Mag-log inTatapan Cade berubah sendu melihat raut syok Rose setelah mendengar kabar soal ibunya. Tubuh Rose membeku, kaku seperti patung. Matanya yang membeliak mulai basah kembali. Air mata yang mendadak memenuhi pelupuknya mulai turun ke pipi tanpa dia sadari. Bibirnya yang bergetar bergerak membentuk kata.“Kamu … bohong, kan? Kenapa—eh … bagaimana … bagaimana bisa ibuku dieksekusi?” tanya Rose, “apa karena penelitian itu menggunakan darah miliknya?”“Bukan,” jawab Cade langsung, “Alan bilang, ibumu dieksekusi karena tidak bisa hamil dengan seluruh pasangan programnya. Dia dianggap tidak berguna dan disingkirkan.”Ada nyeri yang menjalar di ulu hati Rose saat mendengarnya. Dadanya sesak tidak karuan. Suara tangisnya pun tidak pecah, membuatnya terisak tertahan.Ibunya mati bukan karena sakit. Atau kecelakaan. Tapi mati karena tidak bisa hamil. Dia dibunuh karena sebuah hal yang berada di luar kuasanya. Alih-alih menangis, Rose justru menunduk dengan tatapan kosong. Meratapi kehidupan di
Melihat sosok Rose yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya, mata Cade pun melebar. Tubuhnya membeku, selagi bola matanya bergerak menyusuri setiap penampilan Rose. Badan terlihat ringkih, bibir pucat dan sedikit kering, kantung hitam tersemat di bawah mata, hingga rambut cokelat panjangnya terurai berantakan. Dia pasti belum makan dan minum selama berhari-hari.Kondisi Rose membuat hati kecil Cade mencelos. Penampilan Rose sekarang bahkan lebih parah daripada saat Cade pertama kali bertemu dengannya di Wilayah Luar. Dia mendekat pada Rose yang masih mematuhi di tempatnya. Raut wajah Rose seperti sedang melihat hantu, terkejut luar biasa melihat Cade yang seharusnya tak ada di hadapannya.“Cade …? Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Rose dengan suara bergetar, “bukannya … kamu … sudah ditangkap—”Cade menyentuh kedua pundak Rose, membuat mata keduanya bertemu. “Aku baik-baik saja, Rose. Dan Alan yang memanggilku kemari. Demi dirimu.”Rose terkesiap. Kepalanya memutar ingat
Cade mengira dia dibawa ke laboratorium untuk sekedar melakukan pemeriksaan fisik lanjutan saja. Akan tetapi, Alan rupanya menjelaskan lebih lanjut terkait penelitian yang ingin para tenaga medis lakukan pada darah Rose. Termasuk bagaimana cara terbaik untuk mengambil sample darahnya dengan bantuan Cade.Di lorong yang panjang dan diterangi banyak lampu, Cade berjalan di antara penjaga keamanan yang mengawalnya. Dua di depan, dua di belakang. Suasananya begitu tegang, sampai-sampai Cade tak mampu untuk berdeham walau sekali saja. Sebelum dibawa pergi dari laboratorium, Cade diminta untuk berganti pakaian yang disediakan dari Sanctuary Dome. Beruntung bukan pakaian pasien rumah sakit seperti yang Cade bayangkan sebelumnya. Dia diberikan kaos hitam berlengan pendek dengan kerah sempit yang terlihat cukup ketat untuk tubuh kekarnya. Sementara celananya bermodel slim dan berwarna senada. Daripada peserta program, Cade merasa pakaian ini lebih seperti agen mata-mata.Sepanjang langkahn
Alan tertegun mendengar pernyataan Vincent. Cade benar-benar berhasil sampai ke Sanctuary Dome sendirian. Tanpa perlu ditangkap oleh siapa pun. Sesuai dengan yang Shin ceritakan padanya.“Kata penjaga pos keamanan di gerbang, dia mengendarai motor.” Vincent melanjutkan. “Segera temui dia. Kamu yang harus menjelaskan semuanya.”Vincent langsung meraih tangan Alan dan menyeretnya keluar. Mereka berdua melewati lorong demi lorong bersama para penjaga keamanan lainnya, hingga sampai di pos pemeriksaan pertama. Yang merupakan tempat Alan berpisah dengan Rose beberapa hari yang lalu.Alan mematung sesaat setelah Vincent membawanya ke ruang tunggu di pos pemeriksaan. Cade duduk di bangku panjang, kepalanya menunduk dalam. Namun, begitu pintu dibuka, dia menengadah. Terlihat jelas wajahnya yang tampak lelah. Bekas lebam di pipinya belum pudar sepenuhnya. Goresan kecil di dekat pelipisnya pun masih terlihat, membentuk codet merah.“Cade ....” Alan berjalan cepat menghampiri Cade, lalu berh
“Sample dari mana?” tanya Miller, “kamu sempat mengambil sample dari penduduk yang terinfeksi? Jika sesuai dugaan kita, bukannya mereka akan bertingkah tak karuan seperti orang gila atau bahkan zombie?”“Memang itu yang terjadi pada petunjuk Danshire.” Alan menunjuk botol kaca virus itu. “Tapi, yang ini aku ambil tubuh Rose saat dia terinfeksi.”Kelima teman Alan sudah berebutan mengambil botol itu untuk melihat lebih dekat. Elliot mengingatkan agar hati-hati membawanya. Jika botolnya sampai jatuh dan pecah, bisa gawat. Sirius menganga, “Ini ... benar-benar virusnya? Kok, bisa lolos pemeriksaan?”“Yah, aku juga tak menyangka bisa lolos pemeriksaan. Hanya itu yang bisa kubawa dari semua peralatan medisku setelah diserang Riders saat itu. Aku berpikir itu adalah yang paling berguna nanti. Dan benar saja, kita membutuhkannya sekarang,” cerita Alan.Jonathan menimpali, “Apa skenario yang ada di kepalamu, Alan? Kita tak mungkin membuat skenario palsu dengan sengaja menyebarkan ini di
Alan menatap layar komputer di hadapannya dengan kedua tangan bertumpu di meja. Di sekelilingnya, beberapa tenaga kesehatan lain sibuk memeriksa kertas berisi data Rose yang telah mereka dapatkan dari pos pemeriksaan depan. Mereka belum mendapatkan sampel darah Rose, tapi data pemeriksaan fisik Rose bisa menjadi pertimbangan di awal.Sesuai dugaan Alan, hasil pemeriksaan fisik Rose yang kini terpampang di komputer menunjukkan bahwa sel telur Rose termasuk yang subur. Bukti inilah yang menyelamatkan Rose, sekaligus menjadi jalan bagi Alan agar bisa mendatangkan Cade kemari.“Apa yang Vincent diskusikan denganmu waktu itu? Kudengar, Rosalia Gringer masih diperbolehkan tinggal di sini meski belum menjalankan program dengan siapa pun.” Sirius mendekati Alan, menarik kursi untuk duduk di sebelahnya. Matanya turut mencermati hasil pemeriksaan Rose di komputer. “Aku bilang padanya kalau kenal seseorang yang bisa membuat Rose mau menjalankan program ini. Dia orang yang pernah kuceritakan
Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu
Beberapa waktu kemudian, mata Rose mulai terbuka perlahan. Tak tahu sudah berapa lama dia kehilangan kesadaran. Dia mengira akan disambut oleh cahaya menyilaukan, tapi ternyata tidak. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, yang ditatapnya justru langit-langit reruntuhan bangunan.Sekitarnya gelap, tapi
“Oh, aku hampir lupa,” gumam Cade.Baru beberapa meter dari tempat tinggal Rose, Cade berhenti melangkah. Dia berbalik menghadap Rose sembari merogoh isi ransel besarnya. Tangannya menarik keluar sebuah jubah hitam besar bertudung dari ransel tersebut.Cade melemparkan jubah itu pada Rose yang bera
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka







