MasukBab 2
"Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga."
Lila terkesiap. 300 juta. Jumlah yang luar biasa untuk membantu pengobatan sang Ibu. Rasa dingin menusuknya, melumpuhkan akalnya sejenak. Namun, sedetik kemudian, kemarahan dan harga diri membakar dirinya.
Lila mengepalkan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Oliver sekuat mungkin.
"Lepaskan saya, Tuan!" teriaknya serak.
Namun, Oliver bergeming. Tubuh besar pria itu tidak bergerak sama sekali. Tekanan ototnya yang keras terasa menindas tubuh mungil Lila. Oliver justru menyeringai tipis, seolah tantangan Lila hanyalah permainan kecil.
"Jangan buang tenagamu, Pelayan," desis Oliver.
Semakin Lila berusaha lepas dan meronta, Oliver semakin mendesak dan menekan tubuhnya. Dengan cekatan, pria bertubuh atletis itu menahan kedua pergelangan tangan Lila ke atas, menjepitnya di sisi kepala wanita itu. Lila kini benar-benar tak berdaya.
Oliver kembali menundukkan wajahnya, mencumbu gadis itu dengan gerakan yang tidak lagi brutal, tetapi menuntut. Ia masuk ke dalam ceruk leher Lila, menghirup aroma manis dari kulitnya, seolah sedang mencicipi properti barunya. Lidahnya bermain di bawah telinga, memicu reaksi merinding yang tak diinginkan Lila.
"Tu-tuan... Stop!" Lila menjerit, suaranya serak, air matanya luruh membasahi rambutnya yang tergerai. Ia merasa sangat terhina, tapi cengkeraman Oliver terlalu kuat.
"Kau menangis?" Oliver menjauhkan sedikit kepalanya, menatap wajah Lila yang sudah dibanjiri air mata. "Aku membayarmu dengan harga yang sangat pantas. Anggap saja ini adalah pekerjaan barumu."
Lila menggeleng kuat. "Tidak! Saya tidak menjual diri saya!"
"Semua orang menjual sesuatu," balas Oliver dingin, tanpa ekspresi. "Kau menjual waktumu pada Jonathan Miller, dan kini kau menjual tubuhmu untuk ibumu. Bedanya, aku membayar tunai dan mahal."
Oliver menarik zip seragam pelayan Lila hingga terbuka lebar. Kain hitam-putih itu terbelah, memperlihatkan payudara ranum Lila yang langsung memicu gairah gelapnya. Pandangan Oliver terasa seperti api yang membakar kulit Lila.
Lila berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Oliver, meronta dengan liar. Ia tidak tahu siapa pria yang begitu kurang ajar dan berani menghinanya ini.
"Tolong...!" Ia berteriak kuat, berharap ada yang mendengarnya di dalam rumah megah yang sunyi itu.
Oliver berdecak kasar. Ia semakin mencengkeram kuat pergelangan tangan Lila dan mendesis, "Berhenti berteriak, Pelayan."
Oliver mencengkeram kuat dagu Lila, memaksanya mendongak. Ia kembali mencumbu wanita itu dengan paksaan, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Lila. Ciuman itu terasa menjijikkan dan menyakitkan.
Lila menajamkan pandangannya, kemarahannya mendominasi ketakutannya. Tanpa ragu, ia langsung menggigit bibir bawah Oliver sekuat tenaga.
"Fuck!" umpat Oliver, segera melepas ciuman itu. Ia merasakan bau anyir darah di bibirnya.
"Kau mengujiku?" geram Oliver dengan pandangan gelap yang kini benar-benar mencekam. Keberanian Lila justru memicu sisi gelap Oliver. Tanpa ragu lagi, ia menarik kasar pakaian Lila yang masih melekat. Suara robekan kain terdengar bersamaan jeritan lirih Lila.
"Tidak... Tidak...!" rintih Lila saat seragamnya terkoyak, meninggalkannya telanjang di bawah tatapan tajam Oliver.
Saat Oliver mengurai tangannya untuk membuang kain robekan tersebut, di situlah Lila mendapatkan kesempatan emas. Kebebasan tangannya hanya berlangsung sedetik, tapi cukup.
"Plak!"
Suara tamparan keras menghantam pipi Oliver. Lila melotot penuh amarah pada pria tersebut.
"Dasar pria gila!" teriak Lila. Ia tidak peduli dengan tubuh telanjangnya saat ini. Kemarahannya jauh lebih besar.
Belum selesai keterkejutan Oliver, tiba-tiba saja rasa sakit yang luar biasa menghantam titik vitalnya. Lila, dengan refleks cepat, telah menendang pangkal paha Oliver dengan lututnya.
"F-Fuck!" Oliver menjerit tertahan dan refleks memegang alat vitalnya. Wajahnya yang dingin berubah pucat pasi menahan sakit yang luar biasa.
"Dasar pelayan sialan!" Oliver menatap penuh amarah, memancarkan niat membunuh.
Namun, kesempatan itu tidak Lila sia-siakan. Pelayan cantik itu segera bangun dan melompat turun dari tempat tidur yang tinggi. Ia berdiri sejenak di sisi ranjang, memegang dadanya, dan berseru dengan suara penuh kebencian, "Dasar pria bejat!"
Lila tidak memberi kesempatan bagi Oliver untuk bertindak lebih jauh. Ia membalikkan badan dan lari secepat kilat.
BRAKK!
Menyusul suara hantaman pintu yang tertutup, Lila berhasil keluar dari kamar tamu itu, meninggalkan Oliver sendirian dalam amarah yang membara.
Oliver menatap pintu dengan pandangan penuh kemarahan dan tidak percaya. "Hanya kucing liar dan berani menolakku?"
Ia mengepalkan tangannya dengan kuat, merasakan nyeri di pangkal pahanya yang bercampur dengan rasa kesal karena ditolak dan dipermalukan. Kejadian ini membuat dirinya tidak bisa tidur. Pria itu segera bangun dan masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur badannya di bawah shower. Air dingin tidak mampu memadamkan api amarahnya.
"Aku akan menangkapmu, kucing liar!" janji Oliver dingin, rahangnya mengeras. Ia akan menemukan cara untuk membuat pelayan itu membayar dua kali lipat atas perbuatannya malam ini.
Sementara itu, Lila yang berhasil kabur, berlari secepat mungkin menyusuri koridor lantai dua. Ia berlari dengan hati-hati, memeluk tubuhnya yang telanjang, takut ada orang yang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Napasnya tersengal-sengal, air matanya membasahi pipi.
"Aku akan berhenti dari pekerjaan ini," gumamnya sambil mengusap air matanya.
Hingga akhirnya, dengan susah payah ia berhasil masuk ke dalam kamar kecil para pelayan dan tidak lupa mengunci pintu. Tubuhnya luruh ke lantai, kehabisan tenaga, ia menangis dalam dekapan lutut yang terlipat.
"Ibu... Aku harus bagaimana..." Tangisnya terdengar pilu. Ketakutan, kehinaan, dan rasa sakit bercampur aduk.
Namun, sedetik kemudian, di tengah isakannya, akal sehatnya yang terdesak kebutuhan kembali berbicara. Matanya melirik ke arah pintu.
"Tapi uang yang ditawarkan tadi sangat banyak..." Ia terdiam, memikirkan kembali uang yang harus ia kumpulkan demi pengobatan sang Ibu, bahkan jika ia bekerja selama setahun, uang sebanyak itu akan sulit ia kumpulkan. Ia mengusap pipinya yang basah dan berkata, “Apa aku terima saja?”
Bab 53"Kamu sangat seksi, love," bisik Austin dengan suara parau tepat di depan bibir Bella.Austin tidak menunggu lama. Begitu mereka berada di area private pool, ia menarik pinggang Bella hingga tubuh mungil istrinya menabrak dada bidangnya yang keras. Tanpa kata, ia membungkam bibir Bella dengan ciuman yang intens dan menuntut—ciuman yang selalu berhasil membuat Bella kehilangan kekuatannya.Tangan besar Austin mulai bergerak terampil, melucuti kancing-kancing dress sutra yang dikenakan Bella. Kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai marmer dalam sekejap. Dengan gerakan mantap, Austin mengangkat tubuh Bella dalam gendongan bridal style. Ia membawa istrinya menuruni tangga kolam renang yang airnya sudah diatur dengan suhu hangat yang menenangkan.Begitu kulit mereka bersentuhan dengan air, Austin merapatkan tubuh mereka kembali. "Tubuhmu masih sangat indah, love," puji Austin tulus. Matanya menatap kagum pada setiap lekuk tubuh istrinya yang dirawat dengan sangat telaten. Baginya, B
Bab 52Kata-kata Oliver barusan seolah menjadi petir di siang bolong bagi Giselle. Ia terperangah, matanya membelalak tak percaya menatap Oliver.“Menikah?” suara Giselle bergetar, hampir tidak terdengar. “Sharon... menikah dengan Jonathan? Tidak mungkin. Ibumu sangat mencintai Gustav. Bagaimana bisa dia memberikan hatinya pada pria yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang suaminya?”Oliver menyeringai pahit, sebuah ekspresi yang penuh dengan luka lama. “Hati? Tidak, Bibi. Ibu tidak pernah memberikan hatinya. Jonathan menggunakan keadaan. Saat Ayah tiada, Ibu berada di titik terendahnya. Jonathan datang sebagai pahlawan palsu, menjanjikan perlindungan padaku dan perusahaan. Tapi itu semua hanya jebakan.”Giselle menutup mulutnya dengan telapak tangan, air matanya kini mengalir deras tanpa terbendung. “Jadi itu alasannya... dia mengusirku. Dia tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa memperingatkan Sharon tentang niat busuknya.”“Dia menghancurkan mental Ibu perlahan-lahan,” lanj
Bab 51Begitu masuk di VVIP room khusus Harold Family, Austinmembawa istrinya duduk di atas sofa kulit yang empuk.“Kamu penasaran sayang?” tanya Bella pada Austin begitu iaduduk menghadap suaminya.Austin tersenyum tipis, “Not really, love.” Ucapnya sambilmencubit kecil hidung Bella.Membuat Bella mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku tetap mau cerita, hubby.""Iya sayangku. Jadi bagaimana bisa kenal dengan Oliver?"Bella pun dengan antusias menceritakan ulang apa yang ia dengar dari Giselle.Austin mendengarkan sang istri dengan baik, meski jujur ia tidak terlalu peduli akan hal itu. Bukan karena nir empati. Tapi begitulah dia.Tapi demi Bella, ia akan dengan senang hati mendengar story telling sang istri."Begitu sayang..." tutup Bella mengakhiri ceritanya.Austin mengangguk paham, "Hmm, sebenarnya aku bisa membantu Oliver untuk mencari rekam jejak kematian kedua orang tuanya, tapi dia menolaknya.""Pasti berat untuk Oliver saat itu, hubby," gumam Bella bersandar manja pada sang su
Bab 50"Menarik. Aku memang tidak salah menilaimu," ujar Austin sembari mengangguk puas. Namun, ia tidak langsung menutup pembicaraan. Matanya kembali menatap Oliver dengan sorot yang lebih dalam. "Lalu bagaimana dengan Monfalco Corp?"Austin ingat betul alasan di balik ambisi besar Oliver. Ia tahu betapa kerasnya Oliver berusaha merayap dari bawah demi mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi haknya. Sebenarnya, bagi Austin Harold, menghancurkan perusahaan sekelas Monfalco Corp atau membelinya secara paksa adalah hal yang mudah. Ia bahkan sempat menawarkan bantuan untuk memberikan perusahaan itu langsung ke tangan Oliver saat pertama kali mendengar kisah pengkhianatan Jonathan.Namun, Oliver menolak dengan halus. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyeret Jonathan turun dari singgasananya hingga hancur berkeping-keping."Dia memiliki banyak anjing yang setia," jawab Oliver dengan rahang mengeras dan wajah penuh kekesalan. Ia merujuk pada jajaran direksi dan pemegang saham yang m
Bab 49Beberapa bulan lalu, selama ia berada di Jerman, Oliver telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri secara mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa namanya bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang besar keluarga Monfalco di Swedia. Setelah bertahun-tahun merintis dengan penuh peluh, akhirnya hari ini ia bisa duduk berhadapan dengan sosok legendaris yang selama ini hanya bisa ia amati dari jauh—Austin Harold.Dari Austin-lah, Oliver berhasil menembus dinding tebal lingkaran pebisnis raksasa di Jerman. Benar saja, kepiawaian Austin bukan sekadar isapan jempol belaka. Oliver, sebagai sesama pria, merasa sangat kagum dengan kharisma dan ketajaman berpikir pria itu. Bahkan, melalui koneksi ini, ia sempat dikenalkan dengan putra Austin yang memiliki usia sebaya dengannya, Arion Harold, yang kini memegang kendali operasional di pusat."Maaf saya mengganggu waktu liburan Anda, Tuan Austin," ujar Oliver dengan nada tulus. Ia tahu betapa mahalnya wa
Bab 48"Kami akrab, Ibu. Dokter Nathaniel sangat membantuku selama perawatan Ibu di sini, dia benar-benar dokter yang luar biasa," potong Lila cepat sebelum Nathaniel menyelesaikan kalimatnya. Ia memberikan senyum lebar yang sedikit dipaksakan, berusaha menetralkan suasana agar Susan tidak memiliki ekspektasi atau kesalahpahaman yang lebih jauh.Susan mengangguk pelan, tampak lega meski sorot matanya masih menyimpan sedikit rasa ingin tahu. "Begitu ya... syukurlah kalau Lila ada yang membantu."Dokter Nathaniel memilih diam. Ia tidak membantah ataupun membenarkan. Pria itu tetap memasang wajah ramah yang menenangkan pada Susan, meskipun dalam hati ia mencatat bagaimana Lila seolah membangun benteng pertahanan setiap kali ia mencoba melangkah lebih dekat."Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Susan. Masih ada pasien lain yang harus saya kunjungi. Lila, jika ada apa-apa, hubungi saya segera," ujar Nathaniel lembut. Ia memberikan satu anggukan sopan pada Susan sebelum melangkah keluar ruan







