.Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti dengungan lebah yang tak mau pergi."Apa benar yang kamu katakan, Laras?" tanya Aloy, berusaha terdengar biasa saja meski matanya jelas memancarkan ketertarikan.Suli mengangkat wajahnya, menatap Aloy lurus-lurus. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan senyum percaya diri seorang perempuan yang terbiasa berada di lingkaran orang berduit."Apa tampang saya terlihat seperti penipu?" katanya pela
Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa
Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele
Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi
Pagi itu udara di sekitar rumah sakit terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapi di halaman depan.Charol melangkah pelan di lorong rumah sakit sambil membawa paperbag putih di tangannya. Di sampingnya, Suli berjalan dengan wajah tegang namun penuh harap.Sesampainya di depan ruang perawatan anak, langkah Suli melambat. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu.Di atas ranjang, Lala tampak duduk bersandar dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar ketika melihat ibunya datang."Ibuk!" serunya lirih tapi penuh semangat.Suli segera menghampiri, duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya lembut, menahan getar di suaranya."Udah agak mendingan, Buk," jawab Lala polos. "Sakitnya nggak begitu kerasa kayak kemarin."Suli menghela napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengusap kepala Lala dengan penuh kasih. "Syukurlah, Ibuk takut kamu
"Oh, aku nggak kenal kok, Cha. Dia itu tadi njatuhin sendok, aku cuma bantu ngambilin aja," jawab Aloy ringan, nyaris tanpa beban.Charol mengangguk kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Hem, dasar pembohong. Pandai sekali kamu memainkan peran, Aloy," batinnya. Namun wajahnya tetap tenang, nyaris tak menunjukkan apa pun selain ketertarikan yang wajar."Oh gitu," ucapnya singkat.Pelayan datang menghidangkan pesanan. Aloy mulai terlihat lebih santai, bahkan sempat tertawa kecil menceritakan hal-hal remeh, seolah lupa bahwa ia sedang duduk bersama perempuan yang kelak akan menghancurkan hidupnya perlahan.**Sementara itu, di apartemen mewah, Niar mondar-mandir dengan wajah bosan. Televisi menyala, tapi tak satu pun acara menarik perhatiannya."Aduh, kok laper, ya. Cari makan ah. Aku pengin makan di restoran mewah," gumamnya sambil berdiri. "Hasil manggung kemarin juga masih banyak."Ia berganti pakaian dengan cepat, gaun pendek warna hitam yang membalut tubuhnya dengan pas, make u







