Share

Bab 3 | Kucing Liar

Penulis: MAMAZAN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-15 23:47:03

Bab 3

Lila terdiam, isak tangisnya seketika menghilang. Ia berpikir keras. 300 juta. Jumlah itu berkelip di benaknya, mengalahkan rasa sakit dan kehinaannya.

"300 juta..." lirihnya.

Ia memikirkan kembali uang yang harus ia kumpulkan demi pengobatan sang Ibu. Bahkan jika ia bekerja keras selama setahun, uang sebanyak itu akan sulit ia kumpulkan. Ia mengusap pipinya yang basah dan berkata, "Apa aku terima saja?"

Namun, dengan cepat ia menampar pipinya sendiri. Plak! Sebuah tamparan keras untuk mengembalikan akal sehatnya.

"Sadar, Lila! Kamu bahkan tidak tahu siapa pria brengsek tadi! Besok aku akan melaporkannya ke Tuan Jonathan," putusnya tegas. Harga dirinya masih lebih tinggi daripada keputusasaan.

Lila bangkit dari duduknya. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari sisa-sisa air mata dan keringat. Tidak ada waktu baginya untuk berlama-lama kalut dalam kesedihan. Ia harus bekerja. Malam masih panjang, dan ia punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Dengan tergesa-gesa ia akhirnya selesai mengenakan pakaian kasualnya yang sederhana, kaos dan jins, ia melihat jam tangan. "Shift ku sebentar lagi!"

Tanpa menunggu lama, ia membuka pintu kamarnya sedikit dan melihat dari celah, memastikan keadaan koridor sepi. "Aman..." gumamnya dan bergegas lari keluar, menuruni tangga belakang. Ia harus segera tiba di tempat kerjanya yang kedua yaitu The Shadow Bar. Sebuah Bar di Kawasan elit.

**

Setengah jam kemudian, Lila sudah berdiri di balik bar yang remang-remang. Aroma alkohol, asap rokok, parfum dan keringat menyambutnya. Kontras sekali dengan kemewahan Kediaman Miller. Di sinilah ia bekerja dari pukul 11 malam hingga dini hari, mengorbankan waktu tidurnya demi mengumpulkan sisa biaya operasi sang ibu.

Setelah mengganti pakaian, Lila langsung ke posisinya. Lila memaksakan senyum ramah kepada beberapa pelanggan, menerima pesanan, dan mulai meracik minuman. Ia berusaha keras mengusir bayangan kejadian yang tadi ia lalui, bayangan dari pria berwajah tampan yang kejam, yang hampir merenggut segalanya darinya.

"Satu whiskey," suara berat yang familiar tiba-tiba terdengar, membuat punggung Lila menegang.

Ia memejamkan mata sesaat. Suara itu. Suara yang baru beberapa jam lalu membuatnya menangis ketakutan.

Perlahan, Lila mendongak. Di depannya, duduk di kursi tinggi bar, dengan pencahayaan yang minim, ia melihat sosok pria yang baru saja terlintas di kepalanya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang elegan, beberapa kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Matanya yang tajam dan dingin menatap langsung ke Lila, tanpa kejutan, seolah sudah menduga akan menemukannya di sini. Di sudut bibirnya masih terlihat luka kecil, memerah, bekas gigitan Lila.

Lila merasakan darahnya mendidih. Dia mengira dirinya sudah aman.

"Kau?" desis Lila, suaranya tercekat.

Oliver menyesap asap rokok yang baru ia nyalakan. "Aku?" Ia menyeringai tipis.

“Apa kau mengikutiku?!” cecar Lila menatap lurus, tangannya mengepal erat.

Oliver berdecak, senyuman miring, “Seekor kucing akan kembali ke habitatnya.”

“Ku… kucing…?” Lila menajamkan matanya tidak paham. Apa maksudnya pria itu baru saja menyebutnya seekor kucing?

“Ternyata kau juga seorang barmaid di malam hari. Betapa... menariknya." Oliver menunjuk ke arah botol minuman, memberikan isyarat jika ia tidak ingin menunggu.

Lila mendekat, ia mencondongkan tubuhnya, berusaha menjaga suaranya tetap rendah. "Jangan ganggu saya. Dan jangan pernah muncul lagi di Kediaman Miller atau saya akan melaporkan Anda!" ujarnya sembari meletakkan gelas kaca di depan Oliver.

Oliver tertawa pelan, tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. Tawa yang mencekam.

"Melaporkanku?" Oliver mendekatkan wajahnya, aura dominasinya tak berkurang sedikit pun di tempat umum ini. "Kau pikir siapa yang akan lebih dipercayai? Seorang pelayan yang menjual dirinya, atau... pemilik rumah itu sendiri?"

Lila terdiam. Pemilik rumah? Pria ini adalah pemilik sah Kediaman Miller?

Oliver meraih gelas, meneguk minum itu dalam satu tegukan.

Oliver meletakkan gelasnya kembali di meja bar dengan bunyi yang lumayan keras. Tiba-tiba, ia meraih dagu Lila, mencengkramnya dengan ibu jari dan telunjuk.

"Sampai jumpa, kucing liar!" bisiknya dingin, matanya menatap tajam ke mata bulat Lila, sebuah isyarat kepemilikan.

Kemudian, ia beranjak dari duduknya. Tanpa menoleh ke belakang, Oliver meninggalkan selembar uang senilai 100 dolar di meja bar, sebagai ganti whiskey yang diminumnya.

Lila tertegun, menatap punggung Oliver yang semakin menjauh, tenggelam di antara kerumunan para wanita yang hinggap seperti lalat pada pria tersebut.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya, memijit keningnya yang tidak sakit.

Ia hanya mendapatkan informasi dari sang Ibu, jika di rumah besar tersebut hanya ada Jonathan Miller yang merupakan majikan mereka. Sang Ibu tidak menyebutkan nama lain atau silsilah keluarga lain. Apa ada yang ia lewatkan? Kenapa pria itu mengaku sebagai pemilik rumah?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 53 | Hubungan Susan Laven

    Bab 53"Kamu sangat seksi, love," bisik Austin dengan suara parau tepat di depan bibir Bella.Austin tidak menunggu lama. Begitu mereka berada di area private pool, ia menarik pinggang Bella hingga tubuh mungil istrinya menabrak dada bidangnya yang keras. Tanpa kata, ia membungkam bibir Bella dengan ciuman yang intens dan menuntut—ciuman yang selalu berhasil membuat Bella kehilangan kekuatannya.Tangan besar Austin mulai bergerak terampil, melucuti kancing-kancing dress sutra yang dikenakan Bella. Kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai marmer dalam sekejap. Dengan gerakan mantap, Austin mengangkat tubuh Bella dalam gendongan bridal style. Ia membawa istrinya menuruni tangga kolam renang yang airnya sudah diatur dengan suhu hangat yang menenangkan.Begitu kulit mereka bersentuhan dengan air, Austin merapatkan tubuh mereka kembali. "Tubuhmu masih sangat indah, love," puji Austin tulus. Matanya menatap kagum pada setiap lekuk tubuh istrinya yang dirawat dengan sangat telaten. Baginya, B

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 52 | Luka Hati

    Bab 52Kata-kata Oliver barusan seolah menjadi petir di siang bolong bagi Giselle. Ia terperangah, matanya membelalak tak percaya menatap Oliver.“Menikah?” suara Giselle bergetar, hampir tidak terdengar. “Sharon... menikah dengan Jonathan? Tidak mungkin. Ibumu sangat mencintai Gustav. Bagaimana bisa dia memberikan hatinya pada pria yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang suaminya?”Oliver menyeringai pahit, sebuah ekspresi yang penuh dengan luka lama. “Hati? Tidak, Bibi. Ibu tidak pernah memberikan hatinya. Jonathan menggunakan keadaan. Saat Ayah tiada, Ibu berada di titik terendahnya. Jonathan datang sebagai pahlawan palsu, menjanjikan perlindungan padaku dan perusahaan. Tapi itu semua hanya jebakan.”Giselle menutup mulutnya dengan telapak tangan, air matanya kini mengalir deras tanpa terbendung. “Jadi itu alasannya... dia mengusirku. Dia tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa memperingatkan Sharon tentang niat busuknya.”“Dia menghancurkan mental Ibu perlahan-lahan,” lanj

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 51 | Semakin Terungkap

    Bab 51Begitu masuk di VVIP room khusus Harold Family, Austinmembawa istrinya duduk di atas sofa kulit yang empuk.“Kamu penasaran sayang?” tanya Bella pada Austin begitu iaduduk menghadap suaminya.Austin tersenyum tipis, “Not really, love.” Ucapnya sambilmencubit kecil hidung Bella.Membuat Bella mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku tetap mau cerita, hubby.""Iya sayangku. Jadi bagaimana bisa kenal dengan Oliver?"Bella pun dengan antusias menceritakan ulang apa yang ia dengar dari Giselle.Austin mendengarkan sang istri dengan baik, meski jujur ia tidak terlalu peduli akan hal itu. Bukan karena nir empati. Tapi begitulah dia.Tapi demi Bella, ia akan dengan senang hati mendengar story telling sang istri."Begitu sayang..." tutup Bella mengakhiri ceritanya.Austin mengangguk paham, "Hmm, sebenarnya aku bisa membantu Oliver untuk mencari rekam jejak kematian kedua orang tuanya, tapi dia menolaknya.""Pasti berat untuk Oliver saat itu, hubby," gumam Bella bersandar manja pada sang su

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 50 | Masa Lalu

    Bab 50"Menarik. Aku memang tidak salah menilaimu," ujar Austin sembari mengangguk puas. Namun, ia tidak langsung menutup pembicaraan. Matanya kembali menatap Oliver dengan sorot yang lebih dalam. "Lalu bagaimana dengan Monfalco Corp?"Austin ingat betul alasan di balik ambisi besar Oliver. Ia tahu betapa kerasnya Oliver berusaha merayap dari bawah demi mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi haknya. Sebenarnya, bagi Austin Harold, menghancurkan perusahaan sekelas Monfalco Corp atau membelinya secara paksa adalah hal yang mudah. Ia bahkan sempat menawarkan bantuan untuk memberikan perusahaan itu langsung ke tangan Oliver saat pertama kali mendengar kisah pengkhianatan Jonathan.Namun, Oliver menolak dengan halus. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyeret Jonathan turun dari singgasananya hingga hancur berkeping-keping."Dia memiliki banyak anjing yang setia," jawab Oliver dengan rahang mengeras dan wajah penuh kekesalan. Ia merujuk pada jajaran direksi dan pemegang saham yang m

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 49 | Austin Harold

    Bab 49Beberapa bulan lalu, selama ia berada di Jerman, Oliver telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri secara mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa namanya bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang besar keluarga Monfalco di Swedia. Setelah bertahun-tahun merintis dengan penuh peluh, akhirnya hari ini ia bisa duduk berhadapan dengan sosok legendaris yang selama ini hanya bisa ia amati dari jauh—Austin Harold.Dari Austin-lah, Oliver berhasil menembus dinding tebal lingkaran pebisnis raksasa di Jerman. Benar saja, kepiawaian Austin bukan sekadar isapan jempol belaka. Oliver, sebagai sesama pria, merasa sangat kagum dengan kharisma dan ketajaman berpikir pria itu. Bahkan, melalui koneksi ini, ia sempat dikenalkan dengan putra Austin yang memiliki usia sebaya dengannya, Arion Harold, yang kini memegang kendali operasional di pusat."Maaf saya mengganggu waktu liburan Anda, Tuan Austin," ujar Oliver dengan nada tulus. Ia tahu betapa mahalnya wa

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 48 | Bertemu Sosok Legendaris

    Bab 48"Kami akrab, Ibu. Dokter Nathaniel sangat membantuku selama perawatan Ibu di sini, dia benar-benar dokter yang luar biasa," potong Lila cepat sebelum Nathaniel menyelesaikan kalimatnya. Ia memberikan senyum lebar yang sedikit dipaksakan, berusaha menetralkan suasana agar Susan tidak memiliki ekspektasi atau kesalahpahaman yang lebih jauh.Susan mengangguk pelan, tampak lega meski sorot matanya masih menyimpan sedikit rasa ingin tahu. "Begitu ya... syukurlah kalau Lila ada yang membantu."Dokter Nathaniel memilih diam. Ia tidak membantah ataupun membenarkan. Pria itu tetap memasang wajah ramah yang menenangkan pada Susan, meskipun dalam hati ia mencatat bagaimana Lila seolah membangun benteng pertahanan setiap kali ia mencoba melangkah lebih dekat."Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Susan. Masih ada pasien lain yang harus saya kunjungi. Lila, jika ada apa-apa, hubungi saya segera," ujar Nathaniel lembut. Ia memberikan satu anggukan sopan pada Susan sebelum melangkah keluar ruan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status