MasukDalam perjalanan menuju restoran, sebuah pemandangan menyita perhatian Jack ketika skuternya berhenti di persimpangan lampu merah. Terlihat dalam naungan sebatang pohon besar yang rindang, anak-anak jalanan duduk melingkar mengerubungi makanan yang dibawa seorang wanita muda. Mereka tampak bahagia menyantap beberapa potong roti yang dibungkus dengan kertas putih.
Deretan gigi Jack yang rapi terlihat ketika dia melihat wanita muda itu mengacak-acak rambut salah seorang anak. “Dia wanita yang baik,” komentarnya.
[Namanya Emma Wexler, berusia 24 tahun, bekerja sebagai pelayan di toko roti. Dia sering membawa sisa makanan dari tempat kerjanya untuk anak-anak jalanan. Dia tinggal mengontrak di pemukiman padat penduduk bersama neneknya, yang letaknya sekitar 500 meter dari sini.]
Jack tertegun mengetahui kecanggihan Sistem yang bisa mendeskripsikan latar belakang seseorang dengan cukup detail. Namun, belum sempat dia menanggapi, klakson dari mobil di belakangnya memekik lantaran lampu lalu lintas sudah hijau. Jack melajukan kembali skuternya.
“Sistem, apa informasi darimu itu valid?” Jack tidak yakin karena ini adalah kali pertama dia melihat wanita muda itu.
[Jangan khawatir, Tuan. Anda bisa memercayai saya. Apa Tuan ingin mendengar informasi lebih banyak tentang Emma? Saya pikir, dia wanita yang menarik. Anda bisa mempertimbangkannya untuk dikencani.]
Jack tertawa, menyadari Sistem ingin menghiburnya setelah bercerai. Meski ragu, Jack mengiyakan pertanyaan Sistem. Dia menyimak penjelasan menyoal Emma, hingga tak terasa telah tiba di tempat tujuan.
Jack memandangi restoran SweetSky di hadapannya. Sebenarnya, dia sering melihat restoran itu saat berangkat atau pulang dari kantor. Dia melewatinya sambil bertekad suatu saat akan mengajak Elena melakukan makan malam romantis di sana. Jack yakin, Elena pasti akan senang.
Sekarang, Jack tersenyum. Dia berkata, “Aku pikir akan mengajak orang lain untuk menemaniku merayakan kebebasan ini.”
***
Sebuah mobil putih memasuki halaman Restoran SweetSky. Lalu, seorang pria gagah keluar dari mobil itu untuk membukakan pintu mobil lainnya.
Pria itu mengulurkan tangan, disambut dengan tangan mulus seputih kapas. Ada cincin berlian yang melingkar di jari tangan itu.
“Kamu lebih cantik dari bidadari.” Pujian itu diikuti tawa kecil dari si wanita sebelum mereka berjalan bergandengan.
Ini kali pertama bagi si wanita memasuki restoran bintang lima yang sangat tenar di kota itu. Dia tidak berhenti tersenyum mengetahui kehidupannya akan berubah.
“Elena, mulai sekarang reputasimu naik. Kamu akan menjadi wanita kelas atas.”
‘Aku memang pintar. Banyak wanita akan iri padaku karena menjadi tunangan Victor, manajer muda dan berbakat dengan latar belakang keluarga terhormat. Ya, meskipun untuk itu, aku mesti mencampakkan Jack. Siapa peduli! Toh, Jack sudah tidak berguna. Sudah sepantasnya dia dilempar ke tempat sampah!’ batin Elena puas.
Dia mempererat pelukannya pada lengan Victor. “Kamu yang terbaik, Sayang.”
Senyum Elena dan kebanggaan di wajah Victor sirna ketika dua penjaga yang berdiri di depan pintu utama restoran menghentikan mereka.
“Maaf Tuan, malam ini restoran tidak menerima pengunjung karena seseorang sudah memesan seluruh kursi.”
“Apa?!”
“Maksud kami, malam ini seluruh restoran telah disewa oleh seseorang. Jadi, Tuan dan Nyonya bisa kembali lagi besok. Kami mohon maaf.” Penjaga menjelaskan dengan ramah.
Jelas ucapan penjaga itu terdengar konyol di telinga Victor. Restoran itu terdiri atas tiga lantai. Tiap lantainya terdapat banyak meja. Tempat itu bisa menampung ratusan pengunjung. Yang perlu diketahui, harga hidangan di restoran itu sangatlah mahal, bahkan jika seseorang memborong puluhan porsi saja mesti menghabiskan jutaan dolar, apalagi jika menyewa seluruh restoran.
Siapa konglomerat yang menghabiskan ratusan juta dolar dalam semalam untuk menyewa SweetSky?
Jika restoran disewa untuk acara resepsi pernikahan atau pertemuan khusus yang diselenggarakan pemerintah, Victor bisa memercayainya.
‘Tapi, kalau itu benar terjadi, aku pasti akan mengetahuinya, kabar sepenting itu tidak akan terlewat olehku,’ batin Victor.
Bagi Victor dan orang kelas atas lainnya, menjalin hubungan dengan sesama orang dari kalangan atas sangatlah penting. Mereka rutin mengadakan pertemuan untuk membangun bisnis bersama atau sekadar menambah keakraban, bahkan ada grup obrolan khusus para keluarga dari kalangan atas. Para anggota grup sering berbagi informasi di sana.
“Sebenarnya aku orang yang humoris, tapi lelucon kalian tidak mengandung nilai humor sama sekali. Cepat minggir dan biarkan kami masuk, atau kalian akan menerima akibatnya.” Victor mengintimidasi.
Penjaga membungkuk meminta maaf, tetapi bukan karena takut dengan ancaman Victor, melainkan karena mereka benar-benar tidak bisa membiarkan Victor dan Elena masuk.
“Sayang, apa kamu yakin cukup istimewa di restoran ini? Lihatlah, mereka memperlakukan kita seolah kita tidak pantas untuk masuk ke SweetSky.” Elena merengek, semestinya ini akan menjadi malam terindah untuknya karena bisa makan di restoran bintang lima.
Elena sudah membayangkan akan mengambil swafoto dan video saat makan malam nanti. Dia akan membuat orang-orang tahu bahwa dia bukanlah Elena yang dulu. Dia ingin disambut sebagai anggota dari kalangan atas, yang setelah ini kemewahan akan melekat dengan kehidupannya.
Tapi, semua terancam gagal!
Victor yang tidak ingin martabatnya jatuh di hadapan Elena, segera menjawab, “Tentu saja, Sayang, kamu jangan cemas. Aku bahkan memiliki kartu pelanggan khusus. Jika pengunjung biasa harus melakukan reservasi terlebih dahulu, aku bisa langsung masuk dan mendapatkan meja di restoran ini.”
Usai menenangkan Elena, Victor menatap tajam para penjaga. “Kalian akan mendapat masalah karena sudah bersikap kurang ajar pada pelanggan khusus. Sekarang, panggilkan Nyonya Sisca Baker. Dia manajer SweetSky ‘kan? Asal kalian tahu, kami berteman baik.”
Dua penjaga menatap satu sama lain. Kebingungan terlihat di wajah keduanya. Karena tidak ingin mengambil risiko, mereka kompak mengangguk. Salah seorang penjaga lalu berkata, “Baiklah, Tuan. Mohon agar Tuan dan Nyonya menunggu di sini.”
Elena menunggu sambil menggerutu, sedangkan Victor mengamati suasana di dalam restoran. Dinding-dinding kaca membuat aktivitas di dalam terlihat dari luar. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu, seolah makan malam bersama memang akan diadakan di sana.
‘Sebenarnya akan ada acara apa? Kenapa aku tidak mendengar informasi apapun tentang hal ini?’
Ketika Elena sibuk dengan kekesalannya, sementara Victor sedang berpikir keras sambil memeriksa ponselnya barangkali ada pesan penting dari rekannya yang terlewat, kedatangan satu rombongan mengejutkan mereka.
Elena dan Victor mengambil jarak karena jijik. Pasalnya orang-orang itu mengenakan baju usang, berbau tidak sedap, tubuh tampak tak terawat, bahkan beberapa di antara mereka tidak mengenakan alas kaki.
Elena menutup hidung sambil berbisik, “Victor, untuk apa para gelandangan ini ke mari?”
“Seseorang memberi saya undangan untuk acara makan malam di sini. Dia meminta agar saya membawa teman sebanyak-banyaknya. Apa itu benar?” Pria tua menyerahkan robekan kertas kecil kepada penjaga dengan tangan bergetar.
Setelah memeriksa kertas itu, penjaga tersenyum ramah. “Benar, Tuan. Silakan masuk.”
Tenggorokan Ava seperti tercekik. Rasanya seolah ada duri tajam di dalamnya, hingga dia kesakitan saat menelan ludah. Tuan Hall bahkan seperti bisa membaca pikirannya. Tidak dipungkiri, sebelumnya Ava memang berniat untuk memperingatkan Laura dengan keras ketika mereka sudah lepas dari pengawasan Tuan Hall. Tapi sekarang, Ava benar-benar tidak berani untuk mencoba-coba membangkang."Baik, Tuan Hall," Ava tersenyum ketakutan, "Anda bisa mempercayaiku." Ava tersenyum lagi pada Laura. "Mari, Nona." Dia mendadak menjadi seorang yang ramah, santun, dan berbudi luhur."B-bagaimana dengan kami, Tuan?" tanya Greg memberanikan diri. Rapth pun menanti jawaban."Tetap di sini. Pindahkan lelaki tua ini ke atas ranjang. Saat dokter datang, dia akan menerima ganjarannya."Ava yang baru saja melewati ambang pintu, membulat matanya mendengar ucapan Jack. Dia tentu khawatir Jack akan berubah pikiran karena dia terlalu lamban menjalankan perintah, lantas membuatnya menerima ganjaran pula sebagaimana
Jack melirik Laura sekilas, sebelum kembali melihat Marco. Tatapan itu menyimpan amarah yang besar, hingga membuat matanya memerah.“Kamu memperlakukan Nona Kills seperti benda mati,” katanya sambil menggertakkan gigi. “Kamu menikmati rasa sakitnya. Kamu membangun kesenangan dari jeritannya, dari traumanya.”Rahang Jack mengeras.“Orang sepertimu tidak pantas diberi akhir yang cepat.”Marco menggeleng lemah. “A-aku… aku bisa membayar. Berapa pun yang kamu mau...”Jack mengabaikannya.Dia mengeluarkan ponsel dari saku. Gerakannya tenang, terlalu tenang untuk situasi sekejam ini. Jack menekan satu nomor yang belakangan sering dia hubungi.“Halo, Tuan Hall. Ada yang perlu saya lakukan?" kata sekretaris Jack, Rafael Lewis, dengan nada hormat.“Aku butuh dokter bedah khusus,” lanjut Jack singkat dan jelas. “Yang terbaik. Datangkan ke Paradise Roadway dalam waktu sepuluh menit.”Dia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban di seberang sana.“Ya. Kasus darurat,” tutupnya. “Pastikan dia datang.
“Kamu akan bisa melakukannya hanya jika aku masih membiarkanmu tetap hidup.”Ucapan Jack menggantung di udara, dingin dan menekan. Marco Ring terdiam. Wajahnya yang pucat semakin kehilangan warna, sementara darah terus merembes dari pahanya yang tertembus peluru.Keheningan itu membuat Ava Cobra menelan ludah. Jantungnya berdetak keras. Dia menatap Jack, lalu bergeser ke dua pengawal Marco yang masih berdiri dengan tangan terangkat, wajah mereka kaku oleh ketakutan.Jika pria bernama Tuan Hall itu bisa menghabisi nyawa sang bos, tentu bukan hal sulit untuk menewaskan mereka juga, begitu pikir pengawal Marco Ring hingga membuat jantung mereka berdetak cepat.Jack melirik Ava sekilas. Tatapannya tajam, namun tenang, terlalu tenang untuk situasi seberbahaya ini.Jangan-jangan sebenarnya Tuan Hall adalah seorang psikopat? Ava menelan ludah.“Ava,” ucap Jack pelan, tapi suaranya terdengar memerintah. “Bukankah kamu memelihara beberapa ekor ular kobra?”Ava tersentak. Alisnya terangkat. “T
Marco terbelalak seolah matanya hendak keluar dari soketnya, bukan hanya karena rasa sesak yang semakin besar, melainkan juga setelah mendengar ucapan Ava.Apa germo sialan itu menginginkan kematiannya sekarang?!Marco berusaha keras untuk melepas cengkeraman Jack dari lehernya. Tapi dia sungguh hanya seorang pria tua yang tidak memiliki kekuatan sebesar itu. Wajahnya kini pucat seputih kertas. "Tuan Hall... tolong jangan kotori tangan anda." Laura memohon karena tidak ingin Jack terlibat masalah lebih jauh hanya karena dirinya.Marco Ring yang hampir kehilangan kesadaran karena kehabisan napas, jatuh lemas di lantai setelah Jack melepas cengkeraman dari lehernya. Napasnya memburu seolah ingin mengambil semua oksigen yang sejak tadi tertahan.Jack menuntun Laura untuk duduk di kursi. Dia juga mengusir para pelacur lain untuk keluar dari ruang VIP itu supaya tidak menyaksikan keributan yang pasti akan semakin menjadi-jadi.Saat Greg dan Rapth lengah, dua pengawal Marco memberontak mel
'Tuan Marco tersenyum saat aku berteriak.''Rasa sakitku adalah kepuasannya.''Semakin aku memohon, semakin dia menikmati.'Jack memejamkan mata. Suara perih, sesak, dan tidak berdaya dari Laura ketika bercerita di mobil tadi terngiang di benaknya. Rahang Jack mengeras. Otot-otot di lehernya timbul.Jack mengepalkan tangan kanannya, selagi tangan kirinya menggenggam erat jemari Laura yang bergetar."Nyonya Ava, Nona Kills sudah datang," kata Rapth tergagap."Apa? Bagus!!" Ava tersenyum lebar. Tapi kemudian keningnya berkerut. "Tunggu, kenapa kamu memanggilnya dengan begitu sopan?" Belum sampai Rapth menjawab, Marco Ring lebih dulu menyahut, "Siapa itu Nona Kills?" Marco Ring menggebrak meja. "Peduli setan dengan siapa pun, yang kuinginkan hanya Laura. Di mana peliharaanku yang lemah itu?! Kenapa aku harus menunggu begitu lama dan kamu malah menjamuku dengan wanita-wanita tidak berguna ini!!" Ah!!Para pelacur yang sejak tadi disodorkan Ava untuk mengalihkan kekesalan Marco Ring, j
Jack telah mendengar sekilas cerita Laura tentang Marco Ring. Pria itu berusia 60 tahun, bertubuh tambun, berkepala botak, dan berkumis tebal. Perangainya seperti binatang.Marco Ring memiliki perilaku menyimpang dalam melakukan hubungan intim. Dia seorang sexual sadism disorder, yang akan mendapatkan kepuasan bergantung dari penderitaan yang dialami korbannya. Semakin menderita Laura, Marco Ring akan semakin senang dan menikmati permainannya.Saat Jack memasuki rumah bordil itu, tangannya terkepal kuat, seperti bersiap untuk menghantamkannya ke wajah Marco. Suasana tampak ramai pengunjung, seperti biasanya. Lalu, Jack dan Laura melewatinya dengan tergesa.Sebelumnya, penjaga pintu utama memberi tahu bahwa Ava Cobra sedang berusaha menenangkan dan menghibur Marco Ring di ruang VIP.Jack menggertakkan gigi saat melewati etalase-etalase berisi para wanita yang berpenampilan semenarik mungkin untuk mendapatkan pelanggan, lengkap dengan harga yang ditawarkan. Dadanya terasa panas karena







