Masuk"Morning, sayang. Maaf ya, aku tadi harus balas pesan dari istriku dulu," terang Brayan seraya menyapu wajah Key dengan bibirnya.
"Istri?" Key terkejut mendengarnya. Seingatnya, ia dan Brayan sudah menikah resmi secara agama dan negara. Itu artinya, ia adalah istri sahnya Brayan, tapi kenapa sekarang berganti menjadi ani-ani? Key tidak mengerti. Apa semalam aku bermimpi? Apa sebenarnya perselingkuhan Brayan dan perempuan itu tidak pernah terjadi? Tapi ... siapa istri yang Brayan maksud? Berbagai pertanyaan terus menggerogoti hati dan pikiran Key. Tanpa bertanya, ia lantas bangkit dan berkata, "Maaf, aku harus ke kamar mandi dulu. Cuci muka ... iya ...." Key melepas senyum keterpaksaan dan segera berlalu ke toilet. "Aneh, kenapa aku bisa ada di kamar hotel ini. Bukankah semalam aku sudah kembali ke rumah? Lalu apa yang sebenarnya terja—, Aaa ....!" Key berteriak keras saat melihat wajahnya di cermin. Oh ... My ... God! 'Apa ini? Ke—kenapa wajahku berubah menjadi wajah ... pelakor? Aku Key ... Kayla Anindita, bukan wanita murahan itu. Ada apa ini? Tidak ... tidak ... tidak ... aku pasti sedang bermimpi. Ya Tuhan ....' Key terus membatin dan bertikai dengan diri sendiri. Menyibak rambut panjangnya ke belakang sembari menarik napas panjang. Mencoba untuk menstabilkan emosinya agar tidak mudah panik dan gegabah. Bersamaan dengan itu, Brayan datang dan mengetuk pintu toilet. "Sayang, ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau berteriak?" tanya Brayan dari balik pintu. Namun, Key masih belum berani untuk menjawab. Ia hanya diam sembari menatap wajahnya di cermin. Sumpah demi apapun, ia benar-benar sudah berubah menjadi selingkuhan suaminya, Lisa Marlina. "Lisa ... honey, buka pintunya sayang. Are you ok? Please, jangan buat aku cemas." Brayan kembali bertanya. Key merapikan sejenak rambutnya yang sempat acak-acakan karena terkejut saat melihat wajahnya dari pantulan cermin tadi. Kemudian, setelah membuang napas kasar sekali lagi, ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Sayang ... what happen?" Brayan langsung bertanya dengan raut cemas. Ia sungguh takut sesuatu terjadi pada wanita simpanannya itu. 'Sialan, Brayan terlihat benar-benar mengkhawatirkan selingkuhannya. Sepertinya dia memang cinta mati pada perempuan murahan ini. Ok kalau begitu. Berhubung sekarang aku sudah menjadi selingkuhannya, maka mari kita mulai permainan.' "Maaf ... tadi ada kecoa, jadinya aku teriak." Key memasang wajah manja campur murahan. "Kecoa? Are you sure?" tanya Brayan tak yakin. Pasalnya, hotel yang saat ini mereka tepati adalah hotel bintang lima terbaik yang ada di Ibu Kota. Masa sih, bisa ada hewan bernama kecoa itu? Key mengangguk pelan dengan bibir seksi Lisa yang dibuat membentuk huruf U terbalik. Manyun. "Ya sudah, nanti biar aku suruh petugas cek ya? By the way, kau lapar tidak? Mau sarapan sekarang?" tanya Brayan penuh kelembutan. "Eum ... tapi aku mandi dulu ya?" ucap Key manjahhhh. Brayan maju selangkah lebih mendekat, lalu tangannya menyangga pada kusen pintu toilet dan menatap Key lekat-lekat. "Mandi yang bersih ya? Soalnya semalam ...." Brayan menyentuh pelan ujung rambut Lisa. 'Soalnya semalam apa bangsat?! Ayo lanjutin kata-katanya. Kau dan selingkuhanmu ngapain semalaman di hotel ini? Main catur? Ular tangga? Ludo? Atau apa? Kuda-kudaan? Hiiiyaaa ....' "Ok ...," jawab Key dengan senyum manis yang merekah. Ia lalu menutup pintu dan langsung membuka kimononya. Mulai mengguyurkan air shower ke seluruh tubuh seraya mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, lelah Key mencoba mengingat peristiwa sebelum kecelakaan terjadi, ia tidak menemukan apa-apa di memori otaknya. Selain kejadian saat ia melabrak suami dan selingkuhannya di hotel bernomor 444. Selepas itu, Key tak ingat apa-apa. Ia bahkan tidak tahu menahu tentang kecelakaan yang merenggut nyawanya malam itu. Sekarang yang ia tahu, ia sudah bertransmigrasi menjadi Lisa. Perempuan yang sempat ia temui kemarin malam sebagai pelakor dalam pernikahannya bersama Brayan. Ibarat sudah basah ya sudah mandi sekalian, Key akan memanfaatkan keadaan untuk mencari tahu apa alasan suaminya tega mengkhianati dirinya. "Kau sudah selesai?" tanya Brayan saat Key baru saja keluar dari kamar mandi. Key hanya tersenyum dan segera menuju ke lemari pakaian. Jujur saja, berjalan ke lemari pakaian hanyalah feeling-nya saja. Sebab kalau ditanya apakah dia tahu di mana Lisa meletakkan pakaian-pakaiannya, sudah pasti Key tak tahu. Namun yang namanya baju, sudah pasti di dalam lemari, tak mungkin di dalam laci. Key menggeser pintu dengan perlahan, dan ... waw, amazing. Ternyata tak satu atau dua helai saja. Di dalam lemari itu ternyata ada puluhan baju, tas, sepatu, dan beberapa asesoris mahalll lainnya. Bahkan ada yang masih berada di dalam paper bag seperti belum terjamah sama sekali. 'Sialan! Ternyata tagihan credit card-nya membengkak karena dia membelikan perempuan simpanannya barang-barang mewah ini. Dasar laki-laki tak tahu diri.' Tak mau Brayan curiga, Key pun segera mengambil satu stel pakaian secara acak dan menutup kembali pintu lemari. Lalu berbalik dan melihat kepada suaminya dengan tatapan jengah. "Kenapa baby?" tanya Brayan dengan posisi sebelah alisnya meninggi. "Aku pakai baju di sini?" tanya Key hati-hati. Brayan tertawa mendengarnya dan berkata, "Apa kau mau aku memakaikannya?" tanyanya balik. "Hehehe, tidak perlu. Aku pakai sendiri saja," ucap Key dengan tatapan genit. Ia lalu menarik tali pengikat kimononya dan membukanya begitu saja hingga tubuhnya bersih dari sehelai benang pun. Brayan terus menatap Key dengan tatapan berhasrat. Tatapan yang nyaris tak pernah Key lihat saat suaminya itu melihat raga istri sahnya. Apakah ini yang orang-orang maksud dengan, 'Semakin haram semakin nikmat?' Key sudah selesai memakai pakaiannya dan baru menyadari jika baju itu terlalu seksi. Bagian paha ada belahan, bagian dada terbuka nyata. Seumur-umur, Key tidak pernah memakai pakaian pelacur seperti ini. Walau dia CEO yang cukup kaya raya, tapi ia begitu menghargai dirinya. Dan menurutnya, menutup bagian tubuh yang tak patut untuk diperlihatkan itu adalah bagian dari mencintai dan menghargai diri sendiri. "Ayo ...," ajak Brayan seraya menggandeng tangan Key. Mereka lalu berjalan ke luar kamar dan langsung menuju ke lantai dasar. Namun, saat masih di dalam lift, ponsel Brayan berdering tanda panggilan masuk. Pria bertubuh proporsional serta berwajah tampan itu pun langsung menyambut panggilan itu. "Ya ... benar. Apa?! Is—istri saya kecelakaan?" ucap Brayan setengah berteriak. 'Hah?! Kecelakaan? A—aku ... aku kecelakaan?' Kayla terkejut setengah mati. Baru saja semalam ia dan Brayan bertemu, pagi ini sudah ada berita yang kurang baik tentang dirinya. Sebenarnya, apa yang terjadi?Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram. Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu. Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada. “Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu Sudan menunggu kalian,” perintah Brayan. “Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyanya. “M
Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap.“Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram.Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu.Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada.“Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu Sudan menunggu kalian,” perintah Brayan.“Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyanya.“Maaf, Pak
Semua yang ada di sana terdiam dan langsung beralih atensi kepada Brayan. Pria berjas mewah itu melangkah mendekati Rava dan Lisa yang sedang bersitegang karena sebuah fakta yang baru saja terungkap. “Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian baru saja menikah? Kenapa sudah ribut seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?” cecar Brayan dengan intonasi geram. Rava dan Lisa masih terdiam. Tak terdengar ada satu katapun yang keluar dari mulut pasangan suami-istri itu. Begitu juga dengan Elena. Sahabat Kayla itu hanya berdiri seperti dengan posisi tangan yang masih bersedekap di dada. “Kembali ke ballroom sekarang. Para tamu sudah menunggu kalian,” perintah Brayan. “Baik, Pak.” Rava mengangguk patuh. Begitu juga dengan Lisa yang segera berlalu lebih dulu, kembali ke tempat acara. Di belakangnya, Rava terus mengikuti, tapi tak lagi mengatakan apa-apa. Setelah pasangan pengantin itu berlalu, Brayan kembali kepada Elena. “Apa yang kamu bicarakan tadi, Elena?” tanyany
Wajah Lisa mendadak pias, kehilangan seluruh ronanya yang merah. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat sosok Rava berdiri hanya beberapa langkah dari mereka. Pria itu menatap Lisa dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara ketidakpercayaan, amarah, serta luka yang dalam.“Rava ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” gagap Lisa, suaranya gemetar hebat. Ia mencoba melangkah mendekat, namun Rava justru mundur selangkah, seolah Lisa adalah wabah yang harus dihindari.“Tidak seperti yang aku pikirkan gimana? Jelas-jelas Elena bilang kalau kamu penyebab kematian Ibu Kayla,” ulang Rava. Ia tetap bersikeras dengan apa yang ia yakini. Sedang di dekat mereka, Elena tetap berdiri tenang di posisinya. Senyum tipis yang tadi sempat ia tunjukkan kini hilang sudah, diganti oleh tatapan dingin yang tajam. Ia melipat tangan di depan dada, mengamati drama yang baru saja berhasil ia sulut dengan cukup apik.“Kenapa diam, Lisa?” pancingnya dengan nada suara yang tenang namun mem
Desir darah Brayan seolah berhenti. Dengan gelagapan, ia sedikit menggeser posisi duduk menjadi lebih menghadap kepada sosok tersebut.“Kayla?” lirihnya tak percaya.“Iya, Brayan, ini aku. Kayla.” Perempuan itu tersenyum manis. Senyum yang biasa Brayan lihat saat mereka masih di bangku sekolah menengah atas dulu.“Ya Tuhan, Key … kau … kau benar-benar di sini?” tanya Brayan yang masih speechless dengan kehadiran wanita yang pernah menjadi istrinya itu.“Iya, aku datang untuk mengunjungimu. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja setelah kepergianku?” Brayan menggelengkan kepala. Dadanya mendadak terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca karena genangan air mata yang siap tumpah ruah di wajah.Dengan tangan yang masih gemetaran, Brayan menyentuh lembut sebelah pipi Kayla. Tangisnya tertahan, menciptakan tekanan batin yang sangat luar biasa.“Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukannya kau sudah …?” tanya Brayan tapi kata-katanya tak terselesaikan.“Mati? Itu kan, yang mau kau katakan?”
Brayan maju lebih mendekat. Terus mendekat dan mendekat. Nyaris menabrak wajah Lisa dengan wajahnya. “Lisa, aku hanya ingin bilang, terima kasih, untuk yang selama ini sudah kita lewati bersama. Aku tahu, kalau hubungan dulu … adalah sesuatu yang salah. Tapi aku tidak pernah menyesalinya.” Brayan menyentuh sebelah pipi Lisa. Sentuhan yang begitu lembut hingga nyaris membuat Lisa terbuai dan lupa dengan apa yang sebentar lagi dia lakukan.“Mas …?” Lisa menatap wajah Brayan sesaat, lalu setelah itu … ia pun langsung menautkan bibirnya pada bibir sang pria dengan begitu saja. “Sayang sekali kamu tidak mempertahankan aku, Mas,” ucapnya lagi setelah melepaskan ciuman mereka.“Ini yang terbaik untuk kita semua, Lisa. Pergilah,” ucap Brayan.“Eum.” Lisa melepaskan pegangan tangan Brayan dan segera berlalu ke luar kamar hotel itu. Di bawah, para tamu undangan sudah berkumpul dan siap untuk melihat acara pemberkatan Lisa dan Rava. Di depan pintu ballroom hotel, tampak Hendra berdiri dengan







