Beranda / Rumah Tangga / Menjadi Selingkuhan Suamiku / Kenyataan Yang Menyakitkan

Share

Kenyataan Yang Menyakitkan

Penulis: LV Edelweiss
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-19 00:49:39

Rumah Sakit

Langkah Brayan dan Key terlihat lebih cepat dari biasanya. Mereka baru saja tiba di rumah sakit dan akan segera melihat keadaan korban yang diduga Kayla Anindita itu.

Dari kejauhan, tampak beberapa orang polisi berjaga di depan sebuah ruangan yang merupakan tempat korban kecelakaan maut itu berada. Tanpa menunda lagi, Brayan pun segera menghampiri mereka.

"Pak ... Pak ... di mana istri saya?" tanya Brayan dengan raut wajah cemas.

"Apa Bapak suami dari Ibu Kayla Anindita?" tanya salah seorang polisi.

"Iya, Pak. Benar ... Saya suami Kayla Anindita. Istri saya baik-baik saja 'kan, Pak? Dia tidak kenapa-kenapa 'kan?" cerca Brayan.

Para polisi itu tampak terdiam untuk beberapa saat. Setelah saling melempar pandang satu sama lain, akhirnya salah seorang dari mereka berbicara dan berkata, "Maaf, Pak. Ibu Kayla ... beliau sudah meninggal dunia."

'What? A—aku mati? I am dead? How can be?'

Duaar!

Seperti mendengar petir di siang bolong, jantung Brayan begitu tersentak dan terkejut luar biasa. Seolah raganya seperti ketiban bongkahan batu yang cukup besar, ia langsung kehilangan keseimbangan dan nyaris ambruk di tempatnya berdiri.

Untung saja Key cepat memegang lengan suaminya itu. "Mas baik-baik saja?" tanyanya berlakon sebagai Lisa.

Brayan lalu menoleh ke arah Key dan menatap selingkuhannya itu untuk beberapa saat. Tak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan, hanya saja, Key bisa melihat sorot mata yang mulai berkaca-kaca itu.

"Mas ... duduk dulu ya?" tawar Key.

Brayan menolak sembari menggelengkan kepalanya. Lama menahan, akhirnya bulir-bulir air bening itu jatuh juga di wajah pria tampan tersebut. Dan itu adalah untuk kali pertama dalam hidup seorang Key, ia melihat suaminya menangisi dirinya.

"Aku harus melihat dia, Lis. Aku ... aku yang membuat Kayla mati. Aku yang sudah membunuhnya." Brayan tampak begitu menyesal.

Deg!

Detak jantung Kayla meningkat pesat. Dalam hati ia hanya bisa berkata, 'Apa kamu menyesal, Brayan? Apa kamu mengakui kesalahanmu?'

"Mas, sudah ... jangan menyalahi diri Mas terus. Mungkin semua ini memang sudah jalan takdir. Mas tidak membunuhnya?" Key berusaha untuk membuat Brayan berhenti menyalahi diri sendiri.

"Aku mau melihat Kayla." Brayan sudah berdiri dan langsung masuk ke dalam ruangan yang ternyata merupakan kamar jenazah.

Key pun tak menahannya lagi. Ia akan membiarkan Brayan meluapkan kesedihan hatinya dulu. Dengan perlahan, Key berjalan menyusul Brayan, masuk ke dalam ruang jenazah tersebut.

Tampak dari pintu sesosok tubuh perempuan di tutupi dengan kain putih yang bersimbah darah. Sosok itu sudah kaku dan menjadi mayat. Brayan mencoba untuk membuka kain yang menutupi kepala agar bisa melihat wajahnya.

Dan ... setelah kain tersingkap, betapa terkejutnya Key, saat melihat dirinya sendiri sudah terbujur kaku dengan wajah pucat pasi di atas brankar tersebut.

'Ya Tuhan, i—itu aku? A—aku benar-benar sudah mati?'

Tubuh Key panas dingin. Ia bahkan lebih shock dari suaminya sendiri. Terang saja, siapa yang tidak meriang melihat jenazah diri sendiri. Key bahkan merasa, jika ia kini tak bedanya seperti roh yang melihat jasadnya sendiri. Kata orang-orang begitu.

"Kayla ... Key ...! Sayang ...! Buka matamu Key. KAYLA ...!" teriak Brayan sembari menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. "Ini aku, Key ... Brayan, suamimu," tutur pria itu lagi.

Key yang sudah menyandarkan punggungnya pada tembok rumah sakit tampak mengangkat kepalanya saat mendengarkan kata-kata Brayan. Selain kalimatnya yang begitu menyentuh hati, cara pengucapan Brayan juga terdengar begitu tulus. Ditambah dengan air mata yang sedari tadi tiada berhenti mengalir, Brayan ... benar-benar kehilangan sosok istrinya.

"Kenapa ini bisa terjadi, Key. Kenapa kau pergi disaat kita sedang bertengkar? Aku bahkan belum sempat untuk meminta maaf padamu. Kembali Key, kembali padaku. Key ... KEY ...!"

Key berjalan mendekati Brayan dan langsung memeluk tubuh pria itu. Seperti Brayan, ia pun sama terlukanya. Air matanya mengalir saat melihat betapa sedihnya suaminya saat ia mati.

"Mas, sudah ya? Ikhlaskan dia. Mas juga tidak boleh menyalahkan diri Mas terus-menerus. Semua yang terjadi sudah menjadi suratan takdir. Mas harus terima." Key mengelus-elus punggung Brayan.

Brayan bangkit dan beralih menatap kepada Key (Lisa). Matanya yang basah sudah cukup menjadi bukti jika ia begitu kehilangan. Sorot mata yang biasanya tajam dan binal itu, seolah lenyap begitu saja.

Key mengusap lembut wajah Brayan. Melepas senyum manis sebagai bentuk dukungannya kepada suaminya itu. Meski pun saat ini suaminya belum tahu siapa dia sebenarnya, tapi Key tetap berusaha untuk membuat Brayan merasa tidak sendirian.

"Yuk ...," ajak Key.

Brayan pun menutup kembali kain kepala jenazah Key. Namun sebelum itu, ia sempat memberikan istrinya itu satu buah kecupan perpisahan. Sebelum nanti tubuh Key benar-benar dikebumikan.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Brayan tampak murung dan tak berkata apa-apa. Pandangannya terus saja lurus ke arah depan dengan kedua tangan berada pada kemudi.

Key yang berada di sampingnya juga ikut-ikutan diam. Mereka sama-sama kehilangan. Brayan kehilangan separuh jiwanya, sedang Key kehilangan raganya. Ia bahkan tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan di tubuh Lisa.

Dan, yang tidak terjawab hingga saat ini, roh Lisa ada di mana, jika raganya ada bersama Key?

***

Hujan turun gerimis mengantarkan kepergian Kayla Anindita. Seorang pimpinan perusahaan besar yang selama ini terkenal disiplin dan tegas pada semua bawahannya. Sosoknya yang perfeksionis dan dianggap sedikit angkuh membuat banyak karyawan tidak berempati dengan kematiannya.

Padahal, Key adalah wanita yang baik dan berhati lembut, bagi mereka-mereka yang mengenalnya secara intens. Seperti misalnya Elena Rosalina. Sahabat sekaligus asisten pribadi Key.

Semasa hidup, Elena selalu mendampingi Key ke mana saja. Bagi perempuan berusia tiga puluh tahun itu, Key bukan sekedar atasnya di perusahaan, tapi juga sahabat tempat saling bertukar pikiran. Bahkan tak jarang Key mencurahkan isi hatinya kepada Elena. Baik masalah kantor yang setinggi gunung Himalaya, sampai masalah pribadinya, semua ia ceritakan.

Kini, Key telah pergi. Pemakamannya juga baru saja dilaksanakan. Orang-orang mulai meninggalkan TPU dan hanya menyisakan mereka bertiga. Brayan, Key (Lisa) dan Elena.

"Mas, ini ...," Key memberikan sebotol air kepada Brayan, untuk disiram ke atas gundukan tanah kuburan Key yang masih basah.

"Thank you, Lis," ucap Brayan sembari tersenyum simpul.

"Oh, jadi benar kamu yang namanya Lisa?" tanya Elena tiba-tiba. Dia sudah berdiri di belakang Key yang masih berjongkok ditepi makam mengikuti Brayan.

Key menoleh ke belakang. Ia tersenyum ke arah Elena dan langsung bangkit berdiri.

"Ele—"

"Dasar perusak rumah tangga orang. Pelakor! Perempuan binal ...!" Elena menyerang dan langsung menjambak rambut Lisa secara tiba-tiba.

"Aw ... aw ... aw ... sakit!" Pekik Kayla.

'Astaga, Elena. Ini aku, Key ... atasanmu. Aih, gimana sih?!'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Nah eleana sahabat key ngamuk dan menyerang key yg disangka pelakor
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Ternyata Brayan sangat kehilangan key ,terus knapa selingkuh jika cinta key ??
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Bukti Di Ponsel Elena

    Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram. Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu. Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada. “Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu Sudan menunggu kalian,” perintah Brayan. “Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyanya. “M

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Bukti Di Ponsel Elena

    Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap.“Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram.Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu.Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada.“Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu Sudan menunggu kalian,” perintah Brayan.“Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyanya.“Maaf, Pak

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Bukti Di Ponsel Elena

    Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram. Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu. Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada. “Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu sudah menunggu kalian,” perintah Brayan. “Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyany

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Benarkah Lisa Pelakukanya?

    Wajah Lisa mendadak pias, kehilangan seluruh ronanya yang merah. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat sosok Rava berdiri hanya beberapa langkah dari mereka. Pria itu menatap Lisa dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara ketidakpercayaan, amarah, serta luka yang dalam.“Rava ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” gagap Lisa, suaranya gemetar hebat. Ia mencoba melangkah mendekat, namun Rava justru mundur selangkah, seolah Lisa adalah wabah yang harus dihindari.“Tidak seperti yang aku pikirkan gimana? Jelas-jelas Elena bilang kalau kamu penyebab kematian Ibu Kayla,” ulang Rava. Ia tetap bersikeras dengan apa yang ia yakini. Sedang di dekat mereka, Elena tetap berdiri tenang di posisinya. Senyum tipis yang tadi sempat ia tunjukkan kini hilang sudah, diganti oleh tatapan dingin yang tajam. Ia melipat tangan di depan dada, mengamati drama yang baru saja berhasil ia sulut dengan cukup apik.“Kenapa diam, Lisa?” pancingnya dengan nada suara yang tenang namun mem

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Khayalan Brayan

    Desir darah Brayan seolah berhenti. Dengan gelagapan, ia sedikit menggeser posisi duduk menjadi lebih menghadap kepada sosok tersebut.“Kayla?” lirihnya tak percaya.“Iya, Brayan, ini aku. Kayla.” Perempuan itu tersenyum manis. Senyum yang biasa Brayan lihat saat mereka masih di bangku sekolah menengah atas dulu.“Ya Tuhan, Key … kau … kau benar-benar di sini?” tanya Brayan yang masih speechless dengan kehadiran wanita yang pernah menjadi istrinya itu.“Iya, aku datang untuk mengunjungimu. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja setelah kepergianku?” Brayan menggelengkan kepala. Dadanya mendadak terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca karena genangan air mata yang siap tumpah ruah di wajah.Dengan tangan yang masih gemetaran, Brayan menyentuh lembut sebelah pipi Kayla. Tangisnya tertahan, menciptakan tekanan batin yang sangat luar biasa.“Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukannya kau sudah …?” tanya Brayan tapi kata-katanya tak terselesaikan.“Mati? Itu kan, yang mau kau katakan?”

  • Menjadi Selingkuhan Suamiku    Pernikahan Rava Dan Lisa

    Brayan maju lebih mendekat. Terus mendekat dan mendekat. Nyaris menabrak wajah Lisa dengan wajahnya. “Lisa, aku hanya ingin bilang, terima kasih, untuk yang selama ini sudah kita lewati bersama. Aku tahu, kalau hubungan dulu … adalah sesuatu yang salah. Tapi aku tidak pernah menyesalinya.” Brayan menyentuh sebelah pipi Lisa. Sentuhan yang begitu lembut hingga nyaris membuat Lisa terbuai dan lupa dengan apa yang sebentar lagi dia lakukan.“Mas …?” Lisa menatap wajah Brayan sesaat, lalu setelah itu … ia pun langsung menautkan bibirnya pada bibir sang pria dengan begitu saja. “Sayang sekali kamu tidak mempertahankan aku, Mas,” ucapnya lagi setelah melepaskan ciuman mereka.“Ini yang terbaik untuk kita semua, Lisa. Pergilah,” ucap Brayan.“Eum.” Lisa melepaskan pegangan tangan Brayan dan segera berlalu ke luar kamar hotel itu. Di bawah, para tamu undangan sudah berkumpul dan siap untuk melihat acara pemberkatan Lisa dan Rava. Di depan pintu ballroom hotel, tampak Hendra berdiri dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status