MasukBab 4
Lila membuka mata tepat jam 5 pagi. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, efek dari hanya tidur selama 1 jam setelah pulang dari The Shadow Bar. Namun, rasa lelah itu kalah oleh kegelisahan yang merayap di dadanya. Ia harus kembali memulai pekerjaannya sebagai pelayan di Kediaman Miller.
Pagi ini, ia harus menghadap Tuan Jonathan. Ia harus melaporkan pria asing yang sudah melecehkannya semalam. Ia tidak bisa bekerja di bawah satu atap dengan monster seperti itu, kalau pun mengundurkan diri, dia harus berkata apa pada sang Ibu?
Dengan cepat ia bersiap-siap dan mengenakan seragam pelayannya yang masih bersih, untungnya ia memiliki cadangan karena seragam yang semalam telah terkoyak tragis, tak bisa di perbaiki sama sekali.
"Aku harus cepat sebelum Tuan Jonathan pergi ke kantor!" gumamnya sembari mengambil langkah cepat. Jari-jarinya sedikit bergetar saat merapikan kerah bajunya.
Lila segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, namun perut Lila terasa mual karena gugup. Begitu selesai, ia menata makanan di atas meja makan berbahan marmer mewah yang panjang.
Tepat jam 6.30, suara langkah kaki yang teratur terdengar menuruni tangga. Benar saja, Tuan Jonathan Miller sudah berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu gelap yang mahal. Ia duduk di kursi kebesarannya.
"Silakan, Tuan," sapa Lila dengan suara sesopan mungkin sambil menaruh segelas jus apel segar untuk majikannya itu.
Jonathan menaikkan pandangannya dan menatap Lila. Pria berusia 49 tahun itu tersenyum tipis dan mengangguk. "Terima kasih, Lila. Kau rajin sekali, persis seperti ibumu."
Lila hanya tersenyum kaku. Ia sabar menanti di sudut ruangan, tangannya bertautan di depan perut. Ia tahu etika, jangan mengganggu majikan saat sedang mengunyah. Ia membiarkan Jonathan selesai dengan sarapannya dalam keheningan.
Begitu melihat Jonathan meletakkan garpu dan membersihkan mulut dengan napkin putih, Lila menarik napas panjang.
Wanita berlesung pipi itu berjalan mendekat, berdiri di samping meja dan sedikit menunduk hormat. "Tuan... Saya ingin membicarakan sesuatu... ini sangat penting."
Jonathan melipat serbetnya dengan tenang, lalu menatap Lila dengan dahi berkerut. "Kelihatannya serius sekali. Ada apa, Lila?”
"Ini... ini soal keamanan di rumah ini," suara Lila sedikit bergetar. "Semalam, saat saya sedang membersihkan kamar tamu di lantai dua, ada seorang pria asing masuk. Dia bersikap sangat tidak sopan dan...” Lila mengambil jeda, memperhatikan ekspresi Jonathan, kemudian melanjutkan, “Dia melece-”
“Pagi.”
Suara berat itu membuat Lila membeku seketika. Kalimat yang hendak ia adukan kepada Jonathan tertahan di tenggorokan. Jonathan pun tampak terkejut, namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang, meski ada gurat ketegangan di matanya.
Lila tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan aura dominan pria itu mendekat, aroma parfum woody yang kuat mulai memenuhi indra penciumannya, aroma yang sama dengan yang ia hirup semalam.
Oliver berjalan mendekat dengan langkah santai namun mendominasi. Tanpa mempedulikan atmosfer kaku di ruangan itu, ia menarik kursi tepat di depan Jonathan dan duduk dengan posisi angkuh. Matanya yang tajam sempat melirik Lila sekilas, lalu beralih ke Jonathan seolah-olah Lila hanyalah pajangan.
Ia mengambil sepotong roti panggang tanpa meminta izin, lalu melirik Lila dengan tatapan dingin yang memerintah.
"Buatkan kopi," ucap Oliver datar. "Hitam. Tanpa gula."
"..."
Lila hanya bisa terdiam, tangannya yang bertautan di depan perut kini meremas satu sama lain hingga buku jarinya memutih. Amarah dan rasa takut di dalam dirinya. Pria ini baru saja menghancurkan harga dirinya semalam, dan sekarang ia memerintahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa?
"Lila?" Jonathan memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit canggung. "Tunggu apa lagi? Siapkan kopi untuknya."
Lila menatap Jonathan dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, seolah bertanya, Tuan, tidakkah Anda mendengar apa yang ingin saya katakan tadi? Namun, Jonathan hanya memberikan anggukan kecil, mengisyaratkan Lila untuk patuh. "Lila, perkenalkan, ini Oliver James Monfalco. Dia... putra mendiang istriku, Sharon. Dia baru saja kembali dari luar negeri."
Lila menelan ludah. Identitas itu menghantamnya seperti palu godam. Putra tiri? Itu berarti pria ini adalah bagian dari keluarga ini. Dia bukan orang asing. Dia adalah Tuan Muda di rumah ini.
"Aku tidak punya waktu hanya untuk menunggu secangkir kopi! Cepat." Desis Oliver tanpa menatapnya, fokus pada sarapannya.
Lila membungkuk kaku, nyaris tidak terlihat. "B-baik, Tuan."
Jantungnya berdegup kencang. Rencananya untuk mengadu telah gagal total sebelum dimulai. Bagaimana ia bisa melaporkan Oliver kepada Jonathan, jika Oliver sendiri adalah pemilik sah dari darah keluarga yang membangun kemegahan ini?
Oliver tersenyum smirk, “Lila…” gumamnya dalam hati.
"Kau pulang terlalu mendadak semalam, Oliver. Ada apa? Kau bahkan tidak menghubungiku." Suara Jonathan menarik focus Oliver yang membuat senyuman tipisnya tadi segera musnah.
Oliver meletakkan rotinya kembali ke piring, bibirnya yang masih memiliki luka kecil bekas gigitan Lila terangkat membentuk seringai tipis. "Hanya ingin memberikan kejutan. Tapi sepertinya aku yang mendapat kejutan…”
Bab 53"Kamu sangat seksi, love," bisik Austin dengan suara parau tepat di depan bibir Bella.Austin tidak menunggu lama. Begitu mereka berada di area private pool, ia menarik pinggang Bella hingga tubuh mungil istrinya menabrak dada bidangnya yang keras. Tanpa kata, ia membungkam bibir Bella dengan ciuman yang intens dan menuntut—ciuman yang selalu berhasil membuat Bella kehilangan kekuatannya.Tangan besar Austin mulai bergerak terampil, melucuti kancing-kancing dress sutra yang dikenakan Bella. Kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai marmer dalam sekejap. Dengan gerakan mantap, Austin mengangkat tubuh Bella dalam gendongan bridal style. Ia membawa istrinya menuruni tangga kolam renang yang airnya sudah diatur dengan suhu hangat yang menenangkan.Begitu kulit mereka bersentuhan dengan air, Austin merapatkan tubuh mereka kembali. "Tubuhmu masih sangat indah, love," puji Austin tulus. Matanya menatap kagum pada setiap lekuk tubuh istrinya yang dirawat dengan sangat telaten. Baginya, B
Bab 52Kata-kata Oliver barusan seolah menjadi petir di siang bolong bagi Giselle. Ia terperangah, matanya membelalak tak percaya menatap Oliver.“Menikah?” suara Giselle bergetar, hampir tidak terdengar. “Sharon... menikah dengan Jonathan? Tidak mungkin. Ibumu sangat mencintai Gustav. Bagaimana bisa dia memberikan hatinya pada pria yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang suaminya?”Oliver menyeringai pahit, sebuah ekspresi yang penuh dengan luka lama. “Hati? Tidak, Bibi. Ibu tidak pernah memberikan hatinya. Jonathan menggunakan keadaan. Saat Ayah tiada, Ibu berada di titik terendahnya. Jonathan datang sebagai pahlawan palsu, menjanjikan perlindungan padaku dan perusahaan. Tapi itu semua hanya jebakan.”Giselle menutup mulutnya dengan telapak tangan, air matanya kini mengalir deras tanpa terbendung. “Jadi itu alasannya... dia mengusirku. Dia tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa memperingatkan Sharon tentang niat busuknya.”“Dia menghancurkan mental Ibu perlahan-lahan,” lanj
Bab 51Begitu masuk di VVIP room khusus Harold Family, Austinmembawa istrinya duduk di atas sofa kulit yang empuk.“Kamu penasaran sayang?” tanya Bella pada Austin begitu iaduduk menghadap suaminya.Austin tersenyum tipis, “Not really, love.” Ucapnya sambilmencubit kecil hidung Bella.Membuat Bella mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku tetap mau cerita, hubby.""Iya sayangku. Jadi bagaimana bisa kenal dengan Oliver?"Bella pun dengan antusias menceritakan ulang apa yang ia dengar dari Giselle.Austin mendengarkan sang istri dengan baik, meski jujur ia tidak terlalu peduli akan hal itu. Bukan karena nir empati. Tapi begitulah dia.Tapi demi Bella, ia akan dengan senang hati mendengar story telling sang istri."Begitu sayang..." tutup Bella mengakhiri ceritanya.Austin mengangguk paham, "Hmm, sebenarnya aku bisa membantu Oliver untuk mencari rekam jejak kematian kedua orang tuanya, tapi dia menolaknya.""Pasti berat untuk Oliver saat itu, hubby," gumam Bella bersandar manja pada sang su
Bab 50"Menarik. Aku memang tidak salah menilaimu," ujar Austin sembari mengangguk puas. Namun, ia tidak langsung menutup pembicaraan. Matanya kembali menatap Oliver dengan sorot yang lebih dalam. "Lalu bagaimana dengan Monfalco Corp?"Austin ingat betul alasan di balik ambisi besar Oliver. Ia tahu betapa kerasnya Oliver berusaha merayap dari bawah demi mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi haknya. Sebenarnya, bagi Austin Harold, menghancurkan perusahaan sekelas Monfalco Corp atau membelinya secara paksa adalah hal yang mudah. Ia bahkan sempat menawarkan bantuan untuk memberikan perusahaan itu langsung ke tangan Oliver saat pertama kali mendengar kisah pengkhianatan Jonathan.Namun, Oliver menolak dengan halus. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyeret Jonathan turun dari singgasananya hingga hancur berkeping-keping."Dia memiliki banyak anjing yang setia," jawab Oliver dengan rahang mengeras dan wajah penuh kekesalan. Ia merujuk pada jajaran direksi dan pemegang saham yang m
Bab 49Beberapa bulan lalu, selama ia berada di Jerman, Oliver telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri secara mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa namanya bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang besar keluarga Monfalco di Swedia. Setelah bertahun-tahun merintis dengan penuh peluh, akhirnya hari ini ia bisa duduk berhadapan dengan sosok legendaris yang selama ini hanya bisa ia amati dari jauh—Austin Harold.Dari Austin-lah, Oliver berhasil menembus dinding tebal lingkaran pebisnis raksasa di Jerman. Benar saja, kepiawaian Austin bukan sekadar isapan jempol belaka. Oliver, sebagai sesama pria, merasa sangat kagum dengan kharisma dan ketajaman berpikir pria itu. Bahkan, melalui koneksi ini, ia sempat dikenalkan dengan putra Austin yang memiliki usia sebaya dengannya, Arion Harold, yang kini memegang kendali operasional di pusat."Maaf saya mengganggu waktu liburan Anda, Tuan Austin," ujar Oliver dengan nada tulus. Ia tahu betapa mahalnya wa
Bab 48"Kami akrab, Ibu. Dokter Nathaniel sangat membantuku selama perawatan Ibu di sini, dia benar-benar dokter yang luar biasa," potong Lila cepat sebelum Nathaniel menyelesaikan kalimatnya. Ia memberikan senyum lebar yang sedikit dipaksakan, berusaha menetralkan suasana agar Susan tidak memiliki ekspektasi atau kesalahpahaman yang lebih jauh.Susan mengangguk pelan, tampak lega meski sorot matanya masih menyimpan sedikit rasa ingin tahu. "Begitu ya... syukurlah kalau Lila ada yang membantu."Dokter Nathaniel memilih diam. Ia tidak membantah ataupun membenarkan. Pria itu tetap memasang wajah ramah yang menenangkan pada Susan, meskipun dalam hati ia mencatat bagaimana Lila seolah membangun benteng pertahanan setiap kali ia mencoba melangkah lebih dekat."Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Susan. Masih ada pasien lain yang harus saya kunjungi. Lila, jika ada apa-apa, hubungi saya segera," ujar Nathaniel lembut. Ia memberikan satu anggukan sopan pada Susan sebelum melangkah keluar ruan







